Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 30

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 30

"Subo!" Hong Ing memeluk gurunya. Seng Bouw Nikouw balas memeluk dan berkata,

"Hong Ing, bagus sekali kau dapat ikut *sam-wi suci* ini untuk datang ke sini. Memang semenjak mendengar tentang kematian orang tuamu itu, aku merasa khawatir sekali, karena tanpa sadar kau bergaul dengan segala pemberontak dan perampok."

"Tapi, Subo, *tecu* belum pernah berkenalan dengan pemberontak dan perampok!" bantah Hong Ing gemas. Biauw Niang-niang tertawa terbahak-bahak.

"Belum pernah? Ah, anak bodoh. Kau anggap siapakah orang-orang yang bertempur melawan kami itu? Mereka adalah pemberontak, penjahat, dan perampok yang hendak mengacaukan negara, hendak memberontak untuk menjatuhkan Raja. Mereka itu hendak membasmi semua alat pemerintah, semua pegawai negeri seperti ayahmu dulu."

Mendengar ucapan ini, Hong Ing mengerutkan keningnya. Memang ia tak pernah memperhatikan ketatanegaraan dan politik, sehingga ia buta sama sekali tentang kegiatan kaisar maupun para patriot. Namun, sekarang ia merasa bingung sekali. Apakah Han Liong dan kawan-kawannya itu anggota pemberontak? Ah, tidak mungkin Han Liong orang jahat, apalagi perampok. Hal ini sampai mati pun ia takkan bisa percaya. Entah kalau orang-orang tua yang mengaku menjadi guru Han Liong itu, kelihatannya memang berwatak keras dan galak. Melihat muridnya hanya tunduk dan agaknya bingung, Seng Bouw Nikouw menghibur.

"Sudahlah, Hong Ing, jangan kaupusingkan semua ini. Kau masih terlalu muda untuk dapat mengerti. Kau tinggal saja denganku di sini dan belajar ilmu silat lebih lanjut. Aku akan minta *sam-wi cici* untuk membimbingmu, karena kepandaianmu masih terlampau rendah, sedangkan dewasa ini banyak sekali orang jahat yang lihai berkeliaran."

Demikianlah, di bawah pengawasan Seng Bouw Nikouw dan di bawah bimbingan Biauw Niang-niang yang lihai, Lie Hong Ing belajar silat dengan rajin. Iblis wanita itu mengajarnya *kiamhwat* dari cabang Ngo-lian-pai yang gerakan-gerakannya cepat, ganas, dan sigap. Dasar Hong Ing berotak terang, maka dalam beberapa bulan saja ia sudah dapat mewarisi banyak ilmu pedang yang istimewa. Ia cerdik dan tahu bahwa gurunya dan semua orang di Istana Putih adalah musuh Han Liong, maka tidak pernah ia menceritakan kepada mereka bahwa ia pernah mendapat ilmu silat dari pemuda itu. Di sebelah kanan Istana Putih itu ada sebuah rumah gedung bercat merah yang mewah dan tampak agung.

Pekarangan depannya lebar dan di sekeliling rumah berdiri pagar tembok yang tebal dan tinggi. Gedung ini adalah tempat tinggal seorang *Cianbu* (kapten) bermarga Tan. Tan *Cianbu* adalah kapten dari barisan pengawal kaisar yang berkepandaian tinggi dan mempunyai tenaga besar. Ia juga seorang Han yang memang keturunan dari nenek moyangnya yang selalu menjadi prajurit. Tan *Cianbu* terkenal bukan hanya karena ilmu silatnya yang tinggi, tetapi juga terkenal karena tabiatnya yang kasar, terus terang, dan jujur. Ia tidak suka hal-hal yang dirahasiakan atau dilakukan secara diam-diam. Maka, biarpun ia tahu bahwa Istana Putih di sebelah rumahnya adalah tempat berkumpul orang-orang kalangan *kang-ouw* yang diam-diam membantu kaisar dengan jalan menerima hadiah-hadiah berharga, namun ia tidak peduli dan tidak mau tahu sama sekali.

Memang kaisar mempunyai tentara pengawal sendiri, tetapi di samping itu, Co *Thaikam*, pembesar kebiri yang sangat berpengaruh pada masa itu, diam-diam berhubungan dengan orang-orang gagah itu. Ia menggunakan bujukan dan harta untuk membuat mereka mau bekerja di bawah perintahnya. Kaisar yang mengetahui hal ini hanya menyatakan persetujuannya karena Co *Thaikam* menyatakan bahwa orang-orang gagah itu perlu didekati dan dipergunakan kepandaiannya untuk membasmi para pemberontak. Demikianlah, terdapat dua rombongan pembela kaisar dan pemerintahnya, yakni para pengawal kaisar yang merupakan tentara dinas dan orang-orang gagah dari kalangan *kang-ouw* yang merupakan kelompok pembantu rahasia.

Tan *Cianbu* mempunyai seorang putra bernama Tan Un Kiong. Un Kiong baru berusia tujuh belas tahun, wajahnya tampan dan tubuhnya tegap. Tetapi sayang sekali, pemuda ini kelihatan agak tolol dan kata-katanya menunjukkan bahwa ia sangat bodoh. Ayahnya merasa sangat sedih dan kecewa melihat putra tunggalnya ini. Ia sebenarnya sangat sayang dan cinta kepada anak satu-satunya itu, sehingga sejak kecil ia selalu dimanjakan. Ketika masih kecil, Un Kiong adalah anak yang cerdik dan pintar. Tetapi entah mengapa, setelah ia berusia tujuh tahun, mulailah tampak perubahan pada dirinya dan gejala-gejala perilaku tolol mulai terlihat. Tan *Cianbu* sengaja mengundang seorang guru untuk mengajarnya ilmu surat-menyurat.

Tetapi ternyata setelah berusia tujuh tahun, Un Kiong rupanya malas sekali belajar. Apalagi kalau disuruh belajar silat, ia menyatakan ketidaksenangannya. Pernah ayahnya sendiri mencoba mengajarnya dasar-dasar ilmu silat, tetapi ia meniru gerakan ayahnya dengan ngawur tidak keruan, membuat ayahnya gemas dan putus asa. Namun karena besarnya rasa sayang pada anaknya, ia tidak bisa marah dan membiarkan anaknya mengikuti kemauannya sendiri. Hal lain yang mengherankan, semenjak kecil Un Kiong tidak mau tidur dengan orang lain, biarpun dengan ibunya sendiri. Semenjak usia tujuh tahun, ia menghendaki kamar sendiri dan tidak boleh seorang pun masuk ke kamarnya. Berbeda dengan ayahnya yang sama sekali tidak mau peduli dan tidak mau kenal dengan penghuni Istana Putih, Un Kiong sering datang bermain ke situ.

Penjaga istana yang kenal baik padanya selalu menerimanya dengan hormat. Sedangkan para tamu yang terdiri dari orang-orang gagah itu, walaupun sebal melihat pemuda tolol itu, di depannya mereka tetap tersenyum dan menghormat karena mereka tahu pemuda itu adalah putra Tan *Cianbu* yang terkenal dan disegani. Pada suatu pagi, ketika Hong Ing sedang belajar silat di bawah bimbingan Biauw Niang-niang, tiba-tiba mereka berdua mendengar suara di tembok yang memisahkan halaman Istana Putih dengan gedung Tan *Cianbu*. Mereka segera menoleh dan melihat kepala seseorang muncul dari balik tembok. Ketika orang itu naik ke tembok, ternyata ia adalah Tan Un Kiong yang naik menggunakan tangga bambu. Pemuda ini berdiri di atas tembok dengan sikap ketakutan, tetapi ketika melihat Biauw Niang-niang dan Hong Ing, ia tertawa sambil memaksa dirinya berlaku tenang.

"Biauw *Suthai*, tolonglah aku," katanya sambil mendekam di atas tembok karena ia tidak berani berdiri lebih lama lagi di atas tembok yang tinggi itu.

"Eh, Tan *Kongcu*, kau hendak ke mana? Kau minta ditolong dalam hal apa?" jawab Biauw Niang-niang dengan sabar. Jika orang lain yang berani diam-diam masuk ke situ, pasti setidaknya akan kena semprot.

"Biauw *Suthai* jangan marah... aku... aku mendengar suara kalian dari balik tembok dan mendengar suara angin pedang *cici* ini bersiutan. Hatiku tertarik dan ingin melihat. Tidak kusangka tembok ini begitu tinggi, aku... aku tidak bisa turun lagi. Tolonglah carikan tangga dan pasang di sini agar aku bisa turun dan menonton *cici* ini belajar ilmu silat."

Hong Ing hampir tak dapat menahan geli dan tawa di hatinya. Ah, alangkah tololnya orang itu. Baru dua kali ia bertemu dengan Un Kiong ketika pemuda itu mengunjungi Istana Putih. Biarpun bodoh, pemuda itu tidak pemalu. Begitu bertemu, ia berani mengajak bicara kepada Hong Ing dengan sikap tulus dan jujur, sehingga Hong Ing juga tidak malu menjawabnya. Agaknya pemuda itu terlampau tolol untuk dapat bersikap kurang ajar terhadap wanita. Tapi di dalam hatinya, Hong Ing memandang rendah pemuda itu. Alangkah jauh perbedaan antara Un Kiong dengan Han Liong! Mungkin hanya ketampanan wajah dan keindahan pakaian saja yang ada pada Un Kiong yang tidak kalah, tetapi jika membicarakan kepandaian, baik silat maupun surat-menyurat, Han Liong boleh diumpamakan emas dan Un Kiong besi tua yang berkarat.

"Tan *Kongcu* bukankah sudah pernah belajar silat? Bukankah ayahmu seorang ahli silat ternama? Masakan tembok setinggi ini saja kau tidak mampu melompatinya?" Hong Ing mengejek, sedangkan Biauw Niang-niang hanya berdiri menertawakan. Un Kiong memandang Hong Ing dengan mata terbelalak. Biarpun bodoh, ia masih mempunyai harga diri. Mendengar kata-kata gadis itu, ia tidak merasa diejek, melainkan merasa dipuji. Maka sambil tertawa ia berkata,

"Memang aku pernah belajar silat. Bahkan ayah telah mendatangkan banyak sekali guru silat yang pandai. Aku pernah diajar oleh ayah untuk melompat ke atas, tetapi melompat ke bawah... ah sesungguhnya belum pernah kupelajari. Entah mengapa, untuk melompat ke bawah, baru melihat ke bawah saja hatiku sudah tidak keruan rasanya." Kini Hong Ing dan Biauw Niang-niang tak dapat lagi menahan gelak tawa. Un Kiong merasa bahwa ia ditertawakan, maka ia berkata sambil mengangkat kepala memandang,

"Coba *cici* tolong beri contoh, melompatlah ke atas tembok ini, kemudian aku hendak memperhatikan caramu melompat turun untuk kutiru." Biauw Niang-niang yang jarang melihat peristiwa lucu seperti ini merasa gembira dan menyuruh Hong Ing mengabulkan permintaan pemuda tolol itu. Dengan gerakan *Hui-in* atau Burung Terbang Menerjang Mega, ia melompat ke atas tembok dan berdiri di dekat Un Kiong sambil berkata,

"Bagus, bagus!" Pemuda itu lalu berdiri dengan hati-hati, tubuhnya gemetar karena takut jatuh.

"Nah, lihatlah, aku hendak melompat turun!" kata Hong Ing yang sengaja menggunakan tipu lompatan *Koai-sin* atau Siluman Naga Jumpalitan. Ia jungkir balik dengan indah sampai tiga kali sehingga kakinya terlihat sangat ringan menginjak tanah.

"Wah, gerakan *cici* sukar sekali untuk ditiru. Mana aku bisa jungkir balik macam itu. Biarlah aku melompat tanpa jungkir balik." Ia lalu membuat gerakan meniru sikap Hong Ing tadi, lalu tubuhnya melompat turun bagaikan batu jatuh.

Terdengar suara berdebuk keras dan debu mengepul ketika pinggul Un Kiong menimpa tanah dan pemuda itu mengaduh beberapa kali. Beruntung baginya tidak ada tulang yang patah atau kulit yang luka. Hong Ing dan Biauw Niang-niang tertawa makin keras dan iblis wanita tua itu segera maju menolong Un Kiong berdiri. Kemudian Hong Ing melanjutkan latihannya bermain pedang ditonton oleh Un Kiong yang duduk di atas sebuah batu penghias taman Istana Putih itu. Berkali-kali ia memuji keindahan gerak dan kelincahan Hong Ing. Lalu dengan menggunakan setangkai kayu, ia pun bersilat meniru gerakan gadis itu, tapi gerakannya tidak keruan sedangkan kuda-kuda kakinya sering terbalik sehingga terlihat sangat lucu. Pada saat itu Kui Lan datang dengan wajah pucat.

"Celaka, Subo!" katanya kepada Biauw Niang-niang setelah berada di depan gurunya.

"Kui Lan tenanglah. Ada apa maka engkau demikian ketakutan?" tegur Biauw Niang-niang.

"Subo, celaka. Semua kamar telah diperiksa orang malam tadi!"

"Apa maksudmu?" Kui Lan hendak menjawab, tetapi tiba-tiba ia menahan kata-katanya ketika melihat Un Kiong berdiri di dekat situ. Wajahnya yang tadinya suram dan diliputi kekhawatiran tiba-tiba menjadi terang ketika melihat pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment