Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 37

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 37

Setelah belasan tahun belajar dan dapat mewarisi semua kepandaian suhunya, Khouw Sin Ek mulai berkelana dan menggunakan kepandaiannya untuk menolong sesama manusia. Sepak terjangnya yang gagah perkasa membuat namanya harum: disegani, dikagumi kawan, dan ditakuti lawan. Pernah seorang diri ia membunuh Pangeran Liok Bin Ong yang terkenal jahat dan memeras rakyat dengan sewenang-wenang. Kemudian ia mengobrak-abrik sarang perampok di Gunung Kim-Wat-san yang dikepalai oleh Kang Leng Giap, seorang jagoan berilmu tinggi yang karena sombong serta mengagung-agungkan dirinya sebagai orang gagah nomor satu, lalu berbuat sewenang-wenang saja, merampok rakyat dan petani yang sudah miskin dan hidup melarat.

Namun Tan Cian-bu yang jujur dan berwatak satria itu merasa kagum dan sayang kepada Sin-chiu Taihiap, karena menurut pendapatnya, orang semacam Liok Bin Ong itu memang sudah sepatutnya dilenyapkan dari muka bumi ini! Ia berpikir pula, kalau ia sendiri tidak menjabat pangkat Cian-bu, tentu sudah dari dulu ia pergi mencari pangeran jahat dan cabul itu untuk menghajarnya. Demikian ia menyelamatkan jiwa Sin-chiu Taihiap dari hukuman. Khouw Sin Ek merasa berterima kasih dan kagum melihat kepribadian Tan Cian-bu, maka untuk membalas jasanya, ia secara diam-diam tanpa sepengetahuan Kapten Tan itu, telah mengangkat Un Kiong sebagai muridnya. Pada suatu hari ketika Un Kiong yang berusia tujuh tahun itu bermain-main di taman bunga, Khouw Sin Ek datang. Di depan anak itu ia meloncat ke sebuah pohon dan menggunakan tangannya menangkap burung.

Ketika ia turun kembali, burung di telapak tangannya yang menggerak-gerakkan sayap itu ternyata tidak dapat terbang, seakan-akan menempel di telapak tangan Khouw Sin Ek. Tentu saja Un Kiong sangat tertarik dan ia menerima dengan gembira ketika orang tua itu mengangkatnya sebagai murid. Tetapi Khouw Sin Ek tidak ingin orang mengetahui bahwa ia menerima murid seorang putra kapten pengawal raja, maka ia berpesan dengan keras kepada muridnya supaya tidak membocorkan rahasia ini. Un Kiong ternyata selain berkemauan besar dan berbakat baik, juga berhati teguh sehingga terhadap orang tuanya sendiri pun ia tidak memberitahukan bahwa ia telah menjadi murid Sin-chiu Taihiap Khouw Sin Ek yang berkepandaian sangat tinggi! Bahkan untuk menyembunyikan kepandaiannya, ia berpura-pura menjadi pemuda tolol!

"Demikianlah maka Un Kiong menjadi muridku. Pertama karena ayahnya pernah menolongku dan kedua karena aku melihat ia mempunyai bakat yang baik." Khouw Sin Ek mengakhiri penuturannya. Kini giliran Tan Un Kiong menuturkan pengalamannya.

"Sebagai seorang keturunan prajurit sejati, ayah sangat mengutamakan kesetiaan kepada pemerintah. Ia berpendirian bahwa betapapun bentuk pemerintah yang diabdinya, seorang prajurit harus membelanya dengan setia, siap mengorbankan jiwa raganya. Aku tidak dapat menyalahkan sikap ini yang menurut pendapatku benar juga. Karena itulah maka biarpun aku merasa bersimpati akan perjuangan para patriot bangsa, namun sebagai putra seorang kapten barisan penjaga istana raja, aku tidak berani berhubungan dengan mereka. Lagi pula, menurut pendapatku, raja yang memerintah tidaklah demikian jahat sebagaimana banyak disangka orang. Ia hanya terpengaruh oleh hasutan para durjana yang jahat. Ayah sangat benci kepada para durjana ini, teristimewa kepada Co Thaikam yang semakin lama semakin besar pengaruhnya. Ayah sangat sedih memikirkan keadaan kaisar."

Demikian Un Kiong memulai penuturannya. Kemudian ia mengatakan bahwa ayahnya pernah berkata kepadanya tentang adanya bisikan bahwa Co Thaikam bermaksud hendak memberontak! Memang thaikam ini telah memengaruhi para pembesar tinggi sehingga kaisar seakan-akan terkurung. Mendengar hal ini, dan karena kasihan melihat kesedihan ayahnya, juga karena berkali-kali ayahnya menyatakan penyesalannya bahwa Un Kiong demikian tolol, pemuda itu diam-diam mulai melakukan penyelidikan terhadap penghuni Istana Putih yang ia tahu adalah kaki tangan Co Thaikam. Pernah ia menggeledah semua kamar tetapi hasilnya nihil.

Kebetulan sekali ia dapat mendengar kejumawaan Kek Kong Tojin sehingga ia memberanikan diri mencuri dokumen-dokumen itu, tepat pada waktu Heng-san Koaihiap Lie Bun Tek bertempur dengan tiga iblis wanita. Setelah berhasil memasuki kamar Hong Ing, di mana ia memang tahu terdapat sebuah jalan rahasia, ia yang merasa tertarik dan menyukai nona ini, membujuknya lari. Maksud Un Kiong hendak membawa dokumen yang di antaranya terdapat rencana pemberontakan Co Thaikam terhadap Istana Raja dan membongkar rahasia busuk ini kepada Raja! Ia sengaja memakai kedok agar tidak dikenal oleh para penghuni Istana Putih dan kaki tangannya, karena kalau sampai ketahuan, tentu ayahnya berada dalam bahaya dan akan dimusuhi mereka. Ketika tiba giliran Hong Ing bercerita, sebelumnya nona ini sambil memegang lengan Pauw Lian, berkata dengan suara manja.

"Cici, kuharap maafkan aku sebesar-besarnya karena telah berlaku kurang ajar kepadamu. Sebenarnya aku... aku iri melihat kecantikan dan kepandaianmu," sampai di sini ia mengerling kepada Han Liong. "Dan nanti sewaktu-waktu kuharap Cici suka mengajar ilmu pedang kepadaku."

"Ah, bukankah kau sudah mempunyai seorang kawan yang bisa mengajarmu dan yang kepandaiannya tidak terkalahkan olehku?" Pauw Lian balas menggoda dengan kerlingan mata ke arah Un Kiong. Godaan ini mengenai tepat, tetapi dasar cerdik, Hong Ing bahkan dapat membelokkan godaan ini untuk menggoda Un Kiong dengan berkata,

"Kau maksudkan Saudara Tan Un Kiong? Ah, bukankah ia pemuda tolol yang tidak mengerti apa-apa? Ketahuilah, pernah ia meniru-niru aku belajar ilmu pedang dengan gerakan-gerakan seperti seorang badut!" Mendengar ini semua orang tertawa, tidak terkecuali Khouw Sin Ek, hanya Un Kiong saja yang membesarkan matanya kepada Hong Ing, tetapi mukanya merah karena malu! Diam-diam Hong Ing merasa suka kepada Pauw Lian yang ternyata juga bersifat jenaka dan suka main-main seperti dia pula.

Heng-san Koaihiap Lie Bun Tek menceritakan riwayatnya sendiri dan sumoinya secara singkat. Di puncak Gunung Heng-san terdapat sebuah bio (kelenteng) tua yang sederhana, di mana terdapat seorang pertapa wanita yang sudah tua. Pertapa wanita ini bukan lain adalah sumoi dari Kam Hong Siansu, yang bernama Kui Giok Ciu Suthai. Ilmu kepandaian Kui Giok Ciu Suthai ini tinggi sekali, terutama ilmu pedangnya. Sebenarnya ketika mudanya di antara Kui Giok Ciu dan Kam Hong Siansu, kedua kakak-beradik seperguruan ini, terjalin tali asmara yang erat. Tetapi sungguh mengharukan sekali, hubungan mereka terputus karena kecurangan seorang pemuda yang merasa iri hati dan menggunakan siasat jahat sehingga suheng dan sumoi yang saling mencinta itu pada suatu hari sampai dapat ditipu dan merasa cemburu satu sama lain.

Pemuda curang itu tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan ia dapat bertindak demikian jauh dan membuat mereka berdua pada suatu hari mengadu ilmu pedang di atas Bukit Kam-Hong-san! Ternyata kepandaian mereka berimbang dan biarpun sudah bertempur hampir semalam penuh sampai melebihi ribuan jurus, belum juga kelihatan siapa yang lebih unggul. Kam Hong Siansu yang ketika itu masih bernama Bun Sin Wan menggunakan Pek-Liong Pokiam dan memainkan Pek-Liong Kiamsut, sedangkan Kui Giok Ciu menggunakan Ouw-Liong Pokiam dan memainkan Ouw-Liong Kiamsut. Ilmu pedang mereka memang satu cabang, hanya terdapat perbedaan sifat saja karena suhu mereka memang sengaja menciptakan kedua ilmu pedang itu khusus untuk murid wanita dan murid laki-laki yang dua orang itu.

Suhu mereka adalah seorang pertapa aneh yang mengasingkan diri dan hanya mereka kenal dengan sebutan Bu Beng Lojin atau Orang Tua Tanpa Nama. Orang aneh ini mempunyai sepasang Pedang Pusaka Naga Putih dan Naga Hitam! Kedua pedang itu ia berikan kepada kedua muridnya dengan pesan agar kelak pedang itu diberikan kepada murid-murid yang benar-benar bertulang bersih dan berjiwa luhur. Agaknya memang sudah merupakan semacam kutukan turun-temurun bahwa siapa saja yang memegang kedua pedang itu tentu terlibat dalam rantai asmara. Demikian pula Kui Giok Ciu dan suhengnya. Diam-diam hati mereka tertusuk panah asmara sehingga mereka tidak berdaya lagi. Tetapi ikatan yang seharusnya mendatangkan kebahagiaan ini, hancurlah oleh kecurangan pemuda bermarga Gak yang juga seorang ahli silat tinggi dari cabang Bu-tong.

Akhirnya kedua suheng dan sumoi itu sadar akan kecurangan Gak Bin Tong dan mereka berdua mencarinya lalu membunuhnya. Tetapi hubungan mereka telah renggang; hati kecil mereka telah dikotori sakit hati dan kekecewaan. Namun, agaknya mereka masih merasa berat dan saling setia sehingga mereka berdua bersumpah tidak akan kawin dengan orang lain dan tinggal membujang seumur hidup, serta hidup sebagai pertapa di atas gunung! Bun Sin Wan bertapa di atas Bukit Kam-Hong-san dan memakai nama Kam Hong Siansu, dan Kui Giok Ciu bertapa di atas Bukit Heng-san dan disebut Kui Suthai. Mereka berdua bertapa sambil memperdalam ilmu pedang mereka dan mereka telah berjanji akan menurunkan kepandaian kepada seorang murid, dan kemudian murid mereka akan menetapkan siapa yang lebih unggul!

Ternyata kemudian bahwa murid Kam Hong Siansu yang mewarisi Pek-Liong Kiamsut dan Pedang Pusaka Naga Putih adalah Han Liong, sedangkan yang mewarisi Ouw-Liong Kiamsut dan Pedang Pusaka Naga Hitam adalah Pauw Lian. Selain Pauw Lian, pertapa wanita itu masih menerima seorang murid lagi, yakni Lie Bun Tek, seorang yatim-piatu yang hidup terlunta-lunta dan tersesat naik ke Gunung Heng-san. Melihat anak itu bertulang baik dan patut dijadikan seorang pendekar, Kui Giok Ciu Suthai memungutnya dan mendidiknya. Tetapi karena Ilmu Pedang Naga Hitam hanya diperuntukkan bagi seorang saja, maka ia tidak memberi pelajaran ilmu pedang kepada muridnya ini, sebaliknya menurunkan ilmu silat Joan-Pian yang lihai dan yang tingkatnya hanya sedikit lebih rendah daripada Ouw-Liong Kiamsut.

Demikianlah, Heng-san Koaihiap Lie Bun Tek menuturkan riwayatnya, tentu saja ia tidak menuturkan riwayat gurunya karena ia tidak tahu akan hal itu. Sebaliknya Pauw Lian juga diam saja dan tidak banyak menuturkan keadaan diri dan asal-usulnya, karena ia merasa malu kepada Han Liong. Hanya kadang-kadang ia mencuri pandang dengan kerlingan mata ke arah pemuda itu, dan dengan tajam matanya menatap Pedang Pusaka Naga Putih yang tergantung di punggung Han Liong. Sebetulnya, siapakah Nona Pauw Lian ini? Marilah kita ikuti riwayatnya secara singkat. Ketika Kui Giok Ciu sambil memegang Pedang Pusaka Naga Hitam berpisah dari Bun Sin Wan dengan hati patah akibat asmara gagal, ia terjun ke dalam dunia kangouw dan melakukan hal-hal yang menggemparkan. Dengan pedang hitam di tangan, ia membinasakan Lima Iblis dari Keng-Liat yang terkenal jahat, mengobrak-abrik sarang kawanan penjahat dan perampok di Bukit Heng-san yang dikepalai oleh Raja Naga Teng Lok, pergi ke Gunung Kun-Lun dan dengan ilmu pedangnya mengalahkan semua petinggi dari cabang Kun-Lun, lalu seorang diri mengambil kepala Tui Keng Hok yang durjana, berpengaruh besar, dan terkenal jahat pemeras rakyat. Masih banyak hal-hal luar biasa yang ia lakukan untuk melampiaskan sakit hati dan kekecewaannya akibat asmara gagal! Kemudian ia memilih Bukit Heng-san sebagai tempat pertapaan dan sejak itu ia menyembunyikan diri di gunung itu, bertapa dan memperdalam ilmu pedangnya Ouw-Liong Kiamsut karena khawatir kalau-kalau kelak muridnya tidak dapat melawan murid suhengnya! Ia bertapa sejak masih gadis remaja berusia tidak lebih dari dua puluh tahun sampai menjadi seorang nenek berusia lima puluh tahun lebih.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment