Chapter 32
"Hm, jangan sedih, sakit hatimu pasti terbalas. Suci telah memerintahkan aku turun gunung membantu kamu sekalian. Kalau mereka berhadapan dengan Pinto, anjing-anjing pemberontak itu pasti kupukul dengan tongkat ini seorang demi seorang." Sambil berkata begini ia mengayunkan tongkatnya perlahan menghantam lantai. Lantai batu yang keras yang terpukul tongkat itu menerbitkan bunga api, dan semua orang kagum melihat di tempat bekas pukulan itu tampak berlubang lebih dari setengah kaki! Pukulan demikian perlahan dapat melubangi lantai batu, apalagi kalau yang dipukul itu tubuh manusia dan dilakukan dengan sepenuh tenaga pula! Hong Ing juga merasa ngeri dan takut.
"Mengenai kedatangan pencuri kecil tadi malam, Pinto juga dapat menduga maksudnya. Tentu ia datang mencari ini." Ia merogoh saku jubahnya yang besar dan mengeluarkan segulung kertas.
"Lihat, ini adalah titah atau surat perintah dari kaisar untuk menangkap Siok Houw dan surat-surat perintah rahasia dari Co Thaikam sendiri. Agaknya para pemberontak telah mendengar tentang surat-surat ini, sehingga orang yang membawanya dari kota raja mendapat gangguan di sepanjang jalan. Tapi surat-surat ini sekarang diserahkan padaku, coba lihat siapa berani mengganggu!" Melihat kejumawaan dan keangkuhan paman gurunya ini, Biauw Niang-niang mengerutkan kening.
"Susiok, musuh sangat lihai. Mengapa kau bicarakan hal rahasia ini secara terbuka?"
"Ha, ha, Biauw Niang, kau sudah menjadi penakut." Kemudian ia melanjutkan dengan berbisik, "Hal ini kusengaja agar pihak musuh mendengar dan mencoba datang. Aku akan siap sedia setiap saat mencegah kedatangannya." Diam-diam Hong Ing melirik ke sana kemari. Benarkah ada Han Liong atau kawan-kawannya yang datang menguping?
"Susiok," kata Biauw Niang-niang melanjutkan, "Di pihak mereka kini ada seorang muda yang cukup tangguh. Ia adalah murid Kam Hong Siansu dan kukira dialah orangnya yang datang tadi malam." Mendengar nama Kam Hong Siansu, saikong itu terkejut. Namun, ia lalu berkata, "Bohong! Orang tua itu mana mau menerima murid? Kedua tangannya sudah putih bersih. Mana ia mau mengotorinya pula dengan segala urusan remeh-temeh di dunia fana ini? Mungkin pemuda itu hanya menggunakan nama Kam Hong Siansu untuk menggertak saja." Siapakah gerangan saikong ini? Ia tidak lain adalah Kek Kong Tojin yang dijuluki orang-orang "Coatung si Tongkat Setan Kepala Ular", karena permainan tongkatnya memang luar biasa lihainya dan belum pernah dikalahkan lawan. Sebenarnya ia adalah pendiri termuda dari cabang persilatan Ngo-lian-pai.
Di samping sucinya Ang Gwat Niang-niang yang terkenal dengan nama Ngo-lian-posat atau Dewi dari Ngo-lian, serta twa-suhengnya Lo Thong Sianjin. Mereka bertiga merupakan pendiri Ngo-lian-pai yang disegani di kalangan kang-ouw. Di antara mereka bertiga, Ang Gwat Niang-niang yang terpandai, maka dialah yang berdiam di bukit Ngo-lian-san dan karenanya dinamakan orang Dewi dari Ngo-lian. Sayangnya, hanya Lo Thong Sianjin seorang saja yang berwatak suci. Namun, kekurangannya adalah ia terlalu jujur dan tidak mau mengaku kalah! Sementara itu, sumoinya, Ang Gwat Niang-niang, wataknya terlalu membela ketiga muridnya hingga pertimbangan dan keadilannya menjadi berat sebelah. Kek Kong Tojin yang termuda bukanlah orang baik-baik. Telah lama ia mempunyai hubungan gelap dengan ketiga murid Ang Gwat Niang-niang, yakni Biauw Niang, Reng Niang, dan Hai Niang.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kedatangan ketiga wanita yang menjadi murid Ngo-lian-pai itu, telah mencemarkan nama Ngo-lian-pai dan merusak kemurnian hati Kek Kong Tojin dan Ang Gwat Niang-niang. Jika bicara soal kepandaian, Lo Thong Sianjin dan Ang Gwat Niang-niang sama lihainya. Dalam hal ilmu pedang, Ngo-lian-posat lebih unggul, tetapi Lo Thong Sianjin sebaliknya lebih tinggi ilmu ginkang dan lweekangnya. Kek Kong Tojin masih kalah setingkat dari kedua kakak seperguruannya itu. Dengan sengaja, pada malam hari itu, Kek Kong Tojin menaruh gulungan surat-surat penting itu di atas meja dalam kamarnya. Ia sendiri berada di ruang tamu, minum arak dan makan daging, ditemani oleh ketiga murid keponakannya. Sembari makan dan minum, mereka berempat mengobrol gembira.
"Eh, Biauw Niang, siapakah gadis yang duduk di dekatmu siang tadi?"
"Ia adalah muridku, putri dari almarhum Lie Ban Ciangkun." Saikong itu mengangguk-angguk gembira.
"Hm, muridmu itu sungguh cantik jelita. Sayang, aku tak pernah punya murid semuda dan secantik itu." Memang, di antara ketiga pendiri Ngo-lian-pai, hanya Ang Gwat Niang-niang sendiri yang mempunyai murid, yakni ketiga Liok-san Sam-moli. Sedangkan Kek Kong Tojin dan Lo Thong Sianjin tak pernah menerima murid lain. Pada saat Biauw Niang-niang hendak menegur paman gurunya dan mengatakannya mata keranjang, tiba-tiba saikong itu mengayunkan sumpitnya ke atas. Sumpit itu meluncur seperti anak panah dan menembus genting dengan suara nyaring! Ketiga iblis wanita pun melompat sambil mencabut pedang.
"Biar kami yang menangkap mata-mata itu, Susiok duduk sajalah minum arak!" kata Biauw Niang-niang yang segera meloncat keluar, diikuti kedua sumoinya.
"Bangsat maling jangan lari!" teriak Hai Niang-niang dengan suara nyaring. Teriakan ini membuat semua orang dalam Istana Putih itu bangun terkejut dan melompat keluar mengejar dengan senjata di tangan. Hong Ing merasa berdebar-debar karena timbul dugaan dalam hatinya kalau-kalau yang datang itu adalah Han Liong dan kawan-kawannya. Maka, tanpa berkata apa-apa, ia pun ikut melompat ke atas genting. Ketika tiba di atas, Hong Ing melihat seorang laki-laki tinggi kurus sedang bertempur melawan ketiga iblis wanita.
Tamu malam itu belum terlalu tua, lebih kurang empat puluh lima tahun, tetapi rambutnya telah putih semua. Ia bersenjatakan joan-pian atau ruyung cambuk dan bersilat dengan gerakan yang luar biasa cepat serta lincahnya. Tadinya Biauw Niang-niang seorang diri melawan tamu malam itu, tetapi ternyata iblis wanita tertua itu bukan tandingan si rambut putih! Maka, dengan berseru marah, Reng Niang-niang dan Hai Niang-niang ikut menyerbu hingga tamu malam yang lihai itu dikeroyok tiga. Orang-orang lain tak berani ikut mengeroyok karena keempat orang yang sedang bertempur itu berkepandaian tinggi, sehingga merupakan bayangan empat tubuh yang sukar dikenali lagi, mana kawan mana lawan. Pada saat orang-orang sedang menyaksikan pertempuran hebat itu dengan kagum, tiba-tiba dari bawah terdengar teriakan nyaring dari Kek Kong Tojin.
"Bangsat rendah, kau datang ingin mencari kematian?" Semua orang di atas genting, kecuali yang sedang bertempur, merasa terkejut. Tiba-tiba dari bawah meloncat seorang dengan gerakan lincah dan ringan laksana seekor burung. Hong Ing hampir berteriak karena potongan tubuh orang itu hampir sama dengan Han Liong, hanya lebih kecil sedikit.
Orang yang baru datang ini memakai kedok kain sutra hitam dan tangannya memegang sebuah pedang yang berkilauan. Tangan kirinya memegang gulungan kertas yang berisi perintah dan rencana rahasia yang dibawa oleh Kek Kong Tojin siang tadi. Ternyata ia menggunakan kesempatan ini selagi orang-orang ribut mengepung si rambut putih di atas genting, si kedok hitam ini turun diam-diam dan mencuri dokumen itu di kamar Kek Kong Tojin. Tetapi Kek Kong Tojin yang masih duduk minum arak di ruang tamu dapat melihat bayangan hitam berkelebat keluar dari kamarnya. Kebetulan pada saat itu tangannya sedang memegang tulang paha ayam dan memakan dagingnya, maka ia melemparkan tulang itu ke arah bayangan hitam tersebut. Meskipun hanya kecil, tetapi karena dilempar oleh Kek Kong Tojin yang mempunyai tenaga dalam sempurna, maka tulang itu merupakan senjata yang sangat berbahaya!
Si kedok hitam mendengar sambaran angin, cepat menepiskan tangannya, dan tenaga tepisan ini mengeluarkan angin sehingga dapat memukul jatuh tulang itu ke lantai! Tanpa ayal lagi, setelah berhasil menyambar gulungan kertas penting dari atas meja, si kedok hitam menghilang, dikejar oleh Kek Kong Tojin sambil memaki-maki. Si rambut putih, meskipun dikeroyok oleh tiga iblis wanita yang lihai, namun dapat melayani mereka dengan baik dan tidak sampai terdesak. Bahkan, ia masih sempat mengerling ke arah si kedok hitam. Melihat si kedok hitam itu memegang gulungan kertas, ia berseru keras dan joan-piannya berputar menyambar bagaikan kilat hingga ketiga iblis wanita terpaksa mengelak sambil mundur. Kesempatan ini digunakan oleh si rambut putih yang berkelebat dan meloncat menabrak si kedok hitam sambil berseru, "Sobat, berikan barang itu kepadaku!" Tetapi gerakan si kedok hitam tak kalah hebatnya.
"Jangan mau enaknya saja, kawan!" ia mengejek sambil berkelit. Pada saat itu Kek Kong Tojin sudah tiba di situ dan saikong itu melayangkan kepalannya memukul si kedok hitam. Tetapi dengan mudah lawannya menghindarkan pukulan ini dan balas memukul dengan lebih hebat lagi! Kek Kong Tojin menangkis, dan dua lengan tangan beradu keras. Saikong itu heran sekali ketika lengannya terbentur sebuah lengan yang keras dan mengandung tenaga yang tak boleh dianggap enteng. Diam-diam ia mengeluh. Untuk menghadapi si rambut putih yang dapat melayani ketiga murid keponakannya itu saja ia harus mengerahkan tenaga, sekarang ditambah lagi dengan si kedok hitam yang tidak kalah tangkasnya itu. Si rambut putih rupanya tidak begitu mendesak si kedok hitam lagi, bahkan kini ia menyerang Kek Kong sambil berseru, "Ah, pantas saja penjilat-penjilat ini makin banyak dan makin kurang ajar, rupanya di sini ada anjing tuanya yang menjagoi!" Bukan main marahnya Kek Kong Tojin mendengar cacian ini. Ia melompat ke arah si rambut putih dan menuding.