Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 24

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 24

"Koko, kenapa kau tidak basmi saja dua siluman perempuan itu?" tanya Hong Ing gemas.

"Buat apa mencari permusuhan dengan setiap orang yang tak dikenal? Adik Ing, belajarlah bersabar. Kau lihat dua wanita tadi, mereka begitu berani. Kau anggap baikkah sikap berani mereka itu? Kurasa kau tidak ingin menjadi seperti mereka, bukan?" Hong Ing hanya melirik sambil merengut, lalu berkata manja.

"Kau mau menyamakanku dengan siluman-siluman buruk itu?"

"Ah, tentu saja tidak, Adikku. Kau cantik seperti dewi, sedangkan mereka buruk seperti iblis neraka, mana bisa disamakan? Hanya saja, kau harus ingat, ilmu silat mereka, terutama yang tua, sangat lihai."

"Memang lihai, memang lihai." Hong Ing mengangguk-angguk dengan sikap menurut dan sabar, karena sebenarnya semua kemarahan dan kegemasannya telah musnah mendengar pujian Han Liong yang menyebutnya cantik seperti dewi. Ia pun patuh dan tak membantah lagi ketika Han Liong mengajaknya melanjutkan perjalanan. Keesokan harinya, ketika matahari telah terbenam, Han Liong dan Hong Ing tiba di Kie-lok dan dengan mudah mereka dapat mencari rumah Siok Houw Sianseng yang cukup dikenal. Tuan rumah yang berusia sekitar lima puluh tahun itu sangat ramah serta halus budi bahasanya.

Ia menyambut mereka dengan gembira. Han Liong menyampaikan surat Lie Kiam dan segera mereka dipersilakan memasuki ruang tamu. Biarpun pesta baru akan diadakan keesokan harinya, namun sudah banyak orang berkumpul di ruang tamu. Mereka adalah tamu-tamu yang datang dari tempat jauh. Kurang lebih lima meja dikelilingi para tamu. Ada yang berpakaian seperti jago silat, tetapi ada juga yang terdiri dari kaum sastrawan. Tentu saja mereka memilih golongan masing-masing, sehingga rombongan tamu terbagi menjadi dua: golongan ahli silat dan golongan ahli sastra. Han Liong dan Hong Ing yang berpakaian seperti kaum sastrawan, ditambah lagi sikap dan bahasa mereka yang lemah lembut, segera dianggap sebagai ahli sastra dan dipersilakan duduk bersama kelompok kutu buku yang berkumpul di situ sambil mengobrol.

Ada yang membicarakan kitab-kitab kuno, ada pula yang membahas syair-syair ternama serta hikayat dan riwayat tanah air zaman dahulu. Ternyata lebih banyak ahli sastra daripada ahli silat yang berkumpul di situ. Ahli silat yang berkumpul hanya ada dua meja, terdiri dari dua belas orang, sedangkan kaum sastrawan mengelilingi tiga meja. Hong Ing segera tertarik oleh percakapan para ahli tulis itu karena ia sendiri menyukai buku dan kesusastraan. Han Liong diam-diam mengerling ke arah meja di seberang, tempat duduk orang-orang gagah yang sedang bercakap-cakap riuh rendah sambil minum arak sepuasnya. Tiba-tiba di meja sudut terdengar tawa meriah, bahkan ada beberapa orang yang bertepuk tangan.

"Memang sudah sepantasnya Bhok Lo-Enghiong membuka pertunjukan barang sepuluh jurus agar mata kami terbuka. Di ruangan ini selain Bhok Lo-Enghiong, siapa lagi yang patut menambah pengertian kita?" Demikian terdengar suara desakan. Seseorang yang bertubuh tinggi kurus, berusia sekitar empat puluh tahun, berdiri dari kursinya. Ia menjura kepada orang yang memujinya dengan sikap merendah, tetapi dadanya tampak membusung sehingga orang-orang tahu bahwa diam-diam ia merasa bangga.

"Cuwi," katanya, "di sini berkumpul orang-orang dari kalangan bun (sastra) yang halus dan sopan, mana aku berani memperlihatkan kekasaranku. Juga tuan rumah adalah seorang siucai yang terhormat, sekali-kali aku tak berani kurang ajar!" Lalu ia duduk kembali.

"Mana bisa begitu?" seorang tua bertubuh gagah perkasa berkata. "Bhok Enghiong hendak mengadakan pertunjukan silat, ini bukanlah mengganggu, bahkan membantu tuan rumah meramaikan dan menggembirakan pestanya. Siok Sianseng adalah seorang sastrawan patriot yang mengutamakan kegagahan, sehingga biarpun beliau bertubuh lemah, jiwanya termasuk orang gagah juga. Apa bedanya dengan kita? Kalau bun (kesusastraan) dan bu (kegagahan) tidak disatupadukan, mana mungkin perjuangan akan berhasil? Siok Sianseng, bukankah pendapatku ini benar?" tanyanya kepada Siok Houw Sianseng yang sedang menghampiri mereka karena tertarik oleh suara perdebatan itu. Siok Sianseng menjura dan berkata gembira.

"Kalau para Enghiong merasa gembira dan hendak mengadakan pertunjukan, sudah tentu hal itu amat menggembirakan dan siauwte sebelumnya menghaturkan banyak terima kasih!"

"Nah, apa kataku? Ayo, Bhok Enghiong, silakan kau buka pertunjukan lebih dahulu. Tidak mudah kami melihat menyambarnya Garuda Putih kalau tidak kebetulan berada di pesta Siok Sianseng!"

Mendengar orang bermarga Bhok itu disebut Garuda Putih, Han Liong segera memperhatikan. Jadi, orang tinggi kurus yang dipuji-puji itu adalah suheng-nya, Bhok Kian Eng si Garuda Putih? Ia melihat Bhok Kian Eng dengan sikap terpaksa berdiri dari kursi dan setelah mengangkat kedua tangannya ke kepala memberi hormat ke arah para tamu, ia melompat ke tengah ruangan yang lebar dan kosong itu. Di situ ia bersilat tangan kosong dan tubuhnya melompat ke sana kemari. Memang hebat kepandaian Garuda Putih ini. Ginkang-nya sudah mahir sekali sehingga ketika ia mempercepat gerakan-gerakannya, kedua kakinya seakan-akan tidak menginjak lantai! Tubuhnya tampak berlipat ganda seolah ada dua orang yang bersilat karena cepatnya gerak tubuhnya. Diam-diam Han Liong kagum.

Tak mengecewakan, Bhok Kian Eng ini memang murid dari Liok-tee Sin-mo Hong In si Iblis Daratan, karena ternyata ilmu meringankan tubuh yang hebat dari Iblis Daratan itu sedikitnya delapan bagian telah diwarisinya! Tentu saja semua tamu menyambut ilmu silat yang lihai ini dengan tepuk tangan riuh; di sana-sini terdengar suara pujian. Bahkan para sastrawan yang asing sama sekali dengan pertunjukan seperti itu pun mau tidak mau menjadi tertarik. Mereka heran betapa tubuh seorang manusia biasa dapat bergerak selincah burung garuda hingga mengaburkan mata. Maka mereka juga ikut bertepuk tangan memuji. Dengan hati kecewa Han Liong melihat betapa suheng-nya itu mempunyai watak sombong dan takabur, jauh berbeda dengan Lie Kiam, twa-suheng-nya. Bhok Kian Eng menghentikan silatnya dan menjura dengan mulut tersenyum dan dada kurusnya yang terangkat naik!

"Sungguh hebat ilmu silatmu, Bhok Enghiong. Baru sekarang aku menyaksikan sendiri kelihaian Garuda Putih, sungguh membuat kami gentar. Tapi, sudikah kau memperlihatkan pertunjukan ilmu sambit kim-chi-piauw yang terkenal itu?" Bhok Kian Eng makin angkuh mendengar pujian orang, maka tanpa ragu-ragu lagi ia merogoh sakunya.

"Lihat, aku hendak memadamkan semua lilin besar di meja-meja ini!" Dan ia mulai mengayunkan tangannya. Tiap kali ia mengayunkan tangan, padamlah sebuah lilin di meja pertama. Demikianlah, secara bergiliran lilin-lilin besar di semua meja padam terkena sambitan kim-chi-piauw, sedangkan uang logam yang disambitkan itu sama sekali tidak melukai orang. Ketika lilin di depan Han Liong terkena dan padam, tinggal sebuah lilin di meja para sastrawan di ujung ruangan itu saja yang belum padam. Bhok Kian Eng mengeluarkan kepandaiannya untuk sambitan terakhir ini. Ia sengaja berdiri membelakangi meja itu dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak melalui bawah lengan kanan. Sebuah uang tembaga meluncur cepat ke arah api lilin. Namun, tiba-tiba seorang sastrawan muda tampak terkejut hingga tangan kanannya terangkat ke depan.

Uang logam itu tidak mengenai lilin karena terbukti lilin tidak padam dan senjata rahasia itu entah ke mana terbangnya. Keadaan menjadi sunyi dan Bhok Kian Eng heran sekali mengapa tidak terdengar tepuk tangan untuk sambitan kali ini, tidak seperti hasil sambitan-sambitan tadi. Ia segera menengok dan wajahnya merah ketika melihat lilin itu masih menyala. Rupanya sambitannya tidak mengenai sasaran. Maka untuk menutup rasa malunya, ia ayunkan lagi tangannya; kini tangan itu melalui selangkangan kakinya. Tapi kini semua tamu, kecuali Han Liong yang telah tahu, merasa terkejut sekali karena pada saat uang logam itu akan menyambar api lilin, tiba-tiba uang logam yang pertama datang menyambar dan membentur uang logam kedua hingga menimbulkan suara nyaring, dan kedua senjata rahasia itu jatuh ke atas lantai.

Han Liong kagum melihat hal ini. Tadi ia dapat melihat betapa dengan gerakan Menangkap Burung Terbang, sastrawan muda yang duduk di meja itu telah berhasil menangkap piauw pertama tanpa diketahui orang lain, dan kemudian setelah piauw kedua menyambar, ia gunakan piauw pertama itu untuk menyambut piauw kedua. Gerakan ini tentu saja terlihat oleh semua orang hingga menimbulkan suara kagum dan heran. Bhok Kian Eng merasa malu dan marah sekali karena merasa dipermainkan orang. Segera ia menghampiri sastrawan yang bertubuh tegap, berwajah tampan, dan berusia sekitar tiga puluh tahun itu. Dengan senyum dibuat-buat, Bhok Kian Eng menjura.

"Saudara telah memperlihatkan kelihaian dan dengan itu memberi pelajaran padaku. Maka janganlah tanggung-tanggung, siauwte mohon pengajaran barang dua-tiga jurus." Sastrawan muda itu tertawa.

"Bhok Enghiong terkenal dengan julukan Garuda Putih, ternyata memang bukan nama kosong belaka. Tadi siauwte telah melihat ilmu silatmu dan soal kepandaian ginkang, aku yang bermarga Bie boleh berguru padamu! Tapi, dengan uang logam memadamkan api di meja semua orang, bukankah itu tidak mengindahkan orang lain?" Bhok Kian Eng menundukkan kepalanya dan ia memang merasa bersalah. Namun, ia berwatak keras dan tinggi hati; mana ia mau mengalah begitu saja?

"Bie Enghiong, memang siauwte bermata tapi seakan-akan buta. Biarlah kesempatan ini kugunakan untuk mengerti kelihaianmu." Orang yang ditantangnya secara halus itu berdiri dan menanggalkan baju luarnya sambil tersenyum. "Aku Bie Cauw Giok selamanya tak suka bermusuh, tapi juga selamanya takkan mundur jika hendak dicoba orang. Marilah, Bhok Enghiong, kutemani kau main-main sebentar untuk menggembirakan pesta Siok Sianseng yang budiman."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment