Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 35

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 35

"Musuhku adalah segala perampok yang mengacau rakyat dan segala macam durjana yang mengacau negara!" Lie Bun Tek dan Pauw Lian saling pandang dengan heran.

"Eh, sobat, kau sungguh aneh. Coba buka kedokmu dan perlihatkan mukamu kepada kami agar kami dapat melihat apakah kau ini lawan atau kawan," kata Lie Bun Tek.

"Kubuka pun kau tidak akan kenal," jawab si kedok hitam.

"Kalau begitu engkau ini tentu bukan orang baik-baik. Orang yang bermaksud baik tidak akan menyembunyikan muka di belakang kedok," kata Lie Bun Tek.

"Suheng, bangsat ini tentu mempunyai maksud rahasia," kata Pauw Lian kepada Lie Bun Tek.

"Memang aku mempunyai tugas dan maksud rahasia," jawab si kedok hitam sehingga Lie Bun Tek menjadi heran dan marah mendengar orang berterus terang secara menantang itu. Dengan berseru keras ia mencabut joan-piannya dari pinggang dan berkata,

"Agaknya kau mau mencoba kami, orang muda yang aneh!" Si kedok hitam memperdengarkan suara mengejek sambil mencabut pedangnya.

"Tahan senjatamu, ia bukanlah orang jahat!" Hong Ing berteriak karena ia khawatir si kedok hitam tidak akan dapat melawan si rambut putih yang tinggi ilmunya itu.

"Kau pun bukan orang baik-baik!" kata Pauw Lian yang maju menghalangi.

"Kau kira aku takut padamu?" Hong Ing membentak marah dan mencabut siang-kiamnya! Namun Pauw Lian hanya memandangnya dengan tersenyum manis bagaikan seorang dewasa tengah mempermainkan seorang kanak-kanak. Sementara itu, si kedok hitam sudah mulai bertempur melawan Heng-san Koai-hiap Lie Bun Tek. Sekali senjata mereka beradu, keduanya mundur karena merasakan getaran hebat di telapak tangan masing-masing. Sambil melompat mundur mereka memeriksa senjata masing-masing, tetapi ternyata kedua senjata itu tidak rusak. Dengan perasaan kesal, Lie Bun Tek meloncat maju lagi melakukan serangan hebat. Si kedok hitam berkelit lincah dan balas menyerang.

Ternyata tenaga dan kepandaian mereka seimbang. Lie Bun Tek memainkan pukulan-pukulan ilmu permainan joan-pian dari cabang Heng-san-pai yang tinggi, tetapi pedang si kedok hitam pun dapat bergerak dengan lincah dan cepat karena ia memainkan tipu silat Pedang Delapan Dewa Bermain-main. Hong Ing yang merasa gemas melihat lagak Pauw Lian yang seakan-akan memandang rendah kepadanya, dengan teriakan keras maju menyerang dengan siang-kiamnya! Ia memainkan jurus-jurus dari Ngo-lian-pai yang belum lama ini ia pelajari dari Biauw Niang-niang. Tetapi alangkah terkejutnya ketika ia melihat lawannya berputar berbelit-belit cepat dan serta-merta telah berada di belakangnya! Ia terus menyerang dan jurus-jurus yang ganas dan tipu-tipu mematikan dari Ngo-lian-pai ia keluarkan.

"Hemm, sayang kau yang muda dan cantik telah mempelajari ilmu silat jahat," kata Pauw Lian menyindir sambil meloncat menghindar. Mendengar sindiran itu dan melihat serangan-serangannya tidak mendatangkan hasil sedikit pun, wajah Hong Ing berubah merah karena malu dan marah. Ia segera mengubah gerakannya dan kini mempergunakan ilmu pedang Ngobun-to yang ia pelajari dari Han Liong. Kedua pedangnya bergerak teratur sekali dan serangan-serangannya kuat mendatangkan angin.

"Bagus! Ini baru ilmu pedang tulen!" Nona baju hitam itu memuji. Sesungguhnya permainan siang-kiam Hong Ing hebat sekali dan gerakan kedua pedangnya sukar dilawan. Tetapi ternyata ia menghadapi lawan kelas berat yang sangat tinggi ilmu ginkangnya hingga ia dapat dipermainkan, biarpun Pauw Lian tidak memegang senjata! Hong Ing hampir menangis karena jengkel dan ia gertakkan giginya sambil menyerang terus membabi buta. Pauw Lian melihat kenekadan lawannya menjadi marah juga, sambil berseru,

"Awas balasan seranganku!" ia mendesak dengan sepasang kepalan dan sepasang kakinya yang dapat bergerak cepat sekali. Hong Ing terdesak mundur dan keadaannya berbahaya! Pada saat itu terdengar seruan orang,

"Ing-mo! Jangan khawatir, aku datang!" Belum habis gema suara itu, orangnya sudah datang dan tiba-tiba Pauw Lian melihat seorang pemuda baju putih berdiri di depannya menggantikan Hong Ing yang kini berdiri di belakang pemuda itu! Alangkah girang hati Hong Ing mendengar suara dan melihat orang yang baru datang ini. Segera ia menubruk maju dan memeluk,

"Han-ko! Syukurlah kau datang. Tolonglah aku dan hajarlah wanita yang sangat menghinaku ini!" Melihat Hong Ing memeluk pemuda itu, Pauw Lian mengeluarkan suara cemoohan,

"Hm, tidak tahu malu!" Hong Ing menghadapinya dengan bertolak pinggang.

"Mau apa? Ini kakakku dan kalau kau memang perempuan gagah, lawanlah dia. Kalau kau menang, aku bersedia berlutut seratus kali di depanmu dan menyebut nenek guru padamu!" Meskipun ia tahu bahwa pemuda yang berdiri bingung di depannya ini bukanlah lawan ringan, namun Pauw Lian merasa gemas dan marah juga mendengar tantangan Hong Ing.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment