Chapter 50
Terdengar suara bentakan beruntun yang saling menyusul; ketiga orang tua itu meninggalkan si orang berkedok dan beralih menyerbu ke arah Suma Bing.
Dada Suma Bing telah dipenuhi oleh kemurkaan dan kebencian yang meluap-luap. Dengan mengerahkan sepuluh bagian tenaga Kiukang, tangannya meluncur menyambut serangan yang datang.
Seketika terdengar pekikan menyeramkan yang menggetarkan suasana gelanggang pertempuran.
Dua di antara tiga orang tua itu mengeluarkan darah segar dari ketujuh lubang indranya dan seketika roboh tewas. Seorang lainnya berdiri terlongong-longong di tempatnya dengan wajah pucat keabu-abuan tanpa bergerak; mulutnya terdengar menggumam, "Kiukang." Ketua Bwe-hwa-hwe mengerung keras bagai singa terluka. Ia melancarkan tiga jurus silat paling hebat sehingga Tang-mo terdesak mundur dan terhuyung-huyung.
Begitu tubuhnya melejit, ia langsung menerjang ke arah Suma Bing. Sebelum tubuhnya tiba, angin pukulannya telah menerjang lebih dahulu.
"Bagus!" ejek Suma Bing dingin.
Dua belas bagian tenaga Lwekang dikerahkan pada kedua lengannya, lalu disodokkan ke depan untuk menangkis secara keras melawan keras.
"Dar!" terdengar benturan menggelegar. Tubuh Ketua Bwe-hwa-hwe yang meluncur tiba-tiba tertolak dan merosot jatuh, sementara Suma Bing sendiri terhuyung dua langkah.
Sementara itu, Kangouw-su-ok yang terluka oleh pukulan Suma Bing tadi kini telah mengatur napas dan kembali menyerbu untuk mengeroyok si orang berkedok.
Ketegangan semakin meruncing dan mencekam hati, membuat semua orang merasa sesak napas. Dari samping, Iblis Timur mengaum buas sambil melancarkan serangan ke arah Ketua Bwe-hwa-hwe. Terpaksa Ketua Bwe-hwa-hwe membalikkan tubuh untuk melayaninya.
Mendadak hati kecil Suma Bing tergerak untuk segera mengambil keputusan. Pada saat berikutnya, ia melangkah lebar menghampiri barisan yang mengurung Racun di Racun tersebut. Para jagoan yang menjaga di luar barisan serentak terkejut dan bersikap waspada. Segera enam batang pedang melintang di tengah jalan.
Wajah Suma Bing membeku penuh nafsu membunuh. Tanpa ragu-ragu, kakinya melangkah terus ke depan seolah-olah keenam orang bersenjata pedang itu tidak dipandangnya sebelah mata. Maka pada saat berikutnya, sinar pedang berkelebat; keenam batang pedang serentak bergerak menyerang ke arah tubuhnya.
"Kalian cari mati!" Sambil membentak keras, Suma Bing melancarkan jurus Liutjiok.
Jurus ini adalah hasil ciptaan Sia-sin Kho Jiang yang memakan waktu bertahun-tahun dan telah memeras keringatnya. Berlandaskan kekuatan Kiuyangsin-kang, betapa hebat kekuatannya dapat dibayangkan.
Suara pekik dan jerit kesakitan terdengar saling menyusul menembus udara. Enam batang pedang terlepas dari pegangan dan terpental terbang sejauh beberapa tombak. Bahkan dua orang yang terdepan langsung roboh tanpa bergerak lagi, sedangkan empat lainnya terguling-guling sungsang sumbel sejauh satu tombak lebih.
Cepat-cepat Racun Utara mendesak maju dan berkata dingin mengancam, "Siautju, kau juga bermimpi hendak merebut Pedang Berdarah?"
Dengan rasa jijik Suma Bing mendengus, lalu mengejek, "Apa pedulimu!"
Racun Utara menduga kuat bahwa tujuan Suma Bing memasuki barisan adalah untuk merebut Pedang Berdarah dari tangan Racun di Racun. Dalam hati ia membatin: bocah ini sudah mendapat didikan sempurna dari manusia sesat itu, bahkan tubuhnya kebal racun; lebih baik biarkan Racun di Racun yang menghadapi dan meringkusnya. Sekali dia masuk ke dalam barisan, ia bagaikan ikan yang masuk jala; tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Oleh pikiran ini, segera ia melambaikan tangan memberi tanda dan berseru, "Biarkan dia masuk!"
Para jagoan yang menghadang di depan Suma Bing segera menyingkir memberi jalan. Sambil menyeringai dingin Suma Bing berkata, "Jadah tua berbisa, hendak melarang pun kau takkan mampu. Hitung-hitung kau tahu gelagat!" Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar ia memasuki barisan.
Sementara itu, saat menghadapi keroyokan Kangouw-su-ok sendirian, keadaan si orang berkedok sudah seperti semut dalam kuali panas yang tinggal menunggu ajal. Di sisi lain, Tang-mo juga semakin terdesak. Lama-kelamaan nyalinya ciut; bukan saja takkan menang, bahkan nyawanya mungkin melayang. Akhirnya ia melarikan diri dengan penuh ketakutan.
Mendapat peluang ini, segera Ketua Bwe-hwa-hwe memutar tubuh memandang ke dalam barisan. Terlihat olehnya Suma Bing tengah berjalan berkelok-kelok mengikuti petunjuk yang diberikan oleh si orang berkedok. Setelah melewati dua lintasan pohon, ia bertindak tiga langkah ke kiri dan maju selangkah, lalu memutar ke kanan lima langkah. Ternyata barisan ini tidak mengalami perubahan.
Kini di hadapannya melintang sebuah dahan pohon besar seukuran pelukan dua orang. Sekali tangannya diayun, dahan besar itu segera menggelundung jauh. Kini tinggal dua tumpukan batu tinggi yang merintangi di kanan kirinya; segera Suma Bing menyapunya lagi dengan kedua tangannya. Asal sekali lagi ia memecahkan rintangan terakhir, maka pecahlah barisan ini sepenuhnya.
Melihat keadaan ini, Racun Utara melonjak kaget dan berseru, "Celaka, bocah itu tahu cara pemecahannya!"
Wajah Ketua Bwe-hwa-hwe berkerut mengeras. Sambil melambaikan tangan, segera keluar perintahnya, "Bakar!"
Mendengar perintah ini, semua anak buahnya segera serentak mengangkat obor. Di luar barisan itu sudah penuh terpasang bahan bakar; sekali disulut, pasti orang di dalam barisan akan terbakar hangus menjadi abu.
Namun, Racun Utara segera berseru mencegah, "Jangan, jangan bakar!"
"Kenapa?" tanya Ketua Bwe-hwa-hwe dongkol.
"Waktu terkurung di dalam barisan, Racun di Racun sudah menyebar racun berbisa Sam-li-hiang!"
"Sam-li-hiang?"
"Benar."
"Lalu bagaimana?"
"Ketua boleh segera memerintahkan semua bawahanmu secepatnya mundur sejauh tiga li. Biar aku sendiri yang akan melepas api."
"Apa masih sempat? Bocah itu akan segera mengobrak-abrik barisan!"
Sementara itu, Suma Bing berpaling memandangi obor-obor itu. Jantungnya berdetak keras dan langkahnya serta-merta terhenti. Jika mau, dengan mudah ia masih memiliki kesempatan untuk berlari keluar barisan. Akan tetapi, Racun di Racun pernah menanam budi dengan memberikan sebutir obat yang menolong nyawanya. Ia tidak boleh membiarkan orang mati konyol di depan matanya. Di samping itu, ia tidak rela kehilangan kesempatan untuk merebut kembali Pedang Berdarah. Jika Racun di Racun mati, berarti Pedang Berdarah pun pasti akan hilang. Dalam saat genting itu, pikirannya terasa kosong, tidak tahu apa yang harus diperbuat.
Otak Racun Utara berputar keras. Karena cerdas, tak lama kemudian ia berseru girang, "Ada akal! Begitu menyulut api, segera berlari secepat mungkin ke arah yang berlawanan dengan arah angin. Jika kepandaian tidak rendah, pasti dapat keluar dari lingkungan hawa beracun itu. Silakan Ketua memberi perintah!"
Tangan Ketua Bwe-hwa-hwe sudah diangkat tinggi, tinggal memberikan aba-aba. Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar suara tawa dingin yang mengerikan. Suara yang menyedot semangat ini bergema di udara, membuat orang-orang menoleh kebingungan mencari sumber suara tersebut.
Setelah suara tawa itu lenyap, melesat secarik sinar putih memasuki gelanggang dan menancap di sebatang pohon. Jelas terlihat bahwa itu adalah sebuah panji kecil berbentuk segitiga yang di tengahnya terukir sebuah tengkorak dengan dua batang tulang bersilang.
"Pek-kut-ji!" tanpa sadar Ketua Bwe-hwa-hwe berseru ketakutan.
Nama Pek-kut-ji benar-benar bagai guntur di siang bolong yang mengejutkan sanubari semua yang hadir; semua wajah berubah pucat karena takut. Demikian pula Kangouw-su-ok dan si orang berkedok yang serta-merta menghentikan pertempuran. Meskipun kecil dan bentuknya sangat sederhana, panji ini telah menggetarkan dunia persilatan selama ratusan tahun.
Suma Bing sendiri merasa terperanjat. Mengapa Pek-kut Hujin muncul di sana pada saat yang tepat dengan tanda khas panji kecilnya? Dulu, dalam memperebutkan Pedang Berdarah dengan Racun di Racun, jika bukan karena panji kecil ini muncul secara mendadak dan mengusir Ketua Bwe-hwa-hwe, mungkin nyawa Suma Bing sudah lama hilang. Apa maksud dan tujuan Pek-kut Hujin memperlihatkan jejaknya di sini? Apakah itu Pek-kut Hujin sendiri atau muridnya?
Racun Utara, Tangbun Lu, bukan saja bersifat kejam, tetapi wataknya juga sangat licik dan banyak akal. Begitu melihat Pek-kut-ji muncul, segera ia mundur teratur dan pergi melarikan diri tanpa memedulikan orang lain. Memandang bayangan Racun Utara yang lari tunggang langgang, Suma Bing mengeluarkan suara dingin mengejek, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke tengah barisan.
Semua anggota Bwe-hwa-hwe berdiri terlongong bagai patung di tempat masing-masing. Kemunculan Pek-kut-ji di saat situasi sedang menguntungkan pihak mereka benar-benar membuat Ketua Bwe-hwa-hwe gusar, takut, dan curiga. Setelah bimbang sekian lama, ia berseru lantang ke arah rimba di bagian dalam, "Apakah yang datang ini adalah Senior Pek-kut Hujin?"
Ia bertanya tiga kali berturut-turut tanpa mendapat jawaban. Rasa curiga yang lebih dalam pun menyelubungi hatinya. Maka segera ia berkata kepada orang tua yang masih hidup, "Thio-hiangtju, cabutlah panji kecil itu!"
Orang tua yang dipanggil Thio-hiangtju itu seketika pucat pasi, tetapi ia tidak berani membangkang perintah ketuanya. Dengan suara gemetar ia menyahut, "Baik, hamba menerima perintah!"
Mulutnya mengiyakan, namun tubuhnya tetap berdiri tegak tanpa bergerak. Ketua Bwe-hwa-hwe berdehem keras dan pandangannya sangat mengancam. Tidak ketinggalan, pandangan semua hadirin juga tertuju kepada orang tua ini. Setelah diliputi ketakutan dan keraguan, akhirnya orang tua itu nekat berkelebat maju untuk mencabut panji di atas pohon tersebut. Namun, baru saja tangannya menyentuh gagang Pek-kut-ji, seketika ia menjerit seram lalu roboh dan binasa.