Chapter 41
Terdengar Suma Bing berseru keras, "Jadah tua beracun, akan tiba suatu hari aku pun akan menghantammu hingga muntah darah!" Dengan gertakan saja, Racun Diracun dapat menghalau Racun Utara. Hal itu benar-benar membuat Suma Bing kagum dan heran.
Sementara itu, wajah Ting Hoan pucat pasi, matanya terpejam rapat. Ia tengah melakukan pernapasan untuk menghimpun tenaga dan mendesak hawa beracun yang bersifat dingin itu keluar dari tubuhnya.
Racun Diracun mengacungkan sebutir pil ke arah Suma Bing seraya berkata, "Telanlah ini, segera tenagamu akan pulih segar bugar!" Suma Bing terlongong memandang Racun Diracun dengan penuh tanda tanya. Sesaat kemudian, wajahnya berubah kaku dan dingin, lalu ia berkata, "Aku tidak sudi menerima budimu ini." Racun Diracun menjawab, "Suma Bing, Nona ini terluka parah karena menolongmu. Hawa beracun sudah meresap ke dalam tubuhnya. Selain ilmu Kiukangmu, tidak mungkin dapat mendesak hawa beracun itu keluar dari dalam tubuhnya."
"Jika tertunda terlalu lama, bila hawa beracun itu merembes masuk ke jalan darah Yang-wi dan Yang-kiau serta sendi-sendinya, dewa pun tidak akan mampu menolongnya lagi." Suma Bing bergidik seram. Hal ini benar-benar membuatnya serbasalah.
Tidak mungkin ia tinggal diam melihat Ting Hoan menderita dengan jiwa terancam karena membantunya.
Namun, di sisi lain, ia tidak sudi menerima kebaikan yang diulurkan oleh Racun Diracun.
Lagipula, sepak terjang Racun Diracun ini benar-benar di luar dugaannya.
Terdengar Racun Diracun berkata lagi, "Apa kau benar-benar tega melihat gadis rupawan ini berkorban karena menolong jiwamu?" Lagi-lagi hati Suma Bing bergejolak. Ia berkata, "Muslihat apa yang Tuan sembunyikan? Silakan jelaskan sekalian." Racun Diracun tertawa mengejek. Ujarnya, "Suma Bing, untuk merenggut jiwamu aku tidak perlu bersusah payah. Entah dengan tanganku atau menggunakan racunku, mengapa rasa curigamu sedemikian besar?"
"Akan tetapi, di antara kita masih ada utang lama yang belum dilunasi."
"Maksudmu tentang Pedang Darah itu?"
"Benar, dan juga peristiwa peracunan Siang Siau-moay dan Li Bun-siang termasuk pula dalam perhitungan itu." Racun Diracun tertawa sinis. Ujarnya, "Suma Bing, beginilah murid Lam-sia yang ditakuti itu? Sikapmu sangat tercela." Suma Bing tercengang. Sahutnya, "Mengapa?" "Kelak masih ada waktu panjang untuk menyelesaikan perhitungan itu. Aku tidak akan mungkir dan tidak akan menebusnya dengan perbuatan baikku. Kau tidak perlu takut.
Saat ini, apakah kau berminat untuk menolong jiwa orang?" Seketika wajah Suma Bing memerah karena jengah, ia terdiam seribu bahasa.
Racun Diracun berkata lagi, "Sebelum kau turun tangan menolongnya, kau harus menotok seluruh jalan darah, baik yang besar maupun kecil, di seluruh tubuhnya. Supaya hawa dingin tidak tertinggal di dalam tubuhnya. Sekarang aku pergi!" Baru saja Suma Bing hendak mengucapkan apa-apa, Racun Diracun sudah berkelebat menghilang.
Sebetulnya ia tidak sudi menerima obat orang, namun luka Ting Hoan mau tidak mau harus diobati.
Jika luka tubuhnya sendiri belum tersembuhkan, mana mungkin ia kuat mengerahkan Kiu-Yang-Sin-Kang.
Seandainya ia kuat bertahan dan berobat dengan caranya sendiri, tanpa menggunakan obat pemberian orang, mungkin waktunya sudah terlambat saat ia selesai berobat.
Dulu, ketika dirinya diringkus Peknio, beruntung Ting Hoan diam-diam membantu hingga ia lolos dari lubang jarum.
"Sekarang Ting Hoan terluka parah oleh pukulan Hian-Sin-Kang karena dirinya juga. Apa aku tidak harus menolongnya?" Sepak terjang Racun Diracun yang di luar kebiasaan ini benar-benar sulit diselami. Bahwa manusia beracun yang lebih berbisa dari Racun Utara kiranya juga dapat berbuat bajik dan mengenal budi pekerti. Begitulah, setelah ditimbang-timang dan direnungkan sekian lamanya, akhirnya ia menelan juga obat pemberian Racun Diracun itu.
Benar-benar mustajab, sebagaimana yang diucapkan oleh Racun Diracun. Dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, Suma Bing merasakan tenaganya sudah pulih seluruhnya, rasa sakit di seluruh tubuh pun lenyap tanpa bekas. Entah obat dewa apa gerangan ini yang sedemikian hebat khasiatnya.
Setelah tenaga Suma Bing pulih kembali, yang harus dilakukannya adalah segera menolong Ting Hoan mendesak hawa berbisa dari pukulan Hian-In-Kang keluar dari badannya.
Tapi setelah diingat bahwa ia harus menotok jalan darah, baik yang besar maupun kecil, di seluruh tubuh orang, seketika ia bimbang dan ragu. Bukankah itu berarti ia harus menyentuh tubuh gadis rupawan yang masih suci itu...
Namun setelah dipikirkan lagi, apa yang dilakukannya ini demi menolong jiwanya, tentu Ting Hoan akan maklum dan memaafkan perbuatannya ini.
Maka tanpa ragu-ragu lagi, segera ia turun tangan menotok semua jalan darah di tubuh orang!
Di mana telunjuk jarinya menyentuh, terasa kulit tubuh orang itu sedemikian halus dan lemas seakan tidak bertulang. Suatu perasaan yang sulit dilukiskan terasa meresap masuk ke dalam badan dan mengambang ke seluruh tubuh.
Matanya dipejamkan, tidak berani menatap wajah yang ayu dan molek bak bidadari, karena itu akan menambah gejolak hatinya yang tidak tenteram.
Pada saat kebetulan ia menotok sebuah jalan darah di samping Djiu-Tiong-Hiat, tiba-tiba Ting Hoan menggeliat hingga jarinya dengan tepat menotok di ujung buah dadanya yang montok dan lunak.
Tubuh Suma Bing tergetar bagai tersengat aliran listrik.
Untung Ting Hoan masih belum siuman dari pingsannya, kalau tidak, entah betapa risi dan kikuk sikapnya.
Setelah semua jalan darah tertotok habis, badan Suma Bing pun basah kuyup oleh keringat.
Bukan karena terlalu lelah atau banyak mengeluarkan tenaga, tetapi karena terlalu tegang dan gugup.
Ia menghela napas panjang lega lalu membalik tubuh Ting Hoan. Tangan kiri melekat di jalan darah Bing-Mun-Hiat, lantas kekuatan Kiukang disalurkan melalui telapak tangannya, merembes masuk dari Bing-Mun-Hiat ke seluruh tubuh Ting Hoan.
Kiukang memang penawar dari Hian-In-Kang. Maka, setengah jam kemudian, perlahan-lahan Ting Hoan siuman dari pingsannya.
Suma Bing segera menarik tangannya.
Tersipu-sipu Ting Hoan melompat bangun. Dengan penuh haru ia berkata kepada Suma Bing, "Terima kasih, Engkau telah mengobatiku." "Nona terluka karena aku," jawab Suma Bing sungguh-sungguh. "Sudah seharusnya aku menolongmu, apalagi tempo hari Nona diam-diam telah membantuku..." Wajah Ting Hoan berubah serius. Katanya, "Memang, waktu Suhu akhirnya tahu kau belum mati, dia marah-marah dan hendak menghukumku karena membangkang pada perintahnya."
"Dalam kegugupanku, aku berbohong. Aku katakan bahwa kau pandai ilmu memindahkan jalan darah, maka meskipun kau tertotok jalan darah kematianmu, kau tidak dapat meninggal."
"Bagiku, budi dan dendam adalah hal yang berbeda. Kelak aku harus membalas..." Dengan penuh perasaan mesra dan penuh perhatian, Ting Hoan menimpali ucapan Suma Bing, "Siapa yang ingin kau mengucapkan perkataan itu? Aku berbuat begitu karena... karena..." "Karena apa?"
Wajah Ting Hoan memerah karena jengah. Sambil menunduk malu-malu, akhirnya ia berkata, "Karena aku suka kepadamu!" Serta-merta hati Suma Bing tergerak. Sudah tentu ia maklum akan maksud perkataan 'suka' ini.
Mendadak teringat olehnya akan tujuan kedatangannya yang utama serta janjinya kepada Setan Barat.
Dalam tujuh hari, ia harus kembali ke pulau kecil di tengah danau itu.
Pikiran ini tanpa terasa menceloskan hatinya. Serunya gugup, "Nona Ting, saat ini aku ada urusan sangat penting. Harap sudi memaafkan ucapanku yang teledor tadi."
Budi kebaikan Nona itu mungkin selama hidup ini tidak mungkin dapat kubalas.
Tapi itu hanya suatu misal saja. Asal aku dapat tetap hidup, tentu tidak akan kulupakan keluhuran budi Nona itu. Harap kau menjaga diri baik-baik.
Wajah Ting Hoan berubah hebat mendengar ucapan Suma Bing itu. Serunya tergagap, "Kau... kau... Apa katamu?" Namun Suma Bing sudah melesat terbang jauh, tidak mendengar seruannya. Sebentar kemudian, bayangan tubuhnya sudah hilang dari pandangan mata.
Ting Hoan tertegun melongo di tempatnya. Entah bagaimana perasaan hatinya, ia tidak tahu mengapa Suma Bing bisa mengucapkan perkataan demikian. Dengan penuh keperihan hati, ia menghela napas panjang lantas menggerakkan tubuh berlari keluar rimba.
Dalam pada itu, Suma Bing tengah berlari cepat bagai luncuran meteor. Jarak tiga puluh li dalam sekejap mata saja telah ditempuhnya.
Samar-samar bayangan tembok biara bobrok itu sudah terlihat dari kejauhan. Denyut jantungnya berdetak semakin cepat, ia berharap bahwa kedatangannya ini masih belum terlambat.
Sejenak ia menenangkan hati, lalu berkelebat memasuki biara.
"Ah..." Suma Bing tidak tertahan lagi berseru terkejut. Bulu kuduknya pun berdiri seram, saking kagetnya jantungnya terasa hendak melonjak keluar.
Tujuh mayat manusia yang berlepotan darah dan sulit dikenali, malang melintang terkapar di atas tanah di pekarangan biara bobrok itu.
Dari tanda pengenal yang tersulam di depan dada para korban, dapat diketahui bahwa mereka adalah anak buah Bwe-Hwa-Hwe.
Siapakah yang telah turun tangan sekejam itu? Apakah Siang Siau-hun sudah datang menepati janjinya? Apakah ada sangkut paut kematian mereka ini dengan Siang Siau-hun? Otaknya bekerja cepat memikirkan semua pertanyaan itu.
Kaki diangkat, ia melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang kotor dan jorok. Di sana ia tempo hari bertempur dengan putra Racun Utara, yaitu Tangbun Yu, dan karena kelicikan Tangbun Yu-lah maka ia terkena racun dan terjadilah ikatan perjanjian sehidup-semati itu.
Baru saja kakinya tiba di ambang pintu, sebuah bayangan punggung seseorang terlihat dalam pandangan matanya.
Sungguh girang Suma Bing bukan kepalang, kiranya ia belum terlambat. Maka dengan suara riang gembira ia berseru nyaring, "Adik Hun!" Eh, aneh, mengapa bayangan tubuh langsing menggiurkan itu diam saja tanpa bergerak, seolah-olah tidak mendengar seruannya.
"Adik Hun, aku..." Ia berseru lagi lebih keras.
Wanita itu perlahan-lahan memutar tubuh.
Seketika pandangan mata Suma Bing terbelalak, seolah-olah di depan matanya terpasang sebuah lampu yang bersinar terang menyilaukan mata. Serta-merta melihat orang di hadapannya, segera ia menelan kembali kelanjutan kata-katanya dan serta-merta ia mundur dua langkah.