Chapter 34
Pek Hoat Sian Nio terdesak mundur tiga langkah. Sepertinya Suma Bing sudah terlampau membenci lawannya; tanpa tanggung-tanggung, jurus Liu Kim Hoat Ciok pun dilancarkan.
Pek Hoat Sian Nio terdesak mundur selangkah lagi, lalu membalas dengan tiga pukulan. Angin ribut bergulung membumbung tinggi ke angkasa, membuat Suma Bing tersurut mundur, bergetar akibat pukulan balasan lawan.
Kini tampaknya Pek Hoat Sian Nio sudah sangat marah. Mulutnya menggeram lirih, sementara kedua tangannya bergerak mengayunkan bayangan tangan berlapis-lapis yang tampak seperti ribuan jumlahnya, semuanya menyergap ke arah tubuh Suma Bing. Di tengah gemuruh angin pukulannya, sayup-sayup terdengar suara guntur yang menggelegar.
Kedua mata Suma Bing melotot merah membara. Ia merangsek ke dalam bayangan pukulan lawan dan berkali-kali melancarkan serangan dahsyat tanpa menghiraukan lagi keselamatan dirinya sendiri. Cara bertempur yang nekat ini mau tidak mau membuat Pek Hoat Sian Nio gentar dan kecut hati.
Namun pada hakikatnya, kepandaian Suma Bing memang masih kalah jauh. Pada benturan pukulan kedelapan, Suma Bing terpekik ngeri. Darah menyembur keras dari mulutnya, tepat mengenai wajah Pek Hoat Sian Nio. Tubuhnya lantas roboh terkapar di atas tanah.
Pek Hoat Sian Nio menyeka noda darah di wajahnya, lalu mengangkat tangan hendak menghantam kepala Suma Bing.
"Berhenti!" tiba-tiba sebuah bentakan menggelegar.
Serta-merta Pek Hoat Sian Nio menghentikan tangannya dan mundur selangkah. Seseorang berkedok yang mengenakan pakaian hijau tahu-tahu sudah menghadang di depan Suma Bing.
"Siapa kau?"
"Hanya kaum keroco dari dunia persilatan, tidak perlu aku memperkenalkan diri. Akulah kawan karib Suma Bing."
"Hm, kau hendak apa?"
"Ada dendam atau permusuhan apa antara Sian Nio dengan Suma Bing, hingga kau merasa harus membunuhnya?"
"Kau jangan turut campur, tidak akan kuberitahu padamu."
"Bukankah tujuanmu hanya ingin menanyakan sesuatu kepadanya? Baik, aku akan mewakili menjawabnya."
"Kau... kau bisa menjawab pertanyaanku tadi?"
"Benar. Dia murid Lam Sia, dan si Sesat Tua itu sekarang sudah meninggal."
Saat itulah Ketua Bwe Hwa Hwe memperdengarkan suara tawanya, "Sian Nio, kini urusanmu sudah selesai, bukan?"
Pek Hoat Sian Nio mendengus hina dengan keras, lalu memutar tubuh dan segera pergi. Si gadis berbaju putih, Ting Hoan, segera mengikutinya dari belakang. Dalam sekejap, bayangan mereka pun menghilang.
Si orang berkedok memutar tubuh menghadapi Ketua Bwe Hwa Hwe dan bertanya, "Apa benar Ketua menginginkan jiwanya?"
"Termasuk jiwamu juga. Keajaiban tidak akan terulang kembali dan keberuntungan hanya didapat sekali. Peristiwa di Sam Ceng Koan tidak akan terjadi lagi di sini. Kuberitahu kau, kau tidak punya kesempatan lagi, bahkan untuk sedetik pun."
Si orang berkedok tertawa terbahak-bahak. Serunya, "Aku tahu kepandaianku rendah, tapi aku tidak mengharapkan keberuntungan itu lagi."
Pada saat itulah Suma Bing merangkak bangun dengan sempoyongan. Suaranya gemetar, "Sahabat berkedok, sebaiknya kau menyingkir saja."
"Saudara kecil, aku tidak akan berbuat sebodoh itu. Agaknya memang kita berjodoh; nasib kita berdua tampaknya sudah terikat menjadi satu."
"Kalian berdua masih punya pesan terakhir atau tidak?" kata Ketua Bwe Hwa Hwe sembari mendesak maju.
Bola mata Suma Bing melotot lebar, seakan-akan hampir melompat keluar bagaikan dua butir kelereng. Ia berkata dengan tajam, "Aku menyesal karena tidak dapat membongkar kedok aslimu. Lebih besar pula rasa kesalku karena belum bisa membunuhmu!"
"Hehehe, Suma Bing, sebelum ajalmu, aku sang ketua boleh membantu melaksanakan keinginanmu yang pertama. Begitu kau mengetahui siapa aku ini, aku percaya kau akan mati dengan tenteram."
Sosok berkedok menyapu pandangan ke sekitar gelanggang. Ia melihat bahwa kebanyakan yang hadir di sana adalah anak buah Bwe Hwa Hwe. Ia tahu bahwa harapan untuk lolos hidup-hidup sudah tidak ada lagi. Namun, di saat-saat kritis ini, semangat dan pikirannya malah semakin tenang.
Ketua Bwe Hwa Hwe beralih pandang ke arah si orang berkedok dan berkata, "Tuan, lebih baik kau bunuh diri saja."
"Tutup mulut!" hardik Suma Bing geram. Namun, baru dua patah kata saja, mulutnya yang terbuka lebar justru menyemburkan darah segar lagi. Tubuhnya pun terhuyung hampir roboh.
Sementara itu, si orang berkedok menyahut lantang dengan gagahnya, "Kalau aku tidak beruntung dan mati di tanganmu, aku hanya menyesali kepandaianku yang tidak becus. Jangan kau sangka semudah itu menyuruhku bunuh diri."
"Ya, apa boleh buat. Biar aku tamatkan kalian sekalian!" Secepat kata-katanya habis, lima jari tangannya menyelinap maju mencengkeram ke arah dada si orang berkedok. Cara ia turun tangan sangat cepat dan aneh.
Tidak kalah gesit, si orang berkedok menjejakkan kakinya dan melejit mundur lima kaki. Berbarengan dengan itu, ia mengirimkan sebuah pukulan balasan. Kekuatan pukulannya ternyata sangat kuat dan deras.
Ketua Bwe Hwa Hwe menggerakkan tangan kiri membentuk lingkaran, dengan mudah ia memunahkan kekuatan pukulan musuh, sementara tangan kanannya sudah diayunkan keluar. Terdengar benturan keras dan si orang berkedok tergetar mundur dua langkah.
Sementara itu, Suma Bing telah menghimpun seluruh tenaganya. Sambil menggeram keras, ia menghantam punggung Ketua Bwe Hwa Hwe dari samping. Ketua Bwe Hwa Hwe tidak menoleh maupun bergerak, seakan tidak merasakan sedikit pun pukulan keras itu.
Karena sengaja membiarkan dirinya diserang, tubuh Ketua Bwe Hwa Hwe sedikit bergoyang. Justru Suma Bing sendiri yang terpental balik oleh tenaga pantulan pukulannya sendiri. Tubuhnya meliuk jatuh terduduk dan ia kembali muntah darah.
Sementara itu, si orang berkedok membentak keras sambil menyerang dengan sekuat tenaga. Kedua tangannya menyerang ke arah dada dan perut Ketua Bwe Hwa Hwe. Kedahsyatan dan kelihayan jurus serangannya ini benar-benar mengejutkan.
Diserang dengan pukulan sedahsyat itu, Ketua Bwe Hwa Hwe masih tetap tenang. Ia mendengus dan mengangkat tangan untuk menangkis. Begitu kedua pukulan saling beradu dan menggelegar, si orang berkedok terpental lebih dari satu tombak. Baru saja badannya berdiri tegak dan belum sempat menghela napas, tubuhnya sudah melayang tinggi terhantam gelombang angin pukulan musuh. Disertai teriakan panjang yang bergema di udara, tubuhnya melambung setinggi dua tombak, lalu melayang jatuh ke dalam jurang.
Suma Bing memekik kalap, darah berhamburan lagi dari mulutnya. Ia terpaksa menyaksikan kawan berkedoknya dipukul hingga terbang masuk ke jurang oleh Ketua Bwe Hwa Hwe, sementara ia sendiri tidak mampu menolong kawan yang sudah berulangkali menyelamatkan jiwanya itu. Karena terlempar ke dalam jurang, pasti badannya hancur lebur. Sang kawan mati demi dirinya.
Segera Ketua Bwe Hwa Hwe mengibaskan tangannya serta berseru, "Bawa pergi!"
Dua orang laki-laki berpakaian hitam segera mengiakan sambil melompat keluar, lalu menubruk ke arah Suma Bing yang sudah lemah dan tak mampu bergerak.
Sesaat sebelum kedua anak buah Bwe Hwa Hwe menyentuh tubuh Suma Bing, mendadak terdengar sebuah bentakan halus namun nyaring, "Cari mati!"
Disusul kemudian, kedua laki-laki berseragam hitam itu memekik keras dan langsung roboh tak bernyawa.
Ketua Bwe Hwa Hwe sangat murka. Begitu besar nyali orang yang berani membunuh anak buahnya secara terang-terangan di depan matanya. Matanya berkilat-kilat menyapu pandangan ke empat penjuru, namun jejak musuh tidak kelihatan. Tanpa tertahan lagi, ia membentak gusar, "Siapa itu?"
"Kau tidak berharga untuk bertanya!"
Betapa congkak nada ucapan tersebut. Hal ini membuat semua yang hadir merasa heran dan hampir tidak percaya. Sebagai Ketua Bwe Hwa Hwe, sebuah perkumpulan besar di dunia persilatan, ia seolah dianggap tidak layak untuk mengetahui nama musuhnya.
Saking marahnya, Ketua Bwe Hwa Hwe justru tertawa terbahak-bahak, "Takabur dan congkak benar ucapanmu, Tuan. Kenapa tidak lekas kau tunjukkan diri? Apa kau malu bertemu orang?"
Seruan nyaring nan merdu tadi terdengar lagi, kali ini mengandung ancaman seram, "Memintaku muncul boleh, namun apakah semua hadirin rela meninggalkan tulang belulangnya di atas puncak bukit ini?"
Mendengar ancaman ini, perasaan Ketua Bwe Hwa Hwe menjadi dingin. Dengan ragu ia maju menghampiri mayat kedua anak buahnya. Begitu ia melihat dengan jelas, semangatnya bagai terbang ke awang-awang. Badannya sempoyongan mundur tiga langkah, suaranya gemetar penuh ketakutan saat memberi perintah, "Semua... mundur!"
Begitu perintah diserukan, semua anak buahnya lari kocar-kacir turun gunung bagai dikejar setan. Dalam sekejap mata, semuanya sudah menghilang di kegelapan malam.
Suma Bing sendiri tidak kurang terkejut dan heran. Ia bertanya-tanya orang hebat macam apa yang sudi menolongnya, hingga Ketua Bwe Hwa Hwe yang sangat lihai dan berkedudukan tinggi pun lari ketakutan.
Sambil menebak-nebak, pandangan matanya tertuju ke arah kedua mayat yang rebah tidak jauh darinya. Begitu melihat apa yang menggeletak di samping jenazah itu, jiwanya seolah melayang pergi dan tubuhnya merinding.
Ternyata, dalam sekejap mata, kedua mayat itu kini hanya tinggal tulang belulang putih di tengah kegelapan malam. Di atas kedua kerangka itu tertancap masing-masing sebuah panji kecil dari sutra. Di tengah panji itu tersulam gambar sebuah tengkorak dengan dua batang tulang bersilang.
Teringatlah ia akan cerita gurunya mengenai asal-usul panji tengkorak bersilang ini. Panji itu bernama Pek Kut Ji (Panji Tulang Putih), pertanda khas dari Pek Kut Hujin, seorang tokoh wanita mengerikan yang menggetarkan dunia persilatan enam puluh tahun yang lalu. Setiap kali panji serupa itu muncul, betapa pun lihainya ilmu silat seseorang, jika terkena panji keramat ini, dalam sekejap tubuhnya akan hancur menjadi cairan darah dan hanya menyisakan kerangka tulang saja.