Chapter 28
Mungkin dia iri pada kepandaianmu. "Mungkin." Hm, tidak sedemikian gampang bukan? "Begitulah menurut hematku." "Siapakah nama besar ketua kalian?" "Ini, tidak leluasa kusebutkan."
"Kalau begitu segeralah turun tangan." "Jadi kau harus berkelahi dengan aku?" "Berkelahi?" Hendak kubunuh kau! Berobah hebat air muka Hun Cit koh, serunya sambil mendengus ejek: "Suma Bing, kau tidak tahu kebaikan." "Buat apa aku terima kebaikanmu?" "Lihat serangan!" sambil berseru secepat kilat ia lancarkan sebuah pukulan mengarah dada Suma Bing.
Kekuatan pukulannya ini boleh dikata sangat berat sekokoh gunung juga secepat kilat, sekali serangannya ini menunjukkan bahwa kepandaiannya bukan olah-olah lihay. Sigap luar biasa Suma Bing pun julurkan tangan memapak pukulan musuh.
'Blang' kedua pukulan saling bentur dengan telak, seketika kedua belah pihak tergetar mundur satu langkah, dalam jangka sedetik itulah Suma Bing sudah melancarkan serangan balasan dengan tangan kanan. Terkesiap darah Hun Cit koh melihat kehebatan serangan musuh ini, sekali menggeliatkan pinggang berbareng sebelah kaki menahan tanah terus tubuhnya berputar setengah lingkaran, secara tepat dan sangat berbahaya dia hindarkan serangan ini.
Bersamaan itu dari sebelah sana terdengar bentakan nyaring disusul dua suara pekik kesakitan. Suma Bing berkesempatan melirik ke arah sana, terlihat olehnya dua di antara Busu berpakaian ketat itu terhuyung mundur sambil muntah darah keluar kalangan.
Sedang si orang berkedok selicin belut dan selincah kera selulup timbul di antara kesepuluh lawannya, cara turun tangannya juga tidak mengenal kasihan lagi dan gerak-geriknya masih tetap garang dan semangat, hal ini melegakan sangat hatinya. Sekali pukulannya meleset, pukulan kedua Suma Bing pun sudah merangsang tiba.
Kedua tangan Hun Cit koh menari-nari berebut kesempatan untuk menyerang lebih dulu. Kepandaian kedua belah pihak tidak terpaut jauh, sekali mereka bergebrak sengit mati-mati benar-benar hebat pertempuran ini.
Dalam sekejap masing-masing pihak sudah lancarkan lima puluh kali tipu lihay masing-masing, sedemikian jauh belum dapat ditentukan mana lebih unggul dan siapa yang asor. Sementara itu, meskipun kepandaian si orang berkedok setinggi langit pun akhirnya terdesak juga oleh kerubutan nekad dari sepuluh lawannya yang menyerbu mati-mati, lama kelamaan keadaannya terdesak dibawah angin, dari menyerang ia kini ganti siasat bertahan dengan rapat demi keselamatan nyawa sendiri.
Dalam pada itu otak Suma Bing bekerja keras, kalau dirinya tidak melancarkan ilmu simpanannya pertempuran ini tentu akan berjalan terlalu lama dan tiada akhirnya. Kalau pihak Bwe hwa hwe kedatangan seorang kawan berkepandaian setingkat dengan Hun Cit koh, pasti berbahayalah mereka berdua.
Bersama itu ia pun sudah melihat keadaan si orang berkedok yang sudah ber-kali-kali menghadapi bahaya. Dalam berpikir-pikir itu, segera ia merobah cara permainan silatnya, dalam melancarkan tipu-tipu silatnya diam-diam ia kerahkan tenaga sakti Kiu yang sin kang sebanyak tiga bagian sebagai landasan pukulannya itu.
Hun Cit koh coba bertahan sekuat tenaga namun akhirnya tidak tahan diterjang badai gelombang panas seperti lahar gunung jebluk, sambil meraung kesakitan ia terhuyung mundur sejauh delapan kaki. Agaknya Suma Bing pun sudah mulai mata gelap, tanpa mengenal belas kasihan meski yang dihadapi adalah seorang wanita, sekali berhasil dimana tubuhnya melejit maju beruntun ia kirim tiga kali pukulan berat pula.
Sesudah ketiga pukulannya dilancarkan terdengar Hun Cit koh memekik lebih keras badannya terbang sejauh satu tombak lebih, mulut kecilnya yang mungil menyembur deras darah segar, wajahnya kelihatan memucat dan beringas menakutkan. Bagai setan gentayangan Suma Bing mendesak maju lagi seraya kirim satu hantaman pula.
Hun Cit koh berteriak panjang, tangan pun diangkat untuk menangkis serangan lawan pukulannya ini adalah himpunan seluruh sisa tenaganya, perbawanya bukan olah-olah. 'Blang' dibarengi setengah pekik kesakitan yang tertahan, beruntun Hun Cit koh hamburkan lagi tiga kali darah segar tubuh pun meloso duduk di atas tanah.
Sedang Suma Bing sendiri pun terpental oleh tenaga perlawananan musuh yang hebat luar biasa, darah terasa bergolak dalam dada, tubuhnya pun terjorok dua langkah ke belakang. Dalam pada itu, keadaan si orang berkedok pun tidak kalah berbahayanya, namun demikian diluar gelanggang pertempuran kini ditambah lagi rebah tiga Busu berpakaian ketat itu.
Sebat luar biasa Suma Bing sudah meluruk tiba di hadapan Hun Cit koh, sebelah tangan sudah diayun mengarah batok kepalanya, bentaknya bengis: "Hun Cit koh, katakan asal usul Ketua kalian?" "Tidak mungkin." sahut Hun Cit koh ketus sambil kertak gigi.
"Kau benar-benar ingin mati?" Hun Cit koh meramkan kedua matanya, dua butir air mata sebesar kacang meleleh membasahi kedua pipinya serunya penuh kepedihan: "Silahkan turun tangan!" Tergerak hati Suma Bing, pikirnya: "Tidak sedikit jumlah anggota Bwe hwa hwe yang mati konyol, diusut dari semua pangkal mula peristiwa ini, hanya si ketua Bwe hwa hwe seoranglah yang benar-benar merupakan musuh besarnya.
Dalam keadaan yang belum jelas dan terang ini tiada faedahnya aku terlalu kejam turun tangan" karena pikirannya ini, tangan yang sudah diangkat tinggi itu perlahan-lahan diturunkan lagi. Lalu tanpa membuka suara lagi mendadak ia putar tubuh terus menubruk ke arah si orang berkedok belum tubuhnya tiba angin pukulannya sudah sampai lebih dulu.
Seketika ada dua musuh terbawa terbang oleh angin pukulannya itu. Begitu kelima kawannya menyapu pandang ke sekeliling gelanggang, terbanglah semangat mereka, serta merta mereka segera mundur dan menyingkir jauh. Kalau si orang berkedok masih kuat bertahan adalah berkat keteguhan hatinya yang keras, namun demikian napasnya sudah empas-empis seumpama pelita yang hampir kehabisan minyak tak urung tubuhnya terhuyung hampir roboh tak dapat berdiri tegak di tempatnya.
"Bong bian heng bagaimana keadaanmu?" tanya Suma Bing penuh perhatian. "Tidak apa, aku hanya kehabisan tenaga," habis berkata ia merogoh keluar dua butir obat dimasukkan ke dalam mulutnya "mari kita pergi." Si orang berkedok manggut-manggut, dalam sekejap mata mereka sudah menghilang dan berlarian cepat turun gunung, langsung menuju ke arah 'gunung tanpa bayangan'.
Ditengah perjalanan si orang berkedok berkata "dengar kejadian ini masih belum sirap, saudara kecil kalau hendak membuka tabir pembunuhan di Ceng seng san dan teka teki penyergapan terhadap kau, kecuali dapat membongkar kedok asli ketua Bwe hwa hwe, maka tiada kepikir untuk kau main tebak apa segala." "Wajah aslinya atau asal usul Ketua Bwe hwa hwe masa tiada seorangpun yang tahu di dunia persilatan?" "Mungkin begitu!" "Termasuk anak buahnya?" "Itu soal lain lagi.
Tapi menurut hematku, di dalam Bwe hwa hwe sendiri yang mengetahui wajah asli ketuanya sendiri mungkin tidak banyak, kalau tidak mungkin sudah bocor dan tersiar di kalangan Kangouw." "Namun cepat atau lambat pasti harus dibongkar kedoknya". "Ketua Bwe hwa hwe sekali ini telah salah perhitungan..." "Mengapa?" "Menurut penilaiannya mungkin dia anggap kita berdua sudah terluka berat, kalau meratpun takkan dapat berjalan, maka dia hanya perintahkan anak buahnya untuk mengadakan razia besar-besaran, sedang dia sendiri tidak ikut muncul kalau tidak, mungkin saat ini kita sukar lolos dari lobang maut." "Itupun belum tentu, kalau kemaren aku tidak terlalu bernafsu dan nekad, tidak sampai sedemikian mengenaskan kekalahanku" Tiga hari kemudian, mereka tiba di atas sebuah puncak tinggi yang menembus langit.
Menunjuk lautan awan di depannya yang tidak berujung pangkal si orang berkedok berkata: "Disanalah letak gunung tanpa bayangan itu." Tanpa terasa Suma Bing mengerut kening, katanya: "Mana, sedikitpun aku tidak melihat?" "Kalau sudah dinamakan tanpa bayangan, sudah tentu sampai bayangannya pun tidak begitu gampang dapat ditemukan orang.
Kita hanya memerlukan melanjutkan terus mendekati ke arah lautan awan itu, kalau jaraknya sudah dekat dan penglihatan lebih terang tentu gampanglah mencari jalan. Tapi watak manusia bebas di luar dunia ini sangat aneh di luar kesopanan. Suma Bing tersenyum ewa, katanya: "Masa dia lebih aneh dari guruku Lam Sin Kho Jiang" "Sifat sesat suhumu kesohor karena dia paling menentang adat istiadat atau kebiasaan umum, namun sedikit banyak ia masih mau bicara tentang kebenaran.
Lain dengan manusia bebas dari dunia luar ini, saking aneh dia tidak mengenal apa yang dinamakan kebenaran." "Peduli apa, pendek kata kita harus mendapatkan rumput ular itu." Begitulah dengan cepat mereka telah mendekati dan mulai tiba di lautan awan, mereka langsung menerobos terus ke tengah.
Dengan kekuatan tenaga Lwekang Suma Bing matanya dapat melihat terang dalam jarak sepuluh tombak, di luar jarak itu hanya remang-remang, maka mereka harus menggeremet maju perlahan-lahan. Setengah jam kemudian si orang berkedok menunjuk sebuah bukit batu yang kelihatan remang-remang dan berkata: "Itulah disana, mari kita naik kesana!" Ber-kobar-kobar semangat Suma Bing, segera ia mendahului berlari mendaki ke arah bukit batu itu.
Baru saja mereka tiba di lamping bukit, se-konyong-konyong terdengar sebuah suara berat dan keras membentak: "Siapa itu, berhenti!" Segera Suma Bing hentikan langkahnya, waktu ia angkat kepala terlihat seorang tua baju kuning, rambut dan jengot serta alisnya sudah beruban, berduduk tenang di atas sebuah batu yang menonjol.
Ter-sipu-sipu si orang berkedok maju memberi hormat serta berkata hormat: "Wanpwe" Orang tua baju kuning tertawa dingin dan menukas ucapan si orang berkedok: "Kalau kalian tahu diri lekas menggelinding pergi!" Kebentur kekerasan orang, si orang berkedok mendjadi tertegun dan melongo di tempatnya tanpa mampu menge-luarkan suara lagi.