Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 38

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 38

Pada suatu hari, secara tidak sengaja Kui Giok Cin melihat bayangannya sendiri di dalam telaga. Ia terkejut melihat bayangan tubuhnya yang merupakan seorang nenek tua dengan rambut yang telah memutih! Tak terasa ia menangis tersedu-sedu dan terkejut pula ketika teringat bahwa ia belum mempunyai murid. Maka, pergilah ia turun gunung dengan maksud mencari murid. Baru saja ia menuruni Bukit Heng-san, di dalam sebuah hutan ia melihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih lima belas tahun roboh di bawah pohon siong besar dalam keadaan sakit. Anak muda itu ternyata adalah Lie Bun Tek, seorang anak yatim piatu yang hidup sebatang kara dan terlunta-lunta. Pada saat itu, ia menderita sakit dan rebah tak berdaya di dalam hutan itu. Kui Giok Ciu Suthai merasa kasihan sekali melihat kesengsaraan anak muda itu dan ia teringat akan keadaan serta nasibnya sendiri.

Maka, ia segera menolongnya dan memberikan obat. Setelah Lie Bun Tek sembuh, ia berpesan kepada anak itu untuk menjaga tempat pertapaannya selama ia pergi. Ia pun kembali pergi mencari murid. Ia maklum bahwa Lie Bun Tek adalah seorang anak yang bertubuh bersih dan mempunyai dasar yang baik untuk menjadi orang gagah. Sebenarnya ia tidak akan kecewa jika mempunyai murid seperti anak itu, tetapi sayang Lie Bun Tek bukanlah seorang wanita, sedangkan Ouw-liong Kiamsut harus diturunkan kepada seorang murid wanita sebagaimana yang selalu ia cita-citakan. Selama lima tahun Kui Suthai merantau dalam usahanya mencari seorang anak yang pantas menjadi muridnya. Ia tidak berniat pulang ke atas Gunung Heng-san sebelum berhasil mendapatkan seorang murid yang cocok.

Pada suatu hari ketika melalui sebuah hutan, ia mendengar suara orang berteriak minta tolong. Ia mempercepat langkahnya dan menuju ke arah suara itu. Di atas lapangan rumput, ia melihat seorang laki-laki sedang berkelahi melawan empat orang yang mengeroyoknya. Seorang yang berpakaian pelayan roboh bermandikan darah dan rupanya dialah yang berteriak-teriak minta tolong tadi. Kepandaian orang yang dikeroyok itu cukup baik, tetapi menghadapi empat orang yang bersenjata golok sedangkan ia sendiri bertangan kosong, ia kelihatan kewalahan juga. Tubuhnya telah penuh dengan luka, tetapi ia masih bisa melawan dengan gigih. Di dekat itu terlihat sebuah kereta kecil dan seorang anak perempuan yang baru berusia kurang lebih lima tahun berseru-seru kepada ayahnya yang sedang dikeroyok.

"Ayah, pukul, Ayah! Pukul mereka!" Kedua tangannya yang kecil terkepal erat-erat dan sepasang matanya yang bening menyala-nyala. Melihat keadaan mereka, Kui Suthai segera bertindak. Sekali ia berkelebat dan menggunakan kedua tangan serta kakinya, tubuh keempat penjahat itu terlempar jauh dan roboh tak dapat bangun lagi! Laki-laki yang dikeroyok itu tidak tahu apa yang telah terjadi. Ia hanya melihat bayangan putih berkelebat dan tahu-tahu keempat musuhnya menjerit, terlempar jatuh, dan tidak bangun lagi. Tadi ia tidak sempat memikirkan itu semua karena kepalanya terasa pusing dan tubuhnya lemah. Ia telah mengeluarkan terlalu banyak darah. Dengan langkah lemah lunglai, ia menghampiri anaknya, tetapi sebelum sampai di kereta anaknya itu, ia telah roboh terguling.

"Ayah!" Anak perempuan itu menjerit dan meloncat dari atas kereta lalu memeluk tubuh ayahnya yang penuh dengan darah.

Ternyata laki-laki itu adalah Pauw Bin Siong, seorang pedagang kecil yang baru saja ditinggal mati istrinya dan sedang menuju ke kampung halamannya dengan seorang anak dan seorang pelayan. Ia bermaksud pindah ke kampung sendiri agar dapat bersatu dengan orang tuanya agar anaknya ada yang merawat. Pauw Bin Siong menderita luka terlalu berat dan sejak tadi mengeluarkan banyak darah, maka Kui Suthai yang melihat keadaannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja. Tak berapa lama lagi, Pauw Bin Siong yang bernasib malang itu meninggal dunia dalam pelukan anak perempuannya yang baru berusia lima tahun itu! Anak perempuan itu bernama Lian dan semenjak saat itu ia menjadi yatim piatu dan dibawa oleh Kui Suthai ke atas gunungnya. Memang pandangan mata Kui Suthai tajam dan tepat. Ternyata Pauw Lian adalah seorang anak perempuan yang cerdik dan pandai.

Ketika tiba di atas Gunung Heng-san, Kui Suthai girang sekali melihat bahwa Lie Bun Tek, pemuda yang dulu disuruhnya menjaga pertapaan, ternyata masih berada di situ seorang diri! Namun sungguh kasihan, pemuda itu menderita kesedihan karena ditinggal seorang diri, dan penderitaannya demikian hebat hingga tubuhnya menjadi kurus dan rambut di kepalanya telah berubah putih semua! Melihat kesabaran dan kesetiaannya, Kui Suthai merasa sangat terharu. Ia menurunkan ilmu silat joran-pian kepada pemuda itu dan ia belajar dengan rajin. Namun, sebentar saja ia ketinggalan oleh sumoinya, Pauw Lian, yang benar-benar cerdik dan berbakat itu. Telah beberapa kali Kui Suthai menyuruh Lie Bun Tek turun gunung melakukan tugas menolong sesama manusia yang tertindas dan sengsara, hingga Lie Bun Tek menjadi terkenal dan digelari orang Heng-san Koai-hiap atau Pendekar Aneh dari Heng-san.

Karena Pauw Lian masih sangat muda, wataknya agak keras dan tidak mau kalah. Kui Suthai tidak memperkenankan gadis itu turun gunung biarpun berkali-kali Pauw Lian memohon kepada gurunya untuk sesekali ikut suhengnya. Waktu berlalu cepat dan tanpa terasa Pauw Lian telah menjadi seorang gadis berusia sembilan belas tahun. Ia sangat cantik jelita hingga gurunya makin sayang padanya. Melihat bahwa semua dasar ilmu silat tinggi telah dimiliki muridnya, maka ia menurunkan ilmunya yang terakhir, yaitu Ouw-liong Kiamsut. Ketika ia memberikan pedang Ouw-liong Po-kiam kepada Pauw Lian, ia menyuruh gadis itu bersumpah. Kemudian ia memberitahu kepada muridnya itu bahwa biarpun Ouw-liong Kiamsut boleh menjagoi di kalangan kang-ouw, namun masih ada tandingannya, yakni Pek-liong Kiamsut.

Ia menceritakan kepada muridnya perihal suhengnya yang kini bertapa di Kam-hong-san dan bergelar Kam Hong Siansu, serta bahwa suhengnya itu mempunyai sebuah Pedang Pusaka Naga Putih. Secara menyindir, ia pun menceritakan betapa ia sudah berjanji dengan suhengnya itu untuk menetapkan mana yang lebih unggul antara Ouw-liong Kiamsut dan Pek-liong Kiamsut. Ia hanya berpesan kepada muridnya agar berlaku sangat hati-hati jika menghadapi Pek-liong Kiamsut. Biarpun telah menjadi seorang pertapa yang menjauhkan diri dari dunia ramai, Kui Suthai mempunyai jiwa patriot dan ia tidak senang melihat kedua muridnya menjadi orang tak berguna. Maka diperintahkannya kedua muridnya itu turun gunung dan membantu gerakan kaum pembela rakyat yang gagah perwira. Tentu saja Pauw Lian merasa girang sekali, karena ini adalah pertama kalinya ia turun gunung.

Di bawah bimbingan suhengnya yang sudah berpengalaman, Pauw Lian mulai melakukan tugas mulia bersama-sama suhengnya dan banyak rakyat yang telah menerima budi mereka. Kemudian mereka tiba di kota raja dan Lie Bun Tek mendengar perihal Istana Putih. Ia menyuruh sumoinya tinggal di rumah penginapan dan menanti di sana, sedangkan ia sendiri pergi menyelidiki istana putih yang terkenal itu. Secara kebetulan, ia mendengar kesombongan Kek Kong Tojin yang bercerita tentang surat rahasia itu. Maka ia menjadi sangat girang dan mencoba merampas surat-surat itu yang berarti membantu perjuangan kaum patriot. Namun tidak disangka bahwa pada saat itu muncul seorang berkedok yang mendahuluinya, yang ternyata adalah Tan Un Kiong, pemuda yang mengagumkan itu. Lie Bun Tek mengakhiri ceritanya dengan berkata,

"Tak kami sangka sama sekali bahwa pemuda berkedok yang lihai itu bukan lain adalah orang segolongan sendiri yang hendak membela rakyat. Biarpun di sini terdapat sedikit perbedaan di antara Si Taihiap dengan Tan Taihiap, yakni yang seorang memusuhi kaisar dan yang seorang tidak, namun pada dasarnya serupa, yakni membela rakyat yang tertindas!"

"Menurut pendapatku, surat-surat penting itu harus diserahkan kepada Si Taihiap," Pauw Lian tiba-tiba berkata dengan suara mantap. Semua orang memandangnya dan Han Liong menatapnya dengan heran.

"Pauw Lian Cici, mengapa berlaku segan-segan? Bukankah kau sudah tahu bahwa Han-ko ini murid dari supe-mu? Jadi kau bukanlah orang luar, tetapi masih terhitung sumoinya. Mengapa kau sebut dia taihiap-taihiapan!" tegur gadis jenaka itu sambil memajukan mulutnya yang manis. Bukan main malunya Pauw Lian ketika itu. Seluruh mukanya yang jelita dan berkulit putih bersih itu tiba-tiba saja menjadi merah sampai ke telinganya. Han Liong tertegun melihatnya dan diam-diam ia membelalakkan matanya kepada Hong Ing yang, ketika melihat sikapnya ini, lalu mencibir kepadanya! Untuk menolong Pauw Lian yang bingung karena teguran Hong Ing tadi, Han Liong berkata tenang,

"Pauw Sumoi, adikku berkata benar. Tetapi, kau tadi berkata bahwa surat-surat itu harus diserahkan kepadaku, mengapa dan apakah alasanmu?" Pauw Lian menghela napas panjang dan memandang kepada pemuda itu dengan rasa terima kasih.

"Begini," katanya kemudian, "Si Suheng telah bergabung dengan orang-orang gagah di kalangan kang-ouw untuk melakukan maksud besar dan menghancurkan pemerintah asing yang menjajah. Justru surat-surat ini perlu sekali untuk usahanya yang suci itu. Memang Tan Taihiap juga mempunyai alasan kuat untuk memiliki surat-surat itu, namun bila dipertimbangkan lagi, alasannya hanya berdasarkan kepentingan pribadi, sedangkan Si Suheng mendasarkan alasannya memiliki surat itu untuk kepentingan rakyat jelata dan perjuangan suci." Semua orang mendengar kata-kata yang lancar dan bijaksana ini dengan kagum, tetapi Un Kiong diam-diam mengerutkan keningnya. Hong Ing yang bermata tajam dapat melihat sikap pemuda "tolol" itu.

"Aku tidak sependapat dengan Pauw Cici!" tiba-tiba Hong Ing berkata dengan gagah dan tegas. Kini semua oranglah yang menatap wajahnya.

"Kita orang-orang gagah harus menempatkan keadilan di atas semua hal. Apa artinya gagah kalau tidak adil? Jangan kira hanya mementingkan keperluan diri sendiri lalu melupakan kepentingan orang lain. Saudara Tan Un Kiong telah bersusah payah merampas surat-surat ini dan tidak dapat disangkal lagi dialah yang berhasil merampasnya, sehingga dialah yang berhak memilikinya sebelum dirampas oleh orang lain." Sampai di sini, semua orang memandangnya heran, tidak terkecuali Han Liong yang berpikir apa yang hendak disampaikan oleh adiknya yang nakal ini. Sementara itu, Pauw Lian yang suka berkata jujur dan berterus terang, segera bertanya.

"Eh, eh, Adik Hong Ing rupa-rupanya hendak mengadu orang? Maksudmu, kami atau salah seorang di antara kami harus merampas surat-surat itu dengan kekerasan dari tangan Tan Taihiap?" Kedua mata Hong Ing yang jernih seperti mata burung hong itu melebar.

"Hai, jangan terburu nafsu, Cici! Masakan sesama kita harus saling cakar? Maksudku dengan kata-kata 'sebelum dirampas oleh orang lain' ialah sebelum dirampas kembali oleh pihak lawan. Aku katakan 'orang lain', apakah kalian semua ini termasuk orang lain? Maka jika surat-surat itu semuanya diserahkan kepada Han-ko, kurasa kurang adil terhadap saudara Tan Un Kiong. Alasannya cukup kuat. Ayahnya seorang pembesar setia dan jujur, sedangkan dia sebagai seorang putra hendak berbakti kepada ayahnya. Bukankah alasan ini cukup mulia dan kuat?" Tiba-tiba Han Liong tersenyum. Diam-diam ia merasa sangat girang karena rupanya adiknya yang bengal ini menyukai pemuda bermarga Tan itu!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment