Chapter 30
Sambil mengangkat tangannya, si manusia bebas berkata, "Inilah Coa Hun Cau, rumput ular ini adalah obat paling aneh, mujarab, dan tak ternilai. Sudah tumbuh selama seribu tahun lamanya. Kalau ditelan bersama buahnya, begitu khasiatnya merembes ke seluruh urat nadi dan jalan darah, tubuhnya akan kebal segala racun..." Selesai berkata-kata, ia sudah berjongkok di samping tubuh Suma Bing lalu menjejalkan seluruh batang rumput ular itu ke dalam mulut Suma Bing, lalu mengurut beberapa kali di tulang jidatnya, terus menotok pula jalan darah Hok Thin Hiat.
Kini legalah hati si orang berkedok. Lantas tercetus pula katanya, "Terima kasih sebesar-besarnya atas bantuan Cianpwe ini." Mata Si Gwa Sian Jin melotot mengawasi si orang berkedok, katanya, "Tidak perlu berterima kasih apa pun, kalau bukan sifat sesat bocah ini menyenangkan hatiku. Lohu tidak akan mengorbankan rumput ular ini. Sekarang kau bawalah dia pergi, carilah sebuah gua, dua jam kemudian bukalah jalan darahnya. Begitu rumput ini masuk ke dalam perutnya, khasiatnya tentu akan bekerja dan dia akan merasakan suatu siksaan yang hebat sekali..." Si orang berkedok tunduk dan patuh. Sahutnya, "Hal ini Wanpwe sudah mengetahuinya..." "Apa kau sudah mengerti?" "Sedikit banyak aku sudah paham." "Kalau begitu cepatlah pergi!" Segera si orang berkedok membungkuk lalu memanggul Suma Bing dibawa turun gunung.
Setelah berlari sekian lama, tibalah dia di sebuah puncak tinggi. Mendongak ke udara, ia menyedot hawa dalam-dalam. Perasaannya lega dan nyaman seperti baru saja terlepas dari belenggu.
Dia harus segera menemukan sebuah gua untuk segera memberikan pertolongan pada Suma Bing.
Mendadak didapatinya di puncak sekitarnya ada bayangan beberapa orang berkelebat. Hatinya menjadi gelisah dan gugup. Kalau mereka itu anak buah Bwe Hwa Hwe yang mengikuti jejaknya, maka sukar dibayangkan akibatnya.
Luka berat Suma Bing belum sembuh. Khasiat obat rumput ular akan segera bekerja pula.
Dengan pengalaman pahit di Gunung Ceng Seng tempo hari, tentu Bwe Hwa Hwe mencurahkan seluruh tenaganya.
Kalau hanya dirinya seorang diri, pasti mudah untuk mengundurkan diri, tapi dengan Suma Bing yang pingsan ini, berbeda pula persoalannya.
Sejenak ia menyapu pandang ke empat penjuru melihat keadaan sekitarnya, terus berlari memasuki sebuah lembah di sisi kanan.
Supaya jejaknya tidak diketahui oleh orang lain, dia menyusup di antara semak belukar. Setelah bersusah payah sekian lama, baru dia tiba di bawah lembah. Di sini ia berhenti sejenak memperhatikan sekelilingnya lantas maju terus ke depan...
"Berhenti!" Mendadak suara dingin terdengar menghentikan langkahnya.
Sungguh terkejut si orang berkedok bukan kepalang. Segera ia menghentikan langkahnya dan membalik ke arah datangnya suara itu terdengar.
Maka terlihat olehnya seorang nenek-nenek beruban dengan wajah yang merah seperti air muka seorang bayi. Dengan angker ia berdiri dua tombak jauhnya di sebelah sana.
Di belakang nenek tua ini berdiri pula seorang gadis ayu dan molek mengenakan pakaian serba putih.
Si nenek bukan lain adalah Pek Hoat Sian Nio, sedangkan gadis di belakangnya itu adalah Ting Hoan.
Bahwa Pek Hoat Sian Nio muncul di tempat itu benar-benar di luar persangkaannya.
Melihat yang muncul ini bukan orang dari golongan Bwe Hwa Hwe, legalah hati si orang berkedok. Segera ia memberi hormat sambil berkata, "Kiranya Sian Nio telah tiba, harap terimalah hormat hamba." "Tidak perlu banyak basa-basi." "Sian Nio memanggil hamba, entah ada petunjuk apa?" "Beritahukan namamu." "Nama hamba sudah lama kelupakan, harap dimaafkan." "Apa yang kau panggul itu adalah Suma Bing?" Si orang berkedok terhenyak di tempatnya, sahutnya, "Memang, inilah Suma Bing." "Apa hubunganmu dengan dia?" "Sahabat karib." "Baik, sekarang kau letakkan dia, berikanlah kepadaku!" Si orang berkedok mundur selangkah dengan kaget. Tanyanya menegaskan, "Berikan kepada Sian Nio? Mengapa?" "Mengapa kau tidak perlu tahu, letakkan dan tinggal pergi." "Kalau Sian Nio tidak menerangkan sebabnya, tidak mungkin hamba menyetujuinya." "Apa kau berani membangkang?" Saking gugup, keringat membanjiri tubuh si orang berkedok. Ia tahu bahwa dirinya jelas bukan lawan Pek Hoat Sian Nio, bahkan muridnya saja ia tidak akan mudah mengalahkan.
Akan tetapi, bagaimanapun juga dia tidak bisa menyerahkan Suma Bing kepada siapa pun. Sekilas ia berpikir lalu katanya, "Saat ini Suma Bing tengah terluka berat. Dengan kedudukan dan nama Sian Nio, tidak seharusnya memaksa orang di saat kesusahan?" Berubah air muka Pek Hoat Sian Nio mendengar cerita ini. Katanya, "Seandainya dia tidak terluka, tak mungkin bisa lolos dari tanganku. Tiada alasan bagiku untuk memakai apa pun."
"Itu lain persoalan, tapi sekarang kenyataannya dia terluka berat." Benar-benar si orang berkedok tak habis mengerti mengapa Pek Hoat Sian Nio demikian kukuh menghendaki dirinya menyerahkan Suma Bing, dendam baru atau permusuhan lama atau juga... entahlah dia tidak tahu. Maka segera ia membantah, "Aku tidak akan menurut." "Benar-benar kau membandel?" "Terpaksa aku harus berbuat demikian." "Kau tahu apa akibatnya?" Ucapannya ini mengandung ancaman yang serius.
Si orang berkedok tergelak-gelak. Katanya penuh perasaan, "Kau memintaku menuruti perintahmu, kecuali jika napasku sudah berhenti." Kata Pek Hoat Sian Nio dengan ketusnya, "Mengambil nyawamu semudah membalikkan tangan, kau tidak sulit mencari kematian." Melihat tiada harapan lagi, berkobarlah amarah si orang berkedok. Serunya murka, "Pek Hoat Sian Nio, tidak malukah kau menamakan diri sebagai datuk persilatan? Tidak malu kau ditertawakan sesama kaum Kangouw? Memang aku bukan tandinganmu, tapi sebagai seorang kawan yang setia, kau harus mencabut nyawaku terlebih dahulu, kalau tidak, aku takkan menyerah." Wajah si gadis berpakaian putih, Ting Hoan, pun penuh kekhawatiran. Bibirnya sudah bergerak hendak bersuara, tapi kata-katanya ditelannya kembali.
Kebetulan pada saat itulah dari puncak bukit di sebelah sana berkumandang sebuah suitan nyaring tinggi yang mendebarkan hati orang.
Wajah Pek Hoat Sian Nio kembali seperti sedia kala. Ia melambaikan tangan, lalu berkata, "Kali ini terpaksa kulepaskan dia. Mari berangkat!" Si orang berkedok insaf bahwa banyak orang-orang kaum persilatan tengah berkumpul di sekitar situ. Mungkin ada sesuatu kejadian penting telah terjadi.
Sudah tentu Pek Hoat Sian Nio juga salah satu di antara mereka.
Semula ia menyangka orang-orang Bwe Hwa Hwe yang menguntit dirinya. Sekarang kenyataan membuktikan bahwa prasangkanya tadi salah.
Saat ini dia tidak perlu tahu mengapa gembong-gembong persilatan itu berkumpul di sini. Yang penting ia memikul tugas menyelamatkan jiwa Suma Bing. Maka cepat-cepat ia berlari semakin dalam ke arah lembah.
Tidak lama kemudian ia menemukan sebuah gua. Bergegas ia menerobos masuk lalu merebahkan Suma Bing di atas tanah. Dihitung-hitung, waktunya kira-kira tepat dua jam sejak ia meninggalkan tempat Si Gwa Sian Jin. Tanpa menunda-nunda lagi, segera ia menotok jalan darah Hek Thin Hiat di tubuh Suma Bing, lalu duduk di luar gua berjaga-jaga.
Tidak lama kemudian Suma Bing mulai siuman. Terasa mulutnya kering. Jalan darah dan seluruh urat nadi dalam tubuhnya terasa melar mengembang seperti hendak meledak.
Sekuat tenaga ia coba bertahan lalu mengamati-amati tempat apakah itu. Didapatinya dirinya rebah di dalam sebuah gua. Si orang berkedok tengah duduk terpekur di mulut gua. Baru saja ia hendak membuka mulut memanggil, seluruh tubuh mendadak mengejang, lalu diikuti beberapa jalur hawa dingin merangsang ke berbagai jalan darah dan nadinya.
Sakitnya seperti beribu jarum menyusup ke berbagai anggota tubuhnya.
Saking kesakitan tak tertahan lagi, ia bergulingan di atas tanah. Mulutnya mengeluarkan pekik dan merintih tak henti-hentinya.
Seperti tidak mendengar apa-apa, si orang berkedok tetap tenang duduk di mulut gua.
Kira-kira setelah satu setanak nasi, suara Suma Bing sudah serak dan tak kuasa lagi bergerak. Ia rebah terlentang lemas di dalam gua.
Segera si orang berkedok merogoh keluar tiga butir obat, semua dijejalkan ke dalam mulutnya, lalu secepat kilat beruntun ia menotok tiga puluh enam jalan darah penting di seluruh tubuh Suma Bing.
Katanya, "Saudara kecil, kerahkan tenaga murnimu, bantulah obat bekerja." Sekuat tenaga Suma Bing bangkit duduk. Terasa di dalam pusarnya ada tiga macam hawa hangat yang berbeda-beda perlahan-lahan menjalar ke atas. Cepat-cepat ia kerahkan tenaga murni menuntun ketiga hawa hangat itu berputar menyeluruh ke dalam tubuhnya. Tiga kali putaran kemudian, lambat laun terlupakanlah apa yang tengah dialaminya.
Si orang berkedok masih tetap berjaga di mulut gua dengan tekunnya.
Kalau di sekitar pegunungan situ jelas muncul jejak gembong-gembong silat yang tak terhitung banyaknya, tentu ada kemungkinan mereka bisa menerjang datang ke mari. Keadaan Suma Bing tengah mencapai tingkat yang paling gawat, tidak boleh terganggu oleh apa pun yang bisa mengejutkan.
Sebuah suitan nyaring bergema lama di tengah udara. Tidak berapa lama kemudian, dari empat penjuru angin terdengar juga penyambutan suitan yang riuh rendah. Apa yang tengah terjadi itu benar-benar membuat pendengarnya tegang dan merinding.
Yang lebih mengejutkan adalah suitan nyaring tadi terdengar di atas puncak tempat si orang berkedok dan Suma Bing tengah bersembunyi di dalam gua.
Setelah berbagai suitan tadi mereda, lalu diikuti suara bentakan yang bergantian.
Jelas kalau di puncak bukit itu tengah terjadi suatu pertempuran dahsyat, tapi entah peristiwa apa yang telah terjadi.
Si orang berkedok nanar memandang ke luar gua.
Hatinya pedih dan risau. Bergantian ia pun mengawasi keadaan Suma Bing.
Sebuah suara pekik panjang menggiriskan menyadarkan renungan si orang berkedok. Jelas bahwa sudah ada yang terluka atau mati dalam pertempuran di atas bukit itu.
Tidak lama kemudian diikuti lagi sebuah teriakan panjang. Bergema dalam lembah itu sebuah bayangan manusia meluncur dari atas bukit seperti meteor jatuh.
Tanpa terasa, bulu kuduk si orang berkedok merinding. Dengan penuh perhatian ia menunggu apa yang bakal terjadi.
'Bum', bayangan hitam itu berdentam terbanting beberapa tombak jauhnya dari gua sana, lalu tak bergerak lagi.