Chapter 29
Suma Bing malah berpikir, jika ia memanggil orang itu aneh, untuk apa pula berbicara tentang kesopanan. Maka segera ia maju dua langkah, suaranya pun tidak kalah dingin dan ketus, "Apa Tuan ini yang bernama Si Gwa Sian Jin?"
Orang tua berbaju kuning itu agaknya terperanjat karena sikap kasar Suma Bing. Kedua matanya menyorotkan sinar dingin menatap wajah Suma Bing. Lama kemudian, barulah ia membuka mulut, "Kau menyebutku sebagai apa?"
"Apa tidak tepat?"
"Berapa umurmu sekarang?"
"Umur? Dalam Bu Lim (Dunia Persilatan) mengutamakan peribadi, untuk apa mempersoalkan usia orang!"
"Bocah kurang ajar, kau dari perguruan mana?"
"Tuan sendiri belum menjawab pertanyaanku?"
"Huh, memang akulah Si Gwa Sian Jin."
"Kalau begitu, akulah Suma Bing. Guruku adalah Sia Sin Kho Jiang."
Air muka Si Gwa Sian Jin berubah, ia bertanya, "Kau adalah murid Kho Lo Sia?"
"Benar."
"Tak heran sifatmu menyimpang. Untuk apa kau datang kemari?"
"Konon Tuan mempunyai sepucuk Pohon Rumput Ular. Untuk itulah aku datang kemari, agar diberi sedikit, sebab aku yang rendah ini terkena bisa Pek Jit Kui."
"Tidak salah, memang ada!"
Rumput Ular adalah benda mukjizat yang tak ternilai harganya, merupakan obat pemusnah racun yang paling ampuh khasiatnya.
"Lantas, dengan mulut kecilmu yang masih hijau itu, kau kira Lo Hu (Aku) segera akan memberikannya kepadamu?" Hahahaha!
Suma Bing mendengus keras, menghentikan tawa orang itu. Serunya angkuh, "Tuan ada syarat apa? Coba kemukakan."
"Syarat, kenapa?"
"Aku selamanya tidak sudi menerima budi baik orang lain. Aku harap ada suatu syarat apa pun agar aku dapat menukar Rumput Ular itu."
"Lo Hu tidak akan memberikan Rumput Ular itu kepadamu, juga tidak perlu syarat apa pun."
Namun, Suma Bing masih keras kepala, serunya ketus, "Tapi aku sudah pasti harus mendapatkan Rumput Ular itu."
"Apa mungkin kau berani menggunakan kekerasan?"
"Aku sudah minta kau mengeluarkan syarat untuk menukar. Bukankah itu sangat adil!"
"Siaucu (Tuan Muda), barang itu kepunyaan Lo Hu. Lo Hu tidak ingin bertukar apa pun denganmu."
"Kutegaskan sekali lagi, aku pasti harus memperoleh Rumput Ular itu."
Diam-diam, si orang berkedok menarik lengan baju Suma Bing dan membisikinya dengan suara sangat lirih, hampir tidak terdengar, "Saudara kecil, jangan kau mengeruhkan urusan ini. Sabarlah sedikit, mintalah dengan kata-kata halus. Kepandaian si tua bangka ini tidak di bawah salah seorang dari Bu Lim Su Ih (Empat Gembong Silat Aneh)."
Baru saja Suma Bing menggelengkan kepala, mendadak si manusia bebas di luar dunia itu sudah membentak marah-marah, "Siaucu, Gurumu Kho Lo Sia sendiri melihatku pun tidak berani bersikap demikian kurang ajar!"
"Itu urusannya, bukan urusanku," sahut Suma Bing sombong.
Memang orang aneh bertabiat aneh. Karena watak Suma Bing yang berani berbantahan itu malah mencocoki selera si manusia bebas aneh ini.
Bukannya marah, dia malah tertawa terbahak-bahak kegirangan. Ujarnya, "Siaucu, sungguh menyenangkan sifat itu."
"Baiklah, Lo Hu meluluskan permintaanmu. Akan tetapi, selamanya Lo Hu paling benci dan tidak senang adanya kuat di luar dan keropos di dalam; wajahnya gagah, tetapi otaknya tumpul."
"Begini saja, kalau kau kuat menahan tiga kali pukulanku, Rumput Ular boleh kau bawa pergi. Kalau sebaliknya, gunung tanpa bayangan ini adalah tempat keramat, aku tidak bakal membiarkan orang seenaknya pergi datang."
Mau tidak mau, Suma Bing harus berpikir, *Sudah pasti dirinya harus mendapatkan Rumput Ular itu atau jiwanya tidak akan hidup lewat seratus hari. Mati atau hidup sudah ditakdirkan oleh Tuhan, untuk apa aku sangsi atau ragu?* Karena berpikir seperti itu, segera mulutnya menjawab congkak.
"Apa hanya menyambut tiga kali pukulanmu?"
Si Gwa Sian Jin menarik muka, air mukanya mengelam. Desisnya, "Siaucu, tiga pukulan itu bukan saja menentukan mati hidupmu, juga menentukan nasib kawan karibmu itu."
Suma Bing terkesiap darah mendengar keterangan itu. Mati hidup dirinya tidak perlu dibuat sayang, tetapi kalau sampai merembet keselamatan si orang berkedok, bagaimanapun hatinya tidak tega. Maka segera ia memutar tubuh, berkata kepada si orang berkedok, "Bong Bian Heng, dengan setulus hatiku, aku minta sudilah kau sekarang juga meninggalkan tempat ini."
Tanpa ragu-ragu, si orang berkedok segera menjawab, "Saudaraku, kau tahu aku tidak akan pergi."
"Namun, kalau terjadi..."
"Tentu aku tidak akan menyalahkanmu!"
Apa boleh buat, Suma Bing menggeleng kepala.
Sedemikian besar budi si orang berkedok menolong jiwanya, tak urung dalam hati ia berkata, "Saudara tua, terlalu banyak aku berutang budi kepadamu."
Saat itu, si manusia bebas telah melompat turun dari batu menonjol itu dan berdiri tegak di hadapan Suma Bing. Ia bertanya menegaskan, "Siaucu, kau sudah pastikan belum?"
Suma Bing mengertakkan gigi, sahutnya, "Selamanya aku maju tidak mengenal mundur!"
"Mati pun kau tidak penasaran?"
"Kurasa terlalu pagi mempersoalkan itu."
"Baiklah, sambutlah jurus pertama ini."
Baru saja suaranya lenyap, sepasang tangan manusia bebas telah bergerak-gerak menjulur ke depan.
Segera Suma Bing merasa bahwa pukulan lawan ternyata sangat aneh, lain daripada yang lain. Perubahannya sukar dijajaki, sukar pula untuk ditangkis atau dimusnahkan. Apalagi, begitu dilancarkan, serangannya segera datang merangsang.
Sedikit pun tidak memberinya kesempatan banyak berpikir.
Maka, serta merta ia lancarkan sejurus *Pit Bun Cia Khe* (Menutup Pintu Menampik Tamu) menjaga diri menutup jalan darah.
"Bum!" Jurus *Pit Bun Cia Khe* Suma Bing ternyata masih belum mampu menahan serangan lawan. Seketika dadanya seperti dipukul godam. Sambil meraung kesakitan, tubuhnya terhuyung lima langkah, darah hampir menyembur keluar dari mulutnya.
Tanpa tertahan, si orang berkedok pun berseru kaget.
Si manusia bebas tertawa dingin. Ia mundur satu langkah sembari berkata, "Sekarang sambutlah jurus kedua."
Dua tangannya terayun lagi. Gelombang angin pukulannya bagai gugurnya gunung, menerjang dahsyat ke arah Suma Bing.
Suma Bing mengertakkan gigi. Seluruh kekuatan *Kiu Yang Sin Kang* tersalurkan di kedua telapak tangannya, menyambut pukulan lawan secara keras.
Benturan keras menggelegar, memekakkan telinga. Awan terapung di sekitar mereka ikut tergulung menyebar ke empat penjuru. Saking dahsyat benturan pukulan mereka, batu-batu gunung pun berguguran.
Tubuh Si Gwa Sian Jin bergoyang gontai, akhirnya terhuyung mundur satu langkah. Wajah tuanya berubah merah padam membeku.
Suma Bing sendiri kontan jatuh terjerembap duduk di atas tanah. Dua baris darah segar meleleh keluar dari ujung mulutnya, air mukanya pucat pias sangat mengenaskan.
Si orang berkedok mengeluh dalam hati.
Sekarang Suma Bing sudah terluka berat, bagaimanapun tidak akan mampu menyambut pukulan ketiga. Baru saja ia hendak maju membantu, Suma Bing sudah terhuyung-huyung bangkit dan bertindak maju tiga langkah, suaranya gemetar hampir tak terdengar, "Silakan lancarkan jurus ketiga."
Tak urung Si Gwa Sian Jin tergerak sanubarinya. Serunya dengan nada berat, "Buyung, kau mempertaruhkan jiwamu?"
"Harap Tuan segera turun tangan," teriak Suma Bing geram.
Si Gwa Sian Jin menganggukkan kepala, kedua tangannya bergerak...
"Saudara kecil, sudahlah, mari kita turun gunung," seru orang berkedok lesu penuh kepedihan.
"Tidak!" sahut Suma Bing tegas.
"Inilah jurus ketiga!" bentak Si Gwa Sian Jin. Kedua tangannya disodokkan keras-keras.
Terjangan angin badai lebih deras menyambar bagai guntur, seperti hujan badai. Cepat-cepat si orang berkedok memalingkan muka, tidak kuat hatinya menyaksikan sahabatnya mati konyol.
Dalam pada itu, Suma Bing juga sudah menghimpun seluruh sisa tenaganya. Kedua tangannya pun menyapu ke depan, menyambut pukulan musuh secara keras.
"Bum!" Di tengah suara mengguntur dari benturan dua tenaga dahsyat, tubuh Suma Bing terbang bagai layang-layang yang putus benangnya. Darah berhamburan di tengah udara.
"Blang!" Tubuhnya lurus jatuh ke atas tanah, terbentur batu gunung. Sekali berkelebat gesit, si orang berkedok menubruk maju hendak menolong.
"Berhenti!" Segera si orang berkedok menghentikan langkah, dan tanyanya gemetar, "Apa maksud Cianpwe (Senior)?"
"Dia sudah kalah!"
"Ya, memang aku tidak menyangkal, bukan?"
Saat itu, Suma Bing merasakan seluruh tulang belulangnya terasa sakit bagai copot ruasnya. Kupingnya mendengung, pandangannya gelap, bintang-bintang kecil beterbangan di depan matanya. Meskipun demikian, watak kerasnya masih berusaha mengobarkan semangatnya, seolah-olah sebuah suara berkata dalam benaknya: *Kau jangan mati, jangan kau menyeret si orang berkedok mengorbankan jiwanya.* Maka, dengan kedua tangannya, ia menahan tubuh. Ia berusaha berlutut, lalu punggungnya mengelendot di batu gunung, perlahan-lahan bangkit berdiri.
"Saudara kecil, kau!" seru si orang berkedok dengan suara gemetar.
Si Gwa Sian Jin pun tidak ketinggalan berseru kaget. Rambut dan jenggotnya bergerak-gerak, karena heran dan kagum melihat kebandelan si bocah muda ini.
Bibir Suma Bing bergerak-gerak entah hendak mengatakan apa, tetapi suaranya tidak terdengar. "Buk!" Tubuhnya jatuh lagi di atas tanah tanpa bergerak lagi.
Bukan kepalang kaget si orang berkedok. Cepat-cepat ia menubruk maju. Dengan tangannya, dirabanya denyut nadi Suma Bing. Sekarang baru lega hatinya. Namun, bila teringat ucapan yang pernah diucapkan oleh manusia bebas tadi, hatinya pilu.
Mendadak, Si Gwa Sian Jin memutar balik badannya dan berlari cepat melesat ke atas puncak.
Sungguh si orang berkedok tidak habis mengerti apa yang dikandung dalam benak orang aneh itu. Tadi dia mengatakan kalau Suma Bing kuat menahan tiga kali pukulannya, Rumput Ular segera dipersembahkan tanpa syarat. Namun kini, walaupun Suma Bing belum menemui ajalnya tetapi terluka berat sekali, apakah ini sudah terhitung lulus dalam ujian? Maka segera dikeluarkan beberapa pulung obat lalu dijejalkan ke dalam mulut Suma Bing.
Tidak lama kemudian, Si Gwa Sian Jin telah balik kembali. Di tangannya, ia menggenggam sebatang rumput aneh berwarna putih bening bagai batu giok. Batang pohon itu berupa delapan lembar daun, dan berbuah sebesar ibu jari, serta berwarna hitam.
Hal ini di luar dugaan si orang berkedok. Termenung-menung dia memandangi orang itu, entah apa yang harus diucapkan.