Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 35

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 35

Maka begitu melihat panji sakti ini, tiada seorang pun kaum persilatan yang tidak segera lari lintang pukang menyelamatkan diri.

Kemunculan Pek-kut Hujin yang mendadak di sini benar-benar di luar dugaan siapa pun.

"Apa mungkin gembong iblis wanita itu masih hidup? Mengapa pula dia mau menolong dirinya?" Suma Bing tidak habis mengerti. Lama sekali suasana tetap tenang tanpa reaksi apa-apa.

Akhirnya hilang kesabaran Suma Bing. Segera ia berseru keras, "Apakah Tjianpwe Pek-kut Hujin yang bersedia menolong diriku yang rendah ini?" Baru kali ini Suma Bing menyebut orang dengan panggilan "Tjianpwe".

Tiga kali berturut-turut ia berseru bertanya tanpa ada sahutan atau reaksi apa pun. Hatinya heran dan curiga, batinnya berkata, "Aneh, mengapa dia membantuku? Belum lama ini aku berkelana di Kangouw, tidak seorang pun yang mengetahui asal-usulku."

"Mungkin karena menghormati Suhu, dia bersedia menolongku. Namun, mengapa dia tidak menunjukkan dirinya? Sepatah kata pun tidak terucap. Kemunculannya misterius, kepergiannya pun sangat aneh..." Luka dalam tubuh Suma Bing sangat parah. Setelah terluka berat, dia terlalu banyak menggunakan tenaganya pula. Dapat dikatakan tenaga murninya sudah habis sama sekali. Untung dia melatih Kiukang yang khusus, sangat berguna untuk melindungi urat nadi. Jika tidak, mungkin sejak tadi ia sudah tewas.

Begitulah, setelah terlongong-longong sekian lamanya, ia mencoba mengerahkan tenaga untuk mengobati diri. Siapa tahu, begitu tenaga murninya berkembang, seketika ia merasakan di antara tiga puluh enam jalan darah besarnya, tujuh di antaranya buntu (tertutup) dan tak tertembuskan. Bagaimanapun ia sudah susah payah mengerahkan tenaganya untuk menjebol rintangan itu, hasilnya tetap nihil. Dengan segera dalam hati ia mengeluh dan putus asa.

Jika tiada obat mujarab dan tenaga luar yang membantunya, tentu tenaga sendiri takkan mampu membobol jalan darahnya yang buntu itu.

Jika jalan darah buntu terlalu lama, tidak mati pun, pasti dirinya akan menjadi tanpa daksa alias cacat seumur hidup.

Selang berapa lama setelah beristirahat, ia mencoba mengerahkan lagi tenaganya. Seketika itu, ia merasakan seluruh tubuhnya tergetar hebat. Tenaga murni yang terkerahkan menerjang balik dengan kerasnya, dan ia pun langsung jatuh pingsan, tubuhnya roboh terlentang.

Malam telah berlalu dengan cepat. Suasana di puncak bukit itu masih sedemikian sunyi. Alam sekelilingnya masih diliputi kabut tebal. Tak lama kemudian, puncak bukit itu sudah bermandikan sinar surya yang memancar terang benderang, dengan hawa cerah yang menyejukkan badan.

Perlahan-lahan Suma Bing siuman dari pingsannya. Perasaan pertama yang dirasakan saat itu adalah bahwa rasa kesakitan di seluruh tubuhnya semalam kini sudah hilang sama sekali. Sebaliknya, semangatnya menyala-nyala dan tenaganya penuh gairah. Sejenak ia mengucek-ngucek matanya lalu merenungkan apa yang telah dialaminya semalam.

Kedua kerangka tulang di sampingnya masih ada, hanya panji kecil itu yang telah lenyap.

Bergegas ia melompat bangun sambil berseru terkejut dan heran.

"Siapakah yang telah menolongnya?" Bau semerbak wangi terbawa angin, merangsang hidungnya dan membuatnya sadar dari rasa terkejutnya. Dengan penuh kewaspadaan, matanya menyapu pandang ke empat penjuru.

Seketika ia melonjak kaget lagi. Terlihat terpaut lima kaki di belakangnya, duduk seorang wanita cantik molek bagai bidadari yang seluruh tubuhnya penuh bersolek dengan berbagai perhiasan tak ternilai harganya. Kedua matanya tengah terpejam, kedua pipinya juga bersemu kemerahan, sepertinya ia tengah beristirahat memulihkan tenaga.

Ia teringat waktu semalam menonton pertempuran bersama orang berkedok di belakang batu besar itu. Wanita cantik inilah yang pernah mendadak membuka suara kepada mereka.

"Siapakah dia?" Tak perlu disangkal lagi, dialah yang telah menolongnya dengan tenaga dalamnya. Karena pengerahan tenaga yang berlimpah-limpah untuk menyembuhkan lukanya, kini dia tengah bersamadi untuk memulihkan tenaganya sendiri.

Wanita ini dapat dikatakan secantik bidadari dari kahyangan. Namun, di balik kecantikannya itu, terkandung pula sikapnya yang dingin dan angkuh. Dari keangkuhan ini, timbul pembawaannya yang agung, membuat orang yang melihatnya merasa tunduk dan gentar.

"Siapakah dia?" Tak putus-putus benak Suma Bing bertanya-tanya.

Lantas, dia teringat akan nama Pek-kut Hujin yang suaranya terdengar namun wujudnya tidak kelihatan semalam. Hanya dengan dua panji kecil, kiranya cukup untuk menggebah pergi ketua Bwe-hwa-hwe yang terkenal kejam dan besar pengaruhnya itu, hingga lari lintang pukang.

Mungkin dia inilah... ia bergidik seram bila teringat akan nama itu.

Tapi akhirnya ia geli sendiri akan kekhawatirannya, karena pikiran demikian agaknya sangat ganjil dan jenaka.

Pek-kut Hujin sudah tenar enam puluh tahun yang lalu. Tingkat kedudukan dan ketenaran namanya jauh lebih unggul dari Buih. Apalagi, wanita di hadapannya ini terlihat kira-kira baru berusia 20-an lebih.

Tengah pikirannya melayang-layang, wanita itu sudah berdiri lemah gemulai, mengukir senyum manis ke arah Suma Bing. Jantung Suma Bing melonjak keras bagai kesetrum aliran listrik, matanya terkesima melihat senyuman yang mempesonakan itu.

Sejenak Suma Bing menenangkan gejolak hatinya, lalu membungkuk memberi salam hormat, "Terima kasih atas bantuan Nona tadi."

"Ah, bantuan tak berarti, tak perlu dirisaukan," sahut wanita itu sambil melambaikan tangannya.

"Cayhe harus membedakan antara rasa kebencian dan kebaikan budi. Aku tidak sudi menerima kebaikan orang secara gratis!"

"Lalu, kau mau apa?"

"Harap sebutkan nama besarmu, biar kelak kubalas kebaikan hatimu ini."

"Dengan cara bagaimana kau hendak membalas kebaikan budiku?"

"Ini... mungkin aku bisa berbuat sesuatu untukmu... atau..."

"Tapi aku tidak mengharapkan balas budimu itu."

"Kebebasan terletak padaku!" Wanita itu sedikit menggelengkan kepala, katanya, "Tidak ada sesuatu apa pun yang bisa kau kerjakan untukku, seumpama ada..."

"Bagaimana?"

"Kau tidak akan mampu melakukannya?"

Suma Bing bersikap sungguh-sungguh, "Coba kau katakan?"

"Coba kutanya dulu, apakah kedatanganmu ini khusus hendak merebut Pedang Darah itu?"

"Hanya kebetulan saja kepergok di sini, tapi cayhe memang pasti harus mendapatkan Pedang Darah itu!"

"Jadi, maksud tujuanmu sama dengan kaum persilatan itu?"

"Tidak!"

"Itulah aneh..."

"Sebab... sebab..." Suma Bing ragu-ragu untuk menerangkan asal-usul dirinya.

"Sebab apa?" desak wanita ayu itu.

Sekian lama Suma Bing bimbang dan ragu, akhirnya ia berkata, "Sebab Pedang Darah itu seharusnya menjadi hak milikku."

"Bagaimana maksud ucapanmu itu?"

"Karena ayah-bundaku tewas setelah memiliki Pedang Darah itu."

Wajah wanita cantik itu berubah pucat. Badannya mundur satu tindak, katanya penuh perasaan, "Apa, jadi kau inilah putra Suhiat Suma Hong?"

Suma Bing mengiakan sambil mengangguk serta menggertakkan gigi.

Tubuh wanita cantik itu gemetar karena menahan perasaan hatinya. Lama sekali ia terlongo memandang wajah Suma Bing.

Suma Bing sendiri pun tengah keheranan melihat perubahan sikap wanita misterius ini. Entah mengapa dia mendadak berubah sedemikian serius dan terbawa oleh perasaan hatinya.

Apa mungkin dia salah seorang sahabat kental ayah semasa masih hidup, atau...

Lagi-lagi air muka wanita itu berubah dan bertanya, "Konon kalian bertiga sudah tertimpa bahaya semua..."

"Cayhe tersapu jatuh ke dalam jurang dan kebetulan tertolong oleh In-su Sia-sin Kho Jiang!"

"Oh, untung keluarga Suma masih ada keturunan. Kau tahu siapa aku?"

Suma Bing melengak, sahutnya gagap, "Ini... harap kau perkenalkan diri..."

"Akulah bibimu, Ong Fong-jui!"

Saking terkejutnya, Suma Bing berdiri melongo dan tertegun. Hampir saja dia tidak percaya pada pendengarannya, bahwa wanita ayu bersolek ini ternyata adalah bibinya. Benar-benar mimpi pun takkan terduga sebelumnya.

Kelopak mata Ong Fong-jui merah berkedip-kedip, katanya, "Suma Bing, apa kau sudah tahu siapa saja musuh-musuhmu itu?"

Sejak kecil mengalami bencana dan hidup dalam penderitaan. Sekali bertemu dengan salah seorang famili terdekat, tanpa terasa air mata Suma Bing meleleh deras. Sahutnya, "Saat ini baru kuketahui Tang-mo seorang. Entahlah yang lain, apa Bibi Jui..."

"Aku pun tidak tahu. Setelah peristiwa itu terjadi, baru aku mendengar kabar jelek itu. Sekarang, untuk mengetahui jelas duduk perkara peristiwa di Puncak Kepala Harimau itu, hanya Tang-mo seoranglah yang dapat memberi keterangan."

"Pikiran Tit-ji (keponakan) juga begitu. Sayang, kemarin Tang-mo dapat melarikan diri."

"Saat ini kau masih bukan tandingan Tang-mo. Aku pun datang terlambat. Jika tidak, takkan mungkin dia dapat lolos!"

Suma Bing menghela napas sedih, katanya, "Jika bukan karena pertolongan Bibi, mungkin aku sekarang sudah tewas!"

"Urusan sudah berlalu, sudahlah, tak perlu diungkit lagi."

"Mau tidak mau, aku harus merebut kembali Pedang Darah itu dari tangan Racun Diracun."

"Itu urusan kecil. Yang penting, kau harus segera mengerjakan urusan besar, hanya... mungkin terlalu sukar!"

Suma Bing melengak, "Urusan kecil? Lalu urusan besar apakah itu?"

"Jika kau bisa mendapatkan Mo-hoa (bunga iblis), tidak sukar kau menjadi tokoh paling kesohor di jagat ini."

"Memang Tit-ji sudah ada maksud itu," sahut Suma Bing penuh perasaan.

"Pesan Suhu juga begitu, tapi entah di manakah Mo-hoa itu..."

"Menurut apa yang kutahu," sambung Ong Fong-jui.

"Mo-hoa berada di tangan seorang Tjianpwe gembong iblis wanita."

"Siapa dia?"

"Buli!"

"Buli?"

"Benar, usia Buli sudah seabad lebih. Betapa tinggi kepandaiannya, benar-benar susah dibayangkan. Seumpama Buih bergabung mengeroyoknya pun, belum tentu dapat selamat dari kehebatannya."

Hati Suma Bing tergetar, tanyanya, "Bagaimana kalau dibandingkan dengan Pek-kut Hujin?"

Wajah Ong Fong-jui berubah. "Kau tahu tentang Pek-kut Hujin?"

"Bibi Jui," ujar Suma Bing sambil menunjuk dua kerangka tulang tidak jauh itu.

"Masa kau tidak melihat, inilah buah karya Pek-kut Hujin itu."

Ong Fong-jui tersurut mundur, katanya, "Aku pernah pergi beberapa saat lamanya. Waktu kembali lagi, keadaan di sini sudah sepi tanpa seorang pun. Kulihat kau jatuh pingsan dan terluka parah, maka buru-buru kumengobatimu, sehingga tidak sempat aku memperhatikan segalanya."

"Sebelumnya Bibi Jui belum tahu siapa aku, mengapa kau menolongku?"

"Mungkin inilah jodoh, aku tidak tega melihat seorang berbakat sepertimu harus mati secara konyol."

"Tentang kepandaian Buli..."

"Oh, Pek-kut Hujin juga bukan tandingan Buli."

"Kalau begitu, berarti Buli sudah tanpa tandingan di seluruh kolong langit?"

"Selama seratus tahun belakangan ini, tiada seorang pun yang berkepandaian sejajar dengan Buli."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment