Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 31

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 31

"Eh, Tan, siangong, kau juga ada di sini?" tanyanya sambil tersenyum genit hingga wajahnya yang hitam menjadi makin buruk. Memang Kui Lan semenjak melihat pemuda tampan itu, telah lama ia merasa tertarik dan berhasrat padanya. Un Kiong mendapat teguran manis ini tertawa-tawa dan dengan muka bodoh ia menjawab,

"Enci Lan yang hitam manis. Aku sudah lama di sini menonton latihan silat ini. Kau belum menjawab pertanyaan Biauw Suthai." Kui Lan baru ingat akan hal ini, maka buru-buru ia menghadap gurunya lagi.

"Subo, semua kawan memberi keterangan bahwa kamar mereka tadi malam kedatangan orang jahat yang memeriksa seluruh buntalan pakaian, seakan-akan mencari rahasia semua arang di sini. Bahkan kamar teccu juga tak terkecuali."

"Kamarku juga ada yang menggeledah," kata Hong Ing. Biauw Niang-niang mengerutkan keningnya.

"Meskipun maling itu tidak berani memasuki kamarku, tetapi dengan berhasilnya memasuki dan memeriksa semua kamar tanpa diketahui, ia boleh dibilang licin juga. Kui Lan, coba panggil semua orang berkumpul di ruangan tengah untuk mengadakan perundingan." Kui Lan mengundurkan diri setelah melayangkan sebuah kerlingan memikat ke arah Un Kiong yang dibalas oleh pemuda tolol itu dengan suara tertawa dan tarikan muka bodoh.

"Biauw Suthai, aku pun pernah melihat maling masuk ke kamarku, tetapi ia hanya mencuri sebuah celana usang," katanya kepada iblis wanita itu. Biauw Niang-niang merasa kesal dan membelalakkan matanya, tetapi melihat pemuda itu berdiri tersenyum sehingga wajahnya yang muda itu tampak jadi semakin tampan, lenyaplah hawa marahnya. Ia harus mengakui bahwa pemuda itu sangat menarik dengan wajahnya yang berkulit putih bersih, sepasang matanya yang tajam bersinar gembira, bibirnya yang merah seperti bibir wanita, tetapi dagunya yang keras tajam serta alis matanya yang berbentuk golok membuat ia tampak gagah. Sayang pemuda seperti ini demikian dungu.

"Kalian hendak mengadakan pembicaraan tentang maling, baiklah aku pulang saja, sekarang sudah waktunya makan pagi dan ayah akan marah kalau aku tidak ada di rumah. Cici kalau mau latihan pedang lagi, beritahulah aku, agar kita bisa latihan bersama-sama, jadi lebih cepat maju!" Setelah menjura untuk memberi hormat, pemuda bodoh itu berjalan pergi melalui pintu luar.

"Subo sabar sekali menghadapi pemuda bodoh itu," kata Hong Ing.

"Meskipun bodoh, ia putra tunggal dari Tan Cianbu yang telah berjasa kepada kaisar. Dan tidakkah anak muda itu tampan menurut pendapatmu?" Mendengar pernyataan ini, Hong Ing merasa heran dan juga jengah serta jemu terhadap gurunya.

Karena Hong Ing dianggapnya sebagai murid yang masih baru, maka ia tidak diajak berunding. Gadis ini merasa girang, tetapi betapapun juga, ia tidak senang bergaul dengan orang-orang penghuni istana putih itu. Kalau gurunya, Seng Bouw Nikouw tidak berada di situ dan kalau ia tidak ingin untuk menambah kepandaian ilmu silatnya, pasti sudah lama ia melarikan diri untuk mencari Han Liong. Kadang-kadang ia merasa sangat rindu kepada kakaknya itu dan ia merasa sangat kesepian. Biauw Niang-niang dengan tercengang mendengar laporan semua kawannya yang tinggal di gedung itu, betapa kamar mereka tadi malam telah didatangi orang dan semua barang mereka diobrak-abrik. Tapi setelah diperiksa, tak sepotong pun barang mereka lenyap. Di antara semua orang itu, hanya seorang kauwsu atau guru silat dari Kanglam yang bernama Thio Poan menuturkan pengalamannya semalam.

"Ketika itu aku sudah tidur, tetapi tiba-tiba aku dibangunkan oleh suara keras. Aku segera melompat bangun melihat bahwa cawan arak yang tadinya berada di atas meja telah jatuh menggelinding ke bawah. Kusangka ada kucing masuk kamar, sesudah itu aku bermaksud hendak tidur kembali. Tapi tiba-tiba aku melihat buntalan pakaianku terbuka! Aku melompat lagi dan pada saat itu juga kelihatan bayangan putih berkelebat ke atas tiang penglari. Bayangan itu gerakannya cepat sekali hingga aku tak dapat melihat dengan tegas apakah itu bayangan orang atau setan! Sebelum aku dapat memeriksa lebih lanjut, tiba-tiba dari atas datang angin bertiup keras dan api lilin padam seketika itu juga. Terus terang saja kuakui bahwa bulu tengkukku terasa berdiri. Ketika aku mencari api untuk menyalakan lilin, aku merasa sesuatu bergerak di belakangku dan angin meniup ke arah pintu. Setelah lilin kupasang, maka di kamar sudah tidak terlihat sesuatu lagi. Karena aku menyangka ada setan, maka aku tidak berani menceritakan pada orang lain, takut ditertawakan. Tapi ternyata kalian semua pun mendapat kunjungan setan itu!"

Biauw Niang-niang mengerutkan alisnya. Ia tahu sampai di mana kepandaian orang she Thio itu dan agaknya bukan sembarang orang dapat mempermainkan guru silat ini. Tapi toh tadi malam ia telah dipermainkan seorang yang mempunyai *gin-kang* dan *lwee-kang* yang tinggi! Kalau maling itu berani masuk ke dalam kamarnya, pasti ia akan dapat melayaninya. Tapi agaknya maling itu tahu akan kelihaian Biauw Niang-niang sehingga kamar iblis wanita ini saja yang dilewati tanpa digeledah.

"Memang sukar untuk mengetahui siapakah orang yang berlaku kurang ajar ini," kata Leng Niang-niang yang kamarnya juga menjadi sasaran penggeledahan.

"Tapi kiranya tak perlu dipusingkan hal itu karena ternyata ia tidak berlaku jahat. Hanya, satu hal yang harus kita selidiki, yaitu apakah yang dicari penjahat itu? Sudah terang bahwa ia tadi malam mencari sesuatu." Biauw Niang-niang mengangguk-angguk.

"Tak lain tak bukan tentulah ia seorang dari golongan lawan kita yang hendak mencari rahasia kita. Dan setahuku, dari golongan mereka, orang yang mungkin dapat melakukan hal itu hanya satu orang saja." Dan ia memberi isyarat mata kepada sumoinya. Leng Niang-niang dan Hai Niang-niang diam-diam mengangguk.

"Coba panggil muridmu ke sini," kata Biauw Niang-niang kepada Seng Bouw Nikouw yang segera memanggil Hong Ing. Gadis ini merasa heran dan diam-diam hatinya berdebar-debar ketika ia datang ke ruangan yang penuh dengan orang-orang gagah yang berwajah perkasa dan galak itu. Tapi ia tetapkan hatinya dan duduk dekat gurunya.

"Hong Ing," kata Biauw Niang-niang dengan suara halus,

"kau bukanlah orang luar, maka perlu kiranya kau ketahui juga. Semalam istana putih ini telah kemasukan orang jahat! Orang itu datang mencari-cari sesuatu. Dan tahukah kau siapa orang itu? Ia tak lain ialah orang yang membunuh ayahmu tapi yang kauanggap kakakmu sendiri itu!"

"Koko Han Liong? Dia yang datang malam tadi?" Hong Ing bertanya heran, hatinya berdetak-detak, karena kini ia pun merasa betapa besarnya kemungkinan ini. Banyak alasan Han Liong untuk datang menyelidik ke situ, dan siapakah orangnya yang berkepandaian begitu tinggi dan berhati begitu berani dan tabah selain Han Liong?

"Agaknya kau juga percaya akan kemungkinan ini," kata Biauw Niang-niang yang pandai membaca suara hati orang.

"Sepak-terjang anak muda itu sungguh berani dan berbahaya sekali. Maka coba kauceritakan kepada kami tentang keadaannya. Pertama-tama, siapakah namanya dan ia murid golongan mana?" Hong Ing tahan-tahan hatinya agar suaranya tak terdengar bangga hingga jangan sampai membongkar rahasia perasaannya, lalu berkata dingin,

"Ia adalah Si Han Liong. Gurunya banyak sekali. Kalau aku tak salah ingat, guru pertama adalah Liok-tee Sin-mo Hong In, guru kedua Beng San Tojin Pauw Kim Kong, guru ketiga Kim-to Bie Kong Hosiang, guru keempat Siauw-lo-ong Hee Ban Kiat. Dan ia masih mempunyai seorang guru lagi, yakni Kam Hong Siansu." Semua orang terkejut mendengar ini, dan ketiga iblis wanita itu diam-diam mengagumi juga.

"Kam Hong Siansu? Ah, tidak dinyana manusia dewa itu masih hidup dan menerima murid seperti Han Liong itu. Pantas saja ia demikian lihai!" Biauw Niang-niang berkata seperti kepada dirinya sendiri. Hong Ing dengan rasa bangga menambahkan,

"Dan ia adalah putra tunggal dari Si Enghiong yang terkenal!" Biauw Niang-niang dan Seng Biauw Nikouw loncat berdiri.

"Apa?" kata Biauw Niang-niang.

"Sayang aku tidak mengetahui hal ini dari dulu. Hong Ing tahukah kau siapa orang yang kau sebut Si Enghiong itu? Ia adalah Si Cin Hai, seorang kepala pemberontak besar yang telah kami basmi. Semua ini kesalahan ayahmu sendiri yang kena terpikat oleh isterinya, sehingga istri dan anak kepala pemberontak itu tak dapat dilenyapkan dari muka bumi ini. Membasmi pohon jahat harus dengan akar-akarnya, kata pribahasa, tetapi ayahmu menyalahi hukum ini dan ia bahkan mengambil istri musuh menjadi istrinya dan dengan demikian ia menyelamatkan anak musuhnya. Tentu saja hal ini sama dengan memelihara anak serigala dalam rumah. Dan betul saja, anak itu setelah dewasa kini merepotkan kita semua."

Biauw Niang-niang menghela napas, tak pedulikan wajah Hong Ing yang tampak tidak senang itu mendengar ayah ibunya menjadi buah tutur orang dan menerima berbagai celaan. Pada saat itu dari luar datang seorang saikong yang bertubuh tinggi besar dan memelihara cambang tebal dan kaku seperti kawat. Pertapa itu berjubah kuning dan sepatunya memakai sol dari ujung besi. Ia memegang sebuah tongkat pendek berwarna hitam yang berukiran kepala ular di bagian pegangannya. Di punggungnya tergantung kantong *hui-to*, yakni semacam golok kecil yang memakainya dengan pelemparan hingga disebut golok terbang! Ketiga iblis wanita melihat saikong itu lalu berseru girang.

"Susiok datang!" Dan ketiga-tiganya lalu memburu dan memberi hormat. Hong Ing terkejut melihat air muka dan tubuh yang menakutkan itu, dan ia merasa heran sekali mengapa ketiga iblis wanita itu tidak berlutut kepada seorang paman gurunya bahkan menyambutnya dengan mesra bagaikan menyambut seorang kawan baik, bahkan Hei Niang-niang dan Leng Niang-niang memegang lengan saikong itu di kiri kanannya sambil tersenyum dan memainkan mata. Sikap mereka kekanak-kanakan dan mereka rupanya sungguh sangat manja. Tentu saja Hong Ing tak mengerti sama sekali akan sikap aneh ini. Semua orang yang berkumpul di situ memberi hormat dan Hong Ing terpaksa juga menjura terhadap saikong tua itu. Melihat semua orang memberi hormat padanya, saikong itu tertawa terbahak-bahak.

"Siancai, siancai, terima kasih atas penghormatan ini, cuwi silakan duduk, pinto ada berita penting untuk disampaikan padamu." Suaranya nyaring dan kecil, tak sesuai dengan tubuhnya yang sebesar raksasa itu. Semua orang duduk kembali. Biauw Niang-niang dengan suara manja dibuat-buat menceritakan kepada paman gurunya tentang gangguan lawan yang menggagalkan serangannya terhadap Siok Houw, sehingga muridnya tewas dan kedua sumoinya terluka. Juga ia menceritakan tentang datangnya seorang penjahat yang menggeledah kamar mereka tadi malam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment