Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 46

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 46

Setan Barat mencurigainya berubah hati.

"Sampai tak lama kemudian, baru darimu..." Matanya menatap Suma Bing. "... dari mulutmulah ia tahu mengapa delapan belas tahun yang lalu ayahmu ingkar janji. Ternyata karena ia mengalami bencana itu."

Hal ini semakin membuat hatinya hancur luluh. Ia bersumpah selama hidup tidak akan muncul lagi di dunia Kangouw! Kedua mata Sim Giok-sia memerah dan air mata menetes di kedua pipinya yang pias pucat. Suaranya seperti orang mengigau, "Semua peristiwa sudah berlalu bagai sebuah mimpi, tapi justru meninggalkan bekas. Semua ini seperti baru terjadi kemarin. Sekarang aku mendadak merasakan usiaku; aku sudah tua... tapi aku masih ingin bertemu dengan Poh Jiang sekali lagi." Suaranya benar-benar sangat berkesan dan memilukan hati.

Mendadak sinar mata Sim Giok-sia berkilat-kilat menatap wajah Suma Bing. Ia bertanya, "Sute, apa kau benar-benar hendak membunuh Tiang-un Suseng?"

Sejenak Suma Bing tertegun dan ragu, lalu menyahut hampa, "Suci, perintah Guru sulit dibangkang."

"Bing-tit," sela Ong Fong-jui, "peristiwa yang lalu bukanlah kesalahan di pihak Buyu. Suhengmu, Loh Tju-gi, itulah biang keladinya. Betapa erat hubungan Buyu, maka tidak salah jika mereka menuntut balas. Lagi pula, bila Suhumu tahu hubungan Sucimu dengan Tiang-un Suseng, mungkin dia tidak akan menyuruhmu berbuat demikian."

"Ya, mungkin juga begitu," ujar Suma Bing sambil manggut-manggut. "Namun, beliau sudah berada di alam baka. Sebagai muridnya, aku harus melaksanakan pesannya."

"Tapi Subomu juga berpendapat supaya kau tidak menuntut balas lagi kepada salah seorang dari Buyu yang masih hidup, bukan?"

"Ini..." Sesaat lamanya Suma Bing menjadi gagu dan tidak dapat menjawab.

Ong Fong-jui berputar dan berkata kepada Sim Giok-sia, "Sekarang kau boleh pulang. Bujuklah ibumu dengan beberapa patah kata. Kelak di kalangan Kangouw, kau harus mencuci bersih nama perguruan bersama Sutemu. Carilah jejak Loh Tju-gi."

Sim Giok-sia mengangguk tanpa suara, lalu naik ke sampannya dan langsung kembali ke tengah danau.

Ong Fong-jui menghela napas dan berkata, "Seorang wanita yang patut dikasihani. Sang ibu telah mengubur masa remajanya."

"Benar," ujar Suma Bing menyanggah, "betul-betul seorang wanita yang bernasib buruk. Rasanya aku ingin berbuat sesuatu untuknya."

"Bing-tit, walaupun Suhu dan Subomu berpisah karena salah paham, namun cita-cita mereka sedemikian murni dan dalam. Hanya sifat buruk masing-masing yang merintangi mereka untuk rujuk kembali. Jikalau kau dapat menemukan Tiang-un Suseng dan mempersembahkan kembali kebahagiaan Sucimu yang sudah terlambat, tentu kau dapat menghibur arwah Suhumu di alam baka."

Suma Bing mengiakan seadanya. Saat ini ia tidak ingin memperbincangkan soal itu, maka ia segera mengalihkan pembicaraan, "Jui-ih, bagaimana Bibi bisa datang kemari?"

Wajah Ong Fong-jui agak berubah, katanya, "Bing-tit, aku mendapat berita dari Phoa Kin-sian, lantas secepat terbang aku menyusul kemari. Untung aku masih sempat menolongmu dari renggutan Setan Barat."

Menyinggung nama Phoa Kin-sian, wajah Suma Bing langsung memerah jengah dan jantungnya berdetak keras. Adegan di dalam rimba itu terbayang kembali di benaknya. Ia tidak tahu apakah Phoa Kin-sian telah menceritakan semuanya dengan jelas kepada gurunya ini.

Kata Ong Fong-jui lagi dengan sungguh-sungguh, "Kin-sian sudah melaporkan segala kejadian dengan jelas kepadaku. Memang kesalahan bukan di pihakmu, tapi hakekatnya sekarang dia sudah menjadi istrimu. Bagaimana tanggung jawabmu?"

Sikap Suma Bing sangat kikuk dan risi. Ia menyahut, "Aku mengakuinya sebagai istriku. Aku tidak akan menelantarkannya."

"Begitu pun baik. Kalau tidak, aku pun tidak akan mengampunimu." Sejenak ia merandek, lalu katanya lagi, "Subomu memintaku memberitahumu, di kalangan Kangouw kau jangan merendahkan derajat dan nama Sia-sin Kho Jiang!"

"Aku paham!"

"Oh, ya, dia masih memiliki sebuah barang hadiah untukmu."

Suma Bing terperanjat dan bertanya, "Hadiah apa?"

"Kiuyang-tjau-ko!"

"Kiuyang-tjau-ko? Dia juga punya?"

"Ya, semuanya ada dua butir. Subo dan Suhumu masing-masing menyimpan sebutir."

"Milik Suhu sudah dicuri dan mungkin sudah ditelan oleh Loh Tju-gi."

"Hal itu aku sudah tahu. Setelah menelan Kiuko ini, lwekangmu dapat meningkat dua kali lipat."

"Aku... haruskah menerimanya?"

"Pemberian dari angkatan tua tidak boleh ditolak. Sekarang juga boleh kau telan, biar kubantu membaurkannya ke dalam tenaga murnimu."

Lalu dikeluarkannya sebuah peles kecil terbuat dari porselen, kemudian dituangnya sebutir buah sebesar kacang yang berbau harum aneh, langsung diangsurkan kepada Suma Bing.

"Duduklah dan mulailah bersemedi. Pusatkan pikiran dan hilangkan segala perasaan."

Suma Bing menurut. Segera terasa segulung hawa panas timbul dari pusarnya, lalu disusul sejalur hawa panas yang kuat menembus masuk melalui jalan darah Bing-bun-hiat. Ditambah hawa murni dalam tubuhnya, tiga macam hawa murni membaur menjadi satu, terus berputar dan mengalir deras ke seluruh tubuh. Tidak lama kemudian, hilanglah segala perasaan jasmaniahnya.

Entah sudah berapa lama berselang, mendadak terdengar sebuah bentakan nyaring, "Tarik tenaga!"

Dengan sigap Suma Bing melompat bangun. Terasa semangatnya menyala-nyala dan tenaganya terasa padat memenuhi seluruh tubuh, hingga ia merasa sangat nyaman dan ringan. Saat itu bintang-bintang di langit sudah berkelap-kelip; hari ternyata sudah gelap.

"Bing-tit, sekarang juga lebih baik kau menuju ke Gunung Bu-kong untuk mencoba keberuntunganmu."

"Maksud Bibi tentang Bunga Iblis itu?"

"Benar. Kalau kau bisa mendapatkan Bunga Iblis, dengan mudah Pedang Darah dapat kau rebut."

Rasa heran dan curiga membuat Suma Bing menatap Ong Fong-jui dengan nanap. Ia tidak mengerti mengapa Pedang Darah agaknya sangat disepelekan. Pedang Darah sudah jatuh ke tangan Racun Diracun, mungkinkah bisa diminta kembali dengan mudah?

"Bing-tit, mengapa tubuhmu kebal terhadap racun? Apa kau..."

"Dari Sijin, aku diberi sebatang rumput ular serta sebutir buahnya."

"Oh, begitu kiranya. Sungguh besar rezekimu."

"Jui-ih, ada satu berita yang hendak kuberitahukan kepadamu."

"Coba katakan."

"Menurut kata Si Ban-tjwan, si Maling Bintang, Ibu masih hidup di dunia fana ini."

"Apa betul?" seru Ong Fong-jui kaget dengan wajah berubah.

Lantas secara singkat Suma Bing menuturkan pertemuannya dengan si Maling Bintang, Si Ban-tjwan, dan mengisahkan kembali cerita yang didengarnya itu dengan haru.

"Bing-tit," seru Ong Fong-jui dengan air mata girang berlinang. "Benar-benar suatu hal yang tak terduga. Kalau dapat menemukan ibumu, pasti seluruh musuh besarmu dapat dibereskan. Tapi aku masih curiga, sudah selama puluhan tahun, mengapa tidak ada reaksi apa pun di kalangan Kangouw?"

"Benar, aku pun berpikir begitu. Tapi ucapan si Maling Bintang pasti dapat dipercaya. Mungkin masih ada sebab lain yang belum kita ketahui!"

"Lebih baik kau segera menuju ke Gunung Bu-kong, meskipun harapan itu sangat kecil dan belum tentu tercapai. Tapi inilah cita-cita ayahmu semasa hidup; sudah seharusnya kau melaksanakan keinginan terakhirnya."

"Baiklah."

"Tentang jejak ibumu, aku juga harus ikut mencari sekuat tenaga."

Sebentar Suma Bing berpikir, lalu memberi hormat dan berkata, "Jui-ih, baiklah, keponakanmu minta diri."

"Baik, kudoakan kau berhasil. Tapi semua kejadian di dunia ini tergantung jodoh; jangan kau terlalu memaksakan diri. Kuharap kau selalu ingat perkataanku ini."

"Aku akan selalu ingat." Belum hilang suaranya, tubuhnya sudah berkelebat pergi.

Waktu terang tanah, Suma Bing sudah berlari sejauh ratusan li. Seperti kata bibinya, perjalanannya ini belum tentu sukses karena harapannya sangat kecil. Pikirnya, Bu Siang Sin Li adalah tokoh aneh yang sudah berusia seabad lebih; apakah ia masih hidup di dunia fana ini? Hal itu masih menjadi tanda tanya baginya. Apalagi Gunung Bu-kong sangat luas; siapa yang tahu di mana Bu Siang Sin Li bersemayam?

Seandainya pun secara kebetulan dapat diketemukan, apakah orang itu mau memberikan Bunga Iblis yang dipandang sebagai benda keramat dan paling berharga, bahkan dikejar-kejar oleh seluruh kaum persilatan? Ya, meskipun hanya sepercik harapan, ia harus mencoba sekuat tenaga. Perintah Guru dan cita-cita orang tua harus dilaksanakan dan diselesaikan secara menyeluruh.

Pedang Berdarah dan Bunga Iblis mengandung rahasia ilmu silat mukjizat yang paling digdaya dan merupakan raja dari seluruh ilmu silat, sehingga menjadi incaran dan impian seluruh kaum Kangouw.

Begitulah, di tengah langkah ringannya, mendadak sebuah suara yang sangat dikenal memanggil dari belakangnya, "Suma-hiante!"

Segera Suma Bing menghentikan langkah dan memutar tubuh. Tanpa terasa ia terlongo kaget, karena orang yang memanggilnya ternyata adalah si orang berkedok yang telah terjungkal ke dalam jurang dan disangkanya sudah meninggal.

"Bong-bian-heng, kau... kau belum meninggal?"

Si orang berkedok maju mendekat ke hadapan Suma Bing dan tertawa gelak-gelak. Katanya, "Berkat rahmat Tuhan, aku masih hidup di dunia fana ini!"

"Tidak heran aku tidak menemukan jenazahmu dalam jurang itu. Tapi sudah jelas bahwa kau telah terjungkal masuk jurang oleh pukulan ketua Bwe-hwa-hwe itu..."

"Ya, memang. Tapi di tengah jalan aku dapat menjangkau sebuah batu yang menonjol keluar, sehingga aku terhindar dari terbanting hancur di dasar jurang."

"Saudara datang dari mana?"

"Sungguh kebetulan, aku sedang mencarimu."

"Mencari aku?"

"Ya, begitulah!"

"Ada urusan apa?"

"Racun Diracun kini terkurung dalam sebuah barisan, kira-kira beberapa li dari sini..."

Suma Bing melonjak kaget dan berseru, "Terkurung oleh siapa?"

"Oleh Racun Utara!"

Suma Bing semakin kaget dan heran tidak mengerti. Tanyanya, "Agaknya tidak mungkin..."

"Kenapa?"

"Aku menyaksikan sendiri waktu Racun Utara dan Racun Diracun beradu kepandaian minum racun. Akhirnya Racun Utara kalah berbisa dari Racun Diracun. Dia terluka oleh bisa Banbo dari Racun Diracun, dan dalam sepuluh tahun baru dapat memunahkan seluruh racun berbisa dalam tubuhnya itu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment