Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 03

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 03

Ia merasa seolah-olah bermimpi, tetapi sebagai seorang yang waspada, ia segera menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang suci. Tanpa memedulikan pangkat dan kedudukan, ia segera berlutut. Orang tua itu mengaku bernama Kam Hong Siansu, seorang suci setengah dewa yang mengasingkan diri di bukit Kam-hong-san. Kam Hong Siansu menyatakan bahwa Si Kim Pau berbakat menjadi seorang pertapa, lalu dengan samar-samar ia meramalkan bahwa untuk sementara ini pemerintah Ceng Tiauw tidak dapat dirobohkan karena sudah takdirnya demikian. Dengan pertolongan Kam Hong Siansu yang menggunakan ilmunya, Si Kim Pau, istrinya, dan Si Cin Hai, putranya yang berusia sembilan belas tahun, dibawa ke puncak Gunung Kam-hong-san.

Atas petunjuk Kam Hong Siansu, Si Kim Pau bertapa di situ sambil mendidik putranya dalam ilmu ketatanegaraan dan kesusasteraan. Namun, darah patriot yang mengalir dalam tubuh Si Cin Hai membuatnya tidak betah tinggal di gunung dan tanpa dapat dicegah, ia turun gunung. Ibunya sangat sedih karena hal ini, lalu jatuh sakit dan meninggal dunia. Si Kim Pau, yang ditinggal seorang diri di puncak gunung, melanjutkan pertapaannya tanpa memedulikan urusan dunia. Kadang-kadang, Kam Hong Siansu, entah dari mana datangnya, datang mengunjunginya dan memberi wejangan ilmu batin. Si Cin Hai turun dari Kam-hong-san dan menjalin hubungan dengan para patriot dari seluruh tempat untuk berusaha merobohkan pemerintah Ceng Tiauw dan mengusir orang-orang Boan, penjajah angkara murka itu, dari permukaan bumi Tiongkok.

Ia pun berhubungan pula dengan Gouw Sam Kwie yang bergerak dari Provinsi Hun Lam. Karena ternyata Si Cin Hai adalah seorang terpelajar yang cerdik pandai dan seorang patriot sejati, meskipun ia masih muda dan tidak pandai ilmu silat, ia diangkat menjadi Bengcu oleh semua patriot dan dijuluki Si-Enghiong. Sementara itu, ia kawin dengan Yo Lu Hwa, putri dari Yo Beng Kiat, seorang pengantar barang ekspedisi ternama di kota Liok-cu. Yo Lu Hwa kemudian aktif dalam perjuangan suaminya. Pada permulaan tahun keempat belas Kong Hie, ketika raja kedua dari pemerintah Ceng Tiauw mulai bertahta, Si Cin Hai bersama Gouw Sam Kwie dari daerah lain mulai bergerak untuk menggulingkan pemerintah musuh. Tapi sayang, karena Gouw Sam Kwie kurang berhati-hati, rahasia pergerakan itu bocor.

Mereka dipukul oleh Pemerintah Ceng Tiauw sebelum sempat bergerak, sehingga banyak kawan seperjuangan yang tewas. Ternyata pemerintah penjajah memiliki banyak panglima jagoan, di antaranya adalah Coan Eng, Ta Hai, dan Lie Ban si Naga Tanduk Besi. Di antara para patriot yang gugur, termasuk Si Cin Hai dan Ong Kee Lin, suami Yo Leng In. Yo Leng In adalah adik kandung Yo Lu Hwa. Yo Lu Hwa sendiri tertawan oleh Tiat-kak-liong Lie Ban si Naga Tanduk Besi! Sebetulnya Yo Lu Hwa ingin mengamuk sampai titik darah penghabisan setelah melihat suaminya gugur, tetapi apa daya, ia terpaksa menyerah untuk melindungi putranya dari bahaya maut! Demikianlah, ia dan Han Liong, putranya yang baru berusia lima bulan, ditawan musuh. Masih bergema di telinganya pesan suaminya yang terakhir.

"Peliharalah Han Liong baik-baik dan teruskanlah perjuangan kita!" Pesan pertama untuk memelihara Han Liong telah dilaksanakan dengan pengorbanan menyerah kepada musuh, tetapi pesan kedua tidak akan mungkin dapat ia lakukan. Tiat-kak-liong Lie Ban, yang baru setahun kematian istrinya, sangat tertarik melihat kecantikan dan kegagahan Yo Lu Hwa, maka ia sengaja menawannya beserta anaknya.

Kemudian, ia membujuk-bujuk agar nyonya muda itu mau menjadi istrinya. Tentu saja Yo Lu Hwa tidak sudi dan memaki-makinya sebagai seorang tidak tahu malu dan rendah budi. Namun, setelah Lie Ban mengancam akan membunuh Han Liong jika ia tidak mau menjadi istrinya, dengan hati hancur luluh, nyonya muda itu terpaksa menurut. Ia mau berkorban apa saja asal anaknya terluput dari bahaya maut. Hal ini sangat menyakitkan hati kawan-kawan di kalangan persilatan dan dunia bawah. Mereka menganggap penyerahan Yo Lu Hwa sangat memalukan dan merendahkan nama para patriot, terutama nama Si-Enghiong yang mereka hormati. Teristimewa Yo Leng In, yang telah menjadi janda pula, merasa sangat malu dan telah berkali-kali mencoba memasuki kediaman Lie Ban untuk menculik Han Liong dan kalau mungkin membunuh Lie Ban serta kakaknya!

Tetapi Tiat-kak-liong Lie Ban bukan anak kemarin sore. Ia tahu betul bahwa Yo Lu Hwa mau menjadi istrinya karena menjaga keselamatan Han Liong. Kalau Han Liong sampai terculik hilang, tentu istrinya yang baru itu tidak akan sudi lagi mendekatinya, bahkan mungkin akan menimbulkan keributan! Maka, ia menjaga Han Liong dengan sangat hati-hati, bahkan sengaja mendatangkan beberapa kawan ahli silat kelas satu untuk menjaga kediamannya. Karena itu, segala daya upaya Yo Leng In menjadi gagal sama sekali, bahkan beberapa kawannya mendapat luka berat dalam percobaan menculik Han Liong itu. Demikianlah tujuh bulan telah berlalu. Peristiwa tewasnya Si-Enghiong dan dirampasnya Yo Lu Hwa oleh Lie Ban telah terdengar oleh semua kawan di kalangan persilatan dan menggerakkan hati para ksatria di seluruh pelosok.

Di antara mereka yang tergerak hatinya adalah Liok-tee Sin-mo Hong In, si Iblis Daratan. Ia meninggalkan guanya di Gunung Kwan-lim-san dan memberi kabar kepada beberapa sahabatnya untuk mengadakan pertemuan di Kam-hong-san pada permulaan musim Chun (musim semi)! Ia sendiri langsung menggunakan ilmunya, berlari cepat menuju kediaman Tiat-kak-liong Lie Ban yang dijaga kuat itu. Malam itu, tidak seperti biasanya, di rumah Lie Ban agak sunyi. Biasanya Tiat-kak-liong Lie Ban, ditemani oleh tiga kawannya, yaitu Oei-kak-liong Lie Kong, si Naga Tanduk Kuning, adiknya sendiri, dan dua saudara Beng Liok Hui dan Beng Liok Houw yang dijuluki orang Sankang Jie-pa-cu (Dua Macan Tutul dari Sankang), minum arak atau bermain catur sampai tengah malam.

Tetapi malam itu Lie Kong dan kedua saudara Beng sudah masuk ke kamar masing-masing, sedangkan Tiat-kak-liong Lie Ban berada di kamar istrinya. Di antara bayang-bayang daun pohon yang ditimpa sinar bulan, berkelebatlah sesosok bayangan tubuh manusia di atas genteng kediaman itu. Gerakannya begitu enteng dan gesit sehingga gerakan seekor kucing pun kalah olehnya! Dengan ilmu meringankan tubuh Kengsut-hoat, ia berlari-lari di atas genteng mencari-cari. Tiba-tiba ia berhenti di atas kamar Lie Ban dan kakinya bergerak dalam jurus Ouw-liong-coan-tah (Naga Hitam Menembus Menara), ia melompat turun ke bawah tanpa bersuara sedikit pun. Kemudian dengan langkah ringan sekali, ia menghampiri jendela dan memasang telinga.

"Isteriku, janganlah engkau terlalu makan hati. Kurang apalagi engkau jadi isteriku? Aku cinta padamu, hormat padamu, dan menjaga Han Liong seperti anakku sendiri. Bergembiralah isteriku, dan ingat akan kandunganmu," terdengar suara seorang laki-laki halus membujuk. Lalu terdengar helaan napas seorang perempuan.

"Memang nasibku yang buruk... nasibku yang sial... ahh..." terdengar isak perlahan.

"Sudahlah, bukankah engkau cinta pada Han Liong? Dan bukankah aku berlaku baik padamu? Jangan bersedih, supaya lekas sembuh."

"Memang engkau baik padaku dan Han Liong... dan sekarang aku mengandung pula... mengandung anakmu..."

"Bukankah itu baik sekali?" Tiba-tiba suaranya terdiam, dan dengan gerakan Ouwtong (Naga Hitam Keluar Gua), ia meloncat keluar pintu dan masih sempat melihat sekelebat bayangan hitam melayang ke atas genteng.

"Bangsat, jangan lari!" serunya, dan mengayun tubuhnya ke atas genteng mengejar. Tetapi ketika kakinya menginjak wuwungan rumahnya dan matanya mencari-cari ke sana kemari, ia tidak melihat sesuatu kecuali bayangan daun-daun pohon yang bermain di atas genteng. Heran, pikirnya, apakah aku tadi melihat kucing? Ia langsung menuju kamar adiknya dan kedua saudara Beng. Ternyata mereka sudah tidur, maka segera ia kembali ke kamar istrinya. Alangkah kagetnya ketika ia mendengar Yo Lu Hwa menjerit-jerit.

"Jangan... jangan ambil anakku...!!" Cepat ia meloncat masuk melalui pintu dan melihat seorang laki-laki tua yang wajah bagian bawahnya tertutup jambang dan jenggot putih, berpakaian kuning tua. Orang tua itu telah memondong Han Liong, sedangkan istrinya berusaha merebutnya. Tetapi gerakan orang tua itu cepat sekali, dan istrinya yang sedang sakit tidak dapat berbuat apa-apa. Lie Ban amat marah.

"Bangsat tua! Kau berani bermain-main di depan tuanmu! Lepaskan anak itu!"

"Ha, ha! Lie Ban orang rendah! Anak ini bukan anakmu, hak apa kau melarang aku membawanya pergi?"

"Kurang ajar!" Dengan kemarahan yang meluap-luap, Tiat-kak-liong Lie Ban menyerbu dengan gerakan Gosit (Kambing Kelaparan Menubruk Makanan) dan mencengkeram ke arah dada orang tua itu. Ketika cengkeramannya ditangkis lawan, Lie Ban mengubah serangannya dengan Kim-jiauw (Naga Emas Mengulur Cakar), kedua tangannya maju serentak, yang kanan memukul ke arah muka lawan, dan yang kiri mencengkeram hendak merampas Han Liong. Tetapi ternyata lawannya lebih tinggi kepandaiannya. Ia meloncat ke sana kemari sambil tertawa mengejek.

Orang tua itu adalah Liok-tee Sin-mo Hong In, si Iblis Daratan, menggunakan ilmu silat Jiauw-toan (Tindakan Mengitar Berputar-putar), berkelit ke sana kemari, dan sekali lompat saja ke arah pintu, ia terus menghilang ke atas genteng! Anak yang didukungnya berteriak-teriak menangis hingga membangunkan Lie Kong dan kedua Macan Tutul dari Sankang. Dengan susul-menyusul, mereka bertiga memburu ke atas genteng. Si Iblis Daratan yang sedang meloncat dengan jurus Tiang-jit (Bianglala Melintang Langit), tiba-tiba merasakan sambaran angin keras ke arah kakinya. Ia tidak heran lagi, dan terus menahan kakinya yang hendak turun, lalu berjungkir balik di udara dengan jurus Koai-sin (Siluman Ular Berputar Balik), ia meloncat secepat kilat ke belakang. Ternyata serangan itu adalah sebuah toya yang menyambar kakinya.

"Penculik hina jangan lari!" teriak penyerangnya yang bukan lain adalah Oei-kak-liong Lie Kong. Kemudian dengan jurus Hok-houw-kun-hoat atau Ilmu Toya Penakluk Harimau, Lie Kong menyerang dengan buasnya, tidak peduli lagi bahwa pukulan-pukulannya bisa mencelakakan Han Liong yang berada dalam dukungan orang tua itu.

Namun, dengan masih tertawa-tawa kecil, orang tua yang bertubuh ringan lincah itu, yang sangat mahir dalam berkelit, berputar-putar ke sana kemari di antara sambaran toya. Lie Ban, yang tadinya menolong istrinya yang sedang jatuh pingsan, kini tiba-tiba mengejar dan menyerang dengan goloknya. Serangannya ini sangat hebat karena dilakukannya dalam keadaan marah yang memuncak. Lie Ban menyerang dengan ilmunya yang paling diandalkan, yaitu Ilmu Golok Ngo-houw-bun-to atau Lima Harimau Mencegat Pintu. Goloknya yang berat berkilauan di bawah sinar bulan dan menyerang ke arah tenggorokan lawannya dengan mengeluarkan angin dingin yang bersiulan. Karena di dalam hatinya terasa tidak akan baik jadinya jika menghadapi kedua bersaudara yang tidak boleh diabaikan itu, ia segera menggunakan ilmunya, berlari cepat sambil berkata, "Lie Ban, aku tidak sempat melayanimu lebih lama. Selamat tinggal!" Tetapi kedua bersaudara itu melompat mengejar lagi. Ketika Liok-tee Sin-mo Hong In sudah melalui dua wuwungan, tiba-tiba dari depan terlihat dua bayangan orang menghadang. Mereka ternyata adalah dua saudara Beng yang berdiri menanti dengan pedang di tangan!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment