Chapter 34
Kemudian, orang-orang yang tidak bertugas menjaga kembali ke kamar masing-masing. Hong Ing dengan hati lega karena si rambut putih dan si kedok hitam terlepas dari bahaya, kembali ke kamarnya pula. Ia memasuki kamar, lalu menutup pintunya dan memasang lilin. Hampir saja ia berteriak karena melihat di atas kursi di kamarnya duduk seseorang yang berkedok sutra hitam. Beruntung, si kedok hitam segera memberi tanda agar ia jangan berteriak. Hong Ing menggerakkan bibirnya hendak bertanya dengan marah kepada tamu malam yang keterlaluan dan kurang ajar itu, tetapi si kedok hitam lalu mengeluarkan sehelai surat yang agaknya telah ia sediakan sebelumnya. Hong Ing menerima surat itu dan membacanya sambil duduk di atas pembaringan dan selalu mengerling ke arah si kedok hitam. Surat itu tidak panjang dan berbunyi seperti berikut:
"Nona Lie Hong Ing,
Kau bukanlah seorang penjahat dan mungkin kau tidak tahu bahwa orang-orang di gedung ini semua adalah kaki tangan pembesar durjana yang bermaksud memberontak! Jika kau terus berada bersama mereka, maka kau akan menghadapi dua macam bahaya. Bahaya pertama: kau akan dimusuhi oleh orang-orang gagah di kalangan *kangouw*, dan bahaya kedua: kau akan dicap sebagai anggota pemberontak dan mendapat hukuman! Kau ingin belajar silat? Jika kau percaya, aku dapat menolongmu mencari seorang guru yang jauh lebih pandai daripada iblis-iblis itu. Kau takut melarikan diri? Aku dapat membantumu. Jika setuju, sekarang juga, ikutlah aku keluar dari neraka ini."
Membaca surat ini, Hong Ing terkejut. Benarkah gurunya dan semua orang itu pemberontak? Mengapa mereka memaki Han Liong dan kawan-kawannya sebagai pemberontak? Tentang kejahatan mereka, hal ini ia dapat percaya; memang ia sendiri tidak suka melihat sikap dan sepak terjang mereka itu. Tetapi, apakah si kedok hitam ini dapat dipercaya? Biarlah, ia akan ikut lari dan mencari Han Liong. Jika sudah bertemu dengan kakaknya itu, ia tidak takut akan setan yang mana pun juga! Maka ia lalu mengangguk, dan si kedok hitam tersenyum girang. Sepasang mata di balik sutra hitam itu memancarkan sinar berseri-seri tanda kegirangan. Hong Ing menyiapkan buntalan pakaiannya, dan si kedok hitam lalu memberi tanda agar gadis itu masuk ke bawah tempat tidur!
Hong Ing terheran-heran dan memandang marah karena sangkanya si kedok hitam itu mempermainkannya. Tetapi tanpa banyak cakap lagi, si kedok hitam merayap di kolong pembaringan, dan Hong Ing, karena ingin tahu sekali, mengintipnya. Beberapa kali si kedok hitam meraba-raba dinding, dan tiba-tiba terdengar bunyi berderik, lalu di atas lantai di bawah pembaringan itu terbuka lubang selebar hampir dua kaki! Kini mengertilah Hong Ing bahwa itu adalah sebuah jalan rahasia! Ia merasa malu akan kesangsiannya tadi, dan tanpa ragu ia merangkak di kolong pembaringan. Si kedok hitam lalu memasuki lubang itu, diikuti oleh Hong Ing. Ternyata di bawah tanah terdapat sebuah lorong kecil yang pas untuk seseorang merayap maju. Beberapa lama mereka merayap maju dalam gelap, dan akhirnya mereka sampai keluar dan berada di sebuah taman bunga!
"Eh, taman bunga siapakah ini?" Hong Ing bertanya heran.
"Sstt!" Si kedok hitam mencegahnya, tetapi terlambat. Dari balik pintu belakang sebuah gedung, terdengar suara bertanya.
"Siapa di taman?" Sebelum gema suara itu lenyap, penanyanya sudah sampai di hadapan mereka dengan sebilah golok besar di tangan! Hong Ing terkejut melihat orang itu yang ternyata bukan lain adalah Tan Cianbu. Ia pernah melihat kapten itu beberapa kali, maka ia dapat mengenalnya; namun Tan Cianbu tidak mengenalnya.
"Bangsat dari mana berani memasuki taman tanpa izin? Ayo buka kedokmu dan berlutut! Kalau tidak, kalian akan kusuruh tangkap dan masukkan ke penjara!" Melihat kegagahan Tan Cianbu itu, Hong Ing meloloskan pedang *siang-kiam*-nya, dan ia merasa pundaknya disentuh oleh si kedok hitam. Tetapi ia tidak tahu maksudnya, bahkan maju menyerang dengan berkata,
"Lepaskan dan jangan ganggu kami!" Tan Cianbu tergelak tertawa.
"Hm, gadis kecil ini sombong amat! Kau juga berani main-main dengan pedang!" Kemudian ia menggerakkan goloknya dan menangkis. Pedang di tangan kanan Hong Ing terpukul, dan gadis itu merasa telapak tangannya perih dan panas. Ia terkejut sekali karena pedang itu hampir saja terlepas!
"Ha ha ha!" Tan Cianbu tertawa, tetapi matanya memandang kagum.
"Kau boleh juga, Nona kecil! Kau dapat menahan tangkisanku. Hm, majulah, hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu." Tetapi Hong Ing sangsi karena ia merasa bukan tandingan kapten yang bertenaga besar itu!
"Hei, kamu yang berkedok hitam, pengecutkah kau? Bukankah kau laki-laki? Mengapa kau biarkan saja wanita ini maju seorang diri? Ayo majulah!" Si kedok hitam tampak bingung dan ketakutan! Hong Ing merasa heran sekali. Apakah Tan Cianbu ini lebih tinggi ilmu silatnya daripada si kedok hitam ini, sehingga si kedok hitam yang tadi telah ia saksikan sendiri kepandaiannya juga merasa takut menghadapinya? Tetapi Tan Cianbu melihat keragu-raguan dan kebingungan si kedok hitam, kemarahannya pun timbul.
"Pengecut! Gadis ini berani maju menyerangku, tetapi kau tidak berani! Kalau begitu, lebih dulu kau akan kubunuh. Mungkin perempuan ini akan kubebaskan karena ia gagah dan berani, tidak semacam kau!" Goloknya berkelebat membacok leher pemuda itu!
Si kedok hitam berkelit mundur, tetapi golok Tan Cianbu terus mengejar dan melakukan serangan bertubi-tubi. Kini heranlah Tan Cianbu karena berkali-kali ia menyerang, selalu tanpa hasil. Gerakan si kedok hitam itu sangat lincah dan selalu berkelit cepat, membuat ia tidak berdaya! Si kedok hitam berkelit sambil mundur hingga mereka tiba di dekat sebuah lampu taman. Tiba-tiba si kedok hitam merogoh saku dan melempar sesuatu ke arah lawannya. Tan Cianbu terkejut dan hendak berkelit, tetapi lemparan si kedok hitam cepat sekali hingga tahu-tahu benda itu mengenai mukanya! Tetapi Tan Cianbu tidak merasa sakit karena ternyata benda itu hanya sehelai saputangan sutra saja, dan di situ terdapat tulisan besar-besar. Tan Cianbu tertarik akan saputangan sutra itu, dan di bawah sinar lampu, ia membaca beberapa huruf besar itu. Seketika itu juga, kedua matanya terbelalak dan mulutnya berseru,
"Apa? Mana bisa jadi?" Tetapi ketika ia menengok, si kedok hitam telah menyambar tangan Hong Ing dan menarik gadis itu melompati tembok yang tinggi itu, dan terus lari dengan cepat sekali. Hong Ing yang terpegang pergelangan tangannya ikut lari cepat pula, jauh lebih cepat daripada ilmu larinya, karena ia seakan-akan ditarik oleh tenaga raksasa sehingga kedua kakinya seakan-akan tak menginjak bumi! Gadis ini menjadi makin kagum, dan diam-diam ia membandingkan kepandaian orang ini dengan Han Liong. Tetapi setelah lari beberapa belas *li* jauhnya dan mereka memasuki sebuah hutan, Hong Ing merasa lelah juga karena kedua kakinya sangat dipaksa.
"Aduh, aku lelah, mari beristirahat dulu!" keluhnya.
"Maaf, aku tidak ingat bahwa kau belum pandai lari cepat," kata si kedok hitam sambil melepaskan pegangannya. Hong Ing melepas lelah dan duduk di atas rumput. Ia memandang si kedok hitam yang masih berdiri dan memandang jauh ke depan.
"Kita hendak ke mana?" tanya Hong Ing.
"Ke kota raja," jawabnya singkat.
"Ke kota raja? Hendak mengapa ke sana?" Si kedok hitam memandang sehingga sinar matanya beradu dengan sinar mata Hong Ing. Kemudian ia tampak bingung dan tidak tahu bagaimana harus menjawab. Ia lalu menghela napas dan berkata perlahan,
"Kau..., kau kini sudah bebas, terserah kepadamu hendak pergi ke mana. Aku... aku tidak memaksamu ikut, yakni... jika kau tidak suka..." Hong Ing merasa dadanya berdebar-debar. Jadi, orang ini benar-benar hendak menolong belaka dan tidak bermaksud jahat? Ah, alangkah baik hatinya. Dan lenyaplah kecurigaannya karena sebenarnya tadi ia masih merasa curiga, memikirkan bahwa mungkin orang ini sengaja datang ke kamarnya hendak menculiknya. Tetapi setelah di kamarnya terdapat jalan rahasia itu, tahulah ia mengapa orang itu berada di kamarnya. Dan kini, orang ini melepaskannya!
"Kalau begitu, terima kasih atas kebaikanmu."
"Ah, itu semua tak berarti apa-apa. Hanya ingat, kau harus berhati-hati karena orang-orang Istana Putih banyak dan jahat, mungkin kau akan bertemu dengan salah seorang di antara mereka di jalan." Hong Ing tidak merasa takut karena ia tidak begitu memperhatikan kata-kata si kedok hitam. Ia sedang terheran-heran dan mengingat-ingat karena ia seperti sudah pernah mendengar dan mengenal suara orang itu, entah kapan dan di mana?
"Eh, apa katamu tadi? Oh ya, kau takut aku berjumpa dengan mereka? Aku hendak mencari kakakku, jika sudah bertemu, aku tidak perlu takut kepada siapa pun orang itu."
"Kalau begitu, agaknya gagah benar kakakmu itu." Kembali Hong Ing memikir-mikir dan mengingat-ingat, suara siapakah ini?
"Kau telah menolongku dan kini kita hendak berpisah. Maukah kau melakukan sebuah permintaanku?" Tiba-tiba Hong Ing bertanya.
"Apakah itu?"
"Yaitu... aku ingin tahu dan melihat wajahmu, agar aku tidak lupa lagi... Maukah kau membuka kedokmu itu sebentar saja?" Si kedok hitam mundur dua tindak, dan dengan cepat tangan kirinya memegang kedok sutra di mukanya, seakan-akan ia takut kedok itu akan terlepas.
"Tidak mungkin!" katanya.
"Mengapa tidak mungkin? Apa... apa mukamu bercacat dan jelek sekali?" Si kedok hitam itu cepat menggeleng-geleng kepala, tetapi lalu mengangguk-angguk berkali-kali, hingga mau tidak mau Hong Ing tersenyum geli.
"Tidak apalah!" Akhirnya Hong Ing berkata sambil menghela napas.
"Jika kau tidak mau dikenal, aku pun tidak akan memaksa! Tetapi betapapun juga, aku akan selalu menganggap kau seorang yang gagah dan baik hati." Ketika mereka hendak berpisah, tiba-tiba dari belakang ada dua bayangan orang berlari cepat ke arah mereka. Kepandaian dua orang itu ternyata tinggi juga karena sebentar saja mereka sudah tiba di hadapan si kedok hitam dan Hong Ing. Hong Ing terkejut sekali karena yang datang itu adalah seorang laki-laki dan seorang gadis muda yang cantik jelita dan berpakaian serbahitam hingga tampak kulit tangan dan pergelangan lengannya yang putih. Dan laki-laki itu bukan lain dari Heng-san Koai-hiap Lie Bun Tek sendiri, orang lihai berambut putih yang mengacau di Istana Putih.
"Ha ha ha! Jika memang berjodoh, biar tidak disengaja dan tidak disangka-sangka, akhirnya bertemu juga!" Heng-san Koai-hiap tertawa terkekeh-kekeh. Lalu, ia mengangkat kedua tangannya memberi hormat kepada si kedok hitam yang dibalasnya dengan hormat pula.
"Sobat berkedok yang gagah berani, aku kagum melihat sepak terjangmu tadi. Agaknya kau pun mengikuti jalan lurus dari para patriot. Ketahuilah, aku adalah Heng-san Koai-jin Lie Bun Tek, dan ini adalah sumoiku bernama Pauw Lian. Kau tentu sudah pernah mendengar nama kami dan tahu bahwa kami bukanlah orang-orang jahat. Terus terang kukatakan bahwa kami pun pengikut jejak para patriot! Dokumen yang kau rampas dari Istana Putih itu sangat kami butuhkan. Maka, kuminta dengan hormat, berikanlah itu padaku, sobat."
"Maaf, Saudara, aku sendiri pun perlu juga akan surat-surat penting itu. Soalmu dengan penghuni Istana Putih tiada sangkut pautnya denganku. Aku bertugas, dan sebagai seorang laki-laki aku harus menunaikan tugasku itu dengan sempurna. Jika tugasku telah selesai, mungkin sekali aku dapat membantu menghancurkan kaki tangan durjana yang rendah itu!"
"Hm, jawabanmu sangat licin bagai belut yang tidak tentu ujung pangkalnya! Pendeknya, aku ingin tahu, kau ini pembela rakyat atau pembela kaisar?" Gadis cantik berpakaian hitam yang disebut Pauw Lian itu berkata, suaranya merdu, tetapi tajam. Mendengar kata-kata setengah sesalan dan penuh kecurigaan ini, si kedok hitam memandang dengan tajam dan menjawab,
"Pembela kedua-duanya!" Lie Bun Tek tertawa, dan Pauw Lian memperdengarkan suara ejekan.
"Hm, jawaban apa ini? Jika kau pembela rakyat dan kaisar, lantas, siapa yang kauanggap musuhmu?"