Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 23

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 23

"Si Enghiong, kau benar-benar pandai dan gagah. Aku mengaku kalah. Hanya saja, yang membuatku penasaran, mengapa kau yang menjadi sute dari Lie Kiam memiliki ilmu silat setinggi ini? Katakanlah, anak muda, siapa yang mengajarimu ilmu silat tadi? Siapakah gurumu selain guru Lie Kiam?"

"Ban lo-Enghiong, jangan terlalu memuji. Karena kau jujur, maka terus terang kukatakan bahwa selain suhuku Lie Kiam, aku masih mempunyai tiga orang guru lain. Namun, yang mengajariku ilmu silat yang kupakai tadi sehingga aku berhasil membuatmu mengalah adalah seorang guru lain yang tak dapat kusebutkan namanya, karena suhuku itu tidak suka namanya diperkenalkan kepada umum."

Ban Hok si Harimau Hitam mengangguk-anggukkan kepala.

"Pantas... pantas... Kau jauh lebih hebat daripada Lie Kiam, rupanya pelajaranmu begitu luas. Aku tidak usah merasa malu jatuh di tanganmu. Nah, sekarang kau boleh ambil anak itu dan antarkan kepada Lie Kiam. Katakan padanya bahwa melihat kau yang semuda ini tetapi sudah berkepandaian begitu tinggi, serta sikapmu yang sopan santun ini, aku akhiri saja urusan sampai di sini! Biarlah ini menjadi pelajaran bagiku bahwa di dunia ini tidak ada orang yang paling pandai. Pasti ada yang melebihi kepandaian seseorang."

Hong Ing mendengar ini lalu melompat berlari masuk ke kelenteng. Tak lama kemudian ia keluar lagi menuntun seorang anak kecil. Ternyata, walaupun bekas perampok tunggal, Ban Hok adalah seorang laki-laki jujur. Ia tidak menyusahkan anak itu, bahkan merawatnya baik-baik selama berada di tangannya sehingga anak itu tidak mengalami kesengsaraan apa pun.

Kemudian, setelah menghaturkan terima kasih, Han Liong menggendong anak itu dan bersama Hong Ing meninggalkan tempat tersebut dengan lari cepat. Ketika mereka sampai di rumah Lie Kiam, ternyata suhengnya telah hampir sembuh dan dapat turun dari pembaringan. Alangkah girang hati Lie Kiam dan istrinya melihat putra tunggal mereka pulang dengan selamat. Dengan ringkas Han Liong menceritakan pengalamannya tanpa menyebutkan jalannya pertempuran, tetapi Lie Kiam yang merasa tidak puas lalu bertanya kepada Hong Ing. Sebetulnya sejak tadi pun Hong Ing merasa tidak puas mendengar cerita Han Liong, tetapi ia tidak berani bicara karena kakaknya itu berkali-kali memberi tanda agar ia diam. Namun, kali ini karena Lie Kiam sendiri yang mengajukan pertanyaan tanpa sempat dicegah oleh Han Liong, Hong Ing segera buka suara.

Ia menceritakan dengan jelas betapa ia dikalahkan oleh Ban Hok dan betapa hanya dengan sebatang ranting pohon liu, Han Liong dapat mengalahkan Ban Hok dengan mudah! Ceritanya diucapkan dengan kata-kata menarik diikuti gerakan-gerakan meniru silat kedua belah pihak, penuh dengan pujian bagi Han Liong yang membuat pemuda itu menundukkan kepala dengan wajah kemerah-merahan. Karena kemarin tiada waktu untuk bicara panjang lebar, setelah mendengar cerita itu, Lie Kiam terheran-heran. Ia merasa mustahil bahwa suhunya telah berlaku berat sebelah dan memberikan kepandaian istimewa kepada sutenya itu saja. Maka ia meminta kepada sutenya agar menceritakan riwayatnya. Terpaksa Han Liong menuturkan riwayat pelajaran silatnya yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Lie Kiam.

Semenjak saat itu, Bwee Lan makin kagum melihat susioknya, dan bahkan Bwee Hwa yang tadinya masih ragu-ragu menjadi tunduk betul. Nona dari Shantung itu bahkan tanpa malu-malu meminta kepada susioknya untuk memberi mereka pelajaran satu-dua jurus ilmu silat guna memperdalam kepandaian mereka. Namun, Han Liong dengan halus menolaknya. Ternyata selain nakal dan galak, Bwee Hwa juga cerdik. Ia menggunakan Hong Ing sebagai perantara untuk mendesak Han Liong agar mau memberi pelajaran kepada mereka. Setelah Hong Ing turun tangan, sebagaimana biasa, Han Liong tak dapat melawan kehendak adiknya yang manja itu. Ia pun menurunkan ilmu silat yang diwarisinya dari suhunya, Hee Ban Kiat, sebanyak sepuluh jurus.

Meskipun hanya sepuluh jurus, kedua nona itu merasa girang sekali dan belajar dengan rajin serta bersemangat. Yang mereka pelajari adalah sepuluh jurus pilihan dari Kiauwna, yaitu gabungan dari Kim-na-hoat dari Siauw-lim-si dan Bu-tong-pai. Jika sepuluh jurus pukulan ini dipelajari dengan sempurna, kelihaiannya melebihi ratusan jurus ilmu silat cabang lain. Terlebih lagi, dalam pukulan paling lihai dari Siauw-lo-ong Hee Bin Kiat ini, Han Liong telah mengadakan pecahan dan variasi hingga sepuluh jurus ini dapat terpecah menjadi puluhan gerakan.

Setelah tinggal di rumah suhengnya selama setengah bulan, Han Liong dan Hong Ing berpamitan untuk meneruskan perantauan mereka. Lie Kiam yang merasa sangat sayang kepada sutenya itu tidak dapat menahan, ia hanya memberi pesan agar sutenya berlaku hati-hati dan jangan mudah mencari permusuhan.

"Sute," katanya kemudian, "kebetulan sekali aku mendapat undangan dari Siok Houw Sianseng di Kie-lok. Sianseng ini bukanlah sembarang orang, bahkan ia kawan seperjuangan almarhum ayahmu. Ia seorang sastrawan yang tubuhnya lemah tapi pikirannya kuat dan sangat pandai. Tulisannya yang tajam menyerang hebat pemerintah musuh dan membangkitkan semangat perjuangan rakyat sehingga ia menjadi musuh pemerintah. Besok lusa ia merayakan hari pernikahan putrinya. Maka, wakililah aku, Sute, sekalian agar kau bisa berkenalan dengan orang tua bijaksana itu. Selain itu, di sana tentu akan datang semua hohan dari kalangan kang-ouw sehingga kau dapat memperluas pengalamanmu."

Karena memang tidak mempunyai tujuan tertentu dalam perjalanannya merantau, Han Liong menerima perintah ini dengan gembira. Ia membawa surat dari Lie Kiam dan berangkat bersama Hong Ing yang masih tetap menyamar sebagai seorang pemuda tampan.

Karena sayangnya kepada mereka, Lie Kiam mengusahakan dua ekor kuda yang baik untuk sute dan adiknya ini. Jarak antara kota tempat tinggal Lie Kiam dan Kie-lok tidak jauh, hanya lebih kurang delapan puluh li, maka sepasang pemuda-pemudi itu tidak terlalu tergesa-gesa. Mereka membiarkan kuda mereka berjalan santai. Ketika melalui sebuah jalan gunung yang sempit, tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara kaki kuda yang berlari kencang. Han Liong dan Hong Ing menahan kuda mereka dan menanti di pinggir jalan. Kebetulan di dekat Hong Ing ada bunga mawar gunung yang sedang mekar harum, maka gadis itu tak dapat menahan hati untuk memetik bunga itu dan menancapkannya di lipatan pengikat rambutnya.

Suara kaki kuda dari belakang makin keras terdengar dan sebentar kemudian dua orang penunggang kuda melintas secepat kilat. Ternyata kedua penunggang kuda itu adalah dua orang perempuan muda yang berwajah hitam dan buruk. Yang menarik perhatian adalah sarung pedang dan hudtim atau kebutan yang terselip di punggung mereka. Han Liong dan Hong Ing mencium bau wangi yang ganjil ketika kedua wanita itu lewat. Tiba-tiba Hong Ing menjerit perlahan. Ternyata ketika mereka lewat cepat di dekatnya, salah seorang di antara mereka mengulurkan tangan dan sambil tertawa kecil menyambar bunga mawar yang tertancap di rambut Hong Ing! Hong Ing marah sekali dan segera menyentakkan kendali kudanya untuk mengejar.

"Sudahlah, Adik Ing, biarkan saja. Di sini masih banyak bunga, mari kupetikkan," cegah Han Liong yang tak ingin mencari onar karena ia maklum bahwa kedua wanita itu memiliki kepandaian tinggi. Namun Hong Ing tidak mau menurut.

"Orang itu telah menghinaku, kau suruh aku diam saja? Koko, kalau kau takut, bersembunyilah di sini, aku harus memberi tamparan kepada wanita setan itu!" Hong Ing mencambuk kudanya mengejar. Karena kudanya bagus dan ia pandai berkuda, sebentar saja ia dapat menyusul.

"He, perempuan busuk, berhenti dulu!" teriaknya marah. Dua orang perempuan di depannya menahan kuda mereka dan berpaling. Hong Ing terkejut melihat wajah mereka yang buruk menjijikkan. Agaknya mereka berdua menjadi korban penyakit kulit sehingga wajah mereka menjadi hitam serta cacat. Tapi sepasang mata mereka yang indah bersinar tajam ketika memandang Hong Ing dengan kagum.

"Siangkong, mengapa menahan kami?" tanya salah seorang di antara mereka yang lebih tua. Hong Ing melihat bunga mawar itu kini telah berada di rambut perempuan kedua, maka ia menunjuk sambil membelalakkan mata.

"Perempuan ini berlaku keji sekali! Kembalikan bungaku!" Kedua perempuan itu tertawa geli melihat sikap Hong Ing yang seperti anak kecil yang bunganya direbut.

"Bunga adalah lambang persahabatan dan rasa suka, mengapa kau tidak rela kembangmu kuminta?" perempuan itu berkata sambil tersenyum genit.

"Siapa sudi menjadi sahabatmu? Ayo kembalikan!" Hong Ing membentak marah.

"Sumoi, kembalikan saja, jangan membuat siangkong yang tampan ini menjadi marah," kata perempuan pertama. Karena kata-kata sucinya ini, perempuan itu mengambil bunga mawar dari kepalanya, menciumnya, lalu melemparkannya ke arah Hong Ing.

"Ini, terimalah tanda mata dariku, siangkong!" katanya sambil melirik genit.

"Cis, tidak tahu malu!" Hong Ing semakin marah dan menepis kembang itu dengan tangannya hingga berantakan di tanah. "Memang sudah kuduga kalian bukan orang baik!"

Sambil berkata begitu, Hong Ing mencabut siang-kiam (sepasang pedang) miliknya dan menyerang.

"Suci, biar kutangkap si tampan ini untuk teman seperjalanan!" kata perempuan yang lebih muda sambil tertawa genit. Ia mencabut kebutannya dan menangkis pedang Hong Ing. Hong Ing makin marah mendengar kata-kata itu dan menyerang dengan berbahaya. Melihat gerakan "pemuda" ini, lawannya tidak berani main-main lagi dan melayani dengan hati-hati, bahkan kini mencabut pedangnya dan membalas menyerang.

Bertempurlah Hong Ing dengan perempuan buruk itu dengan sengitnya. Ternyata lawan ini sangat lihai sehingga sebentar saja Hong Ing terdesak. Ia terpaksa melompat turun dari kuda lalu menyerang lagi. Perempuan itu pun melompat dari kudanya, sehingga kini mereka berkelahi di atas tanah dengan lebih seru. Selama bersama Han Liong, Hong Ing telah banyak mendapat petunjuk sehingga ilmu silatnya sekarang sudah jauh lebih hebat, bahkan ia sudah menguasai beberapa gerakan dari pelajaran yang didapat Han Liong dari gurunya, Kim-to Bie Kong Hosiang. Gerakan siang-kiam di tangan Hong Ing sangat hebat, terlebih ketika ia menggunakan tipu gerakan Ngohun-to atau Lima Harimau Mencegat di Pintu yang sudah diubah oleh Han Liong.

Pedang kiri merupakan penjaga yang tangguh sedangkan pedang kanan digunakan untuk menyerang. Namun, lawannya tidak kalah hebat, terutama gerakan kebutannya membuat Hong Ing bingung. Kebutan itu dapat digunakan untuk melilit pedangnya. Jika tenaga dalamnya tidak terlatih atas bimbingan Han Liong, pasti pedang di tangannya sudah terlepas sejak tadi. Sementara itu, kuda yang ditunggangi Hong Ing terkejut mendengar kebisingan pertempuran dan lari meringkik keras. Han Liong yang masih berada di atas kuda segera melayang ke punggung kuda Hong Ing dan menahan kendalinya.

"Bagus!" terdengar pujian dari suci lawan Hong Ing yang melihat gerakan ini. Ia maklum bahwa pemuda kedua ini berkepandaian jauh lebih tinggi, bahkan ia sadar bahwa ia dan adiknya takkan dapat melawan pemuda ini. Maka ia segera berseru kepada adiknya.

"Sumoi, mundurlah, ayo kita pergi. Lupakah kau akan pesan subo agar kita jangan mencari onar di jalan? Jika urusan kecil diperhatikan, urusan besar bisa gagal!"

Ia menggerakkan hudtim berbulu kuningnya di tengah-tengah antara pedang adiknya dan pedang Hong Ing. Ujung bulu kebutan yang lemas itu ternyata membawa tenaga besar yang mengeluarkan angin kuat, sehingga kedua orang yang sedang bertempur itu terhuyung mundur. Kemudian ia memberi hormat kepada Hong Ing dan Han Liong sambil tersenyum.

"Jiwi Enghiong, harap maafkan kami berdua."

Tiba-tiba dari kedua kepalan tangannya menyambar uap hitam yang kuat ke arah Han Liong dan Hong Ing. Han Liong terkejut dan maklum akan bahaya uap hitam itu, maka ia segera melompat ke depan melindungi Hong Ing. Ia menggerakkan tangan kirinya perlahan ke depan dan uap itu membentur balik, membuat perempuan buruk itu terhuyung ke belakang.

"Maaf, kami tidak mengenal Gunung Thai-san," kata perempuan itu sambil menatap tajam ke arah Han Liong yang hanya berdiri tersenyum. Kemudian ia menarik tangan adiknya, melompat ke atas kuda, dan segera memacunya pergi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment