Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 44

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 44

Kiranya wanita cabul ini tidak malu diangkat sebagai pelindung Bwe-hwa-hwe karena memang kepandaiannya tidak lemah.

Reaksinya sangat cekatan setelah terbokong, begitu melonjak bangun dan berdiri tegak, segera ia tutupi dadanya dengan baju luar yang masih utuh seraya memandang ke depan dengan berapi-api.

Kiranya orang yang menubruknya itu adalah Phoa Kin-sian.

Suma Bing sudah hilang kesadarannya, bagai binatang binal yang kehausan darah, mana mungkin dia membedakan baik atau buruk. Sambil berpekik beringas, ia menubruk maju.

Sambil mengertakkan gigi, terpaksa Phoa Kin-sian menyelentikkan sebuah jarinya.

"Buk!" Kontan Suma Bing tertutuk roboh.

Rasa nikmat yang akan dikecapnya digagalkan oleh orang itu membuat si mawar beracun Ma Siok-tjeng gusar hingga kepalanya beruap. Desisnya dingin, "Budak busuk, kau cari mampus!"

Sebaliknya, Phoa Kin-sian sendiri juga geram dan malu bukan kepalang. Sambil menuding, ia memaki, "Sundal yang tidak tahu malu, hari ini nonamu pasti akan membunuhmu!" Membarengi ancamannya, ia mengirim sebuah sodokan keras ke arah musuhnya.

Tok-bi-kui mendengus gusar, sebelah tangannya juga diangkat untuk menangkis.

"Dar!" Benturan menggelegar membuat tubuh Ma Siok-tjeng tersurut mundur tiga langkah. Sungguh terkejut ia bagai disengat kalajengking, bahwa ilmu Lwekang gadis muda ini kiranya sangat tinggi di luar perkiraannya.

Saking gusar, Phoa Kin-sian ingin rasanya segera mengakhiri nyawa wanita cabul ini. Sekaligus ia lancarkan lagi tiga gelombang pukulannya yang disertai himpunan seluruh kekuatannya, maka betapa dahsyat akibat pukulannya ini dapat dibayangkan.

Arwah Ma Siok-tjeng seolah-olah terbang dari badan kasarnya, lenyaplah nafsu birahinya yang berapi-api tadi. Tubuhnya berkelebat sebat luar biasa menyingkir.

Tapi sayang, ia agak terlambat. Dua pukulan yang terdahulu memang dapat dihindari, namun pukulan ketiga dengan telak mengenai sasarannya.

Kontan si mawar beracun berpekik ngeri sambil muntah darah, tubuhnya terguling-guling jauh.

Wajah Phoa Kin-sian semakin kelam penuh nafsu membunuh. Desisnya bengis, "Mawar beracun, di sinilah tempat liang kuburmu!" "Wut!" Lagi-lagi ia melancarkan sebuah pukulan jarak jauh.

Spontan Ma Siok-tjeng ketakutan setengah mati. Cepat sekali tubuhnya melejit menyingkir jauh, lantas dengan penuh kebencian ia berkata, "Budak busuk, kucatat perhitungan ini! Akan tetapi, ada satu hal yang perlu kuberitahukan. Dia sudah tertutuk oleh Hianyang-tji. Dalam waktu setengah jam ini, jika tidak... hehehe, urat nadinya akan meledak dan hancur berkeping-keping."

Habis ucapannya, bayangannya pun menghilang.

Sekarang Phoa Kin-sian melongo dan tertegun di tempatnya tanpa mampu mengeluarkan suara.

Sementara itu, meskipun jalan darah Suma Bing tertutuk, namun nafsu birahinya masih memuncak. Napasnya memburu, wajahnya merah padam.

Sungguh kacau dan gelisah benar hati Phoa Kin-sian, apa yang harus diperbuatnya?

Kalau dalam setengah jam ini Suma Bing tidak dapat melampiaskan keinginannya, urat nadinya akan pecah dan putuslah jiwanya.

Apakah dirinya harus mengawasi orang menderita sampai mati, atau menolongnya?

Oh, tak tahu dia apa yang harus diperbuatnya.

Coba pikirkan, sebagai seorang gadis yang masih perawan suci dan bersih, bagaimana cara menolong jiwanya.

Kalau menolongnya, itu berarti dia harus mengorbankan kesuciannya.

Keadaan Suma Bing sudah menunjukkan bahwa jiwanya sudah di ambang antara mati atau hidup.

"Itu tidak mungkin!" pekik Phoa Kin-sian keras sambil memutar tubuh hendak pergi. Namun, baru beberapa langkah, langkahnya berhenti tanpa terasa. Hatinya gundah dan berperang dalam batinnya, dia harus mengambil kepastian yang ganjil: menolong dia, atau membiarkan dia mati? Akhirnya luluhlah hatinya, dia harus berkorban untuk menolong jiwa orang. Dua titik air mata meleleh membasahi pipinya.

Sebenarnya betapapun dia tidak rela berbuat begitu, tapi mau tidak mau dia harus melakukannya.

Suaranya tergetar menggumam, "Suhu, kaulah yang menjerumuskan aku. Demi melaksanakan perintahmu, terpaksa aku harus mengorbankan tubuhku!" Maka bagai perwira yang menuju ke medan bakti, dengan langkah lebar ia mendekati ke hadapan Suma Bing. Katanya sambil mengertakkan gigi, "Suma Bing, sekarang aku menolong kau. Kelak kalau kau menelantarkan aku, aku pasti akan membunuhmu!" Napas Suma Bing kempas-kempis, ingatan dan pandangannya remang-remang tidak dapat membedakan apa yang dilihatnya. Sudah tentu dia tidak mendengar ucapan Phoa Kin-sian itu.

Lantas dikempitnya Suma Bing di bawah ketiaknya, dibawa masuk ke dalam hutan yang lebih dalam dan tersembunyi. Di sana ia membuka jalan darah Suma Bing yang tertutuk, maka terjadilah sebuah tragedi yang tengah dipertunjukkan dalam sebuah hutan lebat tanpa seorang penonton pun.

Kesadaran Suma Bing sudah hilang, bagai serigala buas yang haus darah, begitulah dia tengah merangsang dengan menggila.

Bagai sekuntum bunga yang tengah mekar diterpa badai hujan, bunga yang lemah itu sedang mengeluh kesakitan, begitulah keadaan Phoa Kin-sian...

Setelah badai hujan mereda, terasalah suatu keheningan yang mencekam sekelilingnya.

Berangsur-angsur ingatan Suma Bing mulai sadar dan ia merayap bangun. Pandangan pertama yang dilihat matanya adalah tubuh yang separuh telanjang di sampingnya.

Suatu perasaan terhina menjalar dalam benaknya membuat ia melonjak bangun seperti disengat kalajengking. Sambil mengayun tangannya, ia membentak, "Kubunuh kau, sundal jalang!" Mendadak matanya menatap ke arah noktah darah yang berceceran di tanah sekitarnya, tanpa terasa tergetar hatinya.

Apa mungkin Tok-bi-kui masih merupakan seorang gadis perawan ting-ting? Waktu ia menegaskan, seketika tubuhnya tergetar bagai tersetrum aliran listrik.

Hampir dia tidak percaya akan apa yang dilihat itu adalah kenyataan.

Dikucek-kuceknya matanya dan menegaskan lagi.

Ya, memang benar tidak salah, dialah Phoa Kin-sian.

"Apakah yang telah terjadi? Mengapa Tok-bi-kui berubah menjadi Phoa Kin-sian?" demikian ia bertanya-tanya dalam hati.

Entah karena malu atau tersiksa terlalu berat, keadaan Phoa Kin-sian seperti tidur nyenyak tanpa bergerak.

Suma Bing merenggut rambutnya sekuat-kuatnya. Ia mencoba mengenang kembali dan berharap dapat menemukan sepercik ingatan dalam pikirannya yang kabur dan mulai terang.

Samar-samar teringat olehnya bahwa dirinya telah tertawan oleh Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng dan ditutuk dengan cara aneh dari aliran sesat hingga dirinya dirasuk oleh nafsu setan birahi. Dalam saat-saat genting itulah ia teringat ada seseorang menyerbu tiba, lantas terdengar suara bertempur...

Ya, begitulah. Phoa Kin-sian telah mengorbankan dirinya demi menolong dirinya.

Karena pemikiran ini, tubuhnya terhuyung hampir roboh.

Dia insaf bahwa dirinya telah membuat suatu noda hitam yang berdosa selama hidupnya.

Bagian tubuh Phoa Kin-sian yang masih tersingkap itu membuat hatinya berguncang lagi, darah panas merangsang kepalanya.

Perlahan-lahan ia maju mendekat dengan hati-hati membetulkan bajunya yang tak karuan itu, menutupi bagian yang membuat hatinya bergejolak keras.

Pada saat itulah, sepasang mata Phoa Kin-sian yang bundar jeli terbuka lebar dan mendadak bergegas bangun berdiri.

"Plak, plok!" Kontan Suma Bing merasakan pandangannya berkunang-kunang, darah meleleh dari sudut mulutnya. Ia tersurut dua langkah.

Dengan terbelalak heran dan kaget ia mengawasi Phoa Kin-sian, entah mengapa ia tidak tahu mendadak Phoa Kin-sian bisa menggampar mukanya dua kali.

Setelah mendaratkan dua kali tamparan di muka Suma Bing, tiba-tiba Phoa Kin-sian memutar tubuh memeluk sebatang pohon dan menangis tergerung-gerung.

Betapapun dungunya Suma Bing, ia juga maklum dan ikut merasakan betapa pedih dan kecut perasaan hatinya itu.

Sampai pada detik itu, tidak lebih dua jam mereka bertemu dan berkenalan, tapi demi jiwanya ia rela mempersembahkan kesuciannya yang tak ternilai.

Betapa besar pengorbanannya itu, bagaimana pula dia takkan menangis?

Saking sesal, Suma Bing terbungkam mulutnya. Tak tahu dia bagaimana dia harus mengeluarkan kata-kata untuk menghiburnya.

Lama dan lama sekali ia baru tergagap membuka kata, "Nona Phoa, sungguh menyesal aku telah berbuat salah terhadapmu!"

Phoa Kin-sian menghentikan tangisnya dan berpaling. Katanya dengan nada pedih penuh kemarahan, "Suma Bing, menyesal berbuat salah, itulah tanggung jawabmu?"

"Maksud Nona..."

"Kau sudah menghina dan menyiksa aku sedemikian rupa, akan kubunuh kau!"

Berubah tegang air muka Suma Bing. Katanya, "Aku bukan sengaja hendak berbuat begitu."

"Lalu dengan minta maaf saja lantas beres?"

"Ini... tidak, selama hayat masih dikandung badan, Suma Bing pasti tidak akan membuatmu kecewa, tapi..."

"Bagaimana?"

"Saat ini aku kurang bebas."

"Bagaimana artinya itu?"

"Aku pernah dikurung oleh Setan Barat di dalam Barisan Jeritan Setan Penyedot Sukma. Untuk menepati janjiku dengan Siang Siau-hun, Setan Barat meluluskan kedatanganku ke mari, tapi dalam tempo tujuh hari aku harus kembali ke tempat kediamannya itu!"

Phoa Kin-sian menunjukkan rasa terkejut. Tanyanya, "Mengapa Setan Barat hendak mengurung kau?"

Suma Bing tertawa hambar. Sahutnya, "Sampai sekarang aku masih belum jelas persoalannya. Ada kemungkinan mengenai suka duka perguruanku."

"Apa kau hendak kembali?"

"Tentu, seorang laki-laki harus menepati ucapannya, mana boleh aku ingkar janji?"

"Setan Barat terkenal kejam dan bengis, setelah kepergianmu ini..."

"Aku tidak peduli dengan akibatnya."

"Tapi menurut apa yang aku ketahui, dendam kesumat dan sakit hatimu masih belum terbalas, mana boleh kau pandang jiwamu semurah itu?"

"Akan tetapi, aku tidak bisa menjilat ludahku sendiri. Oh, Nona Phoa..."

"Huh, Nona! Kau..." mendengar Suma Bing masih memanggilnya Nona, wajah Phoa Kin-sian berubah gusar.

Merah wajah Suma Bing, cepat-cepat ia meralat ucapannya, "Adik Sian, ke mana Tok-bi-kui si perempuan jalang itu?"

"Sudah kugebah pergi!"

"Sebenarnya apakah yang telah diperbuatnya di atas tubuhku, bagaimana bisa..." Kontan merah jengah selebar muka Phoa Kin-sian. Berselang agak lama, ia baru menyahut, "Dia menggunakan tutukan jari dari aliran sesat yang paling rendah."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment