Chapter 36
"Apa yang harus ditakuti?" katanya, dan tanpa banyak bicara lagi, ia menerjang Han Liong dengan serangan Harimau Mencuri Hati! Tadinya Han Liong hendak mendamaikan mereka karena ia tahu bahwa adiknya suka sekali mencari onar, tetapi ia tak diberi kesempatan dan gadis itu langsung memukul Han Liong. Angin pukulan gadis berbaju hitam ini berat dan kuat sekali. Karenanya, terpaksa ia melayaninya dengan hati-hati. Sebentar saja ia diam-diam mengeluh karena lawan yang dipilih Hong Ing kali ini benar-benar merupakan lawan terberat yang pernah ditemuinya! Ia kagum sekali akan kepandaian gadis jelita ini. Tak lama kemudian ia merasa makin kagum bercampur heran karena ternyata kepandaian gadis itu, baik *ginkang* maupun *lweekang*-nya, tidak berselisih jauh dengan kepandaiannya sendiri! Timbul rasa sayangnya, dan ia ingin sekali tahu siapakah gadis ini dan murid siapakah ia.
Sebaliknya, Pauw Lian merasa terkejut dan heran sekali mengapa pemuda ini demikian lihai dan sungguh di luar dugaannya semula. Gadis yang baru berusia sembilan belas tahun itu, yang baru saja turun gunung, merasa diri tiada tandingnya lagi, karena memang ia sudah memiliki ilmu silat yang mendekati batas kesempurnaan, bahkan *suheng*-nya sendiri, Heng-san *Koai-hiap* Lie Bun Tek, yang terkenal akan kelihaian dan kepandaiannya, tak dapat mengalahkannya, terutama dalam ilmu pedang. Maka, kini menghadapi Han Liong yang dapat melayani, bahkan dapat mendesaknya, ia menjadi gusar sekali. Dengan teriakan marah ia mencabut pedangnya. Sinar hitam berkelebat di depan muka Han Liong. Pemuda ini terkejut melihat gadis itu kini memegang sebilah pedang hitam yang sinarnya menyeramkan.
Tiba-tiba ia teringat akan kata-kata *suhu*-nya, Kam Hong Siansu yang mengatakan bahwa di dunia ini masih terdapat ilmu silat pedang yang dapat menandingi Pek Liong Kiam Sut, yakni Ouw Liong Kiam Sut atau Ilmu Pedang Naga Hitam. Gadis ini mempunyai sebuah *pokiam* berwarna hitam berukir naga pula. Bukankah pedang ini yang disebut *Ouw Liong Pokiam*? Hampir saja ia melompat keluar kalangan, tetapi tiba-tiba timbul kegembiraannya untuk mencoba sampai di mana kehebatan *Ouw Liong Kiam Sut*! Ia pun mencabut *Pek Hong Pokiam*-nya dan menangkis setiap serangan gadis itu. Pauw Lian melihat sinar pedang Han Liong putih melepak seperti perak, juga merasa terkejut. Ia pun pernah mendengar gurunya bercerita tentang *Pek Liong Pokiam*, maka sama juga halnya dengan hati Han Liong, ia ingin sekali mencoba ketinggian ilmu pedang pemuda itu.
Kalau tadi ketika bertempur mengadu kepalan, mereka berkelebat ke sana kemari hingga dua bayangan hitam dan putih seakan-akan tergabung menjadi satu. Kini, dua *pokiam* itu dimainkan sedemikian cepatnya sehingga yang tampak hanya dua gulung sinar hitam dan putih berputar-putar cepat seperti kilat, sedangkan dua orangnya sama sekali tak tampak pula. Tentu saja, melihat pertunjukan ini, Hong Ing hanya memandang dengan mulut ternganga saking kagumnya. Sementara itu, si kedok hitam juga sedang bertempur dengan hebatnya melawan Lie Bun Tek. Pedang dan *joan-pian* saling serang dan saling tangkis sampai mengeluarkan bunga api. Pada saat pertempuran sedang hebat-hebatnya, tiba-tiba terdengar orang menyebut.
"Siancai, *siancai*, Lie Bun Tek *Enghiong*, tahan senjatamu dan maafkan muridku. Un Kiong, buang pedangmu!" Mendengar seruan ini, secara bersamaan si kedok hitam dan Heng-san *Koai-hiap* melompat mundur dan menahan senjata masing-masing, karena si kedok hitam mengenal suara gurunya sedangkan Lie Bun Tek kenal pula suara Khouw Sin Ek atau *Sin-chiu Taihiap* yang telah menolongnya ketika bertempur di atas geteng Istana Putih. Sebaliknya, Hong Ing yang mendengar nama Un Kiong disebut segera menghadapi mereka dengan heran. Lie Bun Tek menjura kepada *Sin-chiu Taihiap* sambil berkata,
"Maafkan *siauwte*, Lo Taihiap." Si kedok hitam berlutut sambil menyebut,
"Suhu."
"Un Kiong, buka kedokmu! Terhadap rekan-rekan segolongan, tak perlu kau menyembunyikan mukamu." Si kedok hitam segera merenggutkan sutera hitam itu dan Hong Ing hampir saja tak dapat menahan jerit herannya, karena si kedok hitam itu bukan lain ialah si pemuda tolol, Tan Un Kiong, putra dari Tan *Cian Bu* yang tinggal di dekat Istana Putih. Hal ini sama sekali tak disangkanya. Maka, tanpa terasa kakinya melangkah maju mendekati pemuda itu. Lalu, sambil menatap wajahnya, ia berkata,
"Kau...??" Un Kiong hanya tersenyum dan menjura.
"Hong Ing *cici*!" Lie Bun Tek berseru kepada Pauw Lian yang masih bertempur.
"*Sumoi*, tahan pedangmu..." Tetapi Khouw Sin Ek mencegahnya dan berkata perlahan, "Jangan ganggu mereka. Tidak usah khawatir, mereka takkan melukai satu sama lain. Lihat, alangkah hebatnya *kiam sut* mereka. Sungguh yang tertinggi di dunia ini. Lihat... bukankah mirip sepasang naga hitam dan putih bermain-main di awan?" Setelah puas menonton, Pendekar Besar Kepalan Malaikat ini mengambil dua buah batu kecil dan mengayunkannya ke arah dua gundukan sinar hitam putih yang sedang bertempur.
"*Jiwi*, silakan berhenti!" Suaranya terdengar nyaring dan keras sekali. Dua buah batu kecil itu dengan tepat menghantam dua pedang, tetapi tidak membuat pedang itu terenggut, bahkan dua buah batu itu terbelah dengan mudah dan jatuh ke atas tanah. Tetapi ini cukup membuat Han Liong dan Pauw Lian insaf bahwa ada orang yang pandai memisahkan mereka. Mereka tidak berani memandang rendah dan keduanya segera melompat sambil menjura. Sepasang mata Pauw Lian yang jeli menatap wajah Han Liong dengan kagum; sebaliknya, Han Liong juga tertarik sekali akan kepandaian gadis itu.
Pada saat mereka saling pandang itu, seakan-akan ada sesuatu yang mengikat hati mereka dan membuat mereka malu, hingga serentak pula keduanya menundukkan muka. Lie Bun Tek memperkenalkan pendekar tua itu kepada *sumoi*-nya sedangkan Hong Ing yang masih saja bermain mata dengan Un Kiong segera lari dan memegang lengan kakaknya. Gadis ini dengan lincah dan gembira memperkenalkan Un Kiong kepada Han Liong dan serta-merta menceritakan bagaimana "pemuda tolol" itu telah menolongnya lari dari Istana Putih. Berkat kebijaksanaan Khouw Sin Ek yang mempunyai nama harum dan disegani, mereka dapat menahan rasa sakit hatinya dan melenyapkan rasa permusuhan. Kemudian, masing-masing memperbincangkan riwayat masing-masing untuk menghindarkan salah paham.
"*Cuwi* sekalian tentu heran melihat kenyataan bahwa aku, orang tua, mempunyai seorang murid putra seorang pembesar yang berpengaruh di kalangan pahlawan raja. Biarpun aku orang dari marga Khouw bukan termasuk anti kaisar, namun memang terdengar ganjil bahwa aku mengambil murid seorang putra *Cian Bu*. Hal ini ada sebabnya, maka kalian dengarlah riwayatku dan muridku, Tan Un Kiong ini." Demikian Khouw Sin Ek mulai membuka riwayatnya. Khouw Sin Ek adalah seorang *hiap kek* besar, yang mewarisi kepandaian silat tunggal dari Bong Tak *Totiang*, seorang pertapa dan ahli persilatan Thai San yang mengasingkan diri dan diam-diam menciptakan ilmu silat dari Thai San, Bu Tong, dan Siaw Lim yang ia gabungkan menjadi satu. *Totiang* ini kemudian menurunkan semua kepandaiannya kepada Khouw Sin Ek karena ia melihat bahwa Khouw Sin Ek mempunyai tulang baik dan berbudi tinggi.