Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 14

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 14

"Bolehkah aku bertanya, ke manakah Lihiap kini hendak pergi?" tanya Lo Sam lagi.

"Aku hendak pergi ke Hong-lung-cian."

"Ke Hong-lung-cian? Kebetulan sekali, Lihiap, kami berdua juga sedang menuju ke sana ketika dicegat oleh para bajak tadi," kata Lo Sam.

"Kalau Lihiap sudi, silakan ikut dengan perahu kami, bersama-sama pergi ke Hong-lung-cian." Han Liong menawarkan. Lie Hong Ing tersenyum dan menyatakan terima kasihnya. Han Liong yang belum berpengalaman itu merasa malu-malu dan membisu saja selama perjalanan. Namun, Lie Hong Ing adalah seorang gadis kota yang terpelajar, sehingga tanpa ragu-ragu ia mengajaknya bercakap-cakap, dan lama-kelamaan pemuda itu pun kehilangan rasa malunya. Ternyata Hong Ing, selain pandai ilmu silat, juga berwawasan luas tentang ilmu sastra.

Gadis ini mengira bahwa Han Liong hanyalah seorang sastrawan yang hanya mengenal sedikit ilmu silat, maka pembicaraannya kebanyakan mengenai ilmu kesusastraan, dan mungkin Hong Ing hendak membanggakan kesusastraannya. Karena perahu itu tidak seberapa besar, maka Han Liong mempersilakan Hong Ing menempati satu-satunya tempat tidur di dalam perahu itu yang hanya terbuat dari jerami yang dibungkus kain, dan ia sendiri duduk di luar kamar perahu, mengobrol dengan Lo Sam sambil membantu mendayung. Malam itu berlalu tanpa kejadian apa pun. Hong Ing agaknya sangat lelah, barangkali setelah pertempuran itu, karena ia tidur pulas dan nyenyak sekali sampai keesokan harinya. Setelah matahari tinggi, mereka memasuki kolong jembatan di pintu kota Hong-lung-cian. Ketika mereka sampai di jembatan kedua, Lie Hong Ing pun menyatakan terima kasihnya lalu turun dari perahu.

"Toako, selamat berpisah sampai berjumpa lagi," kata gadis itu sambil menunduk hormat. Tiba-tiba saja ia menggunakan sebutan yang lebih akrab, yakni "toako" atau "kakak".

"Lihiap telah banyak memberi petunjuk kepada diriku yang bodoh ini, aku ucapkan terima kasih banyak pula," jawab Han Liong. Setelah gadis itu pergi, Lo Sam mengomel kepada Han Liong,

"Ah, Kongcu, Lihiap memanggilmu toako, kenapa kau masih memanggilnya Lihiap?"

"Lalu bagaimana, Lo Sam?"

"Seharusnya kau memanggilnya 'moi-moi' atau 'siauw-moi'..." Han Liong diam saja, tapi mukanya terasa panas karena ia malu jika harus menyebut demikian.

Atas petunjuk Lo Sam yang telah beberapa kali datang ke kota itu dan mengenal semua jalannya, Han Liong mendapat kamar di rumah penginapan Citseng. Kemudian, setelah menambah uang satu tail perak, namun ditolak oleh Lo Sam. Kakek nelayan itu kembali ke kampungnya, dan kebetulan ada seseorang yang hendak ke Lam-ciu sehingga ia mendapat penumpang lagi. Sepeninggal Lo Sam, Han Liong terkenang akan Hong Ing yang amat menarik hatinya itu. Ia kagum mengenangkan kecerdikan, pengertian, dan kepandaian silat gadis itu. "Begitu muda, namun pengalamannya sudah demikian luas," pikirnya. Ia baru saja turun gunung, lalu mendapat kawan seperjalanan yang menarik seperti Lo Sam yang peramah dan Hong Ing yang pandai itu. Betapa gembira hatinya selama dalam perjalanan, tetapi kini mereka harus berpisah.

Dan tinggallah Han Liong sendirian di kota yang masih asing baginya. Kini ia merasa sangat kesepian. Kemudian, setelah makan siang, ia keluar dari penginapan, berjalan-jalan melihat-lihat kota sembari memasang telinga, ingin tahu di mana gerangan tempat tinggal musuh besarnya, yaitu "Tiat-kak-liong" Lie Ban si "Naga Tanduk Besi". Namun, alangkah herannya ketika ternyata tidak seorang pun di kota itu yang ditanyainya mengenal "Tiat-kak-liong" Lie Ban. Atas petunjuk beberapa orang yang ditanyainya, ia mendatangi beberapa ketua cabang perguruan dan guru silat di kota itu untuk mencari keterangan. Tetapi para jagoan di kota ini pun tidak mengenal nama Lie Ban si "Naga Tanduk Besi". Salah seorang guru silat yang berperawakan tinggi besar, namun sombong, dengan angkuh menjawab pertanyaannya sambil tertawa.

"Naga Tanduk Besi"? Ah, anak muda, barangkali kau salah dengar. Apakah kau mencarinya hendak belajar silat?" Han Liong mengangguk, menyatakan "ya".

"Kalau begitu, barangkali yang kau cari itu bukan 'Tiat-kak-liong', melainkan 'Tiat-thou-liong' si 'Naga Kepala Besi'."

"'Tiat-thou-liong'? Siapakah dia dan di mana tempat tinggalnya?" Han Liong bertanya penuh harap.

"Ha, ha, ha! Kalau kau berguru kepadanya, maka kau tidak akan kecewa, Kongcu." Tiba-tiba guru silat itu berbicara sopan dan ramah.

"Ongkos belajarnya pun tidak terlalu mahal, singkatnya cukup murah kalau dibandingkan dengan pelajaran ilmu silat tinggi yang akan kau terima." Meskipun tidak tertarik akan percakapan ini, Han Liong terpaksa menunjukkan ekspresi tertarik.

"Di mana tempat tinggalnya?" tanyanya lagi.

"Lihat ini!" Tiba-tiba guru silat itu berkata sambil memungut dua potong bata merah, lalu memukulkan kedua bata itu ke atas kepalanya! Terdengar suara "prok! prak!" Batu bata itu pecah, hancur menjadi beberapa potong kecil. "Nah, lihatlah kekuatan kepalaku. Akulah yang dipanggil orang 'Naga Kepala Besi'. Jadi, yang kau cari untuk kau jadikan gurumu tiada lain adalah aku sendiri!" Han Liong merasa kecewa dan sangat mendongkol.

"O, jadi kau sendiri yang kauwsu itu? Baik, aku mau menjadi muridmu dan berapa pun bayaran pelajarannya akan kubayar, tetapi aku harus mencoba sendiri kekuatan kepalamu."

"Baik, baik. Silakan!" Han Liong memungut sepotong bata kecil, pecahan dari bata tadi.

"Aku hanya ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa kuatnya kepalamu. Aku akan menggunakan bata kecil ini untuk melempar kepalamu," katanya. Si "Naga Kepala Besi" tertawa terbahak-bahak karena melihat lengan Han Liong yang halus kulitnya bagaikan lengan wanita, membuatnya geli, "Mengapa pemuda itu demikian bodoh untuk mencoba kepalaku dengan sepotong bata kecil? Bukankah tadi dua buah bata besar menjadi hancur ketika beradu dengan kepalaku? Berapa kekuatan bata sekecil itu?" Ia segera memasang kepalanya ke arah Han Liong dan menantang,

"Nah, lemparlah bata itu sekuat tenagamu!" Karena jemu dan mendongkol, Han Liong menjepit bata itu di antara jari-jari tangannya, lalu menggunakan telunjuknya untuk menyentil bata itu ke arah kepala "Naga Kepala Besi" itu. Sengaja pemuda itu tidak menggunakan semua tenaga lweekangnya, karena maksudnya hanya memberi sekadar pelajaran untuk kesombongannya. Bata kecil itu melesat dan "pletak!" menghantam si "Kepala Besi". Sungguh aneh, bata itu tidak pecah, tetapi sebaliknya, si "Naga Kepala Besi" bagaikan menerima pukulan palu baja yang keras. Ia berteriak,

"Aduh!" Kedua tangannya memegang kepalanya dan terhuyung-huyung, akhirnya jatuh di atas sebuah kursi sambil meringis-ringis. Ia merasa kepalanya sakit sekali sehingga tidak tertahankan, kedua matanya mengeluarkan air mata. Ia memejamkan mata menahan sakit.

Untungnya, rasa sakit itu hanya sebentar, dan ketika ia menggunakan jarinya meraba-raba, ternyata di batok kepalanya tumbuh tanduk, alias bengkak. Ia sangat heran dan membuka matanya, tetapi keheranannya bertambah ketika dilihatnya bahwa pemuda itu sudah tidak berada di hadapannya lagi. Diam-diam ia maklum bahwa ia baru berhadapan dengan seorang ahli lweekang yang tinggi ilmu silatnya. Maka, ia berjanji dalam hati untuk tidak bersikap sombong di lain kali. Dengan hati kecewa, Han Liong berjalan ke sana kemari di kota Hong-lung-cian. Ia merasa putus asa. Ke mana lagi ia harus mencari musuh besarnya itu? Kakinya membawanya ke sebuah tempat yang ramai, sebuah pasar kecil tempat banyak orang berdagang barang-barang yang datang dari luar kota. Secara iseng ia masuk ke situ dan berdesak-desakan dengan banyak orang.

Tiba-tiba ia merasa kantongnya diraba-raba seseorang yang tergantung di pinggangnya. Cepat sekali gerakan tangan itu hingga tahu-tahu kantongnya telah terlepas dari ikatannya. Tetapi tangan Han Liong lebih cepat lagi. Pencopet licik itu, tanpa disadarinya, merasa pergelangan tangannya yang memegang kantong tadi telah dipegang oleh tangan korbannya. Ia berusaha melepaskan pegangannya, tetapi sia-sia. Bahkan ketika ia mengerahkan tenaganya, ia merasa pergelangan tangannya begitu sakit seakan-akan hendak patah. Dengan mata merah dan muka kebingungan, ia menurut saja ketika Han Liong menariknya ke tempat yang agak sunyi. Mereka berdua berjalan seakan-akan dua sahabat karib saling bergandengan tangan. Setelah tiba di sebuah gang sepi, Han Liong melepaskan cekalannya. Orang itu mengembalikan kantong yang dicopetnya itu sambil menunduk hormat.

"Kongcu, maafkan siauwte yang telah berlaku tidak sepatutnya kepadamu," katanya. Han Liong melihat orang itu masih muda, kira-kira berusia dua puluh lima tahun. Tubuhnya kecil, tetapi tampak kuat, dan dari gerak-geriknya dapat diketahui bahwa ia mengerti ilmu silat.

"Tidak apa," jawabnya.

"Tetapi barangkali kau bisa menolongku," kata Han Liong. Orang itu memandang heran.

"Kongcu, aku Tan Sam, dijuluki orang 'Si Copet Tangan Seribu'. Belum pernah tanganku gagal, tetapi kali ini Kongcu telah membuatku takluk benar-benar, karena tidak sembarang orang dapat memegang lenganku tanpa aku berdaya sama sekali. Aku orang miskin dan tentang kepandaian, Kongcu jauh lebih tinggi dariku. Maka, pertolongan apakah yang dapat kuberikan kepada Kongcu?"

"Aku tidak menginginkan pertolongan tenaga maupun uang," kata Han Liong.

"Hanya aku membutuhkan keterangan tentang seseorang di kota ini."

"Oh, kalau soal itu saja, jangan Kongcu khawatir, karena tidak ada seorang jua pun di kota ini yang tidak kukenal, kecuali jika ia orang luar kota."

"Nah, kalau begitu, apakah kau mengenal seseorang bernama Lie Ban yang disebut orang si 'Naga Tanduk Besi'?" Tan Sam mengerutkan dahinya, memikir-mikir.

"'Lie Ban Naga Tanduk Besi'? Sungguh heran, rasanya tidak ada orang yang bernama itu di sini, Kongcu." Han Liong kecewa, tetapi masih mencoba menerangkan.

"Ia belum lama ini pindah dengan keluarganya dari Lam-ciu."

"Dari Lam-ciu, katamu, Kongcu? Ada seseorang bermarga Lie yang baru pindah dari Lam-ciu, tetapi namanya adalah Lie Wan-gwa. Tetapi aku tidak tahu apakah hartawan itu bernama Lie Ban. Lagipula, masakan seorang hartawan mempunyai nama julukan seperti seorang ahli silat demikian? Tetapi, nanti dulu! Terus terang kukatakan bahwa aku pernah mencoba memasuki gedungnya, tetapi gagal. Aku mendapat genteng yang dilemparkannya padaku yang menyebabkan aku hampir saja dapat ditawannya dan...!"

"Dan... bagaimana maksudmu?" Han Liong tertarik.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment