Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 36

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 36

Tapi, apakah Buli masih hidup? Apakah ia memiliki murid? Ini merupakan teka-teki. Perasaan Suma Bing mencelos, "Jadi, Bunga Iblis itu pun hanya merupakan dongeng saja?"

"Belum tentu. Kejadian di jagat ini mengutamakan jodoh, tiada halangan bagimu untuk mencoba-coba keberuntungan itu."

"Bagaimana cara mencobanya?"

"Konon Buli mengasingkan diri di Gunung Bukongsan. Tentang alamatnya yang pasti, tiada seorang pun yang tahu. Kau boleh pergi ke Bukongsan mencoba keberuntunganmu, siapa tahu kau berjodoh..."

"Lalu, bagaimana dengan Pedang Darah itu?"

"Ini... sudah pernah kukatakan, itu urusan kecil. Kalau kau bisa mendapatkan Bunga Iblis itu, Pedang Darah pasti dikembalikan kepadamu!"

"Maksud Bibi hendak..."

"Saat ini terlalu pagi untuk mempersoalkan itu."

"Aku masih ada beberapa hal yang belum kumengerti."

"Soal apakah itu?"

"Pek-kut Hujin itulah. Mengapa dia turun tangan menolongku?"

"Dan lagi, dengan kepandaiannya yang tinggi, kalau pun dia sudah datang, mengapa dia berdiam diri saja membiarkan Racun diracun seenaknya dan membawa lari Pedang Darah itu?"

"Mungkin ada latar belakang yang sulit dimengerti orang luar."

Sekonyong-konyong, terdengar sebuah suitan panjang berkumandang di tengah udara. Ong Fong-jui berkerut kening, katanya, "Bing-tit, aku harus pergi. Jagalah dirimu baik-baik..." Entah bagaimana cara ia bergerak, tubuh yang lemah semampai itu mendadak berkelebat hilang dalam sekejap mata. Gerak tubuhnya itu benar-benar membuat Suma Bing melongo heran sambil menjulurkan lidah.

Jelas dia pergi karena tertarik oleh suitan panjang tadi. Lalu, siapakah orang yang bersuit panjang itu? Dari wajah dan bentuk tubuh Ong Fong-jui yang agung menggiurkan itu, Suma Bing teringat akan kecantikan ibunya, San-hoa-li Ong Fong-lan, yang tentu tidak kalah ayu dan rupawan. Meskipun dalam ingatannya tiada setitik pun bayangan ibunya, namun dapatlah ia membayangkan dari bibinya ini, karena mereka adalah saudara sekandung, tentu tidak banyak bedanya.

"Buyung, tak kuduga kaulah keturunan Suma Hong!" Sebuah suara mengejutkan Suma Bing dari lamunannya. Tersipu-sipu ia berpaling, dilihatnya seorang tua pendek gemuk dengan rambut beruban tengah berjalan menghampiri ke arahnya. Kira-kira itulah Togwat Si Ban-tjwan, si maling bintang. Jelas bahwa si maling tua ini agaknya sudah lama bersembunyi di sini.

Suma Bing merangkapkan tangan memberi hormat, ujarnya, "Tuan, tak kuduga kita bertemu lagi di sini."

"Hehehehi, benar. Sembarang waktu pasti dapat bertemu lagi."

"Tuan sudah lama datang, bukan?"

"Dikatakan lama tidak lama, kira-kira sepeminuman teh. Hanya aku, si maling tua ini, paling sayang akan jiwaku, tidak berani sembrono menunjukkan diri!"

"Mengapa?" tanya Suma Bing tidak mengerti.

Bola mata si maling bintang, Si Ban-tjwan, jelalatan menyapu pandang ke sekelilingnya. Sambil menggeleng, ia menyahut, "Tidak mengapa, si maling tua ini ada satu persoalan yang hendak kusampaikan kepadamu."

"Coba katakan."

"Apakah kau benar-benar putra Suma Hong?"

"Masa aku bohong? Apa perlunya aku mengaku-ngaku menjadi anak orang?"

"Kalau begitu baik, akan kuberitahu, bahwa ibundamu, San-hoa-li Ong Fong-lan, sebenarnya belum mati."

Tiba-tiba seluruh tubuh Suma Bing gemetar hebat. Tanyanya, "Tuan bilang apa?"

"Ibumu masih hidup!"

"Ah!" Suma Bing tersurut tiga langkah, kedua matanya terbelalak bagai dua biji kelengkeng. Saking haru dan menahan perasaan, jidatnya basah oleh keringat. Sungguh di luar dugaannya bahwa ibunya ternyata masih hidup.

"Benarkah ucapan Tuan?"

"Masa orang setua aku ini masih main guyon dan membual kepadamu!"

"Dia... dia... di manakah ibu sekarang?"

"Hal ini aku tidak tahu!"

Suma Bing menarik napas, katanya, "Tuan berani bicara, apakah ada buktinya?"

"Bukti? Aku si maling tua sendiri yang melihatnya. Seluruh kolong langit ini yang tahu bahwa ibumu masih hidup mungkin hanya dua orang: satu adalah aku, dan yang lain adalah suhengmu..."

"Loh Tju-gi?"

"Benar."

"Coba Tuan tuturkan secara jelas."

Sambil mengurut jenggot putihnya, mulailah si maling bintang berkisah perlahan-lahan, "Lima belas tahun yang lalu, karena memperebutkan Pedang Darah, terjadilah penyembelihan besar-besaran kaum persilatan di puncak Hou-thau-hong, di Gunung Tiam Tjong San. Waktu Lohu mendengar berita dan memburu tiba, suasana sudah sunyi, pertempuran sudah bubar. Tapi, suatu tragedi yang mengenaskan di luar batas tengah terjadi... Seorang wanita memeluk putranya yang terluka parah, terengah-engah, tengah menyembah dan memohon kepada seorang laki-laki supaya dia mau menolong putranya. Sebab, jalan darah pengantar anak itu sudah putus. Di jagat ini, hanya Kiu yang Sin Kang-lah yang dapat menolong jiwa kecil itu, sedangkan laki-laki itu justru melatih ilmu sakti semacam itu..."

"Diakah Suhengku Loh Tju-gi?"

"Dengar ceritaku. Laki-laki itu menyanggupi untuk menolong anak itu dengan suatu syarat. Syarat kejam di luar perikemanusiaan. Demi hidup anaknya, terpaksa wanita itu menyanggupi..."

"Syarat apakah itu?" tanya Suma Bing gemetar.

"Dia meminta tubuh si wanita itu."

Pandangan Suma Bing gelap, tubuhnya sempoyongan hampir roboh. Si maling tua menyambung lagi, "Setelah menodai tubuh si wanita itu, laki-laki itu mengingkari janjinya. Dia tidak mau mengobati anak itu. Melihat jiwa anaknya semakin meregang, dan dia sendiri tak mampu berbuat apa-apa, tidak tega pula melihat penderitaan anaknya sebelum ajal itu, segera ia mencabut sebuah cundrik dan menusuk sekali di dada anak itu. Lalu, ia berlari turun gunung sambil tertawa menggila. Dia bersumpah hendak menuntut balas..."

"Bangsat rendah!" teriak Suma Bing, darah pun berhamburan dari mulutnya.

Setelah terdiam sejenak, si maling tua melanjutkan lagi penuturannya, "Buyung, mungkin kau mencaci aku karena tidak berusaha memberi pertolongan. Ai, kalau dikatakan, aku sangat menyesal. Waktu itu, baru saja aku terkalahkan oleh Pak-tok. Hian-in-kang membuat seluruh kepandaian Lohu amblas sama sekali. Maka... untuk selanjutnya, kuharap dapat membantumu membalas sakit hatimu, untuk menebus penyesalanku dulu."

Suma Bing membelalak geram, hatinya meradang dan pedih seperti diiris-iris. Loh Tju-gi menipu dan memperkosa ibunya, salah seorang pembunuh ayahnya juga dalam perebutan Pedang Darah. Loh Tju-gi dengan tipu muslihat keji mencelakai jiwa suhunya pula. Menurut pesan suhunya, murid murtad ini harus dibunuh dan dihancurleburkan. Demi nama perguruan, dia harus dibunuh. Demi dendam kesumat keluarganya, terlebih lagi dia harus dihancurkan.

Jelas, para musuh besar yang telah diketahui, yaitu Tang-mo dan Loh Tju-gi, memiliki kepandaian lebih tinggi dari dirinya. Maka, semakin besar lagi niat dan tekadnya untuk dapat melatih kepandaian tertinggi, harus merebut kembali Pedang Darah, lalu mencari Bunga Iblis. Bersamaan dengan itu, ia pun ingin segera dapat menemukan jejak ibunya. Asalkan ibunya sudah ketemu, seluruh musuh-mususnya pasti dapat diketahui dan tak usah mesti meraba-raba.

Lantas, terbayang juga olehnya bahwa ibunya adalah wanita paling tak beruntung dan paling menderita di dunia ini. Suatu pikiran yang seram menakutkan mulai bersemi dalam hati kecilnya. "Bunuh!" Semua manusia tamak, licik, rendah, dan jahat, serta bengis di luar peribadi kaum persilatan harus dibunuh dan dihancurkan.

Menghela napas panjang, si maling bintang berkata lagi, "Buyung, kau harus mencari ibumu dulu, baru setelah itu memperhitungkan cara-cara untuk menuntut balas." Suma Bing menggertakkan gigi, sahutnya, "Terima kasih atas petunjuk Tuan." Tubuhnya melejit dengan kecepatan terbang, ia berlari turun gunung.

Mengawasi bayangan Suma Bing, Togwat Si Bantjwan menghela napas panjang.

Kini, kita ikuti perjalanan Suma Bing. Sambil menyandang hati yang penuh gelora kemarahan dan keperihan, ia berlarian cepat turun gunung. Mendadak, teringat olehnya akan nasib si orang berkedok yang terpukul jatuh ke dalam jurang oleh Ketua Bwe-hwa-hwe itu.

Boleh dikata, si orang berkedok mati lantaran dirinya. Paling tidak, ia harus mencari jenazahnya dan dikubur selayaknya. Maka, segera ia putar balik dan berlari menuju ke kaki jurang, terus memasuki sebuah selat sempit. Selama kurang lebih beberapa jam lamanya, ia sudah obrak-abrik seluruh lembah itu. Jejak jenazah si orang berkedok belum juga ditemukannya. Ia heran dan tak habis mengerti, batinnya, "Apa mungkin dia belum mati? Tapi, jatuh dari puncak beratus meter tingginya, mustahil kalau tubuhnya tidak terbanting hancur lebur. Namun, kenyataan ini benar-benar sukar dipercaya."

Setelah direnungkan sekian lamanya, akhirnya ia mengambil keputusan: tak peduli si orang berkedok sudah meninggal atau belum, ia wajib menuntut balas kepada Ketua Bwe-hwa-hwe. Dan yang harus disesalkan adalah bahwa sampai pada detik itu, sedikit pun ia belum mengetahui tentang asal-usul si orang berkedok. Siapakah namanya dan bagaimana riwayat hidup si orang berkedok? Entahlah, ia tak tahu apa-apa. Terutama yang lebih mengherankan adalah si orang berkedok ternyata rela menjual jiwanya untuk kepentingannya. Kalau seandainya si orang berkedok benar-benar mati, maka teka-teki ini takkan mungkin dapat dipecahkan untuk selamanya.

Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam muncul kira-kira tiga tombak di hadapannya. Rambutnya terurai panjang, pakaiannya serba hitam, kepalanya tertutup rapat oleh rambutnya yang terurai panjang. Dialah wanita misterius yang membongkar Kuburan Tiang-un Suseng itu. Bahwa wanita serba hitam dengan rambut terurai panjang ini bisa muncul di tempat semacam itu, benar-benar di luar dugaan Suma Bing. Maka, segera terlintaslah akan pesan suhunya dulu bahwa dia dilarang menghadapi orang yang pandai menggunakan ilmu Pekdjiau. Sejenak ia ragu-ragu, pikirnya, "Apa lebih baik aku menyingkir saja?" Maka, dia lantas memutar tubuh hendak pergi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment