Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 25

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 25

Dengan gerakan lincah sekali, ia melompat ke tengah ruangan menggunakan ilmu loncat Itthian atau Burung Hoo Terjang Langit. Hong Ing melihat ini menjadi kagum karena gerakan tersebut menunjukkan keahlian seorang ahli. Namun, yang lebih heran adalah Han Liong. Ketika ia mendengar orang itu menyebut nama Bie Cauw Giok, tanpa disadarinya, ia bangun dari kursinya dengan wajah gembira. Nama itu adalah nama murid tunggal dari gurunya, Pauw Kim Kong Beng-san Tojiu, si Malaikat Rambut Putih. Maka, sebagaimana Bhok Kian Eng, Bie Cauw Giok pun adalah suhengnya sendiri. Kedua suheng ini kini berhadapan dan siap bertempur. Han Liong tentu saja merasa gelisah dan bingung.

Sementara itu, Bhok Kian Eng juga sudah melompat menyusul Bie Cauw Giok dan segera mereka bertanding mengadu kepalan. Bhok Kian Eng yang berwatak keras segera melancarkan serangan bertubi-tubi dengan mengeluarkan ilmu silat istimewanya. Namun, Bie Cauw Giok ternyata bukan orang lemah dan mampu melayaninya dengan baik. Keduanya bergerak cepat sehingga para penonton menahan napas dan tak dapat membedakan mana kawan dan lawan. Han Liong yang masih berdiri bingung segera dapat mengenali perbedaan kepandaian mereka. Bhok Kian Eng sangat mahir dalam ilmu meringankan tubuh sehingga gerakannya lebih gesit dan cepat, sedangkan Bie Cauw Giok memiliki keuletan luar biasa dan tenaga dalamnya lebih tinggi daripada lawannya.

Bhok Kian Eng dapat melancarkan serangan lebih sering karena kelincahannya, tetapi ia selalu menjaga agar jangan sampai beradu tangan. Baru sekali saja lengannya beradu, ia terhuyung-huyung mundur dan lengannya terasa sakit. Keadaan mereka boleh dikatakan tidak jauh berbeda. Namun, Han Liong yakin bahwa jika dibiarkan, salah satu dari mereka pasti akan terluka, dan ia tidak ingin hal ini terjadi. Tanpa ragu-ragu lagi, ia melompat ke depan. Orang-orang hanya melihat bayangan berkelebat di antara kedua orang yang bertanding itu, dan tahu-tahu Bhok Kian Eng serta Bie Cauw Giok terhuyung mundur seolah ditolak oleh suatu tenaga besar. Han Liong menjura kepada mereka berdua dengan sikap hormat sekali, lalu berkata,

"Siauwte mohon maaf dan harap sudilah suheng berdua menghentikan permainan yang berbahaya ini." Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok yang tadinya marah kini menjadi terheran-heran.

"Siapakah kau maka menyebut aku suhengmu?" tanya Bhok Kian Eng dengan marah, sementara Bie Cauw Giok memandang semakin heran. Jika orang ini benar-benar sute dari Bhok Kian Eng, mengapa ia juga menyebut suheng kepadanya? Tetapi diam-diam kedua orang gagah itu kagum melihat gerakan dan tenaga anak muda yang telah dengan mudah membuat mereka terhuyung mundur. Namun, mereka juga sangat tidak senang atas kelancangan anak muda ini.

"Siauwte adalah Si Han Liong. Bukankah Bhok suheng murid suhu Liok-tee Sin-mo Hong Ing, dan bukankah suhu Pauw Kim Kong guru dari Bie suheng?" Untuk kedua kalinya, Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok terheran-heran karena pemuda itu dapat mengetahui nama guru mereka. Tentu saja mereka tidak percaya karena mana mungkin, sute mereka masih begitu muda tapi memiliki kepandaian setinggi itu?

"Bie Enghiong," kata Bhok Kian Eng kepada Bie Cauw Giok,

"Agaknya orang ini hendak mempermainkan kita dan memamerkan kegagahannya untuk menghina kita berdua."

"Benar begitu kiranya," kata Bie Cauw Giok,

"karena mana mungkin sutemu menjadi suteku pula? Biarlah aku mencobanya dulu, sampai di mana kepandaian orang yang mengaku suteku ini."

"Tidak, biar aku maju lebih dulu untuk memberi pelajaran kepadanya," bantah Bhok Kian Eng. Sampai di lini, kesabaran Hong Ing yang sedari tadi ditahan menjadi hilang melihat kokonya dipandang rendah. Sekali melompat, ia telah berada di tengah ruangan. Semua tamu makin heran melihat kedatangan seorang pemuda yang muda dan cakap, serta dari gerakannya ternyata memiliki kepandaian tinggi. Suasana menjadi tegang.

"Jiwi Enghiong jangan berebut. Kalau jiwi masih tidak percaya kepada kokoku ini dan masih menganggap dia seorang sute palsu, kurasa untuk mencobanya tak perlu seorang demi seorang. Majulah saja bersama-sama, pasti kokoku akan dapat melayani jiwi dengan baik." Kata-kata ini mengandung tantangan hebat dan memandang rendah kedua orang itu, sehingga wajah mereka menjadi merah padam. Han Liong melihat kenakalan Hong Ing, buru-buru menunduk memberi hormat dan berkata,

"Jiwi suheng, ia adalah adikku Hong Ing. Maafkan dia yang masih muda, tetapi biarlah suheng berdua melaksanakan seperti yang diusulkannya. Siauwte akan melayani suheng berdua, tetapi siauwte akan membuktikan bahwa ilmu silat yang siauwte pakai dalam permainan ini tiada bedanya dengan ilmu suheng sendiri." Kedua orang itu heran dan tercengang atas keberanian orang muda ini. Bagaimana seorang dapat melayani mereka berdua dengan menggunakan dua macam cabang ilmu silat? Tetapi karena tahu akan ketangguhan lawan, Bhok Kian Eng memberi tanda kepada Bie Cauw Giok dan berkata,

"Kau sombong sekali, anak muda. Baiklah, mari kita serang dia bersama-sama, Bie Enghiong, lihat, bagaimana dia akan melayani kita."

"Tetapi tidak adil kalau kita harus maju serentak, Bhok Enghiong," bantah Bie Cauw Giok.

"Tidak apa, Bie suheng, majulah," kata Han Liong dengan tenang dan mengambil tempat di tengah, Bhok Kian Eng di kiri, dan Bie Cauw Giok di kanan.

Mendengar kata-kata yang bersifat menantang ini, Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok tak dapat menahan amarahnya dan maju melakukan serangan hebat. Han Liong, yang telah dilatih sempurna oleh Kam Hong Siansu yang menciptakan Ilmu Silat Empat Bintang, yakni yang mengambil dasar dari pelajaran keempat guru Han Liong, tentu saja kenal baik gerakan-gerakan kedua suhengnya itu. Segera ia bergerak dengan gesit, tangan kanan dipakai menangkis serangan Bie Cauw Giok dan tangan kiri menangkis serangan Bhok Kian Eng. Sekaligus ia dapat mempergunakan dua gerakan dari kedua cabang persilatan, dengan mengandalkan kekuatan ilmu ginkangnya yang tinggi, sehingga tubuhnya dapat bergerak dengan cepat.

Setelah menyerang beberapa belas jurus, kedua suheng itu terheran-heran dan terkejut, karena ternyata semua gerakan Han Liong adalah benar-benar ilmu silat cabang mereka. Bahkan tangkisan-tangkisan anak muda itu membawa tenaga yang demikian besar sehingga tiap kali lengan mereka beradu, kedua orang itu merasakan betapa tubuh mereka terpental dan lengan mereka tergetar hebat. Hal ini membuat mereka heran dan kagum, lebih-lebih Bie Cauw Giok yang memiliki ilmu tenaga dalam tinggi namun tetap tak berdaya terhadap orang yang mengaku sutenya itu. Juga Bhok Kian Eng yang mahir ilmu meringankan tubuh, kagum sekali melihat gerakan Han Liong yang tak kalah hebatnya jika dibandingkan dengan gurunya, Hong In si Iblis Daratan sendiri. Namun kedua orang itu masih belum puas dan mereka menyerang semakin hebat.

Han Liong terpaksa menggunakan ilmu silatnya Empat Bintang untuk melayani kedua suheng ini. Tentu saja kedua lawannya menjadi bingung karena pemuda ini kini bergerak dalam ilmu silat yang aneh sekali. Mirip ilmu silat mereka sendiri, tapi toh bukan. Dan sebentar saja kedua orang itu merasa seakan-akan bukan sedang bertanding melawan seorang, tapi lebih dari lima orang. Di mana-mana tampak bayangan pemuda itu mengeroyok mereka. Sementara itu, Hong Ing yang bermata tajam melihat sosok bayangan tubuh melayang-layang di atas genteng. Diam-diam nona ini melayang ke atas mengejar. Alangkah marahnya ketika dilihatnya bahwa bayangan itu tidak lain dari wanita buruk yang merampas kembangnya dan bertempur dengannya siang tadi. Setan perempuan itu sedang mencari-cari dari atas genteng dengan pedang dan kebutan di kedua tangan.

"Siluman perempuan, kau berani datang mengacau?" teriak Hong Ing. Perempuan itu memperlihatkan senyum mengejek.

"Eh, kau juga berada di sini, siangkong? Jangan kau turut campur urusanku."

"Kau kira aku takut padamu?" bentak Hong Ing yang segera menyerang dengan siang-kiamnya. Lawannya memperdengarkan suara menghina dan mereka segera bertempur seru. Han Liong, biarpun sedang dikeroyok oleh kedua suhengnya, namun ia masih dapat memperhatikan keadaan yang terjadi di sekelilingnya. Maka ketika Hong Ing melayang ke atas genteng, hal itu tak terlepas dari pandangannya. Ia merasa khawatir akan keselamatan adiknya yang nakal dan suka mencari onar itu, maka sambil berkata,

"Maaf, jiwi suheng, siauwte tak dapat melayani kalian lebih lama lagi." Tubuhnya lalu melambung ke atas langsung ke tempat Hong Ing tadi melompat. Tetapi kedua suheng itu yang hendak menuntut keterangan dan penjelasan dari pemuda ini, segera melompat mengejarnya. Mereka bertiga melihat betapa Hong Ing terdesak hebat oleh seorang perempuan berwajah buruk yang memainkan pedang dan kebutan secara dahsyat sekali. Melihat perempuan itu, Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok berbareng mengeluarkan seruan kaget,

"Ji-siauw-molie!" Namun Han Liong tak perdulikan sebutan Setan Perempuan Muda Kedua ini, hanya segera tangannya bergerak menyambar ke arah perempuan itu. Perempuan itu berseru terkejut karena kebutannya hampir saja terlepas dari tangannya ketika terkena sambaran angin pukulan Han Liong. Ia melirik sekilas dan tertawa menghina.

"Hm, bagus! Kalian semua sudah berkumpul menjaga pemberontak tua she Siok? Baik sekali, kami takkan datang percuma kalau begini. Nah, tunggulah, besok di waktu pengantin bertemu, kami akan kembali main-main dengan kalian!" Sehabis berkata demikian, ia menggerakkan tubuhnya dan menghilang. Hong Ing hendak mengejar, tapi Bhok Kian Eng berkata,

"Jangan kejar!" Suaranya menunjukkan kekhawatiran besar, maka Han Liong dan Hong Ing menjadi heran. Tapi orang she Bhok itu memberi tanda supaya mereka semua turun. Para tamu di ruang itu semua tampak pucat dan ketakutan, bahkan para jago silat juga tampak gelisah. Hanya tuan rumah yang lemah dan tua itu saja kelihatan tenang dan sedang mencoba untuk menenteramkan hati para tamunya. Melihat semangat dan ketabahan orang tua she Siok ini, mau tak mau Han Liong dan Hong Ing merasa kagum juga.

"He, anak muda. Sebelum kita bicara lebih lanjut, kami harap kau memberi penjelasan padaku tentang keadaan dirimu yang mengaku menjadi suteku ini," kata Bhok Kian Eng.

"Siauwte memang benar murid Liok-tee Sin-mo, dan siauwte bahkan sudah bertemu dengan twa-suheng Lie Kiam. Kedatangan siauwte ke sini juga atas suruhan twa-suheng. Mungkin suhu belum pernah memberitahu kepadamu, suheng, maka tidak kenal pada siauwte," Bhok Kian Eng mengangguk-angguk dan diam-diam girang mempunyai seorang adik seperguruan yang demikian cekatan, tetapi ia masih belum puas mengapa adik seperguruan ini lebih pandai darinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment