Chapter 27
"Oh, Tiga Iblis Wanita dari Loh-san?" kata Han Liong berseru kaget. Hee Ban Kiat mengangguk.
"Untuk itulah maka aku, Bie Kong Hosiang, dan Yo Toanio datang kemari. Ketiga iblis itu mempunyai kepandaian dan ilmu silat yang tinggi pula. Belum tentu kita sanggup melawan dan mengalahkannya, tetapi bagaimanapun juga, kita harus melindungi Siok Sianseng." Han Liong lalu menceritakan dengan singkat bahwa murid ketiga iblis wanita itu semalam telah datang dan berjanji hendak menyerbu hari ini.
Kemudian, ketika Bie Kong Hosiang dan Yo Leng In juga datang ke sana dan mendengar kisah perjalanannya semenjak berpisah, Han Liong segera melambaikan tangan kepada Hong Ing. Ia memperkenalkan gadis yang masih berpakaian laki-laki itu kepada bibinya dan kepada kedua suhunya. Yo Leng In memandang gadis itu dan diam-diam ia mengakui persamaan wajah anak itu dengan kakak perempuannya. Tetapi karena mengingat bahwa gadis itu adalah putri Lie Ban musuhnya, maka ia hanya menyambut dengan dingin saja. Melihat ketiga orang tua itu bercakap-cakap dengan Han Liong, Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok mendekati mereka. Hee Ban Kiat dengan matanya yang tinggal satu itu memandang ke arah mereka. Kedua orang itu sangat terkejut melihat betapa mata itu bersinar sangat tajam seakan-akan dapat menembus dada!
Han Liong segera mengundang mereka duduk dan memperkenalkan Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok sebagai murid Liok-te Sin-mo dan Beng-san Tojin! Kedua orang itu segera memberi hormat kepada mereka. Mendengar bahwa Loh-san Sam-moli akan datang, kedua orang itu menjadi pucat, tetapi melihat bahwa kedua guru dan bibi Han Liong, yang tinggi ilmu silatnya itu berada di situ hati mereka agak tenteram. Di antara mereka semua, hanya Hong Ing saja yang merasa sangat kurang senang hati. Menurut anggapannya, mungkin ketiga orang tua itu tidak suka padanya, dan ia maklum mengapa mereka demikian. Maka hatinya merasa sangat tersinggung dan berduka. Han Liong juga dapat merasakan keadaan adiknya ini, maka beberapa kali ia mengerling ke arah Hong Ing dengan pandangan iba dan mesra.
Melihat pandangan iba dari kakaknya itu, Hong Ing makin merasa sedih. Dengan menundukkan kepalanya, gadis itu segera berdiri dan meninggalkan mereka, menghilang di antara orang banyak yang berkerumun berdesak-desak melihat pengantin. Ketika semua orang tengah bergembira, tiba-tiba terdengar suara tertawa nyaring yang mengalahkan semua suara gaduh. Suara itu sangat merdu dan nyaring, tetapi juga mendatangkan pengaruh yang menyeramkan. Han Liong berkelebat ke atas genteng, diikuti oleh kedua gurunya, bibinya, dan kedua suhengnya. Juga beberapa belas jago silat yang berkepandaian tinggi ikut menyerbu naik! Keadaan menjadi panik. Mereka yang tidak mengerti ilmu silat mencari perlindungan di dalam kamar, tidak peduli kamar siapa saja dimasuki dan pintu ditutup dari dalam.
Kedua pengantin cepat dibawa bersembunyi dalam kamar pengantin dan dijaga oleh beberapa orang gagah dengan senjata di tangan! Di atas genteng tampak berdiri tiga orang perempuan tua yang terengah-engah, berpakaian serba hijau dan masing-masing memegang kebutan dan pedang. Mereka ini adalah Loh-san Sam-moli yang terkenal dan ditakuti semua orang! Di pinggir mereka berdiri Kiu-hwa Twa-moli, sedangkan Kiu Lan Siauw-moli sedang bertempur melawan Hong Ing. Kiu Lan menggunakan hudtim dan pedang, sedangkan Hong Ing menggunakan siang-kiamnya. Ketika itu Hong Ing memainkan ilmu pedang pasangan warisan gurunya dan mencoba berkelahi dengan nekat, terdorong oleh kedukaan hatinya. Melihat permainan ini, tiba-tiba iblis termuda berkata sambil mengibaskan hudtimnya,
"Berhenti!" Dan heran, sambaran angin hudtimnya cukup untuk membuat kedua orang yang sedang bertempur itu terhuyung-huyung mundur.
"Eh, nona kecil, apakah hubunganmu dengan Seng Bouw Nikouw?" Iblis wanita ketiga itu bertanya. Hong Ing meskipun telah merasakan kehebatan tenaga iblis itu, tetapi ia tidak takut, bahkan ia hendak menggunakan nama gurunya untuk menggertak,
"Ia adalah guruku, kau mau apa menanyakannya?" Iblis wanita itu terkejut dan heran,
"Kau muridnya? Kalau begitu, bukankah kau bermarga Lie dan ayahmu adalah Lie Ban?" Mendengar nama ayahnya disebut-sebut, Hong Ing menjadi marah.
"Apa maksudmu bertanya panjang lebar? Aku bukan kerabatmu!"
"Omitohud! Kami adalah orangmu sendiri, nona! Kau adalah keturunan Lie Ban, mengapa kau bisa berada bersama-sama dengan orang-orang ini? Mereka ini adalah musuh-musuhmu, nona! Ayah dan ibumu juga merekalah yang membunuhnya."
"Jangan banyak cerewet!" Hong Ing berteriak gemas dan bersamaan itu air matanya mengalir di pipinya karena kata-kata itu mengingatkannya akan kedua orang tuanya yang meninggal dunia. Digerakkannya siang-kiamnya lagi dan menyerang Kiu Lan dengan sengit. Kiu Lan menangkis dan mereka bertempur lagi mati-matian. Pada saat itulah Han Liong dan kawan-kawannya sampai di situ. Loh-san Sam-moli sebenarnya bukanlah tiga saudara. Mereka adalah saudara-saudara seperguruan, yakni murid-murid dari Ngo-lian-posat Ang Gwat Niang-niang si Dewi Lima Teratai, seorang wanita pertapa yang tinggi ilmu silatnya dan tinggi pula lima batinnya, dan yang sedang bertapa di Ngo-lian-san.
Tiga saudara seperguruan itu oleh gurunya diberi nama Biauw Niang-niang, Leng Niang-niang, Hai Niang-niang. Mereka bertiga telah mewarisi kepandaian dari suhunya sehingga kepandaian mereka sudah boleh dikatakan sempurna dan jarang tandingannya. Sebenarnya sejak muda mereka bertiga telah dididik untuk menjadi orang suci, dan mula-mula mereka juga patuh menjalankan ibadat. Tetapi karena pada dasarnya memang tidak bersih, Biauw Niang-niang tergoda oleh nafsu dan ia menyeret kedua adik seperguruannya ke dalam jurang kehinaan, hingga mereka bertiga berubah menjadi jahat. Bie Kong Hosiang yang pernah bertemu dengan ketiga iblis wanita ini, segera menjura dan berkata,
"Omitohud! Ketiga Niang-niang yang terhormat berkenan mengunjungi tempat sahabatku yang buruk ini. Maafkan kami tidak tahu sehingga tidak menyambut dengan sepantasnya." Biauw Niang-niang tertawa menghina.
"Bie Kong Hosiang!" katanya.
"Kau juga berada di sini? Kau mengaku kawan si pemberontak bermarga Siok itu? Hati-hati, Hosiang, ia adalah seorang pemberontak yang harus menerima hukuman sekeluarganya. Lebih baik kau pergi saja dari sini, barangkali aku dapat mengampunimu!"