Chapter 08
"Cuwi yang terhormat, maafkan saya datang mengganggu," katanya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menghampiri tubuh Han Liong yang masih terbaring tak bergerak, diikuti oleh kelima orang itu dengan waswas dan khawatir.
Setelah dekat dengan tubuh Han Liong, ia berjongkok lalu tiba-tiba memberi isyarat agar semua orang mundur. Sepasang matanya memandang tajam ke arah ular hitam tadi. Yo Toanio dan kawan-kawannya menoleh dan dengan hati berdebar-debar mereka melihat ular itu bergerak cepat menghampiri tubuh Han Liong.
Tiba-tiba ular hitam itu melihat atau mencium bau darah ular putih yang tubuhnya telah hancur. Ia berdiri di atas ekornya, mendesis-desis mengeluarkan lidah dan ajaibnya, dari kedua matanya yang merah menetes keluar dua butir air mata. Sikapnya menjadi makin galak, kepalanya digerakkan ke kanan dan ke kiri seolah-olah mencari orang yang membunuh ular putih itu. Ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata orang tua yang masih berjongkok di dekat tubuh Han Liong, tiba-tiba ia bergerak mundur lalu membalikkan tubuh hendak pergi. Tiba-tiba orang tua itu cepat mengulurkan kedua tangannya dan mengangkat tubuh Han Liong. Dengan sekali lompat, ia telah berada di depan ular hitam, mencegat dan berjongkok pula sambil memondong tubuh Han Liong. Ular itu segera membalikkan tubuh lagi, tetapi orang tua itu segera mengejar dan melompatinya lalu menghadang di depannya.
Setelah hal ini terjadi berkali-kali, ular hitam itu rupanya menjadi marah dan berdiri di atas ekornya sambil menjulurkan lidahnya yang merah. Desisnya keras dan tajam menyakitkan telinga. Kemudian setelah menurunkan kepalanya ke bawah untuk mengumpulkan tenaga, ular itu melompat, meluncur bagaikan anak panah terlepas dari busurnya menuju ke arah leher orang tua itu.
Yang diserang tenang saja dan memegang tangan kanan Han Liong, lalu menggunakan tangan anak muda itu untuk menangkis, dengan gerakan yang sama persis dengan gerakan anak muda itu ketika menangkis serangan ular putih tadi. Yo Toanio yang dari tadi terheran-heran dan tidak mengerti, kini sangat terkejut melihat betapa ular hitam itu menggigit jari tangan kanan Han Liong dan menempel di situ tidak mau melepaskannya! Yo Toanio tidak dapat menahan gelora kemarahan hatinya.
"Siluman tua, apa yang kau lakukan?" Dengan penuh kebencian ia memungut pedang yang diletakkan di atas tanah lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga.
Ketika itu orang tua yang aneh itu tengah menggunakan tangan kirinya memijit-mijit ubun-ubun Han Liong dan tangan kanannya memegang leher ular hitam. Agaknya ia sama sekali tidak peduli akan datangnya pedang yang melayang ke arah dadanya! Yo Toanio dengan jelas sekali melihat betapa pedang itu tepat menancap di dada orang tua itu, tetapi ajaib, orang tua itu seolah-olah tidak merasa apa-apa, dan melanjutkan pekerjaannya memijit-mijit ubun-ubun Han Liong dan mencekik leher ular! Sejenak kemudian ia berdiri dan ular hitam itu malah dipegangnya, karena itu dengan mudah saja ia mencabut gigitan ular itu dari jari Han Liong. Baru sekarang ia memandang mereka berlima itu dengan sebuah senyum manis tersungging di bibirnya.
"Siancai, siancai! Berkat kemurahan Thian Yang Agung, cucuku Han Liong tertolong jiwanya." Kemudian ia memandang ular hitam yang di tangannya.
"Maafkan saya, Kim-Ouw-Coa (ular emas hitam), terpaksa saya melakukan dosa besar. Engkau telah menolong jiwa orang, tetapi kau sendiri harus dibalas dengan kematian." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Alangkah kejamnya, tetapi apa boleh buat, jiwa cucuku lebih penting daripada jiwamu. Nah, mengalahlah kali ini, Ouw-Coa. Biarlah di lain penjelmaan saya balas budimu dan menebus dosa!"
Kemudian dengan perlahan ia mencabut pedang yang masih menancap di dadanya dan sekali pancung saja maka putuslah leher ular hitam itu! Yo Toanio dengan kawan-kawannya terheran-heran melihat kelakuan orang tua itu, lebih-lebih ketika mereka melihat bahwa bekas tusukan pedang di dadanya ternyata tidak mengeluarkan darah, seolah-olah dadanya itu belum tertusuk pedang. Mereka memandang ke arah tubuh Han Liong, dan alangkah girang hati mereka melihat Han Liong bergerak-gerak perlahan-lahan, lalu bangun dan menggosok-gosok matanya seakan-akan baru bangun tidur! Segera mereka berebut menghampiri Han Liong dan serentak bagaikan mendapat komando, mereka berlima menjatuhkan diri berlutut di depan orang tua itu.
"Ah, cuwi, jangan lakukan peradatan tak berarti ini. Silakan bangun, saya tak layak menerima kehormatan ini," kata-kata ini diucapkan dengan suara demikian halus dan sopan oleh orang tua itu, hingga mereka segera berdiri dan mengangkat tangan memberi hormat!
"Maafkan kami yang buta tak mengenal orang pandai," kata Pauw Kim Kong mewakili kawan-kawannya bicara,
"Dan maafkanlah perbuatan Yo Toanio tadi yang dilakukan terdorong karena kebingungan hatinya melihat keadaan keponakannya. Mohon tanya siapakah toheng yang mulia?"
"Ah, saya sendiri sudah hampir lupa akan nama saya. Dan lagi, apakah artinya nama? Diberi tahu juga, cuwi takkan mengenalnya. Rasanya sudah cukup bila saya katakan bahwa saya adalah orang yang mengasingkan diri dan menerima berkah dari Kam Hong Siansu. Kedatangan saya inipun bukannya bermaksud untuk mencampuri urusan cuwi, tetapi tidak lain karena menerima perintah dari Siansu untuk membawa cucuku ini. Ketahuilah cuwi, bahwa Han Liong berjodoh untuk berjumpa dengan Kam Hong Siansu. Adapun kedua ular ini, bukannya kebetulan saja mereka datang menggigit Han Liong. Agaknya sudah kehendak Thian bahwa anak ini menerima karunia yang luar biasa. Ketahuilah, racun ular putih yang penuh dengan hawa Yang dapat mematikan seratus orang dengan bisanya. Tidak ada obat di dunia ini yang dapat menyembuhkan pengaruh bisanya yang hebat itu. Sebaliknya, ular hitam inipun penuh dengan racun yang mengandung sari hawa Im, maka apabila ia menggigit orang yang menjadi korban gigitan ular putih, racunnya menjadi saling tolak dan saling memunahkan. Bahkan kedua racun yang mengandung hawa Yang dan Im itu kalau bercampur di dalam tubuh menjadi obat yang mempunyai daya luar biasa, memperkuat tubuh dan memperbesar daya tan tian. Dapat cuwi bayangkan betapa beruntungnya Han Liong karena tergigit oleh kedua ular ini."
Tak perlu dikatakan betapa senangnya hati keempat guru itu dan Yo Toanio mendengar keterangan ini, dan pula saat itu Han Liong sudah sadar benar. Segera Yo Toanio memerintahkan keponakannya untuk mengucapkan terima kasih. Han Liong segera berlutut.
"Nah, cuwi, kini perkenankanlah saya membawa Han Liong kepada Siansu. Bangkai kedua ular ini saya bawa karena merupakan obat untuk anak ini. Musim Chun tahun depan cuwi boleh menanti di sini untuk menyambut Han Liong kembali." Dengan tenang ia memungut dua bangkai ular itu dan memegang lengan Han Liong. Yo Toanio penasaran.
"Maaf, suhu. Bukannya saya tidak percaya padamu, tetapi Han Liong adalah keponakanku yang kudidik semenjak kecil. Maka perkenankanlah saya mengetahui nama suhu dan ke mana suhu akan membawa Han Liong agar hati saya menjadi tenteram."
"Ha, ha! Memang wanita selalu ingin tahu segala hal! Nah, ketahuilah, aku adalah ayah iparmu Si Cin Hai, jadi Han Liong ini adalah cucuku sendiri. Ke mana aku hendak bawa anak ini, tak seorangpun boleh tahu. Pendeknya, ke tempat Kam Hong Siansu. Nah, selamat tinggal!"
Sebelum mereka dapat berkata sesuatu, orang tua itu segera menarik lengan Han Liong dan membawa pemuda itu lompat ke jurang di mana batu-batu besar tadi berjatuhan! Yo Toanio hendak mengejar, tetapi dicegah oleh Pauw Kim Kong.
"Jangan, Toanio. Kulihat ia bukan orang sembarangan. Dan lagi, bukankah ayah Si Enghiong itu Menteri Si Kim Pauw yang dulu dikabarkan lenyap setelah bertapa di gunung ini?" Yo Toanio mulai sadar,
"Si Kim Pauw! Betul, betul dia. Biarpun aku belum pernah bertemu dengannya, tetapi wajahnya serupa benar dengan Si Enghiong. Ya Tuhan, syukur kalau begitu. Han Liong berada di tangan kakeknya sendiri dan pasti sekali Kam Hong Siansu adalah seorang luar biasa dan pandai!" Semua menyatakan kegirangan mereka karena kenyataan itu dan Hee Ban Kiat berkata.
"Kalau bukan Yo Toanio sudah yakin bahwa orang itu adalah kakek Han Liong sendiri, aku masih saja merasa khawatir, karena orang tua itu seperti bukan manusia. Kusangka tadi ia siluman gunung ini."
"Jangan gegabah, Hee Koanjin," tegur Hong In.
"Orang tua itu sudah tinggi sekali ilmu batinnya. Tidakkah kau lihat betapa tadi ia menerima tusukan pedang yang dilemparkan Yo Toanio? Ia dapat mematikan rasa, dan ilmunya yang sempurna telah dapat menahan jalan darahnya hingga tusukan pedang itu sama sekali tidak dirasakannya dan tidak dapat melukainya. Bagi kita yang masih suka berada di tengah-tengah kekotoran dunia ini, jangan harap akan mencapai tingkat setinggi itu."
Kemudian mereka bermufakat untuk berkumpul kembali pada musim Chun tahun depan seperti yang telah dijanjikan oleh Si Kim Pauw itu. Setelah itu, mereka berpisah dan kembali ke tempat masing-masing. Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Si Han Liong yang dibawa oleh kakeknya.
Ketika ia dibawa oleh kakeknya melompat ke dalam jurang, diam-diam hatinya cemas karena kakinya menginjak tempat kosong dan mereka berdua meluncur ke bawah dengan amat cepatnya! Ketika memandang ke bawah, terpaksa Han Liong menutup matanya, karena jurang itu seakan-akan tak berdasar karena dalamnya! Tiba-tiba kakeknya memperkuat pegangannya pada pergelangan lengannya dan berbisik, "Pegang dahan pohon di bawah itu!" Han Liong waspada, ia menggunakan ilmunya meringankan tubuh dengan kegesitannya. Pohon di bawah itu seperti melayang naik menuju dirinya, padahal tubuhnya sendirilah yang sedang melayang turun dengan cepatnya.