Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 38

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 38

"Benar, aku tidak bisa memberitahu," sahut Suma Bing kaku.

"Huh, gurunya sesat, muridnya pun menyimpang. Memangnya kau sangka aku kewalahan menghadapimu?" "Brak!" Tiba-tiba tutup peti mati bergeser ke samping, disusul bayangan seseorang muncul dan duduk dari peti mati. Jelas, itu adalah seorang wanita pula, keadaannya seperti wanita serba hitam itu, rambutnya terurai panjang acak-acakan. Yang berbeda hanya rambut yang menutupi muka itu sudah hampir seluruhnya beruban.

Jantung Suma Bing berdetak keras, serta-merta ia mundur dua langkah.

Suasana tegang itu mengandung keseraman yang mencekam hati.

Entah bagaimana wanita itu bergerak, tahu-tahu ia yang tadinya di dalam peti mati sudah melejit tiba di ambang pintu dan berdiri di hadapan Suma Bing. Dengan ketajaman pandangannya, Suma Bing tidak menyadari kapan dan bagaimana wanita itu bergerak.

"Suma Bing, kau katakan tidak?" "Tidak." "Kau jangan menyesal, ya?" "Selamanya aku tidak mengenal apa arti menyesal!" Wanita aneh dari peti mati itu mendesis seram, katanya, "Kau tahu bagaimana aku hendak menghadapimu?" Ancaman ini benar-benar membuat orang bergidik ketakutan.

Suma Bing menjadi nekat, sahutnya, "Cara bagaimana kau hendak menghadapi diriku?" "Akan kulenyapkan ilmu silatmu, akan kurusak wajahmu, baru kulepas engkau di kalangan Kangouw." Suma Bing tidak tahu wanita aneh ini memiliki permusuhan apa dengan gurunya sehingga ia sedemikian kejam hendak menghukum dirinya.

"Karena guru melarangku turun tangan, masakan aku harus pasrah menerima kebinasaan?" Karena pikirannya ini, tanpa terasa mulutnya berkata, "Ada permusuhan apa guruku kepadamu?" "Dendam! Hehehehe, aku benci dia, juga membenci seluruh laki-laki di kolong langit ini." "Kenapa?" "Benci, karena benci, tidak karena sebab apa pun." "Sekarang kuperingatkan yang terakhir, kau katakan tidak?" "Tidak!" sahut Suma Bing menggeleng dengan angkuhnya.

Tangannya diulurkan langsung, wanita aneh di dalam peti mati itu mencengkeram ke muka Suma Bing.

Selayang pandang, Suma Bing dapat melihat bahwa lawan melancarkan jurus-jurus dari Ilmu Cakar Setan beratus perubahan itu. Karena mematuhi pesan gurunya, segera ia batalkan serangan tangan yang sudah diayun. Tubuhnya pun segera melesat mundur secepat kilat sejauh lima kaki, terpaut sehelai rambut, hampir saja wajahnya terkoyak parah.

Wanita aneh itu mengekeh dingin, lagi-lagi cakar tangannya sudah mencengkeram tiba. Bukan saja cara mencengkeramnya sangat cepat, tetapi juga sangat aneh dan menakjubkan.

Keringat dingin membanjiri tubuh Suma Bing. Sedapat mungkin ia memiringkan tubuh, berusaha berkelit, namun 'bret!' lengan bajunya terkoyak panjang. Sepanjang lengannya membekas jelas lima jalur merah darah, bekas cakaran tangan.

"Suma Bing, kalau kau dapat menghindari jurus ketiga, segera kulepas engkau pergi!" Bayangan Cakar Setan berkelebat melayang-layang bagai hujan salju, semua menukik ke arah Suma Bing.

Arwah Suma Bing seakan melayang keluar, terasa olehnya tiada tempat atau waktu untuk dirinya menyingkir atau berkelit lagi. Tahu-tahu pundaknya terasa kesakitan, lima cakar lawan mencengkeram amblas masuk ke daging.

Seketika buyarlah semua hawa murni dan tubuhnya pun terasa lemas lunglai.

"Kau masih punya omongan apa lagi?" ancam wanita aneh itu menyeringai.

Darah Suma Bing bergolak, serunya beringas, "Kalau bukan karena pesan guru, belum tentu kau dapat berhasil semudah itu!" Agaknya wanita aneh itu terhenyak kaget, tanyanya, "Pesan guru apa itu?" "Dia orang tua itu melarang aku turun tangan terhadap orang yang menggunakan jurus-jurus Pek-Pian-Kui Djiau!" "Apa betul?" "Apa kau lihat aku balas menyerang?" "Dia... dia... Hm, bohong. Siauwcu, sekarang biar kurusak wajahmu ini."

Sebuah cakar tangan yang halus pucat memutih perlahan-lahan bergerak ke arah wajah Suma Bing.

Dalam saat-saat di ambang ajal itu, terbayang oleh Suma Bing akan tugas menuntut balas yang belum terlaksana. Juga teringat akan benci dan utang budi pada orang lain. Semua ini terbayang di kelopak matanya dan sekejap itu pula menghilang dari ingatannya.

Ia ingin berontak, tapi lantas teringat akan pesan gurunya yang selalu mengekang dan membatasi gerak-gerik dirinya...

Dengan membelalak, ia mengawasi cakar tangan itu semakin dekat di depan matanya.

Terpaut setengah dim dari wajahnya, cakar tangan itu berhenti dan tidak bergerak lagi.

Keringat dingin sebesar biji kacang mengalir deras di atas dahinya.

"Beritahu aku, di mana ia berada?" ratapnya sedih menyayat hati, mengandung kegetiran yang tak terperikan.

"Tidak bisa!" sahut Suma Bing, tetap keras kepala.

"Jadi kau rela menjadi tanpa daya dan rusak wajahmu, lebih baik mati daripada hidup?" "Siluman jalang, turun tanganlah!" "Plok!" Sebuah tamparan nyaring membuat mata Suma Bing berkunang-kunang. Darah pun meleleh dari sudut bibirnya, lalu disusul jari-jari berat berkali-kali menotok di berbagai jalan darah di seluruh tubuhnya.

Mengikuti setiap totokan, Suma Bing merasakan hawa murninya pun berangsur-angsur membuyar dengan cepat.

Diam-diam ia mengeluh dalam hati, seluruh kepandaian silatnya sudah ludas dalam sekejap itu.

Bagi seorang pesilat, hal ini lebih mengenaskan beratus kali lipat dari kematian. Saking tidak tahan, mulutnya berteriak memaki, "Siluman jalang kau..." "Blang!" Badan Suma Bing terbang sejauh tiga tombak. Darah menyembur keras dari mulutnya, tubuhnya lemas lunglai tergolek di atas tanah tanpa bergerak.

Segera wanita aneh dari peti mati itu berpaling ke arah wanita serba hitam dan berkata, "Giok-sia, kurung dia di dalam barisan 'Teriakan Setan Mengejar Nyawa'. Seumur hidup ia tidak akan membuka mulut, kurunglah ia selama itu juga."

Wanita serba hitam itu mengiyakan. Bagaikan menangkap anak ayam, ia menjinjing tubuh Suma Bing. Dengan langkah lebar, ia keluar terus memasuki hutan pohon siong di sebelah sana. Di tengah antara rumpun pohon siong, dibangun sebuah rumah kecil serba hitam pula, di mana hanya ada sebuah pintu dan sebuah jendela.

Suma Bing dilempar masuk ke dalam rumah kecil itu. Lantas pintu ditutup keras-keras dan dikunci dari luar.

Sungguh, mimpi pun Suma Bing tidak akan menduga bahwa akhirnya ia harus menjadi tawanan dan dipenjara dalam rumah hitam itu oleh wanita aneh tersebut.

Karena kepandaiannya sudah lenyap, tidak mungkin lagi ia mengobati dirinya, apalagi meloloskan diri.

Kiranya rumah hitam itu terbuat dari besi baja. Seumpama Lwekang-nya belum hilang pun, ia tidak akan mungkin dapat membobol rumah besi yang kokoh kuat ini.

Seolah-olah ia tengah bermimpi buruk, ya, buruk sekali.

Di dalam rumah besi itu, selain sebuah dipan kayu, tidak ada perabot lainnya.

Setiap hari, wanita bernama Giok-sia itu menghantarkan setalam air dan secawan nasi.

Begitulah Suma Bing melewatkan hari-hari dalam kegelapan.

Ia masih menyimpan secercah harapan, namun harapan itu sedemikian kecil bagaikan bayangan saja. Sang waktu berjalan terus dan berlalu tanpa terasa.

Namun bagi seseorang yang menderita dalam kurungan, seumpama satu jam pun sudah terasa bagaikan satu tahun lamanya.

Hari itu, seperti biasanya, wanita serba hitam itu datang lagi mengantar makanan. Akhirnya, tidak sabar lagi Suma Bing bertanya, "Sudah berapa lama aku terkurung di sini?" "Tiga bulan." "Tiga bulan?!" Suma Bing berteriak kaget. Tubuhnya pun sempoyongan, hampir roboh, raut wajahnya berkerut-kerut tidak henti-hentinya.

Ia teringat akan janji pertemuan dengan Siang Siau-hun dalam jangka seratus hari di dalam biara bobrok itu.

Sudah tentu Siang Siau-hun tidak akan tahu bahwa racun dalam tubuhnya sudah punah.

Dalam jangka seratus hari, kalau ia tidak menepati janji, dapat dibayangkanlah akibatnya. Pasti Siang Siau-hun akan bunuh diri untuk membuktikan kesetiaannya.

Dihitung-hitung, waktunya masih tinggal tiga hari lagi.

Tiga hari. Seumpama badannya sehat walafiat dan bebas dari kurungan, juga sukar dapat menyusul tiba di tempat perjanjian.

Apalagi kini dirinya terkurung dalam penjara. Apakah ia harus membiarkan Siang Siau-hun berkorban karena dirinya?

"Tidak!" ia berteriak histeris, suaranya serak menggila dan tersengal-sengal.

Wanita bernama Giok-sia itu mendengus hina, ujarnya, "Kau berteriak apa? Aku terkurung di sini tiga puluh tahun lamanya, mengeluh pun aku belum pernah. Kau hanya terkurung tiga bulan, apa artinya itu?" "Tidak, aku... aku..." "Kau kenapa?" "Dalam waktu tiga hari, kalau aku tidak menepati sebuah janji pertemuan, seorang gadis akan melayang jiwanya." "Kenapa?" "Dia menganggap aku sudah tidak dapat hidup lagi..." "Dia itu kekasihmu?" "Benar."

"Tapi kau tidak mungkin keluar, apalagi ilmu silatmu sudah punah?" Suma Bing mengeluh panjang serta memohon, "Aku Suma Bing selamanya belum pernah meminta belas kasihan orang lain. Sekarang aku mohon padamu, silakan kau melapor kepada gurumu supaya aku keluar menepati janji pertemuan itu. Setelah urusan selesai, aku pasti kembali lagi. Mau dibunuh atau diapakan, terserah pada kalian, aku tidak akan berkerut kening." Wanita bernama Giok-sia itu bergelak tawa, serunya, "Ceritamu ini memilukan hati, tapi masih terlalu mentah. Kau sangka gurumu Kho Lo-sia bisa datang menolongmu?" Saking gugup, otak Suma Bing agak limbung dan kelepasan mulut, "Tidak, dia sudah mati. Guruku sudah lama meninggalkan dunia fana ini."

Sebuah suara gemetar yang memilukan menyambung, "Apa dia mati? Dia... sudah mati?" Suma Bing melirik ke arah suara itu. Wanita aneh dari peti mati itu tengah berdiri kaku, tiga tombak jauhnya.

Baru sekarang ia insaf telah keceplosan bicara. Karena sudah terlanjur, segera ia berpikir, "Guru berpesan supaya jangan membocorkan jejaknya, tapi waktu itu dia masih hidup. Sekarang dia sudah meninggal, tidak perlu lagi dipersoalkan tentang jejak apa pun." Sungguh, ia sangat menyesal mengapa tidak sejak dulu-dulu ia berpikir akan hal ini. Kalau tidak, ia tidak akan terkurung dan menderita dalam penjara ini. Namun sekarang semua sudah terlambat, maka ia manggut-manggut dan berkata, "Benar, dia sudah mati."

Wanita aneh itu mengibaskan kepala hingga rambutnya panjang menjulur ke belakang kepala. Maka terlihat jelas raut wajahnya. Sebenarnya wajah itu tidak buruk, namun saat itu menyeringai bagai rupa setan yang menakutkan. Dapat dimengertilah bahwa kabar kematian gurunya memberikan suatu pukulan berat bagi sanubarinya.

"Hahaha... dia sudah mati... hahaha..." Suara tawa yang menyayat hati itu bagaikan ringkikan iblis, seperti juga lolongan serigala yang haus darah, membuat takut dan merindingkan pendengarnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment