Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 07

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 07

"Lagi, jangan sekali-kali menggunakan kepandaian untuk menindas kaum yang lemah, Liong. Ingatlah selalu bahwa kami memberimu pelajaran ini untuk digunakan menolong sesama hidup yang tertindas, untuk membela negara, dan membasmi penjahat. Jika kau tersesat dan menggunakan kepandaianmu untuk keuntungan pribadi, kau tak akan selamat," sambung Siauw Lo-ong Hee Ban Kiat.

"Pesanku padamu adalah jangan terlalu mudah membunuh orang, muridku. Jauhkanlah golok dan pedangmu sebisa mungkin dari pertumpahan darah. Kalau tidak sangat terpaksa, janganlah membunuh orang secara sembarangan," ujar Bie Kong Hosiang.

"Dan berlakulah sebagai orang gagah yang mengenal budi pekerti. Harus selalu merendahkan diri dan rajin menambah pengetahuan. Ingat, Liong, sepanjang pengalamanku, yang tidak boleh dipandang ringan adalah orang-orang yang kelihatan paling lemah, misalnya kaum wanita, orang tua, pengemis, dan orang lain yang kelihatan sangat lemah. Biasanya lawan yang sangat berbahaya adalah mereka yang tampak lemah, tetapi di dalamnya tersembunyi kekuatan dan kepandaian tinggi. Karena tampaknya dari luar lemah, orang mudah sekali memandang sebelah mata. Tetapi kau jangan sekali-kali memandang rendah orang-orang lemah itu, Liong. Kepandaian seseorang tidak tampak dari luar tubuhnya," kata Hong In si Iblis Daratan. Han Liong menghaturkan terima kasih atas nasihat keempat gurunya itu dan berjanji akan memperhatikannya sungguh-sungguh. Kemudian bibinya bicara.

"Han Liong anakku, kami berlima sudah bersepakat untuk menyuruhmu turun gunung hari ini juga. Kau perlu mencari pengalaman di luar, Nak. Dan kau boleh mencari ibumu. Tentang sakit hati terhadap Tiat-Kak-liong Lie Ban terserah padamu. Itu adalah soal pribadimu. Kami hanya berpesan agar segala sepak terjangmu dilakukan atas dasar kebenaran yang layak. Engkau sudah tahu ke mana harus mencari ibumu. Tetapi, sekali lagi kuulangi nasihat guru-gurumu, yaitu janganlah engkau mengambil jalan yang salah. Kalau kau kelak di kemudian hari ternyata berubah menjadi anak durhaka dan murid yang mencemarkan nama baik guru-gurumu, maka kami berlima tentu akan mencarimu!" Pada saat itu tiba-tiba terdengar bunyi guntur keras menggelegar dan satu tenaga besar menggetarkan bumi yang mereka injak sehingga mereka berenam, meskipun memiliki kepandaian tinggi, menjadi sempoyongan dan terhuyung-huyung. Semua orang heran karena hari itu langit cerah dan tidak ada tanda-tanda kemungkinan akan ada guntur. Kemudian terdengar ledakan keras dan tahulah mereka bahwa suara gemuruh itu bukanlah suara guntur, melainkan suara tanah yang gugur dari pinggir gunung.

Terdengar suara "krek-krek" dan keenam orang itu segera berlompatan keluar pondok. Ternyata pondok itu menjadi miring dan belum lama mereka berada di luar, pondok itu roboh dengan mengeluarkan suara hiruk-pikuk. Di luar mereka melihat debu mengepul di sebelah kiri bukit dan Pauw Kim Kong segera mengerti apa yang telah terjadi. Ketika tanah yang mereka injak tadi tergetar membuat mereka terhuyung-huyung berkali-kali, kenyataan sebenarnya adalah gempa bumi besar di gunung sehingga pondok mereka pun roboh karenanya. Dan suara hebat tadi tentu adalah tanah dan batu-batu gunung yang gugur karena gempa bumi itu dan jatuh ke dalam jurang. Debunya masih tampak hebat! Tanpa mufakat lebih dulu, mereka berenam serentak berlari menuju ke kiri di mana terlihat debu mengepul tinggi.

"Hati-hati!" Hee Ban Kiat berpesan, dan benar saja, ketika sampai di sebuah tikungan, dari atas turun menimpa beberapa buah batu besar yang rupanya terlepas dari sandarannya di puncak dan berguling-guling ke bawah.

Untungnya mereka telah waspada dan segera meloncat ke belakang menjauhi tempat bencana itu. Betapa pun tinggi kepandaian mereka, kalau sampai tertimpa batu-batu yang berpuluh ribu kati beratnya itu, pasti akan tamatlah riwayat mereka! Han Liong yang belum banyak pengalaman dan ingin sekali melihat sesuatu yang masih asing baginya, tanpa sadar maju mendekati tempat di mana batu-batu tadi jatuh. Tiba-tiba ia melihat sebuah benda putih berkilauan yang bergerak-gerak di antara tumpukan batu. Ia heran dan maju mendekat. Tiba-tiba benda panjang itu melayang menyambarnya. Han Liong terkejut dan serangan benda itu begitu cepat sehingga mustahil baginya untuk menghindar. Maka terpaksa ia mengibaskan tangan kirinya untuk menangkis. Alangkah terkejutnya ketika benda itu tidak terlempar, tetapi menempel di jari tangan kirinya dan terus menggigit.

"Aduh!" hanya itulah yang dapat diteriakkannya dan ia roboh pingsan. Guru-gurunya dan bibinya dengan terkejut berlari menyusul. Sungguh khawatir mereka melihat keadaan anak muda itu. Seekor ular berkulit putih berkilau seolah perak digosok menempel di jari telunjuk tangan kirinya, giginya masih tertanam di jari Han Liong. Yang paling mencemaskan adalah keadaan tubuh anak muda itu. Seluruh tubuhnya tampak hitam kemu-hijauan. Mulutnya terkunci, matanya tertutup, dan napasnya tersengal-sengal, tinggal satu-satu! Yo Toanio tidak dapat menahan getaran hatinya. Ia menerjang keponakannya sambil menjerit-jerit! Guru-guru Han Liong pun menjadi bingung, hanya Pauw Kim Kong yang agak tenang. Tetapi setelah memeriksa keadaan muridnya dan melihat ular yang masih menggerak-gerakkan ekornya itu, ia menjadi lebih sedih daripada yang lain.

"Bagaimana, Pauw-suhu?" tanya Bie Kong Hosian ketika melihat Pauw Kim Kong berdiri putus asa dan menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas.

"Ular berbisa. Bisanya sangat berbahaya. Belum pernah kulihat racun ular demikian luar biasa!" Sambil menangis keras, Yo Toanio mencabut pedangnya dan dengan gemas membacok ular yang masih menempel di tangan Han Liong. Sekali bacok, ular itu putus kepalanya, dan Yo Leng In agaknya masih belum puas. Ia membacok tubuh ular itu berkali-kali hingga hancur menjadi berpotong-potong! Kemudian, setelah menerjang dan menangisi keponakannya sekali lagi, ia mengangkat pedangnya dan menusukkannya ke lehernya sendiri! Untunglah Hee Ban Kiat berada di dekatnya dan dengan cepat memegang pergelangan tangan Yo Toanio yang memegang pedang hingga sesaat kemudian pedang itu sudah berpindah tangan!

"Sabar, Toanio. Jangan putus asa. Han Liong belum mati," kata Hee Ban Kiat menghibur.

"Belum mati? Lihatlah... lihatlah! Mukanya sudah hitam semua. Siapa bisa memberi obat? Kan, bertahun-tahun kita mendidiknya dari anak-anak sampai dewasa. Harapan kita semua digantungkan kepadanya... tetapi... tetapi justru hari ini, saat ia harus mulai menunaikan kewajibannya... saat seperti ini... ia... ia berangkat mati...". Di manakah keadilan Thian (Tuhan)?" Tiba-tiba, seolah menjawab keluhan nyonya yang bersedih hati itu, terdengar desis keras di dekat mereka. Mereka terkejut dan menengok ke arah suara itu. Alangkah terperanjat dan marahnya mereka ketika melihat seekor ular lain menggeleser-geleser mendekati tubuh Han Liong! Ular itu sangat hitamnya, dengan belang-belang kuning emas pada kepala dan ekornya. Kelihatannya ganas benar dan beracun pula!

"Kau... binatang!! Siluman!! Engkau mau mengganggu anakku juga???" Yo Leng In dalam kemarahannya menyambar pedang yang sudah diletakkan di tanah oleh Hee Ban Kiat, lalu melompat ke arah ular hitam itu. Heran sekali, ular itu berhenti dan menanti serangan Yo Toanio dengan berdiri di atas ekornya, seperti ular senduk, tetapi lebih tinggi lagi! Kedua matanya mencorong dan lidahnya yang merah menjilat-jilat. Yo Leng In mengayunkan pedangnya memancung ke arah kepala ular itu, tetapi kenyataannya ular itu bukan main gesitnya dan dapat mengelak.

Yo Leng In makin marah dan dengan napas sesak ia memancung berulang-ulang, tetapi sekali pun serangannya tak mengenai sasaran. Bie Kong Hosiang berseru keras dan setelah mencabut goloknya, ia membantu Yo Toanio untuk membinasakan ular itu. Sungguh aneh, bacokan-bacokan Bie Kong Hosiang yang tak mudah dielakkan oleh seorang ahli silat ternyata dapat dihindarkan oleh ular itu, sehingga tak lama kemudian Hong In, Pauw Kim Kong, dan Hee Ban Kiat terpaksa turun tangan mengeroyok ular kecil itu! Karena dikeroyok lima orang ahli silat yang hebat itu, ular itu sudah dapat dipastikan nasibnya. Dapat dibayangkan bahwa sebentar lagi ia tentu akan hancur berpotong-potong, kalau tidak, hancur sama sekali! Tetapi, tiba-tiba terdengar deruan angin dan disusul suara yang angker, "Siancai, siancai Cuwi yang terhormat, hentikan segera serangan itu!" Suara itu sangat berpengaruh dan kelima orang itu segera melompat mundur, sedangkan ular itu berlenggak-lenggok, rupanya sangat kelelahan membela diri, mengelak ke sana kemari di antara hujan senjata tadi! Suara yang berpengaruh itu disusul dengan munculnya seorang tua berjubah putih dan bertubuh kurus tinggi. Wajahnya kelihatan alim sekali, tetapi sepasang matanya yang lembut mengeluarkan cahaya tajam berkilauan. Tampaknya ia berjalan perlahan saja dengan tenangnya, tetapi tiba-tiba ia telah berada di depan mereka sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment