Chapter 27
"Dari sinilah kita keluar!" Beruntun mereka melompat keluar dan menginjak tanah. Saat mereka mengangkat kepala untuk memandang, perasaan mereka terasa dingin karena Kelenteng Sam Ceng Koan yang sedemikian megah dan agung itu kini sudah tinggal puing-puing yang rata dengan tanah.
Sang surya baru muncul dari peraduannya, itu berarti sudah selama satu hari satu malam mereka berada di ruang bawah tanah itu.
Suma Bing berkata dengan penuh haru dan geram, "Ketua Bwe Hwa Hwe itu benar-benar keji, bangunan gedung yang megah ini pun tidak luput dibakarnya juga. Aliran dari Ceng Seng Pay selanjutnya habis total, mungkin tidak ada saatnya lagi mereka dapat bangkit kembali."
Saking haru dan sedihnya, sosok berkedok itu gemetar. Ia berujar penuh kebencian, "Hutang darah ini, lambat atau cepat, pasti ada orang yang akan menagihnya." Begitulah kedua orang itu berdiri termangu dan merenung sekian lamanya, lalu bersama-sama melejit berlari turun gunung.
Pada saat mereka mulai bergerak, dari jarak yang agak jauh terdengar derap langkah ramai yang tengah mendatangi dengan cepat.
"Kita bersembunyi dulu di dalam rimba, kita intip siapa mereka itu," kata si orang berkedok.
Baru saja mereka membelok dan menghilang ke dalam hutan, beruntun lima bayangan manusia berlompatan tiba di pelataran di luar pintu kelenteng yang tinggal puing-puing itu. Mereka terdiri dari dua orang tua dan tiga orang gagah kekar. Mereka berseragam hitam dengan sekuntum bunga mawar besar berwarna putih menghiasi dada baju mereka.
"Para begundal dari Bwe Hwa Hwe," kata si orang berkedok lirih, "mungkin mereka datang mencari kita!"
Suma Bing mendengus gusar, ucapannya pendek, singkat, dan tegas, "Bunuh!"
Terdengar salah seorang tua berbaju hitam itu berkata, "Entah bagaimanakah hasil pemeriksaan?"
Salah seorang tua lainnya menjawab, "Dalam lingkungan daerah sepuluh li ini, seekor kelinci pun jangan harap dapat lolos, apalagi dua orang yang terluka berat. Mana mungkin mereka dapat terbang ke langit..."
"Benar, mana mungkin dapat terbang ke langit!" Sebuah suara dingin yang mengerikan menanggapi ucapannya.
Serentak kelima orang itu berputar balik, raut muka mereka berubah heran dan kaget. Tampak seorang pemuda gagah yang berlagak congkak dan bersikap angkuh tengah berdiri sejauh dua tombak dari mereka. Wajahnya penuh nafsu membunuh yang menyala-nyala. Mimik wajahnya itu benar-benar membuat orang bergidik seram.
"Siapa kau? Sebutkan namamu!" hardik kedua orang tua itu dengan nada berat.
Orang yang mendadak muncul ini kiranya adalah Suma Bing. Dengan penuh ejekan sambil melirik, Suma Bing mendengus, lalu katanya, "Bangsat kurcaci seperti kalian belum berharga menanyakan namaku. Tapi supaya kalian mati tidak penasaran, dengarlah, akulah Suma Bing."
Begitu si pemuda memperkenalkan diri, seketika kelima gembong Bwe Hwa Hwe itu mundur ketakutan. Ketiga orang bertubuh kekar itu segera meloloskan senjata. Perlahan dan pasti Suma Bing melangkah maju mendekat, setiap langkahnya mengandung nafsu membunuh yang berkobar-kobar. Kelima gembong Bwe Hwa Hwe itu pun serta-merta terus mundur.
"Berhenti!" Mendadak sebuah suara lain menghardik keras dari belakang.
Kelima orang itu melonjak kaget, sukma seakan terbang keluar dari badan. Saat mereka berpaling, dilihatnya seorang berkedok mengenakan pakaian berwarna hijau telah menghadang di belakang mereka.
Salah seorang tua itu mendadak mengayunkan sebelah tangan. Selarik bunga api berwarna merah darah segera melesat tinggi membumbung ke angkasa. Jelas bahwa mereka melepaskan pertanda bahaya dan meminta bantuan. Bunga api itu terbang setinggi lima puluh tombak sebelum meluncur turun dan jatuh di balik gunung sana.
Si orang berkedok tertawa mengejek sekian lamanya, lalu berkata, "Bagus sekali. Undanglah semua antek itu. Darah yang mengalir di Sam Ceng Koan dari ratusan nyawa penghuninya harus dicuci bersih oleh darah kalian, para kurcaci ini."
Serempak tiga orang kekar membentak bersamaan. Sinar pedang berkelebat saat mereka menyerang ke arah si orang berkedok. Sementara itu, kedua orang tua itu saling pandang sejenak lalu menerjang ke hadapan Suma Bing.
Memang sudah sejak lama nafsu membunuh bersemi dalam benak Suma Bing, maka begitu turun tangan ia tidak mengenal belas kasihan lagi. Kedua tangannya ditarik lalu disodorkan ke depan dengan kedua kaki sedikit ditekuk. Gelombang panas bagai hujan badai segera menerjang ke arah kedua orang tua yang menubruk tiba.
Seketika terdengar pekikan panjang yang mengerikan bergema di kesunyian pegunungan. Kedua orang itu masing-masing menyemburkan darah segar dan tubuh mereka terpental sejauh tiga tombak. Sebelum menyentuh tanah, jiwa mereka sudah melayang.
Di sebelah sana terdengar juga sebuah jeritan. Salah satu laki-laki kekar itu terhantam remuk kepalanya oleh si orang berkedok. Kedua temannya ketakutan setengah mati. Serentak mereka mengibaskan pedang lalu memutar tubuh hendak melarikan diri.
"Roboh!" Si orang berkedok membentak keras. Kedua tangannya bergerak bagai kilat. "Blang, blung!" Disusul teriakan mengerikan, kedua laki-laki kekar yang tersisa ini pun muntah darah dan roboh terkapar tak bernyawa.
Baru saja Suma Bing berdua selesai membereskan musuh-musuhnya, derap langkah yang ramai beruntun mendatangi dari berbagai arah menuju puncak tersebut. Serta-merta sorot mata Suma Bing menyapu ke arah orang berkedok. Kebetulan orang itu pun tengah memandang ke arahnya dan masing-masing mengangguk. Anggukan bersama yang menandakan kesepakatan hati ini akan menentukan nasib para tokoh Bwe Hwa Hwe yang berdatangan.
Maka terjadilah pertempuran hebat mati-matian di bawah puing-puing Sam Ceng Koan. Darah mengalir deras, mayat-mayat bergelimpangan dengan anggota tubuh yang tidak lengkap. Meskipun banyak jagoan Bwe Hwa Hwe berdatangan dari segala penjuru, teriakan dan pekikan kesakitan tak henti-hentinya terdengar susul-menyusul. Mayat bergelimpangan semakin bertumpuk.
Beratus anggota Ceng Seng Pay, dari ketua sampai murid terkecil, tidak terkecuali telah dibantai habis. Tempat suci yang agung pun tidak luput terbakar menjadi puing. Sekarang, darah para anggota Bwe Hwa Hwe pun membanjir menyiram di atas puing-puing itu. Inilah yang dinamakan hutang darah bayar darah; penyembelihan besar-besaran tengah berlangsung gila-gilaan. Puncak Gunung Ceng Seng diselubungi bau busuk dan anyir darah yang memuakkan. Lambat laun, suara jeritan atau pekik kesakitan yang mendirikan bulu roma pun semakin sirna.
"Berhenti!" Terdengar sebuah suara melengking. Suara ini tidak begitu keras tetapi sangat mengejutkan pendengarnya.
Tanpa berjanji sebelumnya, Suma Bing dan si orang berkedok segera menghentikan pertempuran. Tampak seorang wanita berusia tiga puluhan berwajah cantik molek entah sejak kapan sudah berdiri di tengah gelanggang pertempuran. Di belakang wanita ini berdiri berjajar dua belas pengawal laki-laki berpakaian ketat. Maka berkesempatanlah para jagoan Bwe Hwa Hwe yang masih hidup berlarian menyingkir menyelamatkan diri.
Dengan bola matanya yang cemerlang, si wanita menyapu pandangan ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan itu, lalu dengan langkah ringan gemulai ia maju beberapa langkah. Sepasang matanya melirik menatap wajah Suma Bing yang tampan. Kedua pipinya agak kemerah-merahan. Mimiknya cerah, tidak tertawa tetapi juga tidak tersenyum. Sikapnya ini sungguh sangat menggiurkan dan memikat hati semua pria hidung belang.
Sorot mata Suma Bing tajam bagai ujung pedang. Wajahnya membeku dingin saat memandang pendatang baru ini, lalu berpaling ke arah si orang berkedok dan bertanya, "Apa kedudukan wanita ini di dalam Bwe Hwa Hwe?"
Si orang berkedok menggelengkan kepala tanda tidak tahu.
Dengan pinggul yang melenggak-lenggok, si wanita maju beberapa langkah. Suaranya nyaring bening bagai kicau burung, "Kau inikah Suma Bing?"
"Benar."
"Perbuatanmu terlalu kejam!"
"Ini baru permulaan saja!"
"Hm, mungkin juga yang terakhir. Kalau kukatakan agar kalian berdua mampir ke perkumpulan kami, kalian tidak akan menampik, bukan?"
"Kau ini siapa?" ejek Suma Bing menghina.
"Siapa? Cih! Suma Bing, akulah Hun Cit Koh, pejabat Hoa Than Thancu dari Bwe Hwa Hwe!"
Suma Bing mendengus mengejek sambil berkata, "Bagus sekali. Semua orang yang datang akan mendapat bagian. Aku tidak boleh memberi persen secara tidak adil."
Semakin suram pandangan mata Hun Cit Koh, wajahnya pun menggelap. Katanya dingin, "Suma Bing, kalau kau mau mendengar kata-kataku dan ikut denganku, kujamin keselamatan jiwamu. Kalau tidak..."
Saking marahnya, Suma Bing malah tertawa terbahak-bahak. Ujarnya, "Hun Cit Koh, sebaliknya aku tidak ingin menjamin keselamatan nyawamu!"
"Para murid pelindung, dengar perintah!" tiba-tiba Hun Cit Koh berteriak. Wajahnya semakin beringas. Serentak dua belas pengawal berseragam ketat itu mengiakan bersamaan dan memencarkan diri menjadi dua kelompok, masing-masing enam orang di kanan dan kiri. "Hadapilah si orang berkedok itu, tangkap hidup-hidup!"
Tanpa banyak kata lagi, segera dua belas murid pelindung itu ramai-ramai menubruk ke arah si orang berkedok. Dalam waktu yang bersamaan, Hun Cit Koh pun melangkah maju mendesak ke arah Suma Bing.
Sementara itu, si orang berkedok telah terkepung oleh dua belas musuhnya. Terjadilah pertempuran seru. Kiranya dua belas murid pelindung itu rata-rata memiliki kepandaian yang lumayan. Begitu saling gebrak, masing-masing melancarkan serangan hebat yang mengejutkan.
Di sisi lain, Suma Bing masih berdiri di tempatnya dengan tenang. Matanya dengan dingin mengawasi gerak-gerik Hun Cit Koh, bersiap melayani semua kemungkinan. Pada jarak delapan kaki dari Suma Bing, Hun Cit Koh menghentikan langkahnya. Seketika berubah pula sikapnya. Alis lentik matanya menjengkit lantas katanya, "Suma Bing, aku... benar-benar aku tidak ingin bertarung denganmu!"
"Mengapa?"
"Sebab kau sangat mirip dengan suamiku yang telah meninggal."
"Perempuan jalang yang tidak tahu malu," maki Suma Bing dalam hati. Nadanya tetap dingin saat bertanya, "Apa betul demikian?"
"Tidak ada gunanya aku menipumu."
"Lalu kau mau apa?"
"Kuharap kau suka ikut aku pergi ke perkumpulan kami. Kalau kau mau menjadi anggota kami, aku jamin paling rendah kau akan menjabat sebagai Thancu."
"Benarkah kalian mendapat perintah untuk mengejar dan membunuh aku?"
"Aku tidak menyangkal."
"Mengapa?"
"Aku bertugas menurut perintah!"
"Ketua kalian tidak akan berhenti sebelum meringkus aku. Apa maksud tujuannya?"
"Mungkin..."