Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 52

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 52

Perlahan-lahan pandangan mata Suma Bing beralih ke arah panji kecil di atas pohon itu.

Seketika ia menyedot hawa dingin.

Ternyata orang yang berani menyentuh Pek-kut-ji tadi kini hanya tinggal tulang belulang yang memutih bertumpuk di atas tanah; kulit, baju, serta dagingnya pun sudah lenyap tanpa bekas.

Kejadian yang mengejutkan dan menciutkan nyali ini tidak heran membuat Ketua Bwe-hwa-hwe yang sudah tenar malang melintang itu lari lintang-pukang.

"Saudara kecil, mari kita pergi," kata si orang berkedok dengan nada lesu dan penuh kesedihan.

Suma Bing mengangguk, lalu mereka berdua melejit tinggi berlari keluar rimba.

Namun, baru beberapa langkah saja, tiba-tiba si orang berkedok menghentikan langkahnya dan berkata dengan nada berat, "Saudara kecil..." Terpaksa Suma Bing ikut berhenti dan bertanya, "Saudara tua, ada urusan apa? Silakan katakan."

"Apakah perguruanmu memiliki hubungan erat dengan Pek-kut Hujin?"

"Sepengetahuanku tidak ada. Apa maksud pertanyaan Saudara ini?"

"Pek-kut-ji muncul dua kali saat kau menghadapi bahaya. Hal ini tentu bukan kebetulan; jelas kiranya memang sengaja hendak menolongmu. Apa kau sudah menyadari hal itu?"

"Hatiku masih diselimuti banyak pertanyaan."

"Sikap dan sepak terjang Racun Diracun terhadapmu agaknya juga sangat ganjil."

"Aku juga merasakan hal itu," sahut Suma Bing penuh tanda tanya.

"Saudara kecil, apa kau sudah mulai merasa curiga terhadap aku?"

"Curiga? Apa maksudmu?"

"Umpamanya tingkah lakuku..."

"Tidak!" sahut Suma Bing tegas tanpa banyak pikir.

Memang terhadap tindak-tanduk si orang berkedok, sedikit pun ia tidak menaruh rasa curiga. Jikalau si orang berkedok bermaksud jahat terhadap dirinya, banyak kesempatan untuk ia turun tangan selama masa pergaulan mereka yang lalu, tetapi ia tidak melakukannya. Sebaliknya, ia berulang kali telah menolong jiwa Suma Bing dari renggutan maut. Jika ia mengenakan kedok, tentu ada kesukaran pribadi yang susah dijelaskan.

Suara si orang berkedok terdengar lirih dan gemetar, "Saudara kecil, apa kau tidak ingin melihat wajah asliku?"

"Aku tidak bermaksud begitu."

"Tapi aku sudah tidak ingin mengelabui kau lagi!" Setelah berkata demikian, perlahan-lahan ia menanggalkan kedoknya.

Terlihatlah sebuah wajah yang cakap dan putih di usia pertengahan; dagu dan jidatnya dipenuhi jenggot panjang yang memutih. Dari kecakapan wajahnya itu, terlintas rasa duka dan hampa. Suma Bing terlongong mengawasi wajah orang itu, tidak tahu siapakah dia sebenarnya.

"Saudara kecil, kau tidak tahu siapa aku?"

"Aku tidak kenal kau!"

"Akulah Tiang-un Suseng Poh Jiang!"

Suma Bing berjingkrak kaget seperti disengat kala. Mimpi pun ia tidak menduga bahwa si orang berkedok ini ternyata adalah Tiang-un Suseng, musuh perguruannya yang menghilang dan susah dicari itu. Pandangan Suma Bing menjadi gelap, otaknya pepat, dan hatinya terasa mendelu. Persahabatan, budi, dan dendam kesumat campur aduk bergolak dalam benaknya.

Baru sekarang ia sadar, waktu mereka berkenalan untuk pertama kalinya, tindakan orang itu membawanya ke depan kuburan palsu Tiang-un Suseng ternyata memiliki arti yang dalam. Ia heran bahwa Tiang-un Suseng Poh Jiang sudah tahu bahwa dirinya merupakan musuh besar daripada Buyu. Mengapa dalam berbagai kesempatan yang ada, ia tidak turun tangan melenyapkan jiwanya, malah mengulurkan tangan untuk bersahabat?

Apakah ia seorang sahabat? Atau musuh? Terbayang akan Sia-sin Kho Jiang yang dikorek matanya dan dipotong kedua kakinya hingga menjadi manusia tanpa daksa, lalu mati secara mengenaskan setelah racun bekerja dalam tubuhnya. Pesan gurunya sebelum ajal sekali lagi terngiang dalam telinganya: "...menuntut balas..."

Perintah guru lebih penting! Demikianlah titik berat daripada penilaian terakhir Suma Bing setelah berpikir panjang.

Wajah Tiang-un Suseng yang berkerut mulai melambat dan tenang kembali. Nada suaranya berat dan serak, "Sumahiangte, bagaimana kau hendak menghadapi aku?"

Suma Bing mundur selangkah, sedapat mungkin ia mengekang perasaan hatinya yang bergejolak, katanya dingin, "Poh-heng, aku tidak akan mengingkari persahabatan kita yang kekal, terutama budimu yang besar terhadapku. Tapi kau adalah salah satu musuh yang ikut mencelakai suhuku. Kenyataan ini tidak mungkin dihapus..."

"Aku paham. Hanya katakanlah, bagaimana kau hendak menghadapi aku?"

"Harap kau suka memaafkan, perintah guru harus kulaksanakan."

"Menggunakan cara seperti membunuh Tji Khong Hwesio dulu itu?"

Suma Bing menggigit bibir, katanya, "Benar. Tapi untuk persahabatan kita, kelak kalau urusanku sudah beres, pasti aku akan memberikan pertanggungjawabanku."

Tiang-un Suseng Poh Jiang tertawa getir, ujarnya, "Saudara kecil, kepala saudaramu yang bodoh ini kau boleh ambil, tapi ada beberapa kata yang hendak kujelaskan."

"Silakan katakan!"

"Peristiwa di Bu-san dulu, biang keladinya adalah suhengmu, Loh Tju-gi. Ketahuilah bahwa Buyu juga merupakan pihak yang kena cedera. Loh Tju-gi membunuh tiga di antara kami sepuluh kawan dan menimpakan bencana ini kepada suhumu. Tujuannya ialah hendak menggunakan kekuatan Bu-lim sip-yu untuk melenyapkan gurumu. Dengan demikian, ia lepas dari dosa sebagai murid yang durhaka mengkhianati guru..."

Sejenak Tiang-un Suseng merandek menekan perasaan hatinya, lalu berkata lagi, "Tiga di antara Buyu sudah mati di tangan Loh Tju-gi, satu lagi mati di tanganmu. Leng Hung-seng, Ciangbunjin dari Ceng-seng-pay, tewas di tangan Ketua Bwe-hwa-hwe. Tjoh Pin, Ngo-ouw Pangcu, meninggal terbokong oleh suatu totokan aneh yang mematikan. Jenazah Lokiam rebah di tengah jalan Siang-im. Tulang-belulang Goan Hi dari Siaulim terkubur di luar kota Kay-hong. Kini, Bu-lim sip-yu tinggal satu, yaitu aku sendiri, saudara tuamu."

"Hian-te, karena peristiwa dulu itu adalah tipu muslihat orang yang mengadu domba kita, maka aku tidak memandang kau sebagai musuh. Bahwasanya dengan perbuatanku ini, aku berusaha untuk menebus dosa kita yang telah mencelakai suhumu dulu. Sudah, ucapanku sampai sekian saja!"

Pikiran Suma Bing menjadi pepat dan gundah. Demi kebenaran dan keadilan, memang dia tidak seharusnya menuntut balas kepada Tiang-un Suseng, namun lantas bagaimana pertanggungjawabannya kepada gurunya di alam baka? Suasana sesaat mencekam sanubarinya sehingga terasa seakan membeku. Akhirnya, sifat-sifat Sia-sin Kho Jiang yang menurun dan terpendam dalam benak Suma Bing memenangkan kesadaran dirinya sendiri.

Benaknya mengambil suatu keputusan tegas. Sambil mengertakkan gigi, ia berkata, "Poh-heng, aku, Suma Bing, dapat membedakan antara budi dan dendam. Karena pesan guruku, aku harus turun tangan terhadap kau. Demi persahabatan kita, biar kelak aku bunuh diri untuk menebus kesalahanku ini."

"Itu pun tidak perlu," ujar Tiang-un Suseng gemetar. "Sekarang boleh kau turun tangan, aku tidak akan membalas."

Sebenarnya sanubari Suma Bing terasa sangat pedih. Kalau lawan benar-benar tidak melawan, dia takkan kuat bertahan. "Tidak, kau harus melawan. Balaslah menyerang sekuat yang kau bisa."

"Melawan atau tidak, hakikatnya sama saja."

Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar sebuah helaan napas lirih yang mengandung kepedihan dan kegetiran hati. Tanpa terasa Suma Bing terkejut. Ke mana pandangannya tertuju, terlihat tiga tombak di belakangnya berdiri seorang wanita serba hitam yang rambutnya terurai panjang. Dia tak lain adalah Sim Giok-sia, putri Lam-sia dengan Se-kui.

Sekali lagi Suma Bing tergetar bagai tersengat aliran listrik. Sementara itu, tubuh Tiang-un Suseng juga terhuyung mundur, matanya terbelalak lebar. Sepasang kekasih yang menderita segala siksaan dan rintangan itu akhirnya bertemu lagi setelah berpisah selama tiga puluh tahun lamanya; sang waktu sudah membuat mereka menanjak pada usia senja.

Perlahan-lahan Sim Giok-sia menyingkap rambutnya ke belakang kepala. Wajah pucat yang berkerut dan layu itu penuh dibasahi air mata, bola matanya dengan tajam menatap wajah Tiang-un Suseng. Sinar matanya itu benar-benar menyedot sukma dan semangat orang yang dipandang. Wajah Tiang-un Suseng juga pucat pasi, tubuhnya tergetar hebat menahan gelora hatinya.

"Adik Sia!"

"Engkoh Jiang!"

Sambil berseru, serta-merta mereka memburu maju dan saling berpelukan dengan kencang. Perlahan-lahan Suma Bing membalik tubuh ke arah lain; perasaan hatinya susah dilukiskan. Musuh besar suhunya, menjadi kekasih sucinya, sekaligus sahabat kentalnya. Bagaimana ia harus mengambil sikap?

Sekonyong-konyong, seakan ia mendapat suatu petunjuk, mulutnya bergumam, "Kalau suhu mengetahui di alam baka, pasti dapat mengampuni aku. Pasti orang tua itu juga rela menghapus dendam kesumatnya. Ya, biarlah pertikaian ini habis sampai di sini..."

Samar-samar kupingnya mendengar percakapan yang meremukkan hati...

"Adik Sia, aku tahu langit susah ditambal, laut sukar diuruk. Kukira hidupku ini akan nestapa sepanjang masa..."

"Engkoh Jiang, tiga puluh tahun sudah membuat jiwa kita luntur, ada apalagi yang dapat kita peroleh?"

"Adik Sia, cinta tidak mengenal waktu dan segala batas..."

"Ya, tapi sekarang kita sudah tua!"

Karena mencintai Tiang-un Suseng Poh Jiang, Sim Giok-sia dipenjarakan selama tiga puluh tahun oleh ibunya (Setan Barat). Sekarang sepasang kekasih ini dapat bersua kembali. Cinta mereka masih tetap murni dan abadi, tapi masa remaja sudah lama takkan kembali lagi. Belum tentu mereka takkan bahagia, namun bahagia ini rada terlambat datangnya; pengorbanan yang harus mereka curahkan terlalu besar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment