Chapter 51
Nyali Ketua Bwe-hwa-hwe seakan copot, segera ia berseru nyaring, "Mundur!" Maka, bayangan berkelebatan dalam sekejap mata saja, semua orang sudah serentak melarikan diri.
Setelah Suma Bing memporak-porandakan barisan perlawanan Ngo-heng-tin, baru terlihat Racun Diracun berdiri dan angkat tangan memberi hormat, serta berkata, "Aku harus berterima kasih kepadamu!" "Tidak perlu!" sahut Suma Bing kaku.
"Tapi kau menolong aku sehingga bebas dari kurungan ini." "Ini sebagai imbalan budi pemberian obatmu waktu itu, dua belah pihak tidak saling berutang budi, kita seri satu sama satu, tentang..." "Tentang apa?" "Lain kali kita bertemu lagi, aku sendiri tidak akan melepaskanmu!" "Mengapa tidak sekarang saja?" "Apakah Tuan ingin sekarang juga menyelesaikan perhitungan lama itu?" "Ya, begitulah." "Di mana?" "Di sini dan sekarang juga!" "Tidak bisa." "Kenapa?" Tanpa terasa, mata Suma Bing melirik ke arah Pek-kut-ji sambil menyahut, "Aku harap kita berpindah ke tempat lain." Racun Diracun tertawa ringan, berkata, "Jadi kau takut pada pemilik panji kecil itu?" Ucapannya ini menimbulkan rasa congkak Suma Bing, serunya keras, "Apa yang perlu ditakuti? Baiklah, di sini juga kita selesaikan urusan kita." "Silakan kau sebutkan dulu ada berapa banyak perhitungan lama?" "Pertama, kau menggunakan Racun Tanpa Bayangan membinasakan adik Siang Siau-hun dan tunangannya, Li Bun-siang."
"Perbuatan yang kejam dan bengis ini kau timpakan pada dua jiwa muda yang tidak berdosa, perhitungan inilah yang harus diselesaikan." "Apa hubunganmu dengan peristiwa itu?" "Semua urusan yang terungkap di tanganku, harus kuurus." Racun Diracun mendengus dingin, ejeknya, "Suma Bing, itu merupakan salah paham."
"Mengapa kau turut campur? Biarkan Siang Siau-hun sendiri yang membereskannya!" "Tidak bisa!" sahut Suma Bing ketus, penuh ketegangan.
"Kenapa tidak bisa?" "Bahwasanya, tanpa bertindak, racun jahatmu itu sudah cukup mengakhiri nyawa Siang Siau-hun!" "Apakah dia kekasihmu?" "Kau tidak perlu tahu." "Kalau dia ingin menyelesaikan sendiri dan tidak rela kamu membantu?" Sejenak Suma Bing berpikir, lalu sahutnya, "Baik juga. Yang kedua, segera Tuan serahkan Pedang Darah kepadaku." "Kalau aku menjawab tidak?" "Hm, mungkin kau tidak akan mampu berbuat begitu." "Suma Bing, kau sangat takabur. Kau tahu berapa jurus kau sanggup menghadapi aku?" "Mungkin bisa kubunuh kau!" "Kalau kau dapat mengalahkan aku setengah jurus. Pedang Darah segera kupersembahkan kepadamu, atau sebaliknya, jangan kau bermimpi lagi!" "Baik, sambutlah seranganku ini!" seru Suma Bing gusar.
Setelah ucapannya, serangannya sudah tiba-tiba menyambar di depan muka Racun Diracun.
Racun Diracun berlaku sangat tenang, begitu pukulan lawan mendekat, dengan santainya sebelah tangannya dikebutkan. Jangan memandang ringan kebutannya ini, karena sekali gerak, kebutannya ini mengincar berbagai jalan darah di depan dada Suma Bing.
Dengan serangan menghadapi serangan, maka yang menyerang pasti harus membela diri. Demikian juga keadaan Suma Bing, denyut jantungnya melonjak keras. Terpaksa dia harus membatalkan serangannya, terlebih dahulu ia harus melindungi dirinya sendiri.
Terdengar dia menggerung keras, serangannya lagi-lagi sudah datang menyerang. Kali ini ia kerahkan seluruh kekuatan dan tenaganya, maka daya pukulannya ini bagaikan geledek menyambar dan air bah melanda.
Agaknya Racun Diracun juga tidak mau menunjukkan kelemahan. Tangan diangkat, ia menyambut pukulan Suma Bing ini dengan keras juga.
"Bum!" Benturan keras ini menerbitkan badai angin yang bergulung tinggi dan mengembang deras ke empat penjuru, hingga pohon-pohon di sekitarnya tergetar rontok daun dan dahan-dahannya.
Tubuh Racun Diracun bergoyang-goyang, sebaliknya Suma Bing tersurut dua langkah.
Dalam serangan permulaan ini, jelas kelihatan bahwa Lwekang Racun Diracun masih setingkat lebih unggul di atas Suma Bing.
Tercekat hati Suma Bing. Bukan saja Racun Diracun merajai dunia racun, malah kepandaian silatnya juga bukan kepalang tanggung. Dalam dunia persilatan pada masa itu, yang kuat menandingi kepandaiannya mungkin dapat dihitung dengan jari.
Pada saat itu, si orang berkedok secara diam-diam sudah mendekat maju, berdiri di luar lingkungan pertempuran.
Sekonyong-konyong Racun Diracun mengangkat sebelah tangan sambil berseru, "Tahan sebentar!" "Tuan ada omongan apa, lekas katakan!" desak Suma Bing tidak sabar.
"Saat ini kau masih bukan tandinganku." "Tiada halangannya kita coba-coba." "Agaknya, kita tidak perlu bertempur mati-matian." "Mengapa?" "Bukankah tujuanmu hanya hendak merebut Pedang Darah?" "Benar, aku harus mendapatkannya!" "Tapi Pedang Darah saat ini tidak berada di tanganku." Suma Bing tercengang dan tertegun.
Kalau Pedang Darah benar-benar tidak berada di tangan Racun Diracun, seandainya dirinya menang, apa pula gunanya? Seketika ia bungkam, berpikir-pikir.
Nada suara Racun Diracun sudah berubah kalem dan tidak sedingin semula, "Suma Bing. Lebih baik marilah kita adakan janji sejati..." "Apa maksudmu dengan janji sejati?" "Sebenarnya Pedang Darah sudah kau rebut dari tangan Tang-mo, dan akhirnya direbut pula olehku. Kalau kau bisa memperoleh Bunga Iblis. Pedang Darah tanpa syarat kupersembahkan kepadamu, bagaimana?" Tergerak hati Suma Bing, sungguh dia tidak habis mengerti apa maksud tujuan sepak terjang Racun Diracun. Manusia beracun yang lebih berbisa dari Racun Utara ini begitu mudah diajak berkompromi.
Maka setelah sangsi sekian lamanya, ia menegas, "Benar-benar kau serahkan tanpa syarat?" "Begitulah maksudku." "Tapi aku tidak sudi menerima kebaikanmu ini." "Kenapa?" "Kau telah merebutnya dari tanganku, sudah seharusnya aku merebutnya kembali mengandalkan kepandaianku." "Hehehe, Suma Bing, sudah kukatakan kuserahkan tanpa syarat, tak perlu kau turun tangan." "Tuan ada maksud apa? Silakan terangkan secara total." "Tiada maksud apa-apa, kuserahkan tanpa syarat." Mau tak mau Suma Bing harus berpikir panjang, setelah sekian lama merenung, akhirnya ia berkata dengan nada berat, "Kalau aku tidak bisa mendapatkan Bunga Iblis?" "Kau boleh merebut kembali mengandalkan kepandaianmu!" "Baik, kita tentukan begitu." "Siapa dia?" tiba-tiba tanya Racun Diracun mengalihkan persoalan.
"Seorang sahabatku." "Maksudku, siapa dia?" Sekilas Suma Bing mengerling ke arah si orang berkedok, mulutnya terkunci, tak tahu apa yang harus dikatakannya.
Memang dia belum mengetahui siapa si orang berkedok sebenarnya. Mereka bersahabat dalam pertemuan secara kebetulan karena beberapa sebab.
Terdengar Racun Diracun mendesak lagi, "Sungguh kau tidak tahu siapa dia?" Dalam keputusasaannya, Suma Bing naik pitam dan menyahut ketus, "Agaknya hal ini tiada sangkut pautnya dengan Tuan?" "Tapi apa kau tidak ingin tahu siapa dia?" Menatap Racun Diracun, tanpa terasa si orang berkedok mundur satu langkah.
Bersamaan itu, dia juga tidak ingin Racun Diracun turut mencampuri hubungan pribadi mereka, maka sambil menggeleng kepala dia menyahut, "Inilah urusan antara dia dan aku, tidak perlu Tuan turut campur. Silakan Tuan lanjutkan perjalananmu." Racun Diracun tertawa mengejek, desisnya, "Kalau aku ingin tahu siapa dia sebenarnya?" "Ini..." Suma Bing tergagap, entah apa yang harus diucapkan.
Sebaliknya, si orang berkedok ikut bicara dengan penuh perasaan, "Tuan, apakah maksudmu ini?" Sepasang bola mata Racun Diracun yang memutih itu berputar, memancarkan sinar terang menatap tajam di wajah si orang berkedok, seakan hendak menembus isi hatinya. Lama sekali baru dia membuka kata, "Aku hendak menyingkap kedokmu itu." "Tuan, buat apa kau mendesak orang sedemikian rupa? Bagi seorang Bu-lim adalah wajar kalau dia mempunyai suatu rahasia pribadi." "Aku tidak suka melihat orang yang menyembunyikan kepala, mengunjukkan buntut!" "Tapi, Tuan, kau sendiri..." "Aku bagaimana?" "Apakah yang Tuan tunjukkan sekarang ini juga wajah asli Tuan?" Racun Diracun tersentak kaget dan mundur satu langkah.
Suma Bing juga ikut terperanjat. Sedemikian hitam kelam raut wajah dan seluruh kulit Racun Diracun, kiranya juga adalah penyamaran. Kepandaian tata rias sedemikian lihai bisa dikatakan jarang ditemukan di seluruh dunia persilatan ini, karena hakikatnya sedikit pun tidak terlihat celah kelemahan dari penyamarannya itu.
Terdengar si orang berkedok melanjutkan kata-katanya, "Kepandaian Hian Goan Tay Hoat Ih Sek Tuan benar-benar hebat sekali, kepandaian semacam ini..." "Bagaimana?" tiba-tiba bentak Racun Diracun bengis.
Tergetar tubuh si orang berkedok, seakan-akan mengkhawatirkan sesuatu, dia menghentikan kata-kata selanjutnya.
Lebih besar rasa curiga dan heran Suma Bing, mengenai kepandaian Hian Goan Tay Hoat Ih Sek, baru sekali ini ia pernah dengar. Entah mengapa, karena bentakan Racun Diracun, kontan si orang berkedok tidak berani melanjutkan kata-katanya. Maka segera ia berpaling dan bertanya, "Heng-tai, ada apakah?" Si orang berkedok menggeleng kepala tanpa membuka suara.
Terdengar Racun Diracun mendengus dingin dan mengancam, "Orang berkedok, kau buka sendiri kedokmu atau ingin aku yang turun tangan?" Didesak demikian rupa, si orang berkedok mundur ketakutan, sahutnya gemetar, "Apa Tuan betul-betul hendak berbuat demikian?" "Selamanya aku tidak pernah bicara dua kali." "Apakah sepak terjang Tuan ini tidak keterlaluan?" "Terserah kalau kau beranggapan demikian!" Mulut berkata demikian, Racun Diracun sudah mengangkat langkah mendesak maju ke arah si orang berkedok.
Dalam situasi yang gawat ini, pikiran Suma Bing berkelebat cepat. Meskipun si orang berkedok menutupi mukanya, bagaimanapun ia masih terhitung sahabat kentalnya. Mana bisa dia mengawasi Racun Diracun mendesaknya sedemikian rupa untuk membuka kedoknya?
Setelah memantapkan pikirannya, segera ia memburu maju menghadang di depan si orang berkedok dan berkata, "Tuan, kusilakan kau segera berlalu!" Serta-merta Racun Diracun menghentikan langkahnya, serunya, "Suma Bing, berdekatan dengan seorang yang belum terang asal-usulnya, berarti lebih berbahaya daripada berkawan dengan seekor harimau!" Suma Bing tergetar oleh ucapan terakhir Racun Diracun, tapi selekas itu pula dia menjawab dengan angkuhnya, "Kukira hal itu tiada sangkut pautnya denganmu." "Apa kau hendak merintangi aku?" "Sudah tentu!" "Kau tidak menyesal?" "Selamanya aku belum pernah kenal akan arti menyesal." "Bagus sekali, begitulah kuharapkan!" Setelah memperdengarkan suara tawa melengking sekian lama, mendadak tubuh Racun Diracun melenting tinggi terus menghilang di balik bayangan pohon di dalam hutan.