Chapter 39
"Hm, baru kali ini aku mendengar kau membela orang sedemikian mati-matian!" Kata-kata ini diucapkan dengan suara sungguh-sungguh, tapi pada wajah Han Liong yang cakap terbayang senyum penuh arti hingga semua orang dapat mengerti maksudnya dan tertawa sambil memandang wajah Hong Ing. Gadis ini cukup cerdik dan ia tahu ke mana maksud kata-kata kakaknya. Wajahnya menjadi merah dan dengan muka masam ia lalu mencubit lengan kakaknya dengan keras hingga Han Liong berteriak kesakitan. Orang-orang yang melihat sikap mereka yang demikian mesra dan gembira layaknya anak-anak, diam-diam ikut merasa senang.
"Kalau tidak ada orang lain, pasti aku sudah memutar telingamu. Enak saja kau menggoda orang. Awas, lain kali kalau ada kesempatan, jangan katakan aku keterlaluan jika aku membalas mempermainkanmu. Bukan maksudku untuk begitu saja menyerahkan surat-surat kepada saudara Tan Un Kiong dan melupakan tugas serta kepentinganmu, tapi usulku begini: kita periksa surat-surat itu; mana yang penting bagi keperluan saudara Tan boleh dia ambil, sedangkan yang penting bagi kau boleh kau ambil. Bukankah ini namanya adil?" Han Liong dan yang lain mengangguk-angguk.
"Kau memang cerdik," puji Han Liong. Namun, Un Kiong tidak setuju.
"Memang usul ini baik dan adil sekali," katanya. "Tapi bila aku membawa surat tentang pemberontakan yang direncanakan Co Thaikam itu saja tanpa surat-surat lain yang berupa amanat kaisar, aku khawatir kaisar tidak akan mudah percaya begitu saja. Beliau sangat teliti dan kalau sampai aku tidak dipercaya, maka mudah bagi Co Thaikam memengaruhi kaisar dan sebaliknya ayahku akan mendapat celaka." Han Liong berkata kepada Khouw Sin Ek yang semenjak tadi hanya diam saja, mengusap-usap janggutnya yang putih sambil sesekali tersenyum gembira melihat tingkah anak-anak muda itu.
"Khouw Lo-Enghiong, tolonglah beri petunjuk kepada kami semua. Bagaimanakah baiknya perihal surat-surat itu harus diatur?" Sio-chiu Tai-hiap Khouw Sin Ek berkata tenang.
"Aku orang tua sebenarnya tidak mengerti tentang urusan ini. Tapi mendengar alasan-alasan yang diajukan, memang keduanya mempunyai alasan kuat. Sayang surat-surat itu tidak bisa dibagi-bagi menurut kepentingan masing-masing sebagaimana yang diusulkan oleh Nona Hong Ing ini. Tapi, kurasa para kaki tangan Co Thaikam itu tentu tidak akan berani cepat-cepat menjalankan rencana mereka karena surat-surat telah berada di tangan orang lain. Mereka tentu akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari dan merampas kembali surat-surat ini yang bagi mereka bukan hanya sangat penting, juga sangat berbahaya." Tiba-tiba Han Liong teringat sesuatu. Ia bangkit berdiri dan berkata girang.
"Bukankah besok malam Go-gwee Cap-go? Ah, sungguh aku lupa. Aku justru bertugas mengundang orang-orang gagah berkumpul di Bukit Beng-san pada Go-gwee Cap-go. Maka, harap Cuwi sudi menunda dulu soal surat-surat ini dan marilah kita menuju ke Beng-san untuk menghadiri pertemuan orang-orang gagah yang kami undang. Kurasa soal surat-surat ini pun dapat dibicarakan dan diputuskan di sana. Tan Lauw-te, kuharap sukalah menunda kepentingannya barang dua hari dan ikut menghadiri pertemuan penting ini." Tan Un Kiong tadinya merasa ragu-ragu, tetapi tiba-tiba Hong Ing berkata girang.
"Tentu saja Saudara Tan suka ikut pergi. Kesempatan untuk bertemu dengan para hohan yang berkumpul belum tentu akan didapatkan untuk kedua kalinya selama hidup. Koko Han Liong, kau jangan tanya aku lagi mau atau tidak pergi ke sana. Pendeknya, aku ikut pergi!" Han Liong tertawa dan dengan hormat mengundang Khouw Sin Ek, Pauw Lian, serta Lie Bun Tek.
Semua setuju dan beramai-ramai mereka berangkat menuju ke Gunung Beng-san, tempat kediaman Beng-san Tojin Pauw Kim Kong, salah seorang guru Han Liong, karena tempat inilah yang sudah ditentukan untuk pertemuan itu. Memang Pauw Kim Kong si Malaikat Rambut Putih pandai sekali memilih tempat kediaman. Beng-san adalah sebuah bukit yang subur dan penuh dengan pohon-pohon hijau menyegarkan. Tempat ini juga sangat sejuk hawanya, tidak terlalu dingin karena tidak terlalu tinggi, sehingga matahari dapat menembuskan cahayanya di antara mega-mega tipis. Penduduk di sekitar gunung itu semuanya hidup dari hasil pertanian karena tanah di situ memang baik dan subur. Ketika rombongan Han Liong tiba di situ, ternyata sebagian besar orang-orang gagah telah berkumpul. Han Liong merasa girang sekali karena dapat bertemu dengan semua gurunya.
Melihat bahwa Khouw Sin Ek ikut datang bersama Han Liong, semua orang merasa gembira sekali dan mereka menyambut cianpwe ini dengan penuh penghormatan karena di antara semua yang hadir, boleh dibilang Khouw Sin Ek adalah dari golongan tertua. Yang hadir pada saat itu antara lain adalah Siok Houw Sianseng, Beng-san Tojin Pauw Kim Kong, Kim-to Bie Kong Hosiang, Liok-tee Sin-mo Hong In, Siauw-lo-ong Hce Bin Kiat, dan Yu Leng In. Dari golongan muda, selain Han Liong, Hong Ing, Un Kiong, Pauw Lian, dan Lie Bun Tek, tampak pula Bhok Kian Eng dan Lie Kiam, murid-murid Liok-tee Sin-mo, juga hadir Bie Cauw Giok, murid Beng-san Tojin. Orang-orang gagah yang diundang oleh Han Liong dan tampak hadir adalah Lok Twie Hwesio wakil Siauw-lim, Pak Ciok Tojin seorang ahli pedang Kun-lun-pai, Khu Bu Souw ahli waris ilmu silat keturunan keluarga Khu yang terkenal lihai, Bing Hwa Suthai dari Bukit Leng-san dengan muridnya Coa Li Lian yang bergelar Burung Kepinis Merah, Kok Tiang Lojin seorang gagah bergelar Pengemis Malaikat karena ia selalu berpakaian seperti seorang pengemis, dan masih banyak lagi orang-orang gagah yang ternama pada masa itu.
Di antara undangan-undangan lain, tampak pula Lima Pendekar Tua dari Keng-ciu yang bernama Lok Ho, Lok Thian, Lok Kim, Lok Eng, dan Lok Kiat. Ngo-Lohiap ini terkenal dengan Ngo-heng-tin atau Barisan Lima Elemen, yakni ilmu silat yang dilakukan oleh mereka berlima dan jika dimainkan dapat mengimbangi kekuatan lawan berapapun banyaknya. Keng-ciu Ngo-Lohiap ini mengiringkan seorang tua yang sikapnya agung dan terkenal sebagai seorang patriot sejati yang juga memiliki kepandaian tunggal, yakni permainan toya yang disebut Sin-hoat atau Ilmu Toya Ular Dewa. Orang tua ini bernama Souw Kwan Pek dan ia adalah seorang panglima dalam barisan Gouw Sam Kwie dahulu. Tak heran semua orang menghormatinya sebagai seorang pahlawan pembela rakyat yang gagah perkasa. Kelima saudara Lok itu sengaja mengiringkannya karena mereka seakan-akan mewakili daerah Selatan dan Barat untuk mengangkat Souw Kwan Pek ini sebagai Bengcu atau kepala dari perserikatan pendekar yang baru.
Ketika Han Liong memperkenalkan kawan-kawannya yang muda kepada semua gurunya, Pauw Kim Kong memandang Pauw Lian dengan mata terbeliak dan wajah pucat. Han Liong tahu perubahan air muka gurunya ini, maka dengan cepat ia meraba lengannya. Pauw Kim Kong dapat mengendalikan perasaannya dan menjadi tenang kembali, tapi ketika ada saat terluang, ia memberi tanda kepada Han Liong agar mengikutinya ke ruang belakang di mana tidak terdapat tamu.
"Han Liong, tolong panggil Nona Pauw Lian ke sini," kata orang tua itu sambil merebahkan dirinya di atas sebuah kursi dengan tubuh lemas karena terlalu lama menahan tekanan perasaannya. Han Liong memandang heran, tapi ia segera melaksanakan perintah gurunya itu. Pauw Lian pun merasa heran juga, tapi ia datang juga diikuti oleh Hong Ing yang tidak mau terpisah darinya. Ketika tiba di kamar itu, lagi-lagi Pauw Kim Kong menatap wajah gadis jelita itu hingga Pauw Lian yang tadinya merasa heran, kini memperlihatkan wajah tidak senang dan beranggapan orang tua itu kurang sopan.
"Nona Pauw Lian, maafkan jika aku mengganggumu. Tapi, kau mengingatkan aku akan seseorang yang kukasihi. Kau... coba sebutkan nama ayahmu padaku," kata Pauw Kim Kong. Biarpun merasa heran, namun Pauw Lian menjawab juga, "Almarhum ayahku bernama Pauw Bin Siong." Pauw Kim Kong menghela napas dalam-dalam.