Chapter 39
"Suhu... kau..." Wanita serba hitam maju memapah tubuh wanita aneh yang lemas karena terpengaruh oleh perasaannya sendiri.
Setelah sekian lama, barulah ia menghentikan tawa sengguknya. Kini wajahnya berubah penuh kepahitan hati dan sangat gusar, desisnya, "Suma Bing, kau tahu siapa aku?"
"Aku tidak tahu."
"Setan Barat. Kau sudah pernah dengar nama itu?"
Hati Suma Bing terperanjat. Sungguh di luar dugaannya bahwa nenek tua aneh ini ternyata adalah 'Setan Barat' yang sejajar dengan gurunya dalam Buih.
"Akan tetapi, ada dendam apa antara Setan Barat dan Lam-sia?"
"Silakan tanya Tjianpwe dan guruku..."
"Hal itu jangan kau tanya," tukas Setan Barat sambil mengibaskan tangan. "Bagaimana gurumu bisa meninggal?"
"Mati keracunan."
"Apa, mati keracunan?!" hardik Setan Barat. Saking gusarnya, rambutnya berdiri tegak. Ia membentak lebih bengis, "Siapa yang meracuninya?"
"Murid murtad pertama bernama Loh Tju-gi."
Badan Setan Barat bergerak-gerak hampir roboh. Kedua matanya mendelik lebar memancarkan sinar kekejaman, desisnya, "Mati di tangan muridnya sendiri?"
Meskipun masih hijau dan terbilang bodoh, kini Suma Bing dapat menerka bahwa antara gurunya dan Setan Barat ini tentu ada pertikaian cinta asmara yang sangat rumit.
"Benar, mati di tangan muridnya yang dididik dan diasuhnya sejak kecil."
"Ceritakan sejelasnya."
"Loh Tju-gi meminjam nama guru untuk membunuh tiga orang dari Buyu. Maka, tujuh kawan lainnya segera datang meluruk ke Sin-li-hong untuk membuat perhitungan. Akibat pertempuran sengit itu, guru dicongkel salah satu matanya dan dipotong kedua kakinya, lalu dibuang ke dalam jurang..."
Tubuh Setan Barat tergetar lagi, katanya, "Masak dia tidak unggul melawan pengeroyokan tujuh orang dari kawanan Buyu?"
"Tidak. Loh Tju-gi sebelumnya sudah mengatur tipu daya yang keji lagi bengis. Dia meracuni guru hingga Lwekang guru surut sebagian besar."
"Anak serigala berhati kejam, apa tujuannya?"
"Dia mencuri sejilid buku Kiukeng dan sebutir Kiuyang-tjau-ko. Dengan keampuhan benda mustajab itu, dia merebut kedudukan jago nomor satu dari seluruh dunia persilatan. Sejak itu, dia menghilang tanpa jejak."
"Sudah berapa lama peristiwa itu terjadi?"
"Kira-kira delapan belas tahun yang lalu."
"Delapan belas tahun, delapan belas tahun. Oh, aku terlalu menyalahkannya!" Akhirnya, Setan Barat tak kuat menahan tubuhnya. Ia melorot lemas duduk di atas tanah.
Suma Bing bagai tenggelam di tengah kabut, pikirannya kosong hampa.
"Kau sudah menuntut balas belum?" tanya Setan Barat lagi.
"Sekalipun harus terbang ke langit dan masuk ke bumi, wanpwe juga harus mengejar Suheng Loh Tju-gi, si murid murtad itu, untuk menumpasnya. Tentang Buyu, selain Tji Khong Hwesio yang sudah mati di tanganku, yang lain sudah mati semua, tinggal Tiang-un Suseng seorang yang menyembunyikan diri..."
Mata Setan Barat berkilat-kilat menatap ke arah muridnya, Giok-sia. Wanita serba hitam yang bernama Giok-sia itu perlahan-lahan menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba Setan Barat mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya, "Suma Bing, tadi kau bilang ada janji?"
"Ya, benar."
"Kalau kau tidak menepati janjimu, maka orang itu pasti mati?"
"Ya, begitulah!"
"Begitu besar rasa cintanya kepadamu?"
Suma Bing mengiakan sambil mengangguk-angguk.
"Apa kau juga mencintainya?"
"Sudah tentu!"
"Seumpama kau harus mengorbankan jiwamu demi cintanya itu?"
Suma Bing melengak, entah apa maksud pertanyaan ini. Namun, dengan tegas ia segera menjawab, "Kalau memang harus begitu, akan wanpwe lakoni."
Rona wajah Setan Barat berubah tak menentu. Agaknya, ia tengah menahan perasaan hatinya. Akhirnya, ia berkata lagi dengan dingin dan kaku, "Suma Bing, kau tahu bahwa kau pasti mati. Tapi biarlah kubantu melaksanakan keinginan hatimu itu. Kuberi kau tujuh hari untuk hidup. Kusembuhkan kembali kepandaian silatmu untuk sementara, supaya kau dapat pergi menepati janjimu. Setelah selesai, kau harus segera kembali ke sini menyerahkan jiwamu. Apa kau sanggup?"
Persoalan berat ini membuat Suma Bing ragu-ragu maju mundur. Sudah pasti bahwa janjinya dengan Siang Siau-hun itu sangat penting. Tapi, dendam perguruan, sakit hati keluarga... siapa lagi yang akan menuntut balas setelah dia mati? Apakah dia bisa..."
Setan Barat memperdengarkan suara tawa dingin berulang-ulang, ejeknya, "Suma Bing, macam inikah cintamu itu? Kau ragu-ragu dan bimbang, bukan?"
Suma Bing mengertakkan gigi, sahutnya, "Aku teringat dendam perguruan dan sakit hati keluarga. Kalau aku..."
"Hahaha, kalau kau tidak menepati janji... kalau kau selamanya dipenjarakan di atas pulau ini... kalau riwayatmu sudah tamat... semua ini apakah sudah kau pikirkan? Lalu, bagaimana pula akibatnya?"
"Baiklah, begitu kita atur." Akhirnya, Suma Bing nekat.
"Pada hari ketujuh kau harus sudah kembali ke sini?"
"Aku pasti kembali."
"Seandainya kau tidak pulang, kau juga takkan lolos dari tanganku!" Setelah berkata demikian, ia menunjuk wanita serba hitam itu dan berkata, "Dia bernama Sun Giok-sia, muridku satu-satunya. Nanti pada hari ketujuh, dia akan menantimu dengan sebuah sampan di bawah Te-tjui-hong! (Puncak Titik Lajung)."
"Te-tjui-hong?"
"Benar, terletak di depan danau itulah." Lalu ia berpaling dan berkata lagi, "Giok-sia, lepaskan dia."
Segera Sim Giok-sia maju membuka kunci dan membukakan pintu. Dengan langkah berat, Suma Bing keluar dari rumah hitam. Seakan ia hidup kembali setelah selama tiga bulan mengecap penderitaan dalam penjara, seakan sudah tiga ratus tahun ia berpisah dengan dunia ramai.
Setan Barat segera maju mendekat. Dengan jarinya, ia menutuk beberapa jalan darah di tubuh Suma Bing lalu berkata, "Lwekangmu bukan kupunahkan, hanya kututup dengan ilmu tutukan tunggalku. Sekarang kau pulih kembali seperti biasa."
Suma Bing menyedot hawa dalam-dalam dan mencoba mengerahkan tenaga. Benar saja, hawa murni dalam tubuhnya segera bergolak.
Setan Barat berputar dan perlahan-lahan pergi masuk rumah.
"Mari ikut aku," segera Sim Giok-sia berkata dan menggamit.
Suma Bing mengintil di belakang Sim Giok-sia. Setelah belak-belok beberapa kali, mereka tiba di luar barisan jeritan setan pengejar sukma itu. Tampak sinar sang surya berkilau-kilau di permukaan danau. Hari cerah, dan pemandangan sampan itu, seperti saat kedatangannya dulu, Sim Giok-sia melajukan perahunya dengan cepat.
Kira-kira sepeminuman teh kemudian, mereka sudah tiba di bawah sebuah bukit kecil yang menghijau.
"Sudah sampai. Tempat inilah yang dinamakan Te-djui-hong. Tujuh hari kemudian, kunanti kedatanganmu di sini."
Suma Bing tertawa hambar, katanya, "Selamat bertemu!"
Melompat tiba di darat, ia segera mengembangkan ilmu meringankan tubuh dan mengerahkan seluruh kekuatannya berlari kencang keluar dari lingkungan bukit kecil ini. Dalam tempo tiga hari, ia sudah harus tiba di biara bobrok tempat ia berjanji untuk bertemu pula dengan Siang-Siau-hun.
Begitulah siang dan malam ia terus berlari tak henti-hentinya. Pada hari ketiga, pagi-pagi benar tepat waktu sang surya muncul dari peraduannya, ia tiba di sebuah kota kecil yang terpaut tiga puluh li dari biara bobrok itu. Baru sekarang legalah hatinya yang waswas dan khawatir. Setelah mengganjal perut sekadarnya, bergegas ia melanjutkan pula perjalanannya.
Belum jauh ia meninggalkan kota kecil itu, sekonyong-konyong sebuah bayangan lincah hitam berkelebat melintang melintasi jalan raya dengan kecepatan seperti angin lesus. Sekejap itu, bayangan itu menghilang di dalam rimba sebelah sana.
Serta-merta Suma Bing menghentikan langkahnya karena ia merasa sangat mengenali bayangan hitam itu. Setelah merenung sekian lamanya, ia teringat bahwa bayangan hitam itu tak lain tak bukan adalah Racun Diracun yang merebut Pedang Darah dari tangannya.
Hari masih begitu pagi, dan Racun Diracun muncul di sini tentu ada peristiwa apa yang telah terjadi. Apa mungkin di dalam rimba itukah sarang Racun Diracun?
Tanpa menghiraukan bahaya yang bakal mengancam, segera ia melesat memasuki hutan lebat itu. Ternyata rimba itu adalah sebidang tanah pekuburan. Membelakangi hutan sebelah kanan, di sana berdiri sebuah gardu segi delapan. Di dalam gardu itulah berdiri dua orang, entah sedang apa.
Selincah kucing yang hendak menerkam mangsanya, Suma Bing berkelebat sembunyi di belakang sebuah pohon besar yang tidak terlalu jauh dari gardu itu. Salah seorang di dalam gardu itu ternyata adalah Tangbun Yu, putra Racun Utara. Melihat musuh besarnya ini, timbullah gelora amarah Suma Bing yang tertekan selama ini. Karena bocah beracun inilah timbul berbagai peristiwa yang menyakitkan hatinya. Maka, bocah beracun ini harus dibunuh untuk melampiaskan rasa dendamnya itu.
Seorang lain di dalam gardu itu adalah seorang tua berwajah tirus, hidung bengkok, dan mata juling yang menunjukkan kelicikan wataknya. Terdengar Tangbun Yu tengah berkata, "Ayah, apa dia pasti datang?"
"Dia sudah datang!"
Tanpa sadar, Suma Bing tergetar kaget. Di luar sangkanya, orang tua ini ternyata Pak-tok Tangbun Lu. Entah siapakah yang mereka maksud 'dia' dalam percakapan itu? Tangbun Lu, si Racun Utara, bergelak tawa dengan angkuhnya, serunya, "Lohu sudah menunggu sekian lamanya, keluarlah!"
Sebuah bayangan berkelebat keluar tidak jauh dari tempat sembunyi Suma Bing. Sekali berkelebat, dengan enteng dan gesit, tahu-tahu sudah tiba di luar gardu. Bayangan hitam itu tak lain tak bukan adalah Racun Diracun.
Menghadapi Racun Diracun, Pak-tok menyeringai tawa hina, sapanya, "Tuan ini Racun Diracun?"
"Benar, Tuan mengundang aku ke tanah pekuburan ini, ada pengajaran apakah?"
"Kalau kau mau menghapus nama julukanmu, Lohu tidak akan memperpanjang urusan ini."
Racun Diracun bergelak sombong, katanya, "Bagi kaum persilatan, nama julukan lebih berharga dari nyawa sendiri. Omongan Tuan tadi benar-benar keterlaluan menghina orang."
Wajah tua Pak-tok semakin mengelam kaku, ejeknya, "Apa kau tahu mengapa Lohu memilih tempat semacam ini untuk tempat pertemuan kita?"
"Silakan Tuan jelaskan."
"Kalau dipendam di sini, setelah mati pasti tidak akan kesepian."
Racun Diracun mengekeh tawa, meliukkan tubuh, ujarnya, "Sama-sama! Tuan benar-benar teliti dan rapi bekerja. Mungkin selama ini Tuan paling takut akan kesunyian, maka sudah mengatur di tempat semacam ini. Lain halnya bagiku, yah, itu tidak menjadi soal!"
Saking marahnya, wajah Pak-tok berubah membiru kehijauan. Kepalanya menguapkan uap putih, dan nafsu kekejaman semakin tebal pada wajahnya.