Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 43

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 43

Sebagai pelindung Bwe-hwa-hwe, Lwekang Ma Siok-tjeng jelas bukan lawan yang lihai dan hebat. Dalam tiga jurus saja, Suma Bing sudah terdesak kerepotan.

Sementara itu, kedua orang tua itu menerjang ke serambi panjang dan menyerang Phoa Kin-sian.

Kontan terdengar suara benturan keras yang menggelegar disertai pekik dua suara mengerikan.

Kemudian, kedua kakek tua itu terkapar roboh di tanah pelataran tanpa berkutik lagi untuk selamanya.

Sungguh mengejutkan Tok-bi-kui (bunga mawar beracun). Ia melesat mundur, dengan sorot mata heran dan penuh tanda tanya, matanya membelalak mengamati Phoa Kin-sian.

Di pihak lain, Suma Bing pun tak kalah terkejutnya. Betapa hebat dan lihainya Lwekang Phoa Kin-sian ini, benar-benar di luar dugaannya. Dalam sekali gebrak, dua gembong silat kelas satu dari Bwe-hwa-hwe telah roboh dengan mudah.

Bagaimanapun juga, Ma Siok-tjeng takkan tahu asal-usul gadis jelita yang ayu rupawan namun berwajah kaku dingin ini.

Dengan kepandaian yang ditunjukkan, pastilah ia bukan kaum rendahan.

Namun, nama Phoa Kin-sian benar-benar menggetarkan jiwa dan semangatnya, meskipun baru kali ini ia mendengar nama itu.

Apa mungkin dia salah seorang murid Tjianpwe lihay yang mengasingkan diri, dan baru kali ini berkelana di dunia persilatan? Setelah sadar dari keterkejutannya, segera Suma Bing membentak keras, "Tok-bi-kui, kau pun rebahlah!" Secepat kilat, ia mengirim pukulan deras mengarah muka Ma Siok-tjeng.

Terpaksa Tok-bi-kui mengangkat tangan menangkis. "Blang!", kedua kekuatan saling berbenturan. Tubuh Tok-bi-kui bergoyang gontai, sebaliknya Suma Bing limbung selangkah.

Dalam adu kekuatan tenaga dalam ini, jelas bahwa kekuatan dan latihan Lwekang Suma Bing masih kalah jauh dari lawan.

Maka terjadilah pertempuran sengit yang mengadu jiwa ini.

Mengandalkan kesaktian Kiukang, Suma Bing masih dapat bertahan sementara waktu. Namun, tiga puluh jurus kemudian, keadaannya semakin memburuk, terdesak ke belakang.

Lima puluh jurus kemudian, Suma Bing sudah kehilangan inisiatif untuk membalas menyerang. Terpaksa ia bertahan, mengurung diri dengan rapat.

Sekonyong-konyong terdengar teriakan nyaring, disusul Suma Bing berseru tertahan. Ujung mulutnya meleleh darah segar, tubuhnya terhuyung hampir roboh.

Dalam keadaan gawat itulah, tubuh Phoa Kin-sian berkelebat tiba di tengah gelanggang.

Suma Bing melintangkan tangan seraya berkata, "Nona Phoa, silakan mundur. Aku tidak perlu bantuanmu!" Berubah wajah Phoa Kin-sian, ia berkata, "Kau bukan tandingan siluman jadah ini!" Ucapan "siluman jadah" itu membuat wajah Tok-bi-kui berubah bengis mengancam. Mulutnya pun segera memaki, "Budak sundal, siapa yang kau maksudkan dengan siluman jadah itu?" "Kau sangka siapa lagi yang berada di sini selain kau?" "Agaknya kau ingin segera mampus, biar aku sempurnakan kau juga..." "Apa kau mampu?" Maju selangkah, Suma Bing menghadang di hadapan Phoa Kin-sian seraya berseru, "Nona Phoa, silakan mundur!" Tanpa menanti reaksi Phoa Kin-sian, segera ia menyerang ke arah Ma Siok-tjeng.

Serangan ini dilancarkan dengan penuh kebencian yang berlimpah ruah. Maka kekuatannya bagai guntur menggelegar. Kontan Tok-bi-kui terdesak mundur beberapa langkah.

Mendadak Phoa Kin-sian mendengus ejek sambil membanting kaki, terus melesat tinggi. Bayangannya menghilang di luar tembok.

Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng terpaksa mendongak saja mengawasi Phoa Kin-sian pergi, tetapi ia sendiri juga maklum dengan kepandaian orang itu. Tak mungkin dirinya kuat merintanginya.

Apagi hanya Suma Bing saja sudah cukup membuatnya bekerja berat, memeras keringat.

Jika Suma Bing dan Phoa Kin-sian berpadu mengeroyoknya, tak mungkin dirinya dapat meloloskan diri dengan selamat.

Maka dengan berkurangnya seorang lawan, lebih mantap hatinya untuk sepenuh tenaga menghadapi Suma Bing.

Dalam sekejap, dua puluh jurus telah berlalu.

Tubuh Suma Bing sudah bermandikan keringat. Keadaannya sudah payah dan berbahaya, diancam maut.

Sekonyong-konyong Tok-bi-kui merubah permainannya. Bayangan pukulannya berkelebatan seperti kupu-kupu menari-nari. Beruntun ia melancarkan enam belas kali pukulan. Pada pukulan keenambelas, terdengar Suma Bing berpekik kesakitan. Tubuhnya sempoyongan selangkah lebih.

Bagai bayangan yang selalu mengikuti, bentuk tubuh Ma Siok-tjeng melejit memburu. Tiba sekali jambak, jalan darah Hoan-meh-hiat sudah dicengkeramnya keras.

Suma Bing mencoba meronta, namun sia-sia.

Sepasang mata Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng jelalatan menatap wajah Suma Bing yang tampan. Lama-kelamaan matanya memancarkan sinar gairah yang melemaskan hati orang. Kedua pipinya pun perlahan-lahan bersemu merah.

Rasa malu, gusar, dan gugup bergejolak dalam benak Suma Bing. Matanya melotot besar dan merah membara.

Tiba-tiba Tok-bi-kui mengulurkan tangan menutuk jalan darah lemas di tubuh Suma Bing, terus dikempit di bawah ketiak dan dibawa lari ke dalam hutan di belakang biara bobrok itu.

Tak lama sesudah Tok-bi-kui mengempit tubuh Suma Bing berlalu pergi, sebuah bayangan kecil langsing berkelebat memasuki biara itu.

Dia tak lain adalah Siang Siau-hun.

Dalam biara itu sekarang ketambahan lima mayat lagi, namun bayangan kekasihnya tidak kelihatan.

"Aku harus menemukan dia," demikian keluh Siang Siau-hun, terus berlari secepat terbang keluar biara.

Kini kita ikuti jejak si mawar beracun Ma Siok-tjeng yang membawa lari Suma Bing ke dalam hutan di belakang biara. Setelah mendapatkan sebuah tempat yang tersembunyi, ia letakkan tubuh Suma Bing di atas tanah, lalu dengan mesranya ia duduk berhimpit di sampingnya.

Kata Ma Siok-tjeng, "Suma Bing, ketahuilah bahwa Ketua kami belum lega sebelum dapat meringkus dirimu."

Suma Bing menyesal karena dirinya tertutuk jalan darahnya hingga tak dapat bergerak. Dasar sifatnya memang keras, matanya melotot berapi-api dan memaki garang, "Aku pun belum lega sebelum dapat membunuh kurcaci itu."

"Tapi sekarang kau tiada kesempatan lagi. Untuk membereskan kau sekarang segampang membalikkan tanganku."

"Boleh, silahkan kau turun tangan."

Ma Siok-tjeng malah tertawa genit, ujarnya, "Tapi aku sayang untuk membunuh kau!"

"Lalu apa kehendakmu?"

Dengan tangannya, Ma Siok-tjeng mengelus-elus wajah Suma Bing. Suaranya halus dan merayu, "Adikku yang baik, asal kau berlaku baik, tentu cicimu akan segera melepaskan kau."

"Cis, tidak tahu malu..." Tok-bi-kui malah terdengar suara tertawa yang menggiurkan, serunya, "Tidak tahu malu! Sebentar lagi kalau tidak kubikin kau menyembah-nyembah kepadaku, kuhapus namaku si mawar beracun."

Hampir meledak dada Suma Bing saking menahan gusar, namun apa yang dapat diperbuat.

Dia insaf, perempuan jalang tidak tahu malu ini pasti dapat melaksanakan apa yang telah dikatakannya.

Bagi seorang laki-laki jantan seperti dirinya, masa harus diam saja dihina dan dipermainkan oleh sundal cabul ini?

Saat mana selebar muka Tok-bi-kui sudah merah padam, napasnya terengah-engah cepat. Kedua matanya memancarkan sinar berapi, tubuhnya bergetar penuh birahi.

Tiba-tiba Suma Bing merasakan jalan darah Kiu-bwe-hiat kesemutan, lalu disusul jalan darah Gi-tjiat dan Kui-lan. Di bawah perutnya terasa suatu hawa hangat mengalir cepat merembes ke seluruh tubuh.

Maka dalam sekejap saja, sejalur hawa hangat timbul pula dari dalam pusarnya, terus meresap ke segala sendi-sendi dan urat nadinya, menyusuri seluruh jalan darah di tubuhnya. Darah mengalir semakin cepat, jantungnya berdetak semakin keras, napasnya juga semakin berat.

Sekuat tenaga ia bertahan dan berjuang mencegah timbulnya nafsu berahi, supaya dirinya tetap dalam keadaan sadar.

Dengan penuh harapan, sepasang mata Tok-bi-kui berkerling-kerling. Wajahnya penuh gairah menanti perkembangan selanjutnya.

Kesadaran Suma Bing semakin amblas. Pandangannya mulai remang-remang. Suatu arus keinginan yang keras membuatnya tenggelam dalam langkah menuju pelepasan rakus yang menggila.

Seluruh tubuh panas membara. Jalan darah seolah-olah hendak meledak.

Saat mana dalam tubuhnya sudah mulai dirasuki oleh setan nafsu birahi yang sedang mengembara dalam tubuhnya.

Selain keinginan liar yang buas itu, otaknya kosong melompong tanpa sepercik kesadaran.

Perlahan-lahan Tok-bi-kui melepaskan baju luarnya, lalu mengendorkan baju dalamnya. Terbentanglah kulitnya yang halus putih, buah dadanya yang montok menggiurkan setengah terbuka.

Pandangan yang memikat hati ini, betapa keras pun hati manusia akan luluh juga akhirnya. Bagi orang semuda Suma Bing yang mulai memasuki usia kedewasaan, pula Ma Siok-tjeng menggunakan cara sesat untuk membangkitkan nafsu birahinya, tentu Suma Bing seperti kuda liar yang lama kehausan, napasnya memburu ngos-ngosan.

"Bagaimana Suma Bing?" "Aku... aku... ingin..." "Kau mau apa? Hahahahahihihihehehe!" "Aku... ingin kau." "Kau mau panggil aku cici?" "Ci... ci." "Ai, adikku yang baik!" Girang si mawar beracun Ma Siok-tjeng bukan kepalang. Segera ia bebaskan jalan darah pelemas Suma Bing yang tertutuk tadi.

Kontan Suma Bing melompat bangun. Kedua matanya merah menyala seperti serigala yang haus darah, terus menubruk maju hendak memeluk.

Pada detik yang menentukan itulah, arus hantaman angin keras menerpa, menerjang ke arah mereka berdua. Kontan Suma Bing terpental mundur dan jatuh duduk di atas tanah.

Sedang si mawar beracun pun terguling sungsang-sumbal.

Sungguh mimpipun Ma Siok-tjeng tidak menduga, pada saat-saat nafsu birahinya sudah memuncak pada titik tertinggi hingga perhatiannya peka pada diri Suma Bing itu, dirinya bakal dibokong orang tanpa siaga sebelumnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment