Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 49

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 49

Sepasang mata Suma Bing menyala geram melihat musuh besarnya itu. Tak kuat lagi dia menahan gelora hatinya, wajahnya terselubung nafsu membunuh. Perlahan-lahan ia melangkah maju beberapa tindak, nadanya dingin mendesis, "Tuan Ketua, mari kita selesaikan perhitungan kita yang tertunggak itu!"

Ketua Bwe-hwa-hwe menyeringai iblis, mengejeknya, "Suma Bing, beberapa kali kau lolos dari tanganku, terhitung jiwamu besar beruntung. Tapi hari ini, kau sudah pasti mati!"

Suma Bing mendengus hina. "Bocah ingusan, jangan kau takabur. Segera Pun-hwe tiang (aku) membuktikan perkataanku tadi. Hari ini akan kubeset kulitmu hidup-hidup, aku juga bisa segera membuktikan ucapanku ini."

"Baik, silakan bocah ingusan turun tangan?"

Suma Bing menggeram gusar, berseru, "Hitung-hitung kau seorang Ketua, tapi kenapa malu bertemu orang? Tentu kau bukan kaum keroco yang tidak punya nama, bukan?"

"Hehehe, bocah ingusan, tidak sukar kau hendak mengetahui nama dan asal-usul Ketua ini. Nanti kalau napasmu sudah tinggal hembusan yang terakhir, pasti akan kuberitahukan kepadamu. Tidak akan kubuat kau mati penasaran."

Saking menahan gusar, Suma Bing merasa dadanya hampir meledak. Sambil berteriak keras dilancarkannya sebuah pukulan dengan pengerahan seluruh tenaganya. Betapa dahsyat perbawa pukulannya ini, rasanya dapat menggugurkan sebuah gunung. Sambil menjengek hina, Ketua Bwe-hwa-hwe seenaknya saja mengangkat sebelah tangannya menangkis.

"Blang!" Suara dentuman yang menggelegar ini menggetarkan semua hadirin. Sungguh tidak nyana bahwa Ketua mereka yang dipandang bagai malaikat sakti ini kena tergetar mundur satu langkah oleh pukulan musuh kecilnya itu. Bahwasanya Ketua Bwe-hwa-hwe sendiri juga bukan olah-olah kejutnya. Di luar persangkaannya, bahwa hanya terpaut beberapa hari saja ternyata kekuatan lawan sudah bertambah berlipat ganda.

Di sebelah sana si orang berkedok juga tengah bertempur seru dan tegang melawan si mawar beracun Ma Siok-tjeng. Tapi jelas kelihatan bahwa kepandaian dan Lwekang Ma Siok-tjeng agaknya masih lebih tinggi dari si orang berkedok. Dalam beberapa gebrak saja si orang berkedok sudah kepayahan di bawah angin.

Karena memandang ringan musuhnya, maka begitu bergebrak, kontan Ketua Bwe-hwa-hwe mendapat sedikit kerugian. Sungguh memalukan dan merendahkan derajatnya bahwa dia sampai kena cedera di tangan musuh. Untuk mengambil muka, segera ia lancarkan tiga serangan berantai. Untuk ini Suma Bing juga terdesak mundur tiga langkah. Hal ini menunjukkan bahwa Lwekang Ketua Bwe-hwa-hwe memang berada di atas kemampuan Suma Bing.

Suma Bing mengerahkan seluruh kekuatannya di jari tengah tangan kanannya. Cincin iblis segera memancarkan cahaya keras dingin yang menyilaukan mata. Di mana tangannya itu bergerak, langsung ia menyerang kepada musuhnya. Terbukalah pertempuran seru dari tokoh silat kelas tinggi yang jarang terjadi di dunia persilatan.

Di samping sana, keadaan si orang berkedok seumpama keledai yang kehabisan napas menggeh-geh. Dilihat keadaannya, paling banyak dia kuat bertahan sampai dua puluh jurus lagi. Terang tinggal tunggu waktu saja dia bakal terjungkal di tangan si mawar beracun. Mengandalkan keampuhan Cincin iblis, Suma Bing masih kuat bertahan sementara waktu, namun cepat atau lambat dia pun pasti akan kalah.

Bahwa Racun Utara Tangbun Lu bisa terjungkal di tangan Suma Bing, mimpipun dia takkan menduga. Boleh dikata kekalahannya itu adalah kekalahan yang paling mengenaskan selama hidup. Saat mana, wajahnya membeku pucat, sepasang matanya kesima mengikuti terus gerak-gerik Suma Bing.

Sementara itu, Racun di racun masih duduk bersila di tengah barisan dengan tenang dan antengnya, seakan dia tidak mendengar dan tidak khawatir karena mempunyai pegangan untuk menyelamatkan diri. Terdengar suara tertahan seperti orang hampir muntah seketika si orang berkedok meliuk sempoyongan hampir roboh. Begitu serangannya membawa hasil, si mawar beracun masih tidak tinggal diam begitu saja. Badannya terus mendesak maju, di mana suaranya membentak keras, sebuah tangannya terayun lagi menggenjot dada si orang berkedok. Pukulannya ini dilancarkan secepat kilat. Terang kalau si orang berkedok sudah tidak mampu berkelit atau menghindar lagi, jiwanya terancam...

Sungguh kejut dan gugup Suma Bing bukan kepalang. Gesit sekali tubuhnya berkelebat meninggalkan Ketua Bwe-hwa-hwe, langsung ia menubruk ke arah Ma Siok-tjeng. "Blang, bum!" Dua dentuman terdengar saling susul disertai pekik kesakitan yang luar biasa, dibarengi dua bayangan orang terpental terbang beberapa tombak jauhnya. Untuk menolong jiwa si orang berkedok, waktu menubruk datang tadi, Suma Bing mengerahkan sekuat tenaga di kedua tangannya terus disapukan ke depan.

Si mawar beracun Ma Siok-tjeng tidak menduga akan serangan yang mendadak ini, kontan tubuhnya terbang jauh sungsang-sumbel. Tapi tidak urung si orang berkedok roboh juga terkena pukulan si mawar beracun Ma Siok-tjeng. Untung serangan Suma Bing itu sedikit banyak mengurangi kekuatan pukulan Ma Siok-tjeng, kalau tidak, mungkin saat itu si orang berkedok sudah menggeletak mampus.

Bersamaan dalam waktu dua bayangan tubuh orang terpental terbang itu, sejalur tenaga angin bagai gugur gunung juga telah menimpa ke arah Suma Bing. Kira-kira hanya terpaut beberapa detik saja setelah Suma Bing melancarkan serangannya. "Buk!" Kontan Suma Bing mendehem keras sambil muntah darah, badannya tersuruk maju delapan langkah. Sebelum tubuhnya berdiri tegak, angin pukulan kedua sudah menerpa datang lagi, lebih dahsyat. Sambil mengertak gigi, secepat kilat Suma Bing menggeser kedudukan lima kaki. Kini mereka berhadapan muka, jarak mereka terpaut satu tombak.

Disebelah sana, Ma Siok-tjeng dan si orang berkedok sudah terhuyung bangun dan berkutetan lagi, tidak kalah serunya. Pada saat itulah, sekonyong-konyong sebuah bayangan terbang melesat memasuki gelanggang, langsung menubruk ke arah Ketua Bwe-hwa-hwe. Tanpa berjanji, tiga orang tua di belakang Bwetiang segera memapak maju merintangi bayangan yang baru datang ini. "Plak!" Kontan ketiga orang tua tersurut tiga tindak, dan bayangan itupun segera terhenti meluncur dan berdiri bergoyang gontai.

Waktu Suma Bing pentang matanya memandang, bergolaklah darah panasnya. Yang datang ini kiranya bukan lain adalah Tang-mo atau Iblis Timur, musuh besar keluarganya. Iblis Timur mengekeh tawa panjang terus menerjang ke arah Bwetiang. Tersipu-sipu Ketua Bwe-hwa-hwe bersiaga menghadapi rangsangan lawan. Terpaksa tiga orang tua tadi mengundurkan diri. Mata Suma Bing bersinar buas dengan lekat ia awasi Iblis Timur yang tengah bertempur melawan Ketua Bwe-hwa-hwe. Karena kehadiran Tang-mo ini, terpaksa pertentangannya dengan Ketua Bwe-hwa-hwe harus diketengahkan dulu. Dia tengah menerawangi situasi, apakah dia harus turun tangan... Naga-naganya kedatangan Iblis Timur ini hendak menuntut balas karena kekalahannya tempo hari waktu dia dikepung oleh Peknio beramai, hingga dia terluka parah, akhirnya Pedang Darah pun direbut orang lain. Maka dalam kesempatan ini segera ia lancarkan ilmu silatnya yang paling lihay. Setiap serangannya tidak mengenal kasihan sama sekali. Adalah kepandaian Ketua Bwe-hwa-hwe memang bukan tingkat rendah, dicecar sedemikian hebat dia masih seenaknya saja bermain silat.

Di gelanggang lain, keadaan si orang berkedok sudah terdesak lagi di bawah gencetan si mawar beracun yang ganas. Sekilas Suma Bing menyapu pandang dingin, lalu maju mendekat dan berkata, "Heng-tai, kau mundurlah!" Si orang berkedok menurut dan segera mengundurkan diri.

"Kemana kau lari!" hardik si mawar beracun. Kedua cakarnya mendadak menyelonong tiba. "Plak", "Huk". Sekali turun tangan, Suma Bing membuat si mawar beracun terhuyung tiga langkah. Segera dengan mata genitnya si mawar beracun pelerak-pelerok menatap wajah Suma Bing. Suara tawanya jalang dan berkata, "Saudara kecil, turun tanganmu ini sungguh tidak kenal kasihan!"

"Perempuan jalang tidak tahu malu, hari ini..." desis Suma Bing geram.

"Aduh, kalau bicara sungkanlah sedikit, apa yang dinamakan tidak tahu malu?"

"Hari ini akan kubunuh kau."

"Mengapa?"

"Hatimu sendiri lebih jelas!"

"O, jadi kau masih teringat peristiwa di biara bobrok itu. Tapi aku mencintai kau."

Tanpa terasa merongkol keluar otot-otot di wajah Suma Bing. Sungguh tidak nyana bahwa orang begitu tidak tahu malu berani mengucapkan perkataan rendah di hadapan sekian banyak orang. Tersimpul dalam benaknya bahwa perkumpulan Bwe-hwa-hwe ini tentu berjalan sesat dan bertujuan tidak lurus. Maka sambil meludah hina segera ia menghardik, "Tok-bi-kui, hari ini kau sudah pasti mati!"

Sikap genit si mawar beracun masih belum lenyap, dengusnya aleman, "Apa kau mampu?"

"Baik kau coba-coba." Membarengi ucapannya, kontan ia kirim tiga serangan saling susul. Perbawa pukulannya ini benar-benar sangat mengejutkan. Tangkas sekali si mawar beracun melejit menyingkir, dari sini ia balas menyerang juga dengan tiga kali pukulan pula. Mulailah mereka keluarkan ilmu sakti masing-masing dan bertempur dengan sengitnya.

Bertepatan waktu Suma Bing turun tangan, tiga orang tua itu berbareng menerjang ke arah si orang berkedok. Agaknya kepandaian tiga orang tua ini hebat juga. Dalam gebrak pertama si orang berkedok sudah mencak-mencak kepayahan!

Saat mana, keadaan Tang-mo juga sudah kerepotan menghadapi rangsangan Ketua Bwe Hwa Hwe, sewaktu-waktu jiwanya juga terancam maut.

Sebuah pekik kesakitan memecahkan kesunyian udara. Selebar muka si mawar beracun pucat pias, badannya sempoyongan dua tombak lebih. Sebagian besar rambutnya yang hitam kelam sudah terkupas, sampai kulit kepalanya juga terpapas mengalirkan darah oleh cincin iblis Suma Bing. Darah membasahi muka dan kedua pundaknya. Sekali lagi Suma Bing maju mendekat sambil kirim sebuah pukulan dahsyat. Seakan copot dan terbang sukma Ma Siok-tjeng dari raganya saking ketakutan, tubuhnya melenting sejauh dua tombak. Otaknya masih jelas teringat bahwa Suma Bing terang bukan menjadi tandingannya tempo hari. Sungguh tidak nyana terpaut beberapa hari saja, Lwekang lawan ternyata telah maju demikian pesat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment