Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 33

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 33

"Bangsat rendah! Berani benar kau bermulut lancang. Beritahukan namamu sebelum kuantarkan kau kepada Giam-lo-ong!" Si rambut putih tertawa.

"Aku selalu datang tak mengubah *she*, pergi tak mengganti nama. Aku adalah Lie Bun Tek dari Heng-san!" Kek Kong Tojin terkejut.

"Kau Heng-san Koai-hiap?" Si rambut putih mengangguk, dan Kek Kong Tojin segera meneriaki semua orangnya.

"Kepung orang berkedok itu. Jangan sampai dia lari!" Maka ketiga Iblis Wanita dan semua orang yang kini merasa gatal tangan hendak menonjolkan jasanya, dengan cepat mengepung si kedok hitam. Kemudian Kek Kong Tojin mencabut tongkatnya, tetapi si rambut putih tertawa mengejek.

"Ha, ha! Inikah macamnya Coatung yang ditakuti orang? Agaknya tak seberapa menakutkan!" Kek Kong Tojin tidak menjawab, tetapi sambil berseru keras tongkatnya melayang ke arah kepala lawan. Si rambut putih pun berseru, "Bagus!" dan ia menggerakkan *joan-pian*-nya menangkis, tetapi tongkat itu segera berubah gerakan, langsung menodok iga!

Inilah sebuah tipu gerakan ilmu silat Ngo-lian-pai yang berbahaya sekali, maka si rambut putih tak berani berlaku sembrono lagi. Ia berkelit dan balas menyerang. Sebentar saja kedua orang ini bertempur seru sekali dan tubuh mereka lenyap dalam dua gulungan sinar senjata yang mengeluarkan angin dingin! Sementara itu, si kedok hitam menyiapkan pedangnya menanti mereka yang mengepung dan hendak menyergapnya. Tiba-tiba seorang tinggi besar meloncat maju dan berkata, "Tuan-tuan sekalian tahan dulu! Untuk memukul anjing kecil ini tak perlu menggunakan tongkat besar, biar *siauwto* saja yang menangkap dia!"

Ia adalah Kok Beng si Kerbau Hitam, seorang kepala rampok kenamaan di Sichuan yang selain pandai silat, ia pun bertenaga besar. Kemudian, sambil membusungkan dada, ia memutar-mutar toyanya dan mendekati si kedok hitam. "Sobat, jangan kau mencari mati. Tinggalkan kertas itu dan berlututlah meminta ampun, tentu tuan besarmu akan memberi maaf padamu!" Tapi hanya terdengar suara ejekan sambil tertawa dari balik kedok sutra hitam itu sehingga Kok Beng menjadi marah sekali dan segera menyerang dengan toyanya.

Namun di luar dugaannya, kaki kiri si kedok hitam itu terangkat dan digunakan untuk mendepak ujung toyanya, lalu pedangnya berputar-putar menebas lengan yang memegang toya! Gerakan istimewa ini sungguh tak terduga dan sangat berbahaya, sehingga Kok Beng terkejut. Terpaksa ia melepaskan toyanya dan meloncat mundur.

"Hebat betul..." teriaknya dengan muka yang pucat lalu berubah merah. Baru satu gebrakan saja ia terpaksa harus melepaskan senjatanya dan mundur! Biauw Niang-niang terkejut melihat gerakan si kedok hitam. Yang tadi itu adalah gerakan tendangan *Siauw-cu-twie* yang dilakukan dengan mahir sekali. Ia teringat akan seorang pendekar gagah perkasa yang menjadi ahli tendangan itu, maka tanpa disengaja ia bertanya, "Apa hubunganmu dengan Sin-chiu Tai-hiap Khouw Sin Ek?"

Sepasang mata di balik kedok itu memandangnya dengan sinar mata berkilat, tetapi yang terdengar hanya suara tertawa mengejek. "Baiklah, biar kau ada hubungan dengan Khouw Locianpwe atau dengan dewa sekalipun, kalau kau tidak mau mengembalikan gulungan kertas itu, jangan harap kau bisa keluar dari sini!" Sehabis berkata demikian, Biauw Niang-niang segera menggerakkan pedang dan *hudtim*-nya untuk menyerang dan sebentar saja si kedok hitam telah dikeroyok.

Tetapi ternyata ia dapat bergerak dengan cepat sekali sehingga tidak mudah bagi mereka untuk menangkapnya. Hong Ing yang berdiri diam saja sambil melihat pertempuran itu dengan hati kagum, kini tahu bahwa dua orang tamu malam itu bukanlah kawan-kawan Han Liong yang pernah dilihatnya. Ia makin kagum ketika melihat gerakan si kedok hitam yang ternyata jika ditilik dari potongan tubuh dan rambutnya, masih muda benar. Tetapi kemudian diam-diam ia khawatir melihat si kedok hitam itu terdesak juga oleh tiga kebutan dan pedang dari Tiga Iblis Wanita, ditambah dengan kepungan orang-orang lain. Ketika ia menengok ke arah Kek Kong Tojin, ia melihat *saikong* itu masih bertempur seru melawan Pendekar Aneh dari Heng-san itu dengan kekuatan berimbang.

Tiba-tiba terdengar Biauw Niang-niang menjerit ketika pundaknya tergores sedikit oleh pedang musuh sehingga mengeluarkan darah. Dengan marah Tiga Iblis Wanita itu mengeluarkan *Bwee-hwa-ciam*-nya, jarum beracun yang kejam itu. Melihat senjata berbahaya itu dihamburkan ke arahnya, si kedok hitam melompat tinggi sampai dua tombak dan dari atas ia meluncur turun dari genting dengan gerakan Naga Air Terjun ke Laut yang indah dan cekatan sekali. Sambil berteriak-teriak semua pengejarnya ikut melompat turun. Hong Ing merasa heran mengapa si kedok hitam itu bukannya lari keluar tapi malah kembali masuk ke Istana Putih! Ia juga ikut melompat turun. Tapi biarpun semua orang mencari di mana-mana, si kedok hitam tak tampak bayangannya lagi.

Semua orang mencari berkeliling sambil memaki-maki tak keruan! Setelah mencari beberapa lama tanpa hasil, Tiga Iblis Wanita dengan diikuti semua orang, ramai-ramai naik lagi ke atas genting di mana Kek Kong Tojin masih bertarung seru melawan Heng-san Koai-hiap. Biauw Niang-niang bertiga melihat paman gurunya tak dapat mengalahkan lawannya, segera maju sekaligus mengeroyok. Kek Kong Tojin diam saja melihat ketiga murid keponakannya maju mengeroyok, bahkan diam-diam ia merasa girang, biarpun ia tahu bahwa hal itu tak pantas dilakukan oleh seorang tokoh persilatan besar seperti dia. Kini Heng-san Koai-hiap kerepotan juga, karena ketiga Iblis Wanita itu walaupun ilmu silatnya masih kalah setingkat, namun dengan maju bersama, mereka merupakan tenaga bantuan yang hebat juga. Perlahan-lahan ia terdesak. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara mencela.

"Kek Kong! Sungguh sikapmu tak pantas. Pengeroyokan ini membuat orang-orang gagah merasa malu!" Dan pada saat itu juga tiga buah benda hitam melayang cepat dan tepat sekali memukul ketiga pedang dari Tiga Iblis Wanita itu, hingga ketiga pedang tersebut melenting dan hampir saja terlepas dari pegangan! Heng-san Koai-hiap melompat ke belakang dan berkata kepada Kek Kong, "Barang yang kukehendaki sudah terampas oleh orang lain. Aku tidak ada waktu melayanimu lebih lama. Kalau ada untung, lain kali kita berjumpa pula!"

Tubuhnya lalu berpusing-pusing di udara dan menghilang. Sementara itu, Tiga Iblis Wanita merasa heran dan kaget sekali melihat bahwa senjata rahasia yang membentur pedang mereka dan membuat pedang itu hampir terlepas ternyata hanya tiga potong pecahan genting! Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pelemparnya! Diam-diam mereka merasa ngeri juga. Setelah semua orang turun dan berkumpul di ruang tengah, Kek Kong menghela napas dan berkata, "Biauw Niang berkata benar, musuh banyak juga yang lebih tinggi kepandaiannya dari kita. Sekarang surat-surat itu sudah jatuh ke tangan musuh, kita harus berusaha merebutnya kembali. Dan kita harus mencari bala bantuan!"

"Tetapi Paman Guru, menurut pendapatku, pencuri yang berkedok tadi bukan sekomplotan dengan Heng-san Koai-hiap. Mereka bergerak sendiri-sendiri dan terpisah," kata Hai Niang-niang. Tiba-tiba Biauw Niang-niang melihat ke sana kemari, seakan-akan ada yang dicarinya, kemudian ia bertanya heran, "Eh, mana Seng Bouw Nikouw? Kenapa aku tidak melihatnya semenjak tadi?"

Hong Ing terkejut mendengar ini dan ia pun heran, karena memang ia tidak melihat gurunya itu ikut bertempur tadi. Semua orang mencari, tetapi tidak dapat menemukan *nikouw* itu. Hong Ing merasa khawatir sekali dan meloncat naik ke atas genting. Setelah ia mencari beberapa lama, ia berteriak kaget sehingga semua orang meloncat naik mengejarnya. Ternyata pendeta perempuan itu rebah di atas genting belakang dan ketika diperiksa ternyata ia dibuat tak berdaya dengan sebuah totokan yang lihai sekali. Kek Kong Tojin segera menepuk bahu dan menotok punggung Seng Bouw Nikouw hingga pendeta itu dapat bergerak kembali. Berulang kali ia menghela napas.

"Omitohud, sungguh lihai... sungguh lihai!" Kek Kong Tojin dan ketiga Iblis Wanita heran sekali melihat pendeta wanita itu sampai dibuat tak berdaya sedemikian rupa oleh lawan, padahal Seng Bouw Nikouw bukanlah seorang yang lemah dan dalam hal ilmu silat ia hanya sedikit di bawah kepandaian Tiga Iblis Wanita itu! Seng Bouw Nikouw lalu bercerita,

"Ketika kalian bertempur tadi, aku hendak membantu, tetapi tiba-tiba aku melihat sebuah bayangan berputar-putar di atas genting belakang. Aku mengejar dan kemudian menjadi sangat terkejut, karena ternyata yang berdiri di situ bukan lain adalah Sin-chiu Tai-hiap Khouw Sin Ek! Tentu saja aku tak berani melawan orang tua itu dan diam-diam aku bersembunyi di balik wuwungan genting. Aku melihat juga betapa orang tua yang lihai itu menggunakan pecahan genting memukul pedang kalian bertiga! Melihat ia menggunakan senjata rahasia istimewa itu, aku teringat bahwa biarpun aku takkan dapat melawannya, setidaknya dari tempat gelap itu aku dapat melepaskan senjata rahasia jarum. Karena itu aku justru sembunyi di belakangnya. Tanpa pikir panjang lagi aku mengirimkan segenggam jarum, tapi tak kusangka ia sedemikian lihainya. Tanpa menengok ia mengayunkan lengan baju dan telah meniup pergi semua jarumku! Sebelum aku sempat lari, ia telah meloncat dan tanpa kusadari aku telah tertotok dan rebah tak berdaya!"

Kek Kong Tojin menghela napas. "Celaka, terlampau banyak lawan lihai yang datang malam ini. Kita harus berhati-hati dan mulai malam ini kita harus mengatur penjagaan yang kuat." Setelah berkata demikian, Kek Kong Tojin memimpin sendiri dan mengatur penjagaan di semua sudut sehingga Istana Putih itu terkurung kuat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment