Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 31

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 31

Si orang berkedok menghela napas panjang, lalu bergumam, "Oh, kiranya sebuah mayat. Entah siapa yang memukulnya hingga jatuh ke dalam lembah. Siapakah orang yang mati itu?" Meski hatinya ingin tahu dan penuh curiga, dia tidak berani meninggalkan gua untuk pergi memeriksa. Keadaan Suma Bing sudah mencapai titik gawat yang terakhir; keselamatan pemuda itu menjadi tanggung jawabnya!

"Blang!" Lagi-lagi sebuah mayat terkapar jatuh di luar gua. Karena jaraknya agak dekat, si orang berkedok dapat melihat dengan jelas siapa mayat itu. Hampir saja ia berseru kaget sebab dari pakaiannya yang bercorak aneh, ia mengetahui bahwa korban ini adalah gembong penjahat yang biasa malang melintang di tujuh provinsi selatan, yaitu Ngo Jay Sin Eng Lu Pek.

Lwekang dan kepandaian Elang Sakti Panca Warna ini merupakan tokoh terkemuka di kalangan Kangouw, tetapi toh ia bisa dirobohkan dan terbanting mampus di dalam jurang. Maka dapat dibayangkan bahwa orang-orang yang bertempur di atas bukit itu tentu bukan gembong silat sembarang tingkat. Jelas yang diketahui Pek Hoat Sian Nio adalah salah satu di antaranya.

Suara bentakan nyaring masih berulang-ulang terdengar. Sang surya sudah mulai condong ke barat dan keadaan dalam lembah mulai remang-remang. Pada saat itulah Suma Bing selesai menjalani pengobatannya; ia bergegas melompat bangkit dari atas tanah.

Kegembiraan si orang berkedok sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tersipu-sipu ia maju menyongsong sambil berseru girang, "Saudara kecil, kuberi selamat kepadamu."

Suma Bing terperanjat dan bertanya, "Selamat? Apa maksudmu?"

"Lwekang-mu sudah pulih menyeluruh, malah tubuhmu kini tidak takut lagi menghadapi segala racun berbisa. Hal ini selalu merupakan keinginan semua kaum persilatan yang susah dicapai."

"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud!"

"Si Gwa Sian Jin telah menjejalkan seluruh batang rumput ular bersama buahnya kepadamu. Maka bukan saja racun Pek Ji Kui yang mengeram dalam tubuhmu sudah punah sama sekali, malah sejak kini tubuhmu menjadi kebal dan tidak takut lagi pada segala racun berbisa." Lalu si orang berkedok bercerita secara ringkas.

"Bong Bian Heng, lagi-lagi aku berhutang budi yang susah dapat kubalas."

"Saudara kecil, tak usah kau masukkan ke dalam hati semua urusan kecil itu. Mungkin juga pada suatu hari kelak, aku akan lebih banyak meminta bantuanmu."

"Eh, suara apakah itu?"

"Di atas puncak itu tengah terjadi pertempuran sengit."

"Terjadi peristiwa apakah?"

"Entahlah. Pek Hoat Sian Nio dan muridnya pun ada di antara mereka. Bahkan ada dua mayat manusia yang terjatuh di luar gua sana."

Mendengar nama Pek Hoat Sian Nio, berkobarlah amarah Suma Bing. Segera ia berseru, "Mari kita coba lihat ke atas!"

"Saudara kecil, Pek Hoat Sian Nio agaknya memiliki permusuhan denganmu. Sebelum memasuki lembah ini, tanpa disangka-sangka kita pernah bertemu. Dengan keras dia meminta supaya kau diserahkan kepadanya. Aku berkukuh tidak meluluskan permintaannya. Untung sebuah suitan panjang menggugah maksudnya semula."

"Aku sendiri juga belum jelas sebab musababnya, tapi teka-teki ini akhirnya pasti harus kupecahkan."

Begitu mereka keluar gua, kedua mayat itu masih tergeletak di sana. Salah satunya adalah seorang laki-laki setengah baya yang mengenakan jubah sutra panjang. Orang yang lain adalah seorang tua berpakaian serba ungu dengan sulaman sekuntum bunga besar berwarna hitam di dadanya.

Menunjuk mayat laki-laki setengah baya itu, si orang berkedok berkata, "Itulah Ngo Jay Sin Eng Lu Pek. Tak terduga seorang gembong penjahat besar akhirnya mesti mati di tempat ini tanpa liang kubur yang layak."

Tidak ketinggalan, Suma Bing pun menyapu pandangan ke arah mayat lainnya. Seketika ia berseru kaget, "Dia adalah tokoh Bwe Hwa Hwe yang berjuluk It Cian To Hun Ciu Eng Lian!"

"Wah, kalau begitu tentu terjadi pertemuan tingkat tinggi di atas sana."

"Marilah lekas pergi melihat!"

"Mari!"

Berbarengan mereka melejit dengan kecepatan yang sulit diukur, langsung menuju ke atas puncak. Terlihat sebidang tanah datar di atas puncak dengan bayangan manusia yang tengah berseliweran; bentakan-bentakan nyaring masih terdengar saling menyusul. Suma Bing dan rekannya bersembunyi di belakang dahan pohon, perlahan-lahan mereka merayap maju mendekat, dan akhirnya bersembunyi di belakang sebuah batu besar.

Gelanggang pertempuran sudah banjir darah; berpuluh-puluh mayat bergelimpangan bertumpuk di pinggir arena. Saat itu, Pek Hoat Sian Nio tengah bertempur melawan seorang tua berwajah bengis dengan rambut dan jenggot berwarna merah.

Si orang berkedok berbisik kepada Suma Bing, "Dilihat dari gelagatnya, musuh yang tengah mereka hadapi adalah Tang Mo."

"Tang Mo? Orang tua rambut merah itu?" Seketika darah Suma Bing bergejolak. Timbullah nafsu membunuh dalam benaknya; saking bernafsu, tubuhnya sampai gemetar hebat. Sebab, Tang Mo adalah salah satu pengeroyok yang membinasakan ayah bundanya. Satu-satunya hal yang diketahui ialah bahwa Pedang Darah itu kini berada di tangan bangsat durjana ini.

12. TANG MO: IBLIS TIMUR DIBUAT KEOK

Si orang berkedok telah melihat perubahan sikap Suma Bing yang aneh ini, lalu bertanya heran, "Saudara kecil, ada apa denganmu?"

"Iblis Timur ini harus kubunuh!" desis Suma Bing sambil mengertakkan gigi.

"Apa? Kau hendak membunuh Iblis Timur? Ada permusuhan apakah kau dengan Tang Mo?"

"Dendam sakit hati sedalam lautan."

"Tapi dengan kemampuanmu sekarang, mungkin kau masih bukan tandingan Tang Mo."

"Terpaksa aku harus nekat!" sahut Suma Bing penuh kebencian.

"Saat ini belum menguntungkan bagimu untuk bergerak."

"Kenapa?"

"Pek Hoat Sian Nio belum puas sebelum dapat meringkusmu. Dan lagi, apa kau sudah perhatikan orang berbaju ungu di sebelah timur itu?"

Waktu Suma Bing menyapu pandangan ke tempat yang ditunjuk, tanpa terasa ia melonjak kaget dan berseru, "Ketua Bwe Hwa Hwe!"

"Benar. Orang ini pun takkan melepaskanmu. Ketahuilah bahwa lwekang ketiga orang ini jauh di atas kepandaianmu." Suma Bing hanya mendengus tanpa berkata-kata lagi.

Gerak-gerik kedua orang di tengah gelanggang kini berubah semakin lambat. Lama sekali baru mereka melancarkan satu jurus, namun setiap jurusnya adalah ajaran silat tingkat tinggi yang lihai. Asal salah satu pihak berlaku sedikit lalai, hidup atau mati segera akan ditentukan, sebab pertempuran macam demikian jauh lebih seram dan berbahaya.

Mendadak Tang Mo berteriak panjang. Kedua tangannya bergerak melintang terus disorong maju; gerak serangannya ini aneh, menakjubkan, dan keras luar biasa. Dalam waktu yang bersamaan, Pek Hoat Sian Nio juga melancarkan sebuah pukulan; wibawanya bagai kilat menyambar dan guntur menggelegar.

Dua belah pihak sama-sama melancarkan serangan tanpa ada yang mau mengalah atau mengubah cara permainannya untuk bertahan. Sebab inilah cara bertempur untuk gugur bersama, seakan kedua belah pihak mempunyai dendam kesumat sedalam lautan; sebelum salah satu pihak menemui ajal, mereka takkan berhenti.

"Blang! Bum!" Dua kali ledakan menggoncangkan sekitar gelanggang pertempuran, diselingi suara pekik tertahan. Dua bayangan orang terpental mundur bersamaan; para penonton pun ikut berseru kaget. Pek Hoat Sian Nio terhuyung hampir roboh, darah mengalir dari ujung bibirnya. Sementara itu, Tang Mo menyemburkan darah; tubuhnya mundur satu tombak lebih, namun untungnya masih kuat berdiri di atas tanah.

Sebuah bayangan berkelebat, tahu-tahu Ketua Bwe Hwa Hwe sudah berdiri di antara Pek Hoat Sian Nio dan Tang Mo. Terdengar ia berkata dingin penuh ancaman, "Tang Mo, serahkan saja kepadaku. Kenyataan sudah membuktikan kalau kau menyerahkan Pedang Darah itu, pasti jiwamu dapat terjamin. Atau sebaliknya, kau akan kehilangan segalanya; pedang dan jiwamu amblas keduanya."

Tergetar seluruh tubuh Suma Bing, desisnya sambil mengertakkan gigi, "Mereka tengah memperebutkan Pedang Darah."

"Kiranya Pedang Darah masih berada di tangan Tang Mo. Jelas bahwa kabar di kalangan Kangouw yang mengatakan Pedang Darah itu terjatuh di tangan Mo San Ji Kui adalah bohong belaka!"

Perasaan hati Suma Bing susah dilukiskan. Pedang Darah seharusnya menjadi hak milik ayahnya, dan ayah bundanya pun mati lantaran benda itu; dia sendiri pun hampir direnggut oleh maut. Sakit hati harus dibalas, Pedang Darah juga harus direbut kembali. Lantas ia teringat juga pesan gurunya sebelum ajal: Pedang Darah dan Bunga Iblis, capailah pelajaran silat yang tiada taranya itu untuk menuntut balas dan mencuci nama baik perguruan.

Belum habis pikirannya, terdengar Tang Mo memperdengarkan suara tawa menggila bagai lolongan serigala dan pekikan orang hutan. Lalu serunya, "Kau ini terhitung barang macam apa?"

Ketua Bwe Hwa Hwe menyeringai dingin dan berkata, "Aku yang rendah inilah Ketua Bwe Hwa Hwe."

"Silakan Tuan mundur!" ejek Pek Hoat Sian Nio.

"Mengapa?"

"Urusanku dengan Tang Mo belum selesai."

"Hahahaha! Tidakkah salah ucapan Sian Nio ini? Barang berharga yang tiada pemiliknya, siapa pun yang melihatnya harus mendapat bagian. Semua kawan yang hadir hari ini tujuannya adalah benda itu, jadi bukan kita saja yang ingin merebutnya."

"Siapa bilang Pedang Darah tiada pemiliknya?"

"Apa mungkin menjadi milik Sian Nio?"

"Kenapa tidak mungkin!"

"Hahaha! Meskipun nama Pek Hoat Sian Nio tersohor di seluruh jagat raya, tapi semua orang di sini bukan bocah umur tiga tahun!"

"Jadi kau sudah pasti menyetujui Pedang Darah itu?"

"Aku tidak perlu menyangkal."

"Kalau begitu, silakan kau turun tangan."

"Maaf aku berlaku kurang hormat."

Wajah Ketua Bwe Hwa Hwe tertutup oleh kedoknya sehingga wajah asli atau perubahan mimiknya sukar diketahui. Namun, dari sinar matanya dan nada ucapannya yang sangat garang, tanpa banyak cakap lagi ia langsung mengulurkan tangan dan mencengkeram ke arah pinggang Iblis Timur. Cara cengkeramannya sangat keji dan cepat luar biasa hingga menciutkan nyali orang.

Sebagai salah satu tokoh dari Bu Lim Su Ih, meskipun sudah terluka parah, namun lwekang Tang Mo masih hebat luar biasa. Tangan kirinya melintang menangkis cengkeraman Ketua Bwe Hwa Hwe, berbarengan tangan kanannya bergerak miring menghantam muka lawan. Pada saat yang sama, Pek Hoat Sian Nio juga melancarkan sebuah serangan.

Seumpama kepandaian Ketua Bwe Hwa Hwe setinggi langit pun, ia takkan berani menangkis serangan berbarengan dari dua tokoh silat tingkat wahid itu. Dengan sebat ia menggeser kedudukannya lima kaki ke belakang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment