Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 20

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 20

"Tapi... Susiok," kata Bwee Hwa yang sejak tadi diam saja. "Penculik itu adalah Ban Hok si Harimau Hitam. Ilmunya sangat tinggi, sedangkan Supek sendiri terluka olehnya dalam pertempuran!" Dengan kata lain, Bwee Hwa sebenarnya merasa sangsi apakah pamannya yang muda itu akan dapat melawan Ban Hok.

"Dan lagi, uang tebusannya sangat banyak..."

"Jadi kalian ini pergi mencari Bhok Suheng untuk meminta diusahakan uang tebusan?" Kedua nona itu mengangguk.

"Apakah Bhok Suheng itu orang kaya dan banyak uang?" Dua murid keponakannya itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Lalu, dari mana Suhu kalian bisa memperoleh uang itu?" tanya Han Liong pula.

"Maksud Teecu hanya meminta nasihat dan pikiran Suhu, karena siapa lagi yang harus kami tangisi dan siapa lagi yang dapat menolong Supek dan putranya," jawab Bwee Lan.

"Nah, kalau begitu sama saja halnya. Suhumu tidak punya uang, sedangkan aku sendiri, terus terang saja juga tidak punya uang sedemikian banyak. Namun, mungkin dapat kuusahakan untuk menolong putra Suheng Lie Kiam itu. Dan jika kita harus mencari Bhok Suheng dulu, dikhawatirkan kita akan terlambat untuk menolong nyawa anak itu."

Bwee Lan dan adiknya tidak dapat membantah lagi, maka mereka segera berangkat memacu kudanya. Di sepanjang jalan, ternyata Bwee Hwa yang nakal dan suka bicara itu cepat sekali akrab dengan Hong Ing yang tidak kalah cerewetnya. Kedua kakak beradik itu sedikit pun tidak menyangka bahwa Hong Ing adalah seorang wanita, karena Han Liong memperkenalkannya sebagai adik laki-lakinya. Namun, diam-diam Bwee Lan agak jemu melihat Hong Ing yang dianggapnya sebagai lelaki yang cerewet. Ia juga menyesalkan mengapa Bwee Hwa demikian rapat menyejajarkan kudanya sambil bicara dengan gembira diselingi senda gurau. Sebaliknya, melihat pamannya, ia merasa segan karena pemuda itu terlampau pendiam.

"Andai saja Han Liong itu bukan pamanku!" pikir Bwee Lan. Terhadap seorang paman guru, tentu saja ia tidak berani memperlakukannya sebagai seorang kawan, karena dalam tingkatan mereka, Han Liong termasuk "golongan tua". Ketika mereka tiba di kaki Bukit Lui-san, hari telah mulai gelap. Bwee Lan mengajak pamannya berhenti di depan sebuah rumah sederhana di Kampung Lim-cun di dekat situ, tempat tinggal pamannya yang sedang menderita luka. Kedatangan mereka disambut oleh seorang wanita yang matanya masih merah karena terlalu banyak menangis. Ketika diperkenalkan, Han Liong tahu bahwa wanita itu adalah istri kakaknya, maka ia segera memberi hormat. Mereka segera diantarkan memasuki kamar Lie Kiam yang tampak berbaring di atas tempat tidur dengan wajah pucat.

"Suheng, Sute datang terlambat sehingga Suheng dilukai orang." Han Liong memberi hormat sambil memandang laki-laki setengah tua yang masih tampak gagah itu. Dengan agak payah Lie Kiam bangkit duduk, lalu memandang wajah anak muda itu dengan heran.

"Aku telah mendengar dari Bhok Suheng bahwa Suhu telah mempunyai seorang murid baru, tetapi tidak kusangka bahwa ia masih semuda ini," katanya perlahan.

"Siokhu dipukul orang dan putra Siokhu diculik, sebenarnya ada perkara apa?" tiba-tiba Hong Ing yang merasa kasihan melihat keadaan Lie Kiam bertanya. Han Liong mengerling ke arah adiknya, tetapi Lie Kiam memandangnya lalu bertanya.

"Siapakah anak ini, Sute?"

"Ia adalah adikku, Suheng." Lie Kiam mengangguk-angguk, kemudian hendak mulai bercerita. Namun, Han Liong cepat berkata kepada Hong Ing.

"Adik Ing, kau lihat Suheng perlu beristirahat. Cerita itu dapat ditunda nanti. Sekarang yang terpenting adalah menolong putranya." Mendengar orang menyebut putranya, Lie Kiam merasa khawatir dan sedih, hingga tiba-tiba ia batuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Han Liong segera menghampiri.

"Ah, Suheng, kau terluka di dalam," katanya. Lalu tanpa meminta izin lagi, ia membuka baju kakaknya dan memeriksa dadanya.

"Suheng, kau terpukul dan mendapat luka dalam yang berbahaya. Selain itu, jalan darah di bawah tulang iga kanan telah tertotok. Maaf, Suheng, biarlah Sute mencoba memulihkan jalan darah itu." Ia segera menggunakan kedua jari telunjuknya untuk mengurut dada di bawah iga, lalu menepuk punggung kakaknya. Lie Kiam yang terheran-heran kini merasa sakit di dadanya agak berkurang.

"Nah, ini dua butir obat, harap Suheng makan dua kali, malam ini dan besok pagi." Ia menyerahkan dua butir pil pemberian gurunya yang paham ilmu obat-obatan, yaitu Pauw Kim Kong.

"Eh, Sute, dari mana kau peroleh kepandaian mengobati ini?" tanya Lie Kiam.

"Dari gurunya yang bernama Pauw Kim Kong!" Hong Ing menyahut. Lie Kiam terheran mendengar ini. Bukankah adiknya itu murid gurunya sendiri? Namun, Han Liong segera berkata.

"Biarlah besok saja kita bicara, Suheng. Riwayat adikmu ini panjang untuk diceritakan sekaligus. Yang perlu sekarang adalah urusan anakmu. Biarlah kedua nona Bwee ini mengantarkan aku merebutnya kembali dari tangan Ban Hok."

"Jangan, Sute, ia sangat berbahaya. Kau akan celaka." Han Liong tersenyum.

"Jangan khawatir, Suheng, kurasa ada jalan untuk mengalahkannya. Pula, biarpun aku mendapat celaka, aku tidak akan menyesal karena telah memenuhi kewajiban sebagai saudara seperguruan."

"Tapi adikmu ini lebih baik tinggal di sini saja dan biarlah Bwee Lan saja yang mengantarmu. Bwee Hwa juga jangan ikut," kata Lie Kiam pula. Han Liong mengerling ke arah Hong Ing yang tampak merengut, maka dengan tertawa ia menjawab.

"Biarlah adikku ikut, Suheng, karena ia pun dapat menjaga dirinya sendiri." Dengan terpaksa Lie Kiam melepaskan mereka pergi. Hanya Bwee Hwa saja yang dilarangnya pergi karena ia tahu tabiat anak itu dan khawatir akan keselamatannya. Beruntung bagi Han Liong dan dua kawannya, malam itu angkasa diterangi oleh ribuan bintang sehingga mereka dapat maju dengan cepat ke tempat kediaman Ban Hok si Harimau Hitam. Menurut penuturan Bwee Lan, penculik itu tinggal dalam sebuah kelenteng tua yang sudah tidak terpakai lagi. Ketika mereka sampai di depan kelenteng, Ban Hok telah terlihat berdiri di depan sambil bertolak pinggang. Tubuhnya tinggi besar dan kulitnya hitam, sehingga di tempat yang agak gelap itu hanya tampak putih mata dan giginya ketika ia menyeringai. Han Liong maju dan membungkuk memberi hormat, yang segera dibalas oleh Ban Hok.

"Apakah saya berhadapan dengan Ban Enghiong?" tanya Han Liong dengan sopan.

"Betul. Dan saudara ini suruhan Lie Kiam si Angin Ribut?"

"Memang saya mewakili Lie Kiam Suheng untuk menjumpaimu dan menjemput anaknya," jawab Han Liong.

"Ha, ha! Lie Kiam ternyata berpikiran luas juga. Baik, kau boleh mengambil anak itu, ia sehat dan selamat, tetapi lebih dulu serahkan uangnya padaku!" Matanya bergantian memandang tiga tamunya dengan rasa ingin tahu apakah mereka sudah membawa uang tebusan yang dimintanya.

"Perkara uang itu mudah, Ban Enghiong. Namun, cobalah kau sebutkan alasanmu menggunakan cara penculikan dan meminta tebusan ini. Karena caramu ini sungguh membuat aku kecewa. Tidak kusangka bahwa namamu yang besar itu tidak sesuai dengan perbuatanmu. Maka kuduga pasti ada sesuatu di balik perbuatanmu ini."

"Hm, kau masih muda tetapi pandai bicara. Kau tadi bilang bahwa Lie Kiam itu kakak seperguruanmu? Baik, dengarlah alasanku mengapa aku melakukan semua ini. Lima tahun yang lalu, ketika aku mencegat seorang hartawan yang lewat di daerahku dan merampok uangnya sebanyak sepuluh ribu tail perak, Lie Kiam telah turut campur dan membela hartawan itu! Kami bertempur dan Lie Kiam telah memukulku sehingga aku hampir mati. Nah, aku lalu belajar silat lagi dan sekarang aku menagih utang. Apakah ini perbuatan salah? Utang uang membayar uang, utang pukulan membalas pukulan, bukankah ini sudah adil namanya?"

"Hm, begitukah? Namun, mengapa kau masih menculik anaknya? Bukankah itu perbuatan rendah?" ujar Han Liong.

"Penculikan ini hanya untuk menagih uangku yang dulu. Lie Kiam telah merugikan aku sepuluh ribu tail, kini aku hanya meminta lima ribu, ini masih murah sekali. Sudahlah, jangan banyak cakap, segera bayar uang itu dan anak Lie Kiam akan kuserahkan padamu."

"Tuan Ban! Kau telah menggunakan kepandaianmu untuk menjatuhkan kakak seperguruanku dan menculik anaknya, maka bagaimana kalau sekarang aku menggunakan kepandaian pula untuk mengalahkanmu dan meminta kembali anaknya?"

"Boleh, boleh! Kalau ia masih tidak mau mengaku kalah dan ingin mengadu kepandaian, silakan! Kalau aku salah, biarlah aku bersumpah tidak akan mengganggunya lagi dan anaknya akan kukembalikan dengan selamat."

"Bagaimana kalau adik seperguruannya mewakilinya berhadapan denganmu dan mengadu tenaga?"

"Ha, ha! Sedangkan kakakmu saja tidak mampu melawanku, apalagi adiknya? Silakan, siapakah yang akan mewakilinya melawan aku?" tanyanya sombong.

"Aku sendiri."

"Kau?" Sepasang mata Ban Hok memandang Han Liong dengan tajam seakan-akan menaksir anak muda itu. Namun, Han Liong hanyalah seorang pemuda yang halus kulitnya serta halus pula gerak-gerik serta tutur sapanya, sehingga ia sangat menganggap enteng.

"Baik, datanglah besok pagi. Kita mengukur kepandaian di waktu terang hari di depan kelenteng ini."

"Baik, Tuan Ban, aku percaya bicaramu. Nah, sampai besok!" Walaupun Hong Ing dan Bwee Lan tidak setuju dengan perjanjian ini, Han Liong segera mengajak mereka pergi. Di tengah jalan, Han Liong menerangkan kepada mereka bahwa sebagai orang yang mengerti aturan, ia harus menerima permintaan Ban Hok untuk bertempur besok karena malam itu terlampau gelap untuk mengadu kepandaian secara jujur. Sesampainya di rumah Lie Kiam, ternyata kakaknya sedang tidur nyenyak.

"Setelah menelan sebutir pil, ia tampak agak lumayan dan dapat tidur nyenyak," kata istrinya kepada Han Liong dengan pandangan berterima kasih. Maka Han Liong lalu beristirahat pula dalam sebuah kamar yang telah disediakan. Hong Ing pun pergi tidur di kamar lain. Ia mendapat kamar sendiri karena ia terlebih dahulu memberikan alasan bahwa ia tidak bisa tidur sekamar dengan orang lain, walaupun dengan kakaknya sendiri. Keesokan harinya, Han Liong mengajak Hong Ing berangkat. Kedua Nona Bwee yang hendak ikut dilarang oleh Han Liong dengan alasan bahwa Ban Hok mungkin akan menganggap ia mengandalkan banyak orang untuk mengeroyok. Dengan cepat mereka tiba di kelenteng tua itu. Benar saja, Ban Hok telah menanti kedatangan mereka. Kini mereka dapat melihat orang bermarga Ban itu dengan lebih jelas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment