Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 33

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 33

Tiga sosok mayat yang memasuki lingkungan beracun ini sudah berubah lapuk dan hitam seperti tiga batang balok yang hangus terbakar.

Sudah tentu tidak ada yang berani mencoba lagi, sebab racun tidak mungkin dapat diatasi dengan kepandaian setinggi apa pun jua.

Lama berselang kemudian, Racun Diracun tersentak dari lamunannya. Matanya menyapu pandang ke arah Pek Hoat Sian Nio dan Bwe Hwa Hwe Tiang, serta tanyanya, "Bagaimana menurut pendapat kalian berdua?" "Saat ini aku hanya ingin meringkus bocah ini saja," sahut Pek Hoat Sian Nio tanpa banyak berpikir.

Racun Diracun terkekeh. "Bagus sekali, pendapat kita berdua tidak berselisih!" Lalu ia berpaling dan bertanya kepada Bwe Hwa Hwe Tiang, "Tuan Ketua, bagaimana?" Sejenak Bwe Hwa Hwe Tiang menatap ke arah Suma Bing, lalu berputar dan menjawab pertanyaan Racun Diracun, "Tuan, silakan kau jelaskan maksudmu sendiri." "Tujuanku pada Pedang Darah itu!" "Bagaimana kalau pendapatku sama dengan Tuan?" "Kita tentukan dulu urusan ini." "Bagaimana cara penyelesaiannya?" "Masing-masing bergulat menunjukkan kepandaiannya." "Yang Tuan maksudkan, kepandaian ditentukan dalam ilmu silat atau termasuk juga keahlian Tuan sendiri?" "Hehehehehe, kalau julukanku Racun di Dalam Racun, menggunakan racun adalah pasti." "Kalau begitu," seru Bwe Hwa Hwe Tiang menyeringai.

"Sementara aku ingin orangnya." "Sementara?" jengek Racun Diracun.

"Itu berarti kelak Tuan juga akan merebut Pedang Darah ini lagi, bukan?" "Tidak salah." "Baik, yang paling penting sekarang kita selesaikan persoalan ini dulu.

Kalau begitu, setelah kuperoleh Pedang Darah itu, biar kudesak dia keluar dari lingkungan bisa Sam Pou To, hitung-hitung sebagai tanda rasa terima kasihku kepada kalian berdua yang sudi mengalah kepadaku." Tak lama kemudian, Racun Diracun sudah melangkah maju mendekati Suma Bing, ketegangan mulai meruncing lagi di sekitar gelanggang perebutan ini.

Tersipu-sipu Suma Bing menyelipkan Pedang Darah itu ke dalam ikat pinggangnya, lalu bersiap siaga menjaga segala kemungkinan.

Tok Tiong Ci Tok menghentikan langkahnya sejauh satu tombak di depan Suma Bing, jengeknya dingin, "Suma Bing, tidak kuduga kau pun cukup hebat dalam permainan racun, sedikit pun kau tidak gentar terkena racun 'Tiga Tindak Roboh' itu!" "Racunmu ini terhitung barang apa?" ejek Suma Bing.

"Siaucu, jangan kau takabur, kupikir kau pernah dengar tentang Racun Tanpa Bayangan, bukan?" "Hm, apa kau hendak menggunakan racun itu untuk menghadapi aku?" Kiranya, perlu juga kuperingatkan kepadamu.

"Karena sebatang ginseng, sepasang muda-mudi tewas karena perbuatanmu menggunakan Racun Tanpa Bayangan itu?" "Benar, lalu kenapa?" "Hutang darah ini sudah kucatat dalam hatiku!" "Sudah, jangan omong kosong, serahkan saja Pedang Darah itu!" "Apa kau mampu?" "Marilah kau coba-coba." Seiring dengan habis ucapannya, sepasang cakar hitamnya secepat kilat sudah melesat tiba, yang satu meraup muka sedang yang lain mencengkeram ke arah Pedang Darah. Kecepatan dan kehebatannya saat turun tangan ini sungguh sangat menakjubkan dan mengejutkan.

Suma Bing sudah siap siaga, di saat serangan belum tiba, kedua tangannya pun sudah bergerak tidak kalah cepatnya menepuk ke depan. Serangannya ini mengerahkan seluruh himpunan tenaga Kiu Yang Sin Kang dalam tubuhnya.

Hantaman gelombang panas bagai lahar gunung berapi membuat Racun Diracun mau tidak mau harus menyingkir mundur delapan kaki sambil mengurungkan serangannya sendiri. Tak urung mulutnya pun terucap seruan, "Kiu Yang Sin Kang!" Seruan ini benar-benar membuat semua hadirin tergetar kaget, sebab Kiu Yang Sin Kang merupakan pelajaran tunggal dari Lam Sia yang paling ampuh, hebat, dan menjadi jagoan di dunia persilatan di masa silam.

Namun mereka hanya pernah mendengar namanya dan belum menyaksikan sendiri kehebatan ilmu yang dibanggakan itu.

Sejenak Racun Diracun terhenti, lalu serunya lagi, "Walaupun ilmu saktimu hebat kekuatannya, sayang latihanmu belum sempurna sepenuhnya." "Wut!" Lagi sebuah jotosan keras yang dapat menghancurkan batu dan menggugurkan gunung melesat ke arah Suma Bing.

Tanpa berkelit atau menghindar, Suma Bing mengangkat tangannya untuk menangkis.

Begitu benturan menggema terdengar, tubuh Racun Diracun bergoyang-goyang tersurut mundur setapak, sementara Suma Bing terpental mundur tiga langkah, darah bergolak di rongga dadanya.

Di lain saat Suma Bing terhuyung mundur itu, belum sempat pula ia mempertahankan diri, lagi-lagi Racun Diracun sudah mengirim dua kali jotosan pula.

Kali ini Suma Bing memiringkan sedikit tubuhnya untuk menghindar, namun tak urung tubuhnya sempoyongan juga terdampar oleh angin pukulan.

Gerak-gerik Racun Diracun sungguh cepat luar biasa seperti bayangan setan, tiba-tiba dia melejit mendekat dan sekali raup, Pedang Darah sudah berada di tangannya.

Gemparlah suasana gelanggang pertempuran dengan sorak-sorai para hadirin. Suma Bing berseru dengan beringas, "Racun Diracun, pada suatu hari tentu Siao Ya-mu akan menelanmu bulat-bulat!" Racun Diracun tertawa gila kepuasan, serunya, "Jika malam ini kau tidak mati, tentu aku akan menunggu kedatanganmu."

"Wut!" Tiba-tiba ia mengirim lagi sebuah hantaman dahsyat karena tidak menduga tubuh Suma Bing tergetar sempoyongan ke belakang dan keluarlah dia dari lingkaran berbisa itu.

Begitu memutar tubuh, Racun Diracun melejit tinggi, sebentar saja bayangannya menghilang di kegelapan malam.

Kini Pedang Darah berpindah ke tangan orang lain lagi, tapi ketegangan dalam arena masih sedemikian tegang mencekik leher.

Maka dalam waktu yang bersamaan, Pek Hoat Sian Nio dan Ketua Bwe Hwa Hwe bersamaan mendesak dan menubruk ke arah Suma Bing.

Kedua mata Suma Bing melotot hampir keluar menatap ke arah Ketua Bwe Hwa Hwe dan Pek Hoat Sian Nio. Sampai pada detik itu ia masih belum jelas akan sebab-musabab mengapa kedua orang ini berkukuh hendak menamatkan riwayatnya.

Tanpa basa-basi lagi, Ketua Bwe Hwa Hwe segera mengayun kedua tangannya, ia melancarkan pukulan jarak jauh yang dahsyat sekali.

Bersamaan itu, Pek Hoat Sian Nio pun tidak mau ketinggalan, cepat-cepat tangannya pun diayun mengirim serangannya yang tidak kalah pula kehebatannya.

Dua gembong persilatan kelas wahid bersama melancarkan pukulannya. Betapa kuat dan hebat kekuatannya, seumpama gunung pun bisa gugur.

Dasar sifat Suma Bing memang keras kepala dan angkuh sekali, tanpa mau berkelit ia pun menggerakkan tangannya menangkis.

Letak kedudukan Pek Hoat Sian Nio dan Ketua Bwe Hwa Hwe kebetulan berlawanan, maka kedua kekuatan pukulan mereka menjadi saling hantam dan saling bentur dengan dahsyatnya. Suara menggema menggetarkan seluruh gelanggang. Saking kerasnya benturan angin pukulan ini, Suma Bing tergulung sungsang dan terpental lebih dari setombak, darah bagai air mancur menyemprot dari mulutnya.

Sungguh sangat kebetulan karena getaran kekuatan benturan itu tubuh Suma Bing terpental balik lagi ke dalam lingkaran berbisa itu malah.

Ketua Bwe Hwa Hwe dan Pek Hoat Sian Nio melengak.

Bahwa racun 'Tiga Tindak Roboh' merupakan salah satu bisa paling lihai di kolong langit, sudah tentu mereka tidak berani memandang enteng. Namun garis tengah lingkaran berbisa itu tidak kurang dari tiga tombak. Kalau mengirim serangan jarak jauh dari luar lingkaran, Suma Bing masih dapat dipukul mati.

Sebaliknya, kalau mau menawannya hidup-hidup, rasanya tidaklah begitu gampang.

Sejenak berpikir, Ketua Bwe Hwa Hwe berubah pikiran, katanya kepada Pek Hoat Sian Nio, "Sian Nio, aku mengubah pendirianku, kubatalkan maksudku semula." "Jadi kau hendak mengundurkan diri?" "Tidak, aku ingin membunuhnya."

Mau tidak mau Pek Hoat Sian Nio pun harus berpikir, lantas sahutnya, "Kalau begitu aku pun hanya ingin bertanya beberapa patah kata saja!" "Kalau begitu, silakan lebih dulu."

Sinar mata Pek Hoat Sian Nio setajam ujung gunting menatap ke arah Suma Bing, desisnya, "Suma Bing, kau ini murid atau cucu murid Lam Sia?" "Tidak perlu kau tahu," jengek Suma Bing.

"Jawablah pertanyaanku sebenarnya, aku tidak akan..." "Tidak bisa!" Air muka Pek Hoat Sian Nio berubah kelam, hardiknya gusar, "Suma Bing, dulu beruntung kau masih hidup, tapi hari ini jangan harap kau bisa hidup. Dengar, hanya dua jari tanganku saja, jarak sejauh tiga tombak, masih dapat meremukkan batok kepalamu."

"Mengapa tidak kau coba turun tangan?" jengek Suma Bing sambil mengertakkan gigi.

"Kau sangka aku tidak mampu membunuhmu? Hehehe..." Diiringi suara tawanya, dua jari tengahnya dirangkapkan terus menusuk lurus ke depan. Seketika mendesis angin tusukan jarinya melesat bagai anak panah ke arah Suma Bing.

Sedikit menggeser kaki dan memiringkan tubuhnya, tanpa banyak mengeluarkan tenaga, Suma Bing menghindarkan serangan hebat ini.

Melihat serangannya gagal, Pek Hoat Sian Nio mendesis geram. Kedua tangannya bergerak cepat menggencar serangannya. Diterpa serangan bertubi-tubi ini, Suma Bing mengertakkan gigi sambil mengangkat tangannya untuk menangkis.

Blang! Suma Bing tersurut mundur terhuyung.

Dan sebelum ia berdiri tegak, secepat itu pula Pek Hoat Sian Nio telah melancarkan lagi serangan serupa tadi. Sepuluh jari tangannya bergantian menjentik, lengking pantulan angin jarinya berseliweran bagai kilat melesat menyambar-nyambar.

Terpaksa Suma Bing harus berputar jumpalitan untuk menyelamatkan diri. Walaupun tempat penting tidak terserang, tak urung pundaknya tertembus juga berlubang hingga darah mengalir deras keluar membasahi tubuh. Sakitnya sampai meresap ke tulang sumsum.

Saat Pek Hoat Sian Nio menarik kembali tangannya dan sebelum melancarkan lagi serangannya.

Sambil menggeram keras, Suma Bing melejit keluar dari lingkaran berbisa langsung menubruk ke arah Pek Hoat Sian Nio, di mana kedua tangannya bergerak bergantian sekaligus ia melancarkan dua belas kali pukulan balasan.

Perbuatannya ini boleh dikatakan sudah nekat dan beringas seperti orang gila. Setiap kali pukulannya mengandung tenaga yang dapat menghancurkan batu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment