Chapter 47
"Mana mungkin dia mengurung...'" Tanpa menanti orang selesai bicara, si orang berkedok segera menukas, "Tapi kejadian ini pun kusaksikan sendiri, malah sekarang masih dalam kenyataan, karena Racun Diracun saat ini masih terkurung dalam barisan itu." "Racun Utara yang membentuk barisan itu?" "Bukan, ada lima puluh jagoan silat dari Bwe-hwa-hwe turut hadir di sana. Rupanya, mereka berkomplot saling bantu-membantu..."
"Selamanya Racun Utara paling menjaga gengsi dan tingkat kedudukan. Sungguh tak terduga akhirnya ia meminta bantuan orang lain juga." "Benar, mungkin dia diperalat oleh Bwe-hwa-hwe khusus untuk menghadapi Racun Diracun."
"Bukankah kau mengatakan bahwa Racun Utara pernah dikalahkan oleh Racun Diracun?"
"Mungkin karena tamak hendak menebus kekalahannya, dan lagi, sehari sebelum Racun Diracun lenyap dari bumi ini, dia tidak akan dapat merajai menggunakan racun berbisanya lagi."
"Sebaliknya, Bwe-hwa-hwe tengah mengincar Pedang Berdarah itu."
"Bukankah bakal terlaksana tujuan mereka masing-masing?" Suma Bing mengangguk, katanya, "Pendapat Heng-tai memang tepat!" Kata si orang berkedok lagi, "Tujuanku mencari kau adalah untuk mencari kesempatan merebut pulang Pedang Darah itu." Sejenak Suma Bing merenung dan berpikir, lalu ujarnya, "Tidak, sekali ini aku hendak menolong Racun Diracun!" "Apa kau hendak menolong Racun Diracun?" "Benar?" "Tanpa syarat?" "Ya, menolongnya tanpa syarat!" "Mengapa?" "Aku pernah terluka parah oleh pukulan Racun Utara. Untungnya, dia memberiku sebutir obat dan merintangi Racun Utara waktu dia hendak menurunkan tangan kejinya kepadaku. Ini terhitung dia ada budi kepadaku, maka aku pun harus menolongnya sekali."
"Lalu bagaimana dengan Pedang Darah itu?" "Seorang laki-laki harus tegas membedakan antara dendam dan budi. Kelak masih ada kesempatan." "Apa boleh buat, mari segera kita ke sana!" Dengan sebat luar biasa, tubuh mereka melenting tinggi terus menghilang di kejauhan.
Tidak lama kemudian, tibalah mereka di sebuah rimba raya, di mana terlihat puluhan jago-jago silat Bwe-hwa-hwe tengah mengepung puluhan pohon besar seluas lima-enam tombak. Di tengah-tengah di antara puluhan pohon-pohon besar itu, bertumpuk-tumpuk batu-batu dan dahan-dahan pohon yang sudah kering.
Di dalam lingkungan bundaran batu dan dahan pohon itu, terlihat seorang berkedok serba hitam duduk bersila.
Sedang di sebelah sana, terlihat Racun Utara tengah duduk di atas sebuah dahan pohon besar.
Gesit dan lincah luar biasa, mereka bersembunyi di antara dahan-dahan pohon yang lebat itu. Suma Bing bertanya heran, "Tumpukan batu dan dahan pohon itulah barisan yang kau katakan?" "Benar!" sahut si orang berkedok lirih.
"Hanya seluas lima tombak, lantas dapat mengurung Racun Diracun?" "Justru di situlah kehebatan dan keanehan barisan itu. Dilihat dari luar memang biasa saja, tapi sekali kau berada di dalam, lain lagi keadaannya. Kalau kau tidak mengetahui duduk barisan ini, meskipun kepandaianmu setinggi langit pun, pasrah saja menerima binasa." "Masa begitu lihai?" "Benar!" "Apakah Heng-tai mengenal bentuk barisan macam apa itu?" "Kebetulan barisan ini adalah lawan kebalikannya dari Ngo Heng-tin (lima unsur). Asal kau dapat masuk dari lubang tengah di antara kedua pohon itu, lantas ke kiri tiga langkah dan maju setapak, menggeser ke kanan lima langkah, kau sisihkan dahan pohon yang melintang itu lalu kau pukul roboh dua gundukan batu di hadapanmu, terus maju lurus ke depan delapan langkah, kau sapu lagi gundukan batu terbesar itu, barisan ini terhitung sudah kau pecahkan. Asal kau dapat menolong keluar Racun Diracun, Racun Utara dan para kerabat dari Bwe-hwa-hwe itu sangat gampang diusir pergi. Karena aku khawatir Racun Utara menggunakan racunnya, maka lebih baik kau saja yang menerjang ke dalam barisan itu." Suma Bing mengangguk paham, ujarnya, "Baik, tapi aku hendak tempur Racun Utara dulu."
"Kau hendak tempur Racun Utara?" Suma Bing mengiyakan sambil merogoh keluar Cincin Iblis, terus dipakai di jarinya.
Cincin Iblis adalah benda pertanda dari Lam-Sia. Dia ingin secara resmi sebagai murid Lam-Sia berhadapan di muka Bu-lim. Pesan Setan Barat yang disampaikan Ong Fong-Jui sudah meresap dalam sanubarinya. Dia tidak boleh melemahkan gengsi dan nama serta kedudukan suhunya yang ditakuti dan tenar itu. Dia pernah menelan seluruh batang Rumput Ular. Badannya kebal akan segala racun. Suhunya memberikan sebutir Kiutjoanhwanko hingga tenaga dalamnya bertambah lipat ganda. Dia ada pegangan dan mantap betul untuk menghadapi Racun Utara, salah satu dari Buih yang sejajar dengan tingkat gurunya.
Si orang berkedok menunjukkan rasa kurang tenteram, ujarnya, "Hian-te, Racun Utara sejajar dengan gurumu, jangan pula kau pandang rendah para jagoan Bwe-hwa-hwe itu..." Suma Bing menjawab dengan angkuhnya, "Aku tahu." Begitu bergerak, tubuhnya berkelebat maju dengan langkah lebar, ia memasuki rimba lebat itu.
"Siapa itu?" Diiringi suara bentakan ini, dua jagoan Bwe-hwa-hwe memburu keluar mencegat di tengah jalan.
Waktu Suma Bing mengangkat kepala, dua jalur sinar matanya yang dingin membeku bagai pedang tajam melesat menatap dua orang di hadapannya.
Tanpa kuasa, kedua jagoan Bwe-hwa-hwe itu bergidik seram dan menyedot hawa dingin. Salah seorang di antaranya segera membuka kata memaki, "Siautju, kalau masih ingin hidup, lekas menggelundung pergi!" Acuh tak acuh, Suma Bing mendengus hina. Tangan kanan perlahan-lahan diangkat, selarik sinar merah tajam segera memancar keluar dari tengah jarinya.
"Cincin Iblis!" "Kau..."
"Suma Bing, murid Lam-Sia?" "Benar, jiwa kalian tidak akan penasaran dan boleh mati tenang!" Seketika kedua jagoan Bwe-hwa-hwe itu mundur ketakutan, serasa arwah mereka sudah mendahului terbang keluar badan.
Begitu memutar tubuh, segera mereka hendak lari...
Di mana terlihat sinar merah menyambar disusul dua jeritan ngeri, lantas darah pun berhamburan. Badan kedua orang itu seketika terbanting keras dan melayang jiwanya.
Jeritan mereka yang menyayat hati membuat gempar dan gaduh situasi dalam hutan yang sunyi senyap itu.
Kontan empat orang tua berseragam hitam berloncatan keluar. Satu di antaranya segera berseru terkejut dan ketakutan, "Dialah Suma Bing, awas lawan berat, serang!" Serentak empat jalur angin pukulan dahsyat bergelombang menimpa ke arah Suma Bing.
Terhadap setiap insan dari Bwe-hwa-hwe, boleh dikatakan Suma Bing sudah membenci sampai ke tulang sumsum dan tujuh turunan. Besar niatnya hendak menumpas habis para durjana dari serikat laknat ini. Saat kedua tangannya terayun, gelombang panas dari angin pukulannya segera menerjang maju memapak gabungan tenaga empat musuhnya itu. Pukulan Suma Bing ini mengandung sepuluh bagian kekuatan Kiu-yang Sin-kang. Kontan terdengar dentuman keras bagai bom atom meledak. Seketika orang tua berseragam hitam yang menerjang tiba lebih dulu terbang balik ke dalam rimba dan menghamburkan hujan darah, sedang dua yang lain terhuyung jatuh duduk di atas tanah, mulut dan hidungnya bernoda darah kental. Gerak-gerik Suma Bing tidak berhenti begitu saja. Tangkas luar biasa, tubuhnya berkelebat mendesak maju ke arah luar barisan di mana Racun Diracun tengah terkurung.
Sampai pada detik itu, baru Suma Bing melihat tegas akan situasi sekeliling barisan ini. Dahan dan daun pohon kering tertumpuk di mana-mana ditaburi belerang dan bahan bakar lain yang mudah terjilat api. Rupanya, mereka hendak hidup-hidup membakar mati Racun Diracun dalam barisan. Sebaliknya, Racun Diracun masih duduk bersila dengan tenang, seakan-akan tidak mendengar keributan yang terjadi di luar barisan.
Begitu melihat Suma Bing muncul di situ, kontan Racun Utara segera menunjukkan sikap mengancam gusar, serunya, "Tuan-tuan, silakan mundur ke tempat masing-masing." Benar juga, para jagoan Bwe-hwa-hwe itu segera mundur teratur tanpa komentar. Maka terdengar Racun Utara berkata dingin, "Suma Bing, sungguh tak kuduga kau datang mengantar kematian." Suma Bing tertawa sinis, katanya, "Jadah tua berbisa, ingat perkataanku beberapa waktu yang lalu. Hari ini akan kubuat kau muntah darah juga." Di hadapan sekian banyak orang luar dimaki sebagai jadah tua, sungguh murka Racun Utara bukan main-main. Wajahnya menyeringai bengis dan berkata, "Tapi Lohu segera akan mencabut jiwamu." "Hm, takabur benar. Mari kau coba-coba," ejek Suma Bing.
Tidak menanti kata-kata Suma Bing habis diucapkan, Racun Utara sudah membentak menggeledek sambil mengirimkan sebuah hantaman. Sedemikian dahsyat pukulannya ini, seakan ingin sekali pukul ia akan menghancurkan tubuh Suma Bing menjadi perkedel.
Sudah tentu Suma Bing tidak berani memandang enteng serangan musuh ini. Tercekam hatinya, serentak dikerahkannya seluruh tenaganya untuk membalas menyerang. Dentuman dahsyat memekak telinga memecah kesunyian begitu dua angin pukulan saling tumbuk di tengah udara. Keduanya terpelanting mundur selangkah. Sungguh terkejut Racun Utara bukan kepalang, bahwa hanya terpaut beberapa hari saja, dari mana datangnya Lwekang si bocah ini sedemikian hebat. Hal ini benar-benar membuat jatuh pamor dan gengsinya, bahwa seorang angkatan muda dapat mengimbangi kepandaian dan tenaga dalamnya. Maka lebih besar lagi tekadnya untuk melenyapkan jiwa Suma Bing. Setelah terlongo sebentar, serangan kedua sudah dilancarkan lagi. Pukulan kali ini mengerahkan seluruh kekuatan Hian-in-Kang yang terlatih puluhan tahun. Badai angin dingin yang menyesakkan napas membuat tiga tombak sekelilingnya terasa dingin membeku.
Sementara itu, Suma Bing pun sudah bersiap mengerahkan seluruh kekuatan Kiu-yang Sin-kang untuk menangkis. Taufan panas bergulung-gulung melanda ke depan dengan dahsyatnya. Seketika Racun Utara mendehem sekali, tubuh pun bergoyang-goyang. Sebaliknya, Suma Bing menggigil kedinginan. Tubuhnya terasa hampir membeku, tanpa kuasa tubuhnya terhuyung mundur selangkah. Semua penonton, termasuk para kerabat dari Bwe-hwa-hwe, berubah tegang. Dalam pada itu, saat kedua tangan Racun Utara diulur-ulurkan, ilmu Hian-in-Kang-nya lagi-lagi sudah merangsang tiba. Si orang berkedok yang sembunyi di luar rimba sana berkeringat dingin dan khawatir akan keselamatan Suma Bing.