Chapter 45
Kalau sudah tertutup kepandaian semacam itu, seumpama dewa pun takkan kuat menahan gelora hatinya, apalagi tiada jalan lain..." Sampai di sini ia berhenti, lalu berkata lagi, "Aku tidak tega melihatmu meregang nyawa dalam waktu setengah jam ini.
"Bersamaan dengan itu, aku juga menerima perintah suhu untuk membantumu secara diam-diam..." Suma Bing terkejut dan heran dibuatnya. Ia bertanya, "Suhumu menyuruhmu membantuku?" Phoa Kin-sian mengiyakan.
"Siapakah suhumu itu?" "Ong Fong-jui!" Suma Bing sungguh terkejut bukan kepalang. Kiranya Phoa Kin-sian adalah murid bibinya, Ong Fong-jui. Ini benar-benar di luar dugaannya.
"Adik Sian, kau... kau adalah murid Bibi Jui?" "Bagaimana, kau merasa di luar dugaan, bukan?" Suma Bing bersorak girang. Katanya, "Benar-benar di luar dugaan. Adik Sian, selama hidup ini pasti takkan kulupakan." "Lalu bagaimana kau hendak bertanggung jawab kepada Siang Siau-hun?" Suma Bing tidak menduga akan mendapat pertanyaan ini. Seketika wajahnya memerah dan otot di jidatnya menonjol, ia bungkam seribu bahasa.
Ya, betapa besar rasa cinta Siang Siau-hun. Kejadian mati hidup di biara bobrok itu, mana mungkin dapat terlupakan olehnya.
Phoa Kin-sian tersenyum manis. Katanya, "Engkoh Bing, kau lebih dahulu berkenalan dengannya, aku tak dapat melukai hati suci seorang gadis bersih. Hanya kau harus ingat, aku sekarang sudah menjadi milikmu, dan aku sudah puas." "Adik Sian, pasti takkan kulupa," sahut Suma Bing tegas.
"Apa kau benar-benar harus kembali ke cengkeraman Setan Barat?" "Aku harus kembali, tak ada pilihan lain!" "Baik, berangkatlah kau." "Adik Sian, aku..." "Bagaimana?" "Aku selalu akan merasa telah berbuat salah terhadapmu." "Hal itu sudah lewat, soalnya terletak pada masa yang akan datang. Sekarang pergilah tepati janjimu kepada Setan Barat itu!" "Adik Sian, kuharap kau baik-baik menjaga dirimu. Kuharap kelak kita dapat bertemu lagi dengan selamat." "Pasti bisa." Suma Bing maju memeluk Phoa Kin-sian dan memberinya sebuah ciuman panjang, ciuman yang mengandung penyesalan dan haru, sekaligus pengantar perpisahan yang berat.
Dia harus segera berangkat untuk menepati janjinya supaya tidak terlambat dalam tempo tujuh hari.
Dipandangnya Phoa Kin-sian lekat-lekat, lalu katanya, "Adik Sian, maafkanlah aku, waktu sangat mendesak, aku hendak berangkat!" Phoa Kin-sian mengangguk-angguk, mengiringi keberangkatan Suma Bing dengan senyum pilu.
Dengan langkah berat, Suma Bing segera melompat tinggi lalu berlari keluar rimba. Bertepatan dengan lenyapnya bayangan Suma Bing, dua titik air mata meleleh keluar membasahi pipi Phoa Kin-sian. Mana mungkin ia takkan terpikat dan memuja pemuda tampan yang meluluhkan hatinya ini. Akan tetapi, persentuhan tubuh dalam keadaan yang mengenaskan itu benar-benar membuat hatinya hancur luluh. Memang pengorbanannya terlalu besar. Segera ia membetulkan pakaiannya yang tidak karuan. Setelah menghela napas panjang-pendek, ia pun berlari keluar rimba.
Dalam pada itu, dengan rasa berat dan hampa, Suma Bing tengah berlari kencang untuk menepati janji Setan Barat. Ia tak tahu bagaimana Setan Barat hendak menghadapinya. Sepanjang jalan, bayangan Ting Hoan, Siang Siau-hun, dan Phoa Kin-sian bergantian terbayang di depan matanya, membuat otaknya penuh sesak, hampir meledak rasanya.
Tujuh hari kemudian, saat matahari hampir tenggelam di ujung barat sana, ia pun akhirnya tiba di bawah bukit Te-tjui-hong. Benar juga, wanita serba hitam bernama Sim Giok-sia itu sudah menantinya dengan sebuah sampan. Tanpa banyak cakap, Suma Bing langsung melompat naik ke atas sampan. Segera Sim Giok-sia melajukan sampannya ke tengah danau dengan cepat. Dalam kesunyian sekian lamanya, akhirnya Sim Giok-sia membuka suara, "Aku menanti sampai sekarang. Kusangka kau tidak akan datang lagi?" "Sebagai seorang laki-laki sejati, aku pasti menepati janjiku, dan itulah prinsipku." "Apa kau tahu bagaimana suhu hendak menghadapimu?" "Bagaimana, apa kau tahu?" "Mengurungmu seumur hidup!" Hati Suma Bing melonjak keras.
"Mengapa suhumu berbuat begitu kejam terhadapku?" "Sebagai pembalasan!" "Pembalasan?" "Benar, pembalasan terhadap Kho-Lo-sia. Gurumu itu kini sudah mati, maka kaulah yang harus menebus dosanya." "Tapi, kenapa sebenarnya?" "Karena benci!" seru Sim Giok-sia dengan berang.
"Aku masih belum jelas!" "Belum jelas ya, sudah." Pada saat itulah, dari kejauhan di tengah danau sana, datanglah sebuah sampan. Di tengah alunan ombak danau, sampan itu melaju dengan cepat bagai seekor burung layang-layang. Sim Giok-sia berseru terkejut dan menghentikan sampannya. Tak lama kemudian, sampan itu sudah tiba di hadapan mereka. Terlihat di atas sampan kecil itu duduk seorang wanita bersolek yang berpakaian sangat mewah, dengan sanggul di kepalanya penuh dihiasi mutiara. Sejenak Suma Bing tertegun, lantas berseru kegirangan, "Jui-ih!" Memang wanita setengah umur yang duduk dalam sampan kecil itu adalah bibinya, Ong Fong-jui.
Ong Fong-jui mengangguk-angguk, lalu berkata kepada Sim Giok-sia, "Putar haluan!" Selintas Sim Giok-sia terperanjat, lantas bertanya, "Siapa kau?" "Ong Fong-jui!" "Mengandalkan apa kau meminta aku memutar haluan?" "Atas perintah Suhumu!" "Mengandalkan ucapan mulutmu itu?" semprot Sim Giok-sia.
Kata Ong Fong-jui dengan nada berat, "Setelah tiba di daratan akan aku jelaskan. Sekarang putarlah dulu haluan!" Sambil berkata, sebelah tangannya diayun. Sejalur angin kencang berputar, membuat sampan yang dinaiki Sim Giok-sia dan Suma Bing berputar arah, terus melesat jauh balik ke arah Te-tjui-hong.
"Kau berani!" bentak Sim Giok-sia dengan gusar. Berturut-turut kedua tangannya memukul ke permukaan air untuk menghentikan luncuran perahunya. Namun, bagaimanapun usahanya sia-sia, sampannya itu tetap meluncur lempang ke depan. Seperti permainan anak-anak saja, tanpa mengeluarkan tenaga besar, kedua tangan Ong Fong-jui bergerak bergantian mendera kedua sampan mereka. Dalam waktu singkat, mereka sudah tiba di bawah Te-tjui-hong. Tanpa memedulikan apa yang bakal terjadi, Suma Bing mendahului melompat ke darat. Segera Ong Fong-jui pun mengikuti jejaknya. Sungguh dongkol dan gusar Sim Giok-sia bukan main. Begitu kakinya menginjak tanah, langsung ia mengirim tiga kali pukulan hebat ke arah Ong Fong-jui. Dengan ringan dan seenaknya saja, Ong Fong-jui mengebas-ngebas lengan bajunya. Maka, tiga kali serangan Sim Giok-sia itu sirna bagai tenggelam dalam lautan. Diam-diam Suma Bing tercengang. Sungguh di luar pengetahuannya bahwa tenaga dalam bibinya ternyata sedemikian tinggi. Agaknya, tenaga dalamnya masih berada di atas Lam-sia dan Setan Barat. Saking gusar dan kewalahan, Sim Giok-sia gemetar dan menghentikan serangannya. Dia insaf bahwa kepandaian lawan berlipat ganda lebih tinggi dari kemampuannya. Akan sia-sialah tindakannya yang tanpa perhitungan. Hanya dia heran, bagaimana bisa lawan datang dari arah pulau di tengah danau sana. Lagipula, ia belum pernah melihat apalagi mendengar nama Ong Fong-jui.
Pandangan Ong Fong-jui menyapu dua orang di depannya, lalu berkata, "Sim Giok-sia, dihitung dari usia, kau lebih tua dariku. Kalau menurut tingkatan, aku lebih tinggi darimu! Maka aku langsung memanggil namamu. Apa kau tahu apa hubunganmu dengan Suma Bing?" Mendengar pertanyaan terakhir ini, bukan saja Sim Giok-sia terperanjat heran, Suma Bing juga melonjak kaget.
"Hubungan apa?" tanya Sim Giok-sia gemetar.
"Kakak beradik seperguruan!" Saking kagetnya, Suma Bing mundur selangkah. Pandangannya menyapu Sim Giok-sia, serunya, heran dan tak mengerti, "Kakak beradik seperguruan?"
"Benar, kakak beradik seperguruan," sahut Ong Fong-jui serius.
"Bagaimana jelasnya ucapanmu ini?" tanya Sim Giok-sia penuh haru.
"Kau tahu apa hubunganmu dengan Setan Barat?" "Dia Suhu-ku." "Kau salah, dia adalah ibumu." Sim Giok-sia terhuyung tiga langkah, tubuhnya menggigil. Kepalanya diayunkan, menyingkap rambut panjang ke belakang, maka terlihatlah wajahnya yang pucat pasi, setengah tua. Wajah itu penuh keheranan dan bertanya gemetar, "Dia adalah Bundaku?"
"Benar, dan Sia-sin Kho Jiang adalah ayah kandungmu!" Sim Giok-sia terkulai, hampir roboh. Ini benar-benar suatu berita yang susah dipercaya dan dapat diterima olehnya.
"Apakah itu benar?" gumam Suma Bing penuh haru.
"Tentu. Kalau tidak dikatakan langsung oleh Setan Barat sendiri pada sejam lalu, aku sendiri pun tidak tahu." Hati Sim Giok-sia terasa sangat pilu dan perih, penuh haru. Dia terlongong mematung seperti orang linglung, mulutnya menggumam, "Aku tidak mengerti!"
"Sudah tentu," ujar Ong Fong-jui menghela napas. "Inilah kisah terpendam dalam sanubari manusia, siapa pun takkan tahu. Lam-sia dan Se-kui sudah bermain asmara pada lima puluh tahun lalu. Yang satu sesat, sedangkan yang lain aneh. Akhirnya mereka berpisah karena suatu salah paham. Sejak mereka berpisah, Se-kui lantas melahirkan seorang anak perempuan, yaitu kau..." Matanya menatap Sim Giok-sia. Tubuh Sim Giok-sia tergetar. Tutur Ong Fong-jui lagi, "Karena patah hati, Se-kui membenci seluruh lelaki di seluruh jagat ini. Maka setelah mengetahui hubunganmu dengan Wi-thian-tjhiu Poh Jiang, dia mengurungmu, dan melarangmu bertemu dengannya..." Tiba-tiba Suma Bing menyelak, "Mengapa Wi-thian-tjhiu Poh Jiang berganti julukan menjadi Tiang-un Suseng?" Air muka Sim Giok-sia semakin pucat. Sebenarnya dia menaruh dendam dan benci terhadap suhunya. Sungguh di luar pengetahuannya bahwa suhunya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri. Luluhlah segala kekerasan hatinya. Katanya lemah, "Aku tidak dapat menyalahkannya. Dia tidak sengaja hendak menyiksaku, adalah karena pukulan batinnya yang berat membuat jiwanya berubah. Dalam pengertiannya, dia takut aku tertipu."
"Pikiranmu ini benar, tiada seorang ibu yang tidak mencintai anaknya, hal ini tidak dapat menyalahkan ibumu." Baru sekarang Suma Bing jelas dan paham, sebab mengapa gurunya melarang dia berkelahi melawan orang yang pandai ilmu Pekjiau. Setelah berhenti sekian lamanya, Ong Fong-jui melanjutkan ceritanya, "Delapan belas tahun lalu, sepasang kekasih tua ini mendapat kesepakatan dan pengertian. Sayang, Sia-sin Kho Jiang mengalami bencana.