Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 42

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 42

Sosok itu bukan Siang Siau-hun.

Namun, ia jauh lebih cantik dan rupawan daripada Siang Siau-hun. Wanita ini begitu molek, tetapi wajahnya membeku dingin dengan sikap yang sangat angkuh, sehingga orang tidak berani beradu pandang dengannya.

Hati Suma Bing menjadi gundah dan risau. Bagaimanapun juga, Siang Siau-hun tidak mungkin ingkar janji. Namun, ke mana perginya gadis itu? Keberadaan mayat-mayat bergelimang darah di dalam biara bobrok ini sungguh mengherankan. Kehadiran nona cantik bak bidadari yang bersikap kaku dan dingin ini semakin menambah ketidaktentraman hatinya.

Mulut mungil si gadis setengah terbuka saat ia bertanya dengan nada dingin, "Siapa adik Hun-mu itu?"

Suma Bing merasa wajahnya memanas. Ia menjawab dengan kikuk, "Maaf, aku salah mengenali orang."

"Huh, salah mengenali orang? Apa adik Hun-mu itu berparas seperti aku?"

"Ini... tidak..."

"Lalu, bagaimana kau bisa salah mengenali orang?"

Sebenarnya Suma Bing ingin memberikan penjelasan, tetapi dasar sifatnya yang angkuh dan congkak, ia merasa dongkol melihat sikap kaku dan dingin si nona. Tanpa berkata-kata lagi, ia segera memutar tubuh hendak pergi.

"Kembali!"

Tanpa sadar, Suma Bing menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh. Ia bertanya dengan dingin, "Nona, masih ada perkataan apa lagi?"

"Kau yang bernama Suma Bing?"

Suma Bing terperanjat. Ia tidak menyangka orang itu mengetahui namanya, sementara ia sendiri belum mengenal siapa nona ini. Sambil mengangguk, ia menjawab, "Benar!"

"Apa kau tidak ingin tahu siapa aku?"

"Hal itu... sepertinya tidak begitu perlu."

"Huh, serba sesat!"

"Apa maksud ucapan Nona?" semprot Suma Bing dengan dongkol.

Gadis itu melihat sekeliling, lalu berkata, "Kau datang menepati janji seorang gadis, bukan?"

"Dari mana Nona bisa tahu?"

"Gampang sekali. Kau datang berlari pontang-panting dan salah mengenali orang. Bukankah ini bukti yang nyata?"

"Apa Nona melihat wanita sahabatku itu?"

"Ya, aku bahkan tahu namanya adalah Siang Siau-hun."

Suma Bing kegirangan dan berseru, "Di mana dia?"

"Sudah pergi."

"Pergi?" seru Suma Bing terkejut sambil mundur selangkah. Ia sungguh tidak mengerti mengapa Siang Siau-hun pergi setelah datang. Bukankah janji mereka adalah tidak akan berpisah sebelum bertemu? Mungkinkah... "Mengapa dia pergi?"

"Pergi mencarimu."

"Mencari aku?" Kedua mata Suma Bing membelalak keheranan.

Sikap gadis itu tetap dingin dan kaku saat menyahut, "Apa ada yang tidak beres?"

"Kami berjanji bertemu di sini, bagaimana mungkin..."

"Mungkin dia khawatir kau terluka saat bertarung dengan orang lain."

Rasa terkejut dan heran Suma Bing semakin besar. Bagaimana mungkin Siang Siau-hun mengetahui bahwa dirinya berkelahi dan terluka oleh musuh? "Dia... mengapa dia tahu?"

"Bahkan dia juga tahu bahwa sekarang tubuhmu sudah kebal terhadap segala racun."

"Dia tahu? Apa itu benar?"

"Apa kau menyangka aku berbohong?"

"Tetapi itu tidak mungkin."

"Terserah kau percaya atau tidak."

"Dapatkah Nona memberikan sedikit penjelasan?"

Gadis itu merenung sejenak, lalu berkata, "Aku pernah melihatmu berkelahi dengan ayah dan anak dari Racun Utara hingga terluka parah. Kemudian, Raja Racun memberimu sebutir obat mustajab agar kau dapat secepat mungkin menolong murid Pek-nio yang bernama Ting Hoan itu. Kebetulan saat melewati tempat ini, kudengar ada suara pertempuran. Ternyata para kurcaci dari Bwe-hwa-hwe tengah mengeroyok Nona Siang, maka kubunuh antek-antek rendah itu. Kuberitahukan pula apa yang baru saja kulihat. Secara terus terang, dia pun menuturkan segalanya. Dia sangat prihatin atas dirimu, maka dia segera pergi menyusulmu ke depan sana. Mungkin kalian berselisih jalan."

"Nona, jadi Kaulah yang telah menolong jiwanya?" kata Suma Bing dengan penuh haru.

"Ah, aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan."

Suma Bing mengangkat kedua tangannya lalu berkata, "Kalau begitu, izinkan aku mewakili Nona Siang mengucapkan terima kasih atas pertolongan Nona."

"Tidak perlu sungkan."

"Bolehkah aku mengetahui nama Nona?"

Mendadak gadis itu memberikan senyuman manis yang bagaikan bunga mekar di musim semi. Ia menjawab, "Namaku Phoa Kin-sian."

Hati Suma Bing seketika tergerak. Phoa Kin-sian berkata lagi, "Apa kau tidak ingin mencarinya?"

Suma Bing menggelengkan kepala. Sahutnya, "Jika dia sudah tahu sejelas itu, lebih baik aku tidak perlu mencarinya lagi."

"Mengapa?"

"Sudah tidak ada waktu lagi."

"Tidak ada waktu? Apa maksudmu?"

"Karena aku masih memiliki janji lainnya."

Wajah Phoa Kin-sian agak berubah. Katanya, "Begitu besar rasa kasih Siang Siau-hun kepadamu, jangan sampai kau membuatnya putus harapan."

Suma Bing menjadi gugup. Sahutnya, "Nona salah paham dengan penjelasanku..."

"Lalu, siapa orang yang kau janjikan itu?"

Suma Bing tertawa hambar. Sahutnya, "Rasanya tidak perlu kuterangkan. Maaf, aku mohon diri."

Sekonyong-konyong dari luar biara terdengar suara derap langkah kaki yang riuh, disusul seruan kaget beberapa orang. Sepertinya mereka telah melihat mayat-mayat yang bergelimang darah itu.

Phoa Kin-sian tertawa mengejek. Katanya, "Orang-orang yang mengantar nyawa telah datang lagi." Dengan langkah gemulai, ia melangkah keluar dari ruangan sembahyang, diikuti oleh Suma Bing di belakangnya.

Di tengah pelataran, berdiri lima orang laki-laki dan seorang wanita. Dua di antaranya berusia sekitar enam puluh tahun, dan tiga laki-laki muda bertubuh tegap gagah. Sementara itu, si wanita sudah berusia agak lanjut, tetapi sikapnya genit dan memuakkan. Dari seragam yang mereka kenakan, jelas terlihat bahwa mereka juga merupakan anggota Bwe-hwa-hwe.

Kehadiran Phoa Kin-sian dan Suma Bing yang mendadak mengejutkan mereka. Pandangan keenam orang itu beralih dari Phoa Kin-sian ke arah Suma Bing. Mata wanita genit itu melirik ke sana kemari, mengawasi ketampanan wajah Suma Bing dengan tingkah yang sangat menjijikkan. Wajahnya menunjukkan senyuman, tetapi tiba-tiba ia tampak terkejut. Serunya, "He, kau inikah Suma Bing?"

Begitu melihat para begundal Bwe-hwa-hwe muncul lagi, nafsu membunuh Suma Bing menyala-nyala. Sahutnya dengan dingin, "Benar!"

Mendengar pengakuan Suma Bing, kelima laki-laki itu langsung mundur dengan mata terbelalak. Wajah mereka pucat pasi. Perlahan-lahan mereka mundur teratur dan bersiap siaga.

Menggunakan ilmu Tjoan-bit, Phoa Kin-sian berkata kepada Suma Bing, "Wanita itu bernama Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng, salah seorang pelindung Bwe-hwa-hwe. Kepandaiannya hanya sedikit di bawah ketua mereka."

Suma Bing pun terperanjat. Ia sudah lama mendengar nama dan kejahatan Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng, terutama sifat cabulnya yang sangat dibenci oleh kaum persilatan. Sungguh di luar dugaan bahwa wanita itu kini justru menjadi pelindung Bwe-hwa-hwe.

Sambil menunjuk tujuh mayat di hadapan mereka, Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng bertanya, "Siapa yang membunuh mereka?"

Suma Bing maju dan menjawab dengan nada berat dan dingin, "Aku yang membunuh mereka, kau mau apa?"

Sekilas Phoa Kin-sian melirik ke arah Suma Bing tanpa bersuara. Wajahnya yang kaku tampak bersemu merah dengan senyuman tipis yang hampir tidak terlihat. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh nona jelita ini.

Ma Siok-tjeng mendengus dingin. Serunya, "Bagus sekali, Suma Bing. Hutang nyawa dibayar nyawa, hutang uang dibayar uang!"

"Ma Siok-tjeng," dengus Suma Bing dengan nada menghina. "Perhitunganku dengan Bwe-hwa-hwe kalian sudah susah dilunasi. Hanya beberapa nyawa rendah itu, apa artinya? Ketahuilah, setiap kali aku bertemu dengan anggota Bwe-hwa-hwe, tidak akan ada yang kubiarkan hidup!"

"Huh, kau yakin bisa pergi hidup-hidup dari sini?"

Suma Bing menjadi sangat murka. Sambil menggeram, ia melompat maju ke tengah pelataran. Ma Siok-tjeng dan kelima rekannya gentar, lalu mundur beberapa langkah. Suasana menjadi tegang dan meruncing.

Ma Siok-tjeng menunjuk ke arah Phoa Kin-sian dan bertanya, "Dia apamu?"

"Kau tidak berhak bertanya!" sahut Suma Bing sambil mendengus.

Wajah Ma Siok-tjeng yang tadinya jelita kini berubah beringas dengan nafsu membunuh. Geramnya, "Baik, biar kusempurnakan kalian menjadi sepasang mandarin di alam baka!" Setelah berkata demikian, ia memberi aba-aba kepada kelima rekan laki-lakinya.

Tiga laki-laki bertubuh tegap segera melesat menyerang Phoa Kin-sian yang berdiri di bawah serambi panjang.

"Mampus kalian!" teriak Suma Bing dengan keras. Tubuhnya bergerak sangat cepat sambil melontarkan hantaman dahsyat. Angin pukulannya bagaikan gelombang pasang yang menerjang deras ke arah tiga laki-laki itu. Seketika tubuh mereka yang tengah meluncur maju terporak-poranda dan terpental kembali ke tempat semula.

Bersamaan dengan serangan Suma Bing, Ma Siok-tjeng pun turun tangan menyerang Suma Bing dengan serangan yang tak kalah sengit. Pukulannya tidak boleh dipandang rendah karena mengandung perubahan aneh yang sulit ditebak. Suma Bing pun terkejut saat terdorong oleh angin pukulan musuh; tubuhnya tersurut mundur selangkah. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa tenaga dalam Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng ternyata sehebat itu.

Sementara itu, tanpa rasa takut, ketiga laki-laki tegap itu kembali menyerbu Phoa Kin-sian. Kemarahan Suma Bing memuncak melihat kebandelan lawannya. Dengan jurus Liu-tjiok, ia mendesak Ma Siok-tjeng hingga wanita itu kelabakan dan harus melesat tinggi untuk menghindar.

Mendapat peluang ini, Suma Bing bergerak secepat kilat. Ia mengerahkan seluruh kekuatan Kiu-yang-sin-kang untuk menghantam ketiga laki-laki tegap tersebut. Gelombang panas bagaikan lahar gunung meletus segera melanda dan menghanguskan ketiga laki-laki itu. Seketika mereka memekik ngeri. Setelah menyemburkan darah, tubuh mereka menghitam dan tewas terkapar.

Meskipun kedudukan ketiga laki-laki itu hanya tingkat dua di Bwe-hwa-hwe, kenyataan bahwa mereka tewas seketika dalam satu serangan membuat Ma Siok-tjeng dan dua orang tua lainnya tercengang dan ketakutan.

Wajah Phoa Kin-sian diliputi ekspresi yang sulit ditebak. Sikapnya tetap tenang dan acuh tak acuh saat menyaksikan adegan mengerikan tersebut. Sambil mengertakkan gigi, Ma Siok-tjeng nekad menyerang Suma Bing. Bersamaan dengan itu, dua orang tua lainnya menerjang ke arah Phoa Kin-sian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment