Halo!

Pedang Darah Bunga Iblis - Chapter 53

Memuat...
Pedang Darah Bunga Iblis

Chapter 53

"Kita sudah tua!" Kata-kata ini rasanya sudah cukup menerangkan segalanya.

Dalam hati, Suma Bing mengambil suatu keputusan drastis; dia tidak boleh merenggut kebahagiaan sucinya yang terlambat. Utang darah ini biar ditumpahkan dan dipikul oleh suhengnya, Loh Tju-gi yang durhaka itu. Dia tidak tahu apakah keputusan itu benar, namun secara langsung ia merasakan bahwa suhunya yang berada di alam baka juga tidak akan menentang pendapatnya ini. Sekilas ia memandang kedua kekasih yang masih berpelukan mesra, sekali melejit bayangannya sudah menghilang di kejauhan.

Lama sekali, baru kedua kekasih yang berpelukan dan rindu akan kemesraan itu saling pandang dan tersenyum tawa, tetapi senyum tawa mereka terasa kecut karena mereka sudah menelan kegetiran cinta. Sekonyong-konyong Tiang-un Suseng tersadar dan berseru terkejut, "Ke mana dia pergi?"

"Adik seperguruanku (sute)!"

"Apa, Suma Bing adalah sutemu?" Sim Giok-sia mengiakan.

"Bagaimana bisa terjadi?"

"Suhunya itu adalah ayah kandungku!"

"Oh, tapi kenapa kau bermarga Sim?"

"Aku ikut marga ibuku, ibuku juga menjadi guruku!"

Dengan penuh kejut dan keheranan, Tiang-un Suseng Poh Jiang bertanya, "Adik Sia, bukankah dulu kau mengatakan bahwa kau adalah seorang bayi yang ditemukan?"

"Memang riwayat hidupku baru belum lama ini kuketahui!"

"Gurumu juga adalah ibumu, mengapa dia mengurungmu selama tiga puluh tahun? Masa tiada rasa cinta ibu kepada anak kandungnya?"

Sim Giok-sia tertawa pahit, katanya, "Kejadian yang dia alami dulu sangat menyakiti hatinya. Aku tidak dapat menyalahkan dia, aku tahu dia sangat sayang kepadaku. Karena kesalahpahaman dengan ayahku, maka dia sangat membenci dan mendendam kepada seluruh laki-laki di dunia ini."

"Adik Sia, yang sudah lalu biarkanlah pergi, kelak..."

"Kelak bagaimana?"

"Apa kau tidak ada persiapan?"

Dengan sedihnya Sim Giok-sia tertawa hambar, ujarnya, "Engkoh Jiang, kita sudah tua, lebih baik biarlah kita cadangkan rasa kasih mesra yang sangat berharga ini."

"Adik Sia, gemblengan dan ujian selama tiga puluh tahun, apa yang telah kita dapatkan? Kehampaan yang kita dapat. Tapi juga boleh dikata kita telah memperoleh terlalu banyak."

"Apa?"

"Cinta murni yang abadi dan teguh kukuh tak terpisahkan oleh masa dan usia."

"Adik Sia, apa kau rela cinta kita yang merana dan nestapa ini tiada akhirnya?"

"Sudah terlambat."

"Tidak, seseorang menggunakan seluruh tenaga sisa hidupnya untuk mengejar sesuatu benda, tujuan yang utama hanyalah untuk mendapat kepuasan hati yang terakhir, meskipun kepuasan itu hanya sekejap mata saja, atau sudah luntur, tapi itu cukup untuk mengganti dan menambal semua pengorbanan yang telah dia curahkan."

Mendengar penjelasan yang merasuk hati ini, timbullah sinar terang pada wajah Sim Giok-sia yang kurus kepucatan. Sekonyong-konyong berubah air muka Tiang-un Suseng, katanya, "Adik Sia, pertikaian antara Buyu dengan ayahmu..."

"Aku tahu biang keladinya yang utama adalah Loh Tju-gi seorang. Memang keputusan ayah menyuruh Suma-sute menuntut balas adalah tidak patut!"

Gemetar suara Tiang-un Suseng, "Adik Sia, selama hayat masih dikandung badan, aku harus mencari bajingan Loh Tju-gi itu..."

"Sudah tentu, aku Suma Bing sudah pasti harus mencarinya."

Sekali lagi mereka berpelukan dengan mesranya. Bahagia yang terlambat datang ini akhirnya mengikat sejoli yang akan melangkah ke jenjang hidup baru.

Dalam pada itu, sepanjang perjalanan, pikiran Suma Bing gundah dan tidak tenteram. Menurut cerita "Si Maling Bintang" Si Ban-tjwan, ibunya masih hidup di dunia ini. Tapi selama sepuluh tahun lebih ini, mengapa tidak terdengar kabar berita atau jejaknya di kalangan kangouw? Semestinya dia sudah muncul lagi untuk menuntut balas pada musuh-musuh besarnya; hal ini benar-benar membuat orang tak habis mengerti.

Latar belakang apalagi yang menyebabkan Loh Tju-gi menyekap diri selama empat belas tahun ini setelah dia menduduki posisi jago nomor satu di seluruh jagat? Sudah dua kali Pek-kut Hujin menolong jiwanya, dengan sengaja atau secara kebetulan? Kalau sengaja, apalagi tujuannya? Lima sisa dari Buyu beruntun mati secara misterius, siapakah yang membunuh mereka? "Racun Diracun" pernah mengatakan kalau dirinya sudah mendapatkan Bunga-iblis, pedang berdarah segera diserahkan tanpa syarat. Meskipun maksud tujuan "Racun Diracun" ini susah diselami, bagaimanapun juga dia harus mencoba sekuat tenaga. Sebab bukan saja hal itu merupakan pesan terakhir suhunya sebelum ajal, juga menjadi cita-cita ayahnya semasa hidup.

Kalau bibinya, Ong Fong-jui, mengatakan bahwa Bunga-iblis berada di tangan seorang momok wanita bernama Bu-siang-sin-li, pasti hal ini boleh dipercaya. Usia Bu-siang-sin-li sudah seabad lebih, ilmu silatnya susah dijajaki, dia bersemayam di Bu-kong-san. Dengan semangat menyala-nyala dan penuh harapan inilah Suma Bing tengah melangkahkan kakinya menuju ke Bu-kong-san. Bersama itu, dia juga merasa bahwa perjalanannya ini agak membabi buta. Seumpama benar-benar dia dapat menemukan Bu-siang-sin-li, mengandalkan alasan apa dia hendak meminta Bunga-iblis dari persilatan? Begitulah pikiran Suma Bing melayang-layang jauh, dari sejak pertama kali ia turun gunung melaksanakan perintah suhunya sampai peristiwa yang baru saja dialami, semua terbayang di depan matanya.

Hari itu waktu tengah hari, setelah mengganjal perut di sebuah rumah makan dan menanyakan jalan menuju ke Bu-kong-san kepada pelayan, Suma Bing terus melanjutkan perjalanan. Dalam perhitungannya, dua hari lagi dirinya pasti sudah tiba di wilayah pegunungan Bu-kong-san. Tengah ia mengayun langkah itulah, tiba-tiba sebuah bayangan manusia dengan kecepatan terbang bagai bintang jatuh meluncur cepat ke arah dirinya.

Suma Bing tersipu-sipu menggeser ke sebelah kanan, maksudnya untuk mengelak supaya orang lewat dengan leluasa. Tapi ternyata bayangan orang itu juga berkelit ke arah yang bersamaan dengan sengaja. Kedua belah pihak meluncur dengan kecepatan penuh; dalam detik-detik hampir bertumbukan itulah, mendadak Suma Bing menyedot hawa dalam, sebat sekali kakinya menjejak tanah, kontan tubuhnya melesat tinggi ke tengah udara terbang melewati atas kepala bayangan orang itu.

Maka terdengarlah suara gemerantang, terlihat bayangan manusia itu juga menghentikan luncuran tubuhnya, terus memutar balik. Waktu Suma Bing mengawasi bayangan orang ini, tanpa terasa ia menyedot hawa dingin karena yang dihadapinya ini kiranya adalah seorang wanita pertengahan umur yang rambutnya acak-acakan, bajunya kusut masai banyak tambalannya, kedua matanya kuyu redup, dan yang lebih mengherankan bahwa di leher wanita itu terikat seutas rantai panjang warna hitam yang terurai panjang di atas tanah. Sekilas pandang, Suma Bing segera bermaksud ingin pergi.

"Kau jangan pergi!" sebuah suara kaku tanpa perasaan menghentikan langkahnya, suara itu membuat merinding dan tidak enak perasaan Suma Bing.

Suma Bing tertegun sambil membalik tubuh lagi, tanyanya dingin, "Siapa kau?"

Mendadak wanita itu berkakakan menggila tak henti-hentinya. Sekian lama dia meliuk-liuk tertawa baru berhenti. Kedua matanya yang kuyu redup mendadak memancarkan sinar kebencian yang menyala-nyala menakutkan orang. Wajah keropos yang pucat pasi itu menjadi bengis membeku penuh hawa membunuh, serunya sambil mengertak gigi, "Aku inginkan jiwamu!"

"Apa kau minta jiwaku?" seru Suma Bing berjingkrak.

"Benar, hendak kukorek jantung hatimu..."

Suma Bing menjadi serba salah dan geli, katanya, "Apa kau tahu siapa aku?"

"Kau menjadi abu juga akan kukenali, bukan saja hendak kubunuh kau. Kho-lo-sia, guru setan tuamu itu, akan kubunuh juga."

Suma Bing tertegun heran dan mundur selangkah. Orang sudah tahu asal-usulnya tapi sedikit pun dia tidak kenal orang tersebut. Naga-naganya orang ini tengah mencari dirinya untuk menuntut balas, maka segera katanya lagi, "Sebenarnya siapa kau ini, ada permusuhan apa dengan aku yang rendah?"

Wanita itu mendesak maju selangkah, rantai di tubuhnya ikut terseret berbunyi nyaring, makinya sambil menunjuk ke arah Suma Bing, "Kau bukan manusia, kau binatang, hendak kukorek hati binatangmu itu, kau... mengapa kau demikian kejam? Oh, tidak! Aku tidak akan bunuh kau, tidak bisa, kau masih mencintaiku bukan?"

Berkerut alis Suma Bing, baru sekarang dia sadar bahwa orang yang dihadapinya ini kiranya adalah wanita gila, tanpa terasa dia tertawa geli sendiri. Karena pikirannya ini segera ia jejakkan kakinya, tubuhnya melenting jauh. Di mana terdengar suara gemerantang, sekonyong-konyong wanita itu juga sudah melesat tiba di hadapannya sambil menyurung sebuah pukulan ke depan.

Walaupun agaknya pikirannya tidak beres, tapi gerak-gerik wanita ini lihai sekali. Karena tidak bersiaga, Suma Bing kena tergetar mundur tiga langkah.

"Kau hendak pergi? Hm, naga-naganya hari ini aku harus membunuh kau!"

Suma Bing menggeleng-geleng kepala sambil tertawa kikuk, badannya segera melesat miring ke samping sana. Dalam waktu yang hampir bersamaan, wanita itu juga melesat ke tengah udara, beruntun dia lancarkan tiga kali pukulan yang menerbitkan angin menderu. Mengingat pikiran orang kurang waras, Suma Bing tidak mau meladeni serangan ini, sebat sekali tubuhnya jumpalitan menghindar. Tapi serangan wanita itu malah semakin gencar, beruntun ia lancarkan lagi serangan yang mematikan mengarah tempat penting di tubuh Suma Bing.

Sekonyong-konyong sebuah pikiran berkelebat dalam otak Suma Bing. Batinnya, kalau pikiran orang ini kurang beres, bagaimana dia bisa mengenal asal-usulnya? Apa mungkin dia pura-pura gila, atau ada latar belakang apalagi yang tersembunyi? Mengapa pula lehernya diikat rantai? Dilihat dari cara ia turun tangan, kepandaiannya agaknya tidak lemah, lalu mengapa dia tidak berusaha menanggalkan rantai di lehernya itu?

Serangan-serangan wanita itu semakin deras dan kejam tak mengenal kasihan. Karena banyak berpikir, Suma Bing berlaku sedikit ayal dan hampir saja jalan darah Ci-tong-hiat kena tercengkeram. Mau tak mau akhirnya dia harus mengambil keputusan yang tegas; pikirnya, terpaksa aku harus turun tangan meringkusnya dan ditanyai secara terang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment