Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 40

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 40

Racun Diracun berkata lagi, "Sebaliknya, aku belum berpikir untuk meminta kepada Tuan agar Tuan menanggalkan nama julukan Pak-tok..."

"Tutup mulut! Nama Racun Diracunmu itu, apa kau bermaksud hendak mengungguli Lohu?"

"Itu terserah bagaimana Tuan mengambil kesimpulan, aku tidak ingin berdebat!"

"Siaupwe sungguh sombong benar..."

"Siaupwe? Hahahaha! Sebaliknya kau, Tangbun Lu, jangan mengangkat dirimu terlalu tinggi."

Gemetar tubuh Racun Utara menahan kemarahan hatinya, suaranya mengandung ancaman membunuh, "Jadi kau beranggapan bahwa kau lebih beracun dari Lohu?"

Racun Diracun tertawa sinis, sahutnya, "Akan tetapi Tuan, belum tentu kau lebih unggul dariku."

"Baiklah, biar Lohu mengukur sampai di mana kemampuanmu."

"Dengan senang hati aku mengiringi."

"Yu-ji, tuang arak, suguhkan pada tamu." Tangbun Yu mengiakan dan segera menuang dua cangkir arak, lalu meletakkannya di atas meja batu di tengah gardu.

Ketegangan melingkupi suasana sekeliling karena kedua belah pihak sama-sama menggunakan racun berbisa yang bertujuan membunuh lawannya tanpa kekerasan fisik. Sementara itu, Suma Bing sendiri terpaku di belakang pohon dengan leher bersitegang. Dua pihak yang tengah menyabung nyawa di dalam gardu adalah musuh-musuhnya; ia ingin menyaksikan siapa yang lebih unggul dan siapa yang lebih berbisa.

Tangan Racun Utara diulapkan sambil berkata, "Inilah Jipyang (masuk mulut meremukkan usus), silakan." Ia kemudian mengangkat cangkir dan langsung menenggaknya habis.

Racun Diracun melangkah masuk ke dalam gardu. Tanpa ragu-ragu, ia mengangkat cangkir yang lain lalu menenggaknya habis. Kemudian ia sendiri menuang dua cangkir penuh arak, jari kelingkingnya menyentil sekali di bibir cangkir, lalu berkata, "Pemberian yang tak dibalas kurang hormat. Silakan, inilah It-te-siu (setitik istirahat)."

"Inilah Giam-ong-leng (perintah raja akhirat), silakan."

"Inilah Racun Tanpa Bayangan, silakan."

"Inilah Biat-seng-tjui (air pelenyap bentuk), silakan."

Racun Diracun menuang dua cangkir terakhir serta berkata, "Inilah cangkir yang terakhir. Kalau Tuan mampu bertahan, aku mengaku kalah saja. Untuk selanjutnya biar di kalangan Kangouw tidak ada lagi orang kosen macam Racun Diracun..."

"Apa nama racun ini?"

"Tuan berjuluk Racun Utara, masa tidak dapat melihat sendiri?" Rona wajah Racun Utara berubah mengeras. Sekian lama ia terlongong di tempatnya tanpa kuasa membuka suara.

Racun Diracun menyeringai hambar, lalu ujarnya, "Inilah Banbo!"

Racun Utara mundur terhuyung, tubuhnya lemas menyandar di tiang gardu, mulutnya mendesis gemetar, "Induk racun berlaksa tahun?"

"Ya, inilah Racun Diracun, racun di luar racun, kombinasi berlaksa racun dari seluruh jagat."

Suma Bing yang bersembunyi di tempat gelap pun merinding dan berdiri bulu kuduknya. Permainan adu racun yang menentukan mati hidup dan gengsi seperti ini agaknya belum pernah terjadi dalam dunia persilatan selama ini. Begitulah, Racun Diracun segera mengangkat sebuah cawan lalu menenggaknya habis dan mengacungkan cangkir kosong ke hadapan Racun Utara.

Agaknya Racun Utara keder. Setelah bimbang sekian lama, terpaksa ia meminum juga arak terakhir ini. Seketika otot hijau di atas dahinya menonjol keluar, dan tubuhnya pun terhuyung hampir roboh.

Kata Racun Diracun pula, "Tuan selamanya pandai menggunakan racun, sudah tentu induk racun berlaksa tahun ini tidak akan membuat Tuan mati. Tapi untuk membersihkan racun itu dari dalam tubuhmu, sedikitnya kau harus berjerih payah selama sepuluh tahun!"

Dengan kebencian yang menyala-nyala, Tangbun Lu mendengus. Serunya, "Yu-ji, mari pergi!"

"Bocah berbisa, tunggu dulu!" Bareng dengan habisnya suara ini, sebuah bayangan sudah melesat tiba di luar gardu.

Tangbun Yu menyeringai bengis. Desisnya, "Suma Bing, kau belum mati? Oh ya, waktunya belum tiba, bukan?"

Bagai bola api yang membara, kedua mata Suma Bing berkilat-kilat menatap Tangbun Yu. Geramnya, "Bocah jadah, barang permainan seperti racun Pek-jit-kui milikmu bisa apa padaku? Hari ini silakan kau pun merasakan kelihaian Lip-sip-kui milikku!"

"Apa? Lip-sip-kui (segera pulang)?"

"Benar, Lipthian (segera mati)!" Sembari berkata demikian, kedua tangan Suma Bing langsung disodokkan ke arah Tangbun Yu. Karena gusar, pukulannya ini meliputi pengerahan seluruh tenaganya yang berlandaskan Kiukang. Gelombang panas bagai badai di padang pasir segera bergulung-gulung melanda ke arah Tangbun Yu.

Dengan tergesa-gesa, Tangbun Yu juga mengangkat tangan menangkis.

"Blang!" Di tengah ledakan dahsyat itu, tubuh Tangbun Yu tergetar dan terbang jauh lebih dari setombak. Belum cukup puas melihat hasil pukulannya, Suma Bing berkelebat menyusul lagi dengan serangan yang lebih hebat.

Sebelah tangan Tangbun Yu bergoyang-goyang sambil membentak, "Roboh!"

Suma Bing tahu bahwa lawan tengah menyebar racun berbisa. Namun, sejak menelan seluruh batang rumput ular serta buahnya pemberian Manusia Bebas, Suma Bing sudah kebal dan tidak lagi takut pada segala racun berbisa. Bertepatan dengan seruan "roboh", dengan kecepatan kilat sebuah pukulan Suma Bing sudah menghantam dada Tangbun Yu.

Sungguh mimpipun Tangbun Yu tidak menyangka bahwa Suma Bing kini sudah tidak gentar lagi menghadapi segala racun. Baru saja ia tertegun kejut, pukulan Suma Bing sudah menghantamnya.

"Blang!" Diselingi pekik kesakitan, mulut Tangbun Yu muntah darah dan badannya terbang sejauh tiga tombak.

Melihat putra tunggalnya terpukul luka parah, Racun Utara murka sekali. Ia bergegas melejit maju serta bertanya, "Kau ini murid Kho-lo-sia?"

"Kau mau apa?"

"Sambutlah sebuah pukulan Lohu!" Habis ucapannya, sejalur angin dingin segera menerpa deras ke arah Suma Bing.

Hian-in-kang kebanggaan Racun Utara merupakan salah satu ilmu tunggal yang diakui kehebatannya oleh kaum persilatan. Meskipun Suma Bing melatih Kiukang, ilmu sakti pemunah Hian-in-kang, sayang Lwekang dan latihannya belum sempurna. Begitu ia menangkis, kekuatan pukulannya bagai amblas ke dalam lautan; hanya terdengar suara mendesis. Kontan dia sendiri lantas merasakan jalur-jalur angin sedingin es meresap memasuki seluruh tubuhnya dan merangsang ke arah jantung. Tubuhnya gemetar kedinginan dan limbung hampir jatuh.

Pak-tok menyeringai iblis, ujarnya, "Siau-sia (sesat kecil), biar Lohu sempurnakan kau!"

Angin puyuh laksana sebuah gunung menindih ke arah Suma Bing. Dalam melancarkan pukulannya ini, Pak-tok tidak mengerahkan ilmu Hian-in-kang lagi, namun dengan latihan Lwekang Racun Utara selama berpuluh tahun itu, cukup kiranya membuat Suma Bing kewalahan. Apalagi sebelumnya ia sudah kemasukan hawa dingin jahat dari pukulan musuh; sedikit banyak hawa murninya sudah susut sebagian. "Biang!" Untuk sekian kalinya Suma Bing muntah darah dan terpental jauh lebih dari setombak.

Sementara itu, sambil menggendong tangan, Racun Diracun hanya menonton saja dari pinggiran. Memang antara Pak-tok dan Lam-sia adalah musuh bebuyutan, besar niatnya hendak melenyapkan murid musuh besarnya ini. Maka tanpa mengenal ampun lagi, tubuhnya kembali melejit maju dan sebuah pukulan keras dilancarkan pula.

"Bum!" Sebelum Suma Bing sempat bernapas, tahu-tahu tubuhnya sudah sungsang-sumbel jungkir balik terbang dua tombak lebih dan jatuh di pinggir hutan. Memang sifat Pak-tok kejam dan telengas, tubuhnya berkelebat maju lagi...

Mendadak sebuah bayangan putih berkelebat melayang tiba menghadang di depan Suma Bing. Pak-tok terperanjat, desisnya, "Budak kecil, minggir!"

Bayangan putih yang baru tiba ini ternyata adalah murid Peknio yang bernama Ting Hoan. Wajah Ting Hoan penuh rasa ejek, semprotnya, "Tua bangka beracun, perbuatanmu sungguh kejam dan tidak tahu malu!"

"Siapa kau?"

"Ting Hoan!"

"Murid siapa?"

"Kau tidak perlu tahu."

"Aku tidak sudi turun tangan kepada angkatan muda. Kalau kau ingin hidup, lekas menyingkir."

"Huh, kenyataan tingkah lakumu berbeda dengan bicaramu itu."

Selamanya Pak-tok sangat menjunjung tinggi gengsi dan kedudukannya. Tapi setelah dikalahkan oleh Racun Diracun, dan putra kesayangannya juga dihantam luka parah oleh Suma Bing, dalam gusar dan malunya ia berbuat di luar kesadaran. Tingkah lakunya berlawanan dengan kebiasaannya. Sambil menggeram murka ia membentak, "Budak busuk, akan Lohu bikin kau mati tanpa liang kubur!"

Melihat yang datang menghadang adalah Ting Hoan, Suma Bing gugup. Teriaknya, "Nona Ting, minggirlah kau..."

Belum lenyap suaranya, Racun Utara sudah turun tangan menyerang ke arah Ting Hoan. Serangan kali ini pun sangat dahsyat. Sebenarnya Ting Hoan gampang saja berkelit, tapi bila dia menyingkir, berarti serangan hebat ini pasti akan menerjang Suma Bing yang sudah luka parah itu. Terpaksa Ting Hoan nekat menyambut pukulan musuh secara keras lawan keras.

Akan tetapi, dalam dunia persilatan masa itu, yang kuat bertahan terhadap pukulan hebat Hian-in-kang dari Pak-tok mungkin dapat dihitung dengan jari. Baru saja Ting Hoan melancarkan pukulannya, angin dingin pukulan musuh sudah mengurung seluruh tubuhnya. Seketika tubuhnya bergidik kedinginan dan ia terpental jatuh duduk di atas tanah, seakan badannya direndam dalam gudang es dan menjadi beku.

Pak-tok yang terkenal karena kekejaman dan kelicikannya menyeringai seram. Ia mendesak maju lagi sambil mengangkat tangannya, siap hendak memukul lagi. Pada saat itulah mendadak Racun Diracun melayang tiba mencegat di hadapannya. Jengeknya, "Tuan, kiranya cukup sampai di sini saja!"

Wajah Pak-tok berubah keras seperti besi. Desisnya, "Kau pun turut campur dalam urusan ini?"

Racun Diracun mendengus jijik, ujarnya, "Dengan kedudukan Tuan, turun tangan tiga jurus sudah harus segera mengundurkan diri!"

Air muka Tangbun Lu, Si Racun Utara, berubah merah padam; sikapnya malu dan serba salah. Setelah membanting kaki, segera ia memutar tubuh mengempit Tangbun Yu, lalu berlari pergi bagai terbang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment