Chapter 48
Di samping itu, ia pun merasa heran dan terkejut akan lwekang Suma Bing yang mendadak bertambah berkali lipat dan sangat hebat.
"Apa mungkin dia mendapat rezeki yang aneh?" 'Bum!' Di tengah suara dentuman ini, kedua pihak tersurut lagi masing-masing selangkah.
Jelaslah bahwa lwekang atau kekuatan mereka berimbang.
Racun Utara sungguh gusar dan malu bukan main, segera ia mendesak maju dan beruntun mengirim tiga kali serangan berantai, jurus demi jurus lebih hebat dan lebih ampuh, apalagi jika sekaligus dilancarkan, maka daya kekuatannya bukan main dahsyat.
Dalam gebrakan terakhir ini, mau tak mau Suma Bing harus mengakui bahwa dirinya kalah dalam latihan, seketika itu juga ia terdesak mundur tiga langkah.
Mendapat peluang yang menguntungkan ini, Racun Utara tidak menyia-nyiakannya. Gaya silat yang aneh dan hebat beruntun diberondongkan keluar bagai air bah melanda, seakan-akan sekali menyerang ia ingin melumat musuh kecilnya ini yang dianggapnya masih mentah, tetapi berani menunjukkan keberanian.
Suma Bing mengertakkan gigi, ajaran gurunya yang paling hebat dan ampuh juga tidak kalah kekuatannya, dikeluarkan untuk beradu kekuatan secara keras. Ia sedikit pun tidak rela menunjukkan kelemahan di hadapan musuh bebuyutan perguruannya ini.
Gelanggang pertempuran pun riuh rendah. Tiga puluh jurus kemudian, kegigihan Suma Bing yang bersilat tanpa kompromi ini kiranya membawa hasil. Lambat laun, Racun Utara semakin kewalahan, terdesak, yang tadinya menyerang kini berbalik diserang.
Rupanya setelah keracunan Banbo atau racun di antara raja-raja racun dari Racun Diracun, meskipun Racun Utara paling membanggakan permainan serta keahliannya menggunakan racun, namun dalam waktu singkat tidak mungkin ia mampu membersihkan atau mencuci bersih racun berbisa yang mengendap dalam tubuhnya.
Maka, begitu saling beradu dan terlalu besar menggunakan tenaga, racun yang mengendap dalam tubuhnya mulai bekerja semakin cepat mengikuti aliran jalan darah.
Maka, semakin lama ia harus berpeluh dan terus terdesak.
Masih untung jika ia tetap tenang, tetapi semakin ia gugup dan malu menjaga gengsi dan sebagainya, keadaannya makin kacau dan parah.
Sebaliknya, semakin bertempur, semangat Suma Bing semakin berkobar, tenaga dalam semakin lancar dan penuh gairah. Terbukti bahwa Kiuyang-tjau-ko mulai menunjukkan khasiatnya.
Terdengar sebuah geraman keras disertai pekik nyaring kesakitan.
Seketika terlihat Racun Utara Tangbun Lu terlempar tiga langkah, memuncratkan darah segar, tubuhnya lemas tak berdaya hampir roboh.
"Tua bangka beracun, bagaimana?" ejek Suma Bing sombong.
Wajah Racun Utara memerah membara, menunjukkan kebencian yang meluap-luap.
Bahkan dalam mimpi pun ia tidak menduga bahwa dirinya akan kalah di tangan seorang pemuda.
Memang, kekalahannya ini sangat menyedihkan.
Tiba-tiba empat orang tua berwajah pucat kehijau-hijauan muncul di hadapan Suma Bing.
Suma Bing terperanjat diam-diam. Senjata keempat orang tua di depannya ini bisa dikatakan sangat aneh, jarang terlihat di dunia persilatan.
Itulah sebatang tongkat panjang tiga kaki yang ujungnya persis berbentuk jari-jari tangan manusia yang menggenggam. Seluruh tangkainya, dari ujung ke ujung, bertaburan duri-duri kecil yang tajam dan berkilau kebiru-biruan.
Jelas bahwa senjata mereka ini dilumuri racun mematikan yang membahayakan jiwa manusia.
"Saudara kecil, hati-hati kau. Mereka adalah Kangouw-su-ok yang sudah terkenal kekejaman dan kejahatannya.
Mereka adalah pelaksana atau algojo seksi hukum di Bwe-hwa-hwe." Bisikan itu datang dari orang berkedok yang telah merayap maju di belakang Suma Bing.
Suma Bing mengangguk-angguk sebagai jawaban bahwa ia sudah paham.
Salah seorang Kangouw-su-ok (Empat Durjana Kangouw) berpaling dan berkata kepada Racun Utara, "Biarlah bocah ingusan ini kami berempat yang menghadapi.
Ada hal yang lebih penting, Tjianpwe segera bereskan racun yang diracun!" Dengan sikap canggung dan risi, Racun Utara menyeka noda darah di mulutnya lalu berjalan cepat ke arah barisan yang telah diaturnya.
Pada saat itulah, tiba-tiba Kangouw-su-ok terdengar suara tawa melengking bersamaan. Lalu, bersamaan pula mereka menggerakkan senjata tongkat kepalan tangan beracun mereka untuk mengurung seluruh tubuh Suma Bing.
Dalam waktu yang bersamaan, dari sisi lain tiga lelaki berseragam hitam lainnya segera menerjang ke arah orang berkedok.
Terjadilah pertempuran sengit. Kemampuan Kangouw-su-ok sudah terkenal, ditambah gabungan senjata mereka sungguh luar biasa dayanya.
Mereka bertarung sengit melawan Suma Bing.
Di sisi lain, kemampuan orang berkedok rupanya jauh lebih unggul menghadapi tiga lelaki bertubuh kekar itu.
Sementara itu, Racun Utara berdiri di luar barisan dan sedang membentak gusar, "Racun Diracun, cepat serahkan Pedang Berdarah, agar kau terhindar dari kematian." Bola mata Racun Diracun yang lebih banyak putihnya daripada hitamnya berputar-putar, suaranya mengejek dingin, "Orang tua bangka, rupanya kau sedang bermimpi!" "Kau tidak menyesal?" "Tidak ada yang perlu disesali.
Justru kau, orang tua bangka ini, aku merasa jijik melihatmu.
Tidakkah kau malu menggunakan pengaruh Bwe-hwa-hwe untuk mengurungku di sini?" "Tutup mulutmu! Sebenarnya kau ingin hidup atau mati?" "Cerewet!" "Hehehe, begitu aku membuka mulut, kau akan segera terbakar hangus menjadi abu." "Silakan kau buka mulutmu bebas!" "Sebenarnya kau mau atau tidak menyerahkan Pedang Darah itu?" "Tidak!" "Baik, jadi kau memang bertekad ingin mati?" "Orang tua bangka, mungkin kau juga kenal dengan barang yang dinamakan Sam-li-hiang?" Wajah Racun Utara berubah tegang, serunya terkejut, "Sam-li-hiang?" Racun Diracun tertawa terbahak-bahak gila, serunya, "Benar! 'Harum Tiga Li', aku sudah sebarkan ramuanku itu dalam barisanmu ini.
Jika kau berani menyulut api, begitu ramuanku itu tersentuh api, ia akan segera menyebar ke empat penjuru. Dalam jarak tiga li, bukan hanya beberapa gelintir manusia seperti kalian ini, binatang atau burung yang bisa terbang pun akan mati semua!" "Aku tidak mudah digertak!" seru Racun Utara penuh kebencian.
"Kau memang kuat bertahan, tapi jangan kau lupakan para kurcaci dari Bwe-hwa-hwe itu, rupanya mereka sudah ditakdirkan untuk mati." Ucapan terakhir ini membuat para kerabat Bwe-hwa-hwe yang mengepung di luar barisan mundur ketakutan.
Ingin hidup adalah hak semua manusia, dan itu wajar. Siapa yang rela menjemput kematian secara konyol?
Andai Racun Utara benar-benar nekat memberi perintah menyulut api, belum tentu mereka mau patuh pada perintahnya itu.
Sementara dalam gelanggang, mendadak terdengar pekikan kesakitan. Ternyata dua di antara tiga lelaki kekar yang mengeroyok orang berkedok itu kepalanya sudah pecah hancur terkena bogem mentah lawannya.
Segera seorang tua dan dua orang paruh baya maju menambal pengeroyokan yang tidak seimbang jumlahnya, satu lawan empat.
Sementara itu, meskipun hebat, Kangouw-su-ok pun tidak mendapatkan keuntungan melawan Suma Bing. Untungnya, permainan senjata mereka sangat aneh. Namun demikian, mereka sudah tidak mampu membalas serangan lagi.
Diam-diam Suma Bing pun memperhatikan percakapan antara Racun Utara dengan Racun Diracun.
Seandainya benar semua jagoan atau semua orang yang hadir mati bersama, tetapi Racun Diracun sendiri juga tidak akan luput terbakar hangus.
Untuk ini, ia harus berusaha secepat mungkin menolong Racun Diracun agar terhindar dari kematian.
Di satu pihak, ia berutang budi; di pihak lain, Pedang Darah juga harus direbut kembali.
Di pihak lain, setelah merenung dan berpikir sekian lama, tiba-tiba Racun Utara tertawa terbahak-bahak puas, serunya, "Racun Diracun, akal licikmu akan sia-sia! Aku akan memerintahkan mereka mundur secepatnya keluar dari lingkungan tiga li, lalu aku sendiri yang akan menyulut api. Bukankah kau sendiri tidak mampu keluar dari kurungan!" Tindakan Racun Utara ini memang sangat licik dan licin. Seketika Racun Diracun terpaksa tidak mampu mengeluarkan suara.
Tiba-tiba Suma Bing bersiul panjang, ia melancarkan delapan belas kali pukulan secara beruntun.
Begitu bayangan pukulannya berkelebat, salah satu dari Kangouw-su-ok segera menjerit seram, tubuhnya terbang dan memuntahkan darah. Sedangkan yang satu lagi, senjatanya terpental jauh dan ia terhuyung jatuh terduduk.
Dua dari keempat lawannya sudah kalah. Suma Bing semakin mudah dan ringan membereskan sisa dua musuhnya.
Tiga gebrakan kemudian, kedua sisa musuhnya ini pun lari terbirit-birit membawa luka.
Dengan sekali goyangan tubuh yang gesit, Suma Bing melesat menerjang ke arah barisan.
Bertepatan dengan itu, terdengar suara desau angin dari baju yang melambai mendekat, disusul beberapa bayangan orang melesat tiba dan memasuki gelanggang.
Seketika Suma Bing menghentikan laju tubuhnya.
Saat ia melihat, jantungnya berdetak keras.
Orang terdepan dari rombongan orang-orang yang datang ini mengenakan kedok dan berpakaian ungu, itulah Ketua Bwe-hwa-hwe.
Di belakangnya, beriringan mengikuti tiga lelaki dan seorang perempuan. Perempuan itu tidak lain adalah pelindung Bwe-hwa-hwe, Si Mawar Beracun Ma Siok-tjeng.
Tiga lelaki lainnya rupanya juga bukan tokoh sembarangan.
Begitu melihat Ma Siok-tjeng, Si Mawar Beracun yang cabul ini, sontak Suma Bing merasakan darahnya mengalir deras. Wanita jalang ini lebih dibencinya daripada Ketua Bwe-hwa-hwe.
Bukankah karena perbuatan cabulnya itu dirinya sampai mengotori kesucian Phoa Kin-sian?
Setibanya di sana, Ketua Bwe-hwa-hwe segera menyapu pandangan ke empat penjuru, lalu berkata kepada Racun Utara, "Tuan lebih baik beristirahat sebentar.
Biarkan aku yang membereskan dan menguasai keadaan di sini!" Lalu ia berpaling ke arah Si Mawar Beracun dan berkata lagi, "Ma-houhoat, kau tangkap orang berkedok itu!" Dengan bergegas Ma Siok-tjeng mengiyakan. Dengan langkahnya yang gemulai dan menggiurkan, ia menuju ke hadapan orang berkedok.
Kedua mata Ketua Bwe-hwa-hwe berkilat-kilat, menyedot semangat orang yang menatap wajah Suma Bing.
Situasi dalam gelanggang seketika memasuki babak yang menegangkan.