Chapter 37
Sebelum ia bergerak, mendadak pandangannya terasa kabur. Tahu-tahu wanita serba hitam itu telah menghadang di depannya.
Tanpa terasa Suma Bing mengerutkan kening. Naga-naganya wanita itu memang tengah mencari dirinya.
Demi mematuhi pesan suhunya agar tidak bergebrak dengan orang, sesaat sikapnya menjadi kikuk dan risi sekali.
Si wanita serba hitam sudah membuka suara, "Suma Bing, sungguh tak tersangka kau inilah kiranya murid Lam-si itu..." Suma Bing melengak heran, tanyanya, "Memangnya kenapa?" "Kalau sejak dulu kuketahui, aku sudah harus membunuhmu!" Terperanjat Suma Bing, serunya, "Membunuh aku? Kenapa?" Sahut wanita serba hitam itu penuh rasa kebencian, "Karena aku telah mengecap penderitaan selama tiga puluh tahun dalam penjara!" Suma Bing menggaruk-garuk kepala terheran-heran. Orang itu telah dipenjarakan selama tiga puluh tahun lamanya, sedangkan dirinya sejak lahir dari kandungan ibunya belum genap dua puluh tahun umurnya. Bagaimana hal itu harus dijelaskan?
Betul, tentu hal ini menyangkut sepak terjang suhunya semasa masih hidup. Tapi justru suhunya berpesan supaya dirinya tidak turun tangan berkelahi dengan lawannya ini. Ini benar-benar lucu dan susah dimengerti, maka dia lantas menyahut dingin, "Apakah karena suhuku itu?" "Benar!" Suma Bing membatin, "Kalau bukan karena pesan suhu yang harus dipatuhi itu, mungkin kau sudah kubunuh lebih dulu." Maka sambil mendengus ia berkata lagi, "Kau dipenjarakan selama tiga puluh tahun, ada sangkut paut apa dengan aku?" "Soal ini menyangkut suhumu itu, sedangkan kau adalah muridnya!" "Karena alasan itu lantas kau hendak membunuhku?" "Kenapa tidak?" "Apa kau mampu?" "Kau boleh coba-coba." "Kuberi tahu dulu, karena aku tidak ingin melanggar pantangan suhu maka aku tidak sungguh-sungguh melayanimu. Memangnya kau sangka aku takut padamu?" "Pantangan apakah itu?" "Tidak perlu kuberitahukan kepadamu." "Huh, Suma Bing, aku pun tidak mengharap kau memberitahunya. Sekarang kau ikut aku!" "Ikut kau? Mengapa?" "Kau pun tidak perlu bertanya, sampai saatnya kau akan tahu sendiri." "Kalau begitu maaf, aku tidak berminat."
Tiba-tiba wanita serba hitam itu mendesak maju dua tindak, suaranya bengis mengancam, "Kau mau ikut tidak?" Naga-naganya kalau Suma Bing berani menjawab "tidak", pasti wanita itu segera turun tangan menyerangnya.
"Kalau kau tidak jelaskan alasanmu," ejek Suma Bing dengan angkuhnya, "kenapa aku harus ikut kau pergi?" Apa boleh buat, terpaksa si wanita serba hitam berkata, "Suhuku ingin bertemu dengan kau." "Siapakah suhumu?" "Mengapa kau begitu cerewet?" Berputar otak Suma Bing, batinnya, "Suhu berpesan supaya aku tidak bergebrak dengan orang yang pandai menggunakan ilmu Cakar Setan Beratus Perubahan, tentu ada sebabnya. Apalagi wanita aneh seperti setan gentayangan ini pun mengatakan karena urusan itulah maka dia dipenjarakan selama tiga puluh tahun lamanya. Tidak perlu disangsikan lagi bahwa hal itu pasti tersembunyi suatu latar belakang yang panjang ceritanya. Kenapa aku tidak ikut saja untuk menyingkap tabir rahasia ini?"
Maka segera sahutnya, "Baiklah, aku ikut kau." Tanpa membuka kata lagi, segera wanita serba hitam itu berlari ke arah mulut lembah. Betapa cepat gerak tubuhnya benar-benar membuat orang berdecak kagum. Suma Bing harus mengerahkan seluruh tenaganya baru dapat mengimbangi kecepatan lari wanita itu. Begitu tiba di mulut lembah, sebuah bukit tinggi melintang di depan mereka. Tanpa menghentikan langkah, si wanita serba hitam segesit kera terus berloncatan ke atas sekaligus melampaui berpuluh bukit tinggi. Pikiran Suma Bing semakin pepat dan bertanya-tanya, entah orang sakti macam apakah suhunya itu dan di mana ia bersemayam.
Bukit-bukit habis dilalui lantas terbentanglah sebuah danau tak berujung pangkal di hadapan mereka. Di pinggir danau penuh ditumbuhi semak belukar. Bergegas si wanita itu menuju ke tepi danau. Dari rumpun alang-alang ia menyeret keluar sebuah sampan kecil terus berseru, "Naiklah ke mari!" Sekilas Suma Bing melirik, hatinya membatin, "Aku sudah terlanjur tiba, buat apa gentar." Sekali melejit, tibalah dia di atas sampan kecil itu. Wanita serba hitam duduk di buritan. Begitu kedua tangannya menepuk ke belakang, sampan kecil itu segera meluncur di permukaan air secepat anak panah langsung menuju ke tengah danau. Tidak henti-hentinya kedua tangannya menepuk ke belakang. Sungguh ajaib dan lucu gerak-geriknya; tanpa menggunakan dayung, sampan kecil itu ternyata melaju semakin cepat.
Sampan kecil itu melaju cepat di alunan gelombang air. Tak lama kemudian, di kejauhan sana terlihat sebuah pulau kecil yang menghijau di tengah danau. Setelah semakin dekat, terlihat lebih jelas di atas pulau itu tumbuh bermacam pohon dengan suburnya. Samar-samar terlihat juga ada beberapa bangunan rumah gubuk. Wanita serba hitam merapatkan sampannya ke tepi pantai serta serunya, "Sudah sampai, naiklah!" Sekali loncat Suma Bing menginjakkan kaki di atas pulau itu. Segera wanita serba hitam mendahului berjalan di depan, serunya, "Mari ikut aku." Suma Bing menjadi waswas. Pikirnya tempat ini tiada jalan darat. Kalau tiada perahu, betapa pun tinggi kepandaiannya, tak mungkin dapat kabur dari pulau ini.
Beberapa tombak kemudian, setelah membelok dua tiga kali, terlihat di depan sana berdiri tegak beberapa batang pohon siong yang tinggi besar mengelilingi beberapa bangunan rumah. Di atas setiap batang pohon tergantung sebuah tengkorak. Selayang pandang keadaan ini sangat seram menakutkan, selain itu tiada pandangan lain yang menggiriskan. "Suma Bing," seru wanita serba hitam dingin, "inilah barisan Lekun-tin. Di seluruh kolong langit, orang yang dapat keluar masuk dari barisan jeritan setan pengejar sukma ini mungkin tiada ketiganya." Tercekat hati Suma Bing, namun lahirnya tetap tenang. Ujarnya, "Aku datang karena undanganmu. Kedudukanku sebagai tamu, ada sangkut paut apa barisan ini dengan aku?"
Melewati barisan pohon siong ini, di depan sana mereka harus menerobos jalanan kecil di antara himpitan pohon-pohon bambu hijau, lantas terbentanglah sebuah pekarangan besar di depan beberapa bangunan gubuk. Mungkin orang luar akan menyangka bahwa tempat yang sepi dan nyaman ini adalah tempat pengasingan seorang tokoh sakti yang menyendiri seandainya tengkorak putih yang tergantung di atas pohon siong itu dilenyapkan. Wanita serba hitam itu menyurung pintu sebuah gubuk, lalu tiba-tiba menggapai tangan dan berseru, "Kau tunggu saja di sini." Lalu ia menekan suaranya berkata lagi, "Bagaimana jejak Tiang-un Suseng?" Suma Bing menggelengkan kepala, lantas terbayanglah kejadian di depan kuburan kosong Tiang-un Suseng itu. Menurut katanya, karena Tiang-un Suseng hingga ia menderita dalam penjara selama tiga puluh tahun. Ah, cinta itu benar-benar buta!
Tengah pikirannya melayang-layang, mendadak wanita itu muncul lagi dan menggapai padanya serta berseru, "Suma Bing, kau boleh masuk!" Suma Bing mengiyakan terus melangkah maju sampai di luar pintu. Waktu pandangannya berbenturan dengan apa yang dilihatnya itu, hatinya melonjak kaget, bulu romanya berdiri, dan perasaannya pun mendingin. Kiranya, rumah gubuk yang terletak di tengah ini hanya merupakan sebuah ruang besar tanpa segala peralatan atau perabot seperti umumnya. Yang lebih mengherankan bahwa di tengah ruangan besar menghadap ke pintu terdapat sebuah peti mati yang besar berwarna merah marun. Terasa suasana seram mencekam keadaan sekelilingnya. Sesaat ia berdiri melongo tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Waktu ia melirik ke arah wanita hitam, tampak rambutnya terurai menutupi seluruh wajahnya. Keadaan ini lebih menambah keseraman dan menakutkan keadaan waktu itu.
"Kau ini yang bernama Suma Bing?" sebuah suara tiba-tiba bertanya. Suma Bing melonjak kaget. Kiranya suara itu keluar dari dalam peti besar itu. Agaknya penghuni peti besar itu bukan jenazah, tapi adalah seorang hidup. Tapi mengapa orang hidup kok sembunyi di dalam peti mati? Hal inilah yang susah dimengerti. "Kau dengar pertanyaanku tidak?" Suma Bing menenangkan hatinya lalu menyahut, "Memang aku yang rendah Suma Bing adanya." "Kau menjadi murid Sia-sin Kho Djiang?" "Benar. Kau mengundang aku yang rendah ke mari ada keperluan apakah?" "Sudah tentu ada urusan!" "Kau masih hidup mengapa menyamar jadi setan menakuti orang?" "Hahahahaha..." Lengking suara tawa bergema panjang, berat, dan menyayatkan hati, seakan bukan keluar dari mulut manusia, hingga timbul prasangka orang yang mendengar akan ringkikan iblis di tengah malam.
Dasar sifatnya memang keras, Suma Bing menjadi gusar karena merasa dicemoohkan oleh suara tawa itu. Segera ia membentak keras, "Ada apa yang lucu hingga kau tertawa seperti setan gila?" Seketika suara tawa itu sirap lantas terdengar pula suara itu berkata, "Sudah terang aku ini setan, tapi kau mengatakan aku menyamar jadi setan, bukankah sangat menggelikan?" "Huh, setan apa segala? Itu adalah cerita badut yang melucu. Mana ada setan di dunia?" "Jadi kau tidak percaya?" "Kalau kau tidak membicarakan urusan sebenarnya, lebih baik aku permisi saja." "Kau hendak pergi? Hahaha, kuberi tahu Suma Bing, ada jalan masuk untukmu tapi tiada pintu untuk keluar. Kalau tidak percaya, kau boleh coba-coba." "Belum tentu kau dapat mengekang aku." "Terserah kau mau percaya apa tidak, akan tiba saatnya kau dapat membuktikan. Sekarang jawablah satu pertanyaanku, sebenarnya di mana Sia-sin Kho Djiang bersembunyi?" "Bersembunyi? Huh, di seluruh jagat raya ini mungkin tiada seorang pun yang dapat memaksa orang tua itu bersembunyi!" "Kutanya kau, di mana dia sekarang?"
Otak Suma Bing berputar cepat. Pesan suhu sangat keras; dia melarang aku turun tangan terhadap wanita yang pandai menggunakan ilmu Cakar Setan Beratus Perubahan, juga dilarang menerangkan jejaknya. Bagaimana mungkin dia melanggar pesan suhunya itu? Maka setelah merandek sekian lamanya segera ia menyahut tegas, "Tak bisa kukatakan!" Agaknya orang di dalam peti mati itu menjadi gusar, bentaknya garang, "Tidak kau katakan?!"