Chapter 40
"Benar... benar... dunia ternyata tidak terlalu besar. Nona... tahukah kau siapa aku? Pauw Bin Siong yang kau sebut ayahmu itu tidak lain adalah kakakku sendiri!" Pauw Lian terkejut dan mengangkat kepalanya memandang.
"Aku, Pauw Kim Kong, hanya mempunyai seorang saudara, tetapi semenjak kau lahir, aku memisahkan diri mengejar ilmu. Dulu aku tinggal serumah dengan orang tuamu, maka aku kenal baik wajah ibumu yang benar-benar mirip denganmu. Oleh karena itu, tadi ketika aku melihat kau, aku merasa seakan-akan berhadapan dengan *ensoku* sendiri. Aku... aku sudah mendengar tentang kematian orang tuamu dan sudah lama aku mencari-carimu. Tak kusangka sama sekali bahwa kita akan bertemu di tempat ini." Karena merasa terharu, Si Malaikat Rambut Putih menundukkan kepala untuk menyembunyikan mukanya yang berubah karena keharuannya itu. Sekarang Pauw Lian melihat tegas persamaan wajah almarhum ayahnya. Tanpa merasa ragu-ragu lagi, ia maju berlutut di depan Pauw Kim Kong sambil memeluk kakinya dan menangis tersedu-sedu.
"Siokhu..." Hanya sebutan ini saja yang dapat keluar dari mulut Pauw Lian yang tersendat itu, karena perasaan terharu hatinya bertemu dengan seorang yang masih ada hubungan keluarga dengannya. Melihat Pauw Lian menangis, Hong Ing tidak dapat pula menahan hatinya lagi dan ia pun ikut terharu tanpa dapat dicegah. Namun ia masih dapat menenangkan perasaan Pauw Lian sambil memeluknya dan berkata,
"Eh, mengapa? Bertemu dengan seorang paman bukannya bergembira, justru menangis!" Tetapi air matanya sendiri mengalir meleleh di kedua pipinya. Maka paman dan keponakan itu segera saling menuturkan riwayat masing-masing, dan Pauw Kim Kong merasa bangga sekali mendengar bahwa keponakannya ternyata menjadi murid dari Kui Giok Ciu Suthai yang namanya pernah menggegerkan kalangan *kang-ouw*. Si Malaikat Rambut Putih maklum bahwa setelah mewarisi senjata Pedang Pusaka Naga Hitam yang hebat itu, keponakannya yang jelita ini tentu mempunyai kepandaian yang lebih tinggi dari dia sendiri!
Diam-diam ia mengadakan perbandingan antara Pauw Lian dengan Han Liong, dan hatinya merasa senang sekali. Pada malam Go-gwee Cap-go, saat pertemuan yang telah ditetapkan, di puncak Gunung Beng-san itu berkumpul kaum persilatan hingga lebih dari lima puluh orang. Siok Houw Sianseng mendapat kehormatan untuk memimpin rapat pertemuan itu. Di tengah pekarangan yang luas itu didirikan sebuah panggung, dan Siok Houw Sianseng mengadakan sembahyang untuk menghormati arwah para pahlawan bangsa yang telah gugur. Di tengah panggung, sebagai pahlawan terbesar, dituliskan nama Si Cin Hal, yakni *Eighiong* yang telah banyak dikenal. Semua orang ikut bersembahyang. Kemudian Siok Houw Sianseng berdiri di atas panggung dan menjura kepada semua orang.
"*Cuwi* sekalian yang mulia. Kiranya *cuwi* telah cukup mengerti maksud diadakannya pertemuan ini. Pertama, untuk bersembahyang dan menghormati para pahlawan yang telah gugur. Kedua, untuk dapat saling mengenal satu sama lain dan mempererat hubungan. Ketiga, tidak lain adalah untuk memilih seorang Bengcu, karena setiap pergerakan harus ada seorang pemimpinnya agar segala sesuatu dapat dilakukan secara teratur, tidak kacau-balau. Karena kita semua telah bersembahyang, maka baiklah kita bersama kini mulai dengan pemilihan seorang Bengcu. Pemilihan diatur begini: Setiap rombongan yang terdiri sedikitnya sepuluh orang yang berkumpul di sini boleh mengajukan seorang wakil. Nanti di antara wakil-wakil atau calon-calon ini dipilih seorang yang menurut pendapat suara terbanyak lebih cocok. Nah, silakan *cuwi* mulai mengajukan calon." Maka ramailah orang-orang bicara hingga suara mereka seakan-akan bunyi lebah yang baru saja diusir dari sarangnya.
Dengan sendirinya mereka terpecah menjadi beberapa rombongan. Setelah masing-masing rombongan menyampaikan nama calon, maka para calon adalah: Pertama, calon yang diajukan oleh rombongan dari dua puluh lima orang, yakni Sinhwat Souw Kwan Pek. Ketika namanya diumumkan, maka terdengar tempik-sorak gemuruh, menyatakan betapa orang tua ini telah terkenal dan banyak disukai orang. Calon kedua yang diajukan oleh rombongan Han Liong dan kawan-kawannya adalah Sin-chiu *Tai-hiap* Khouw Sin Ek, yang juga mendapat sambutan meriah karena di kalangan *kang-ouw*, siapakah yang belum mendengar nama jago tua ini? Calon ketiga adalah hasil dari kenakalan Hong Ing. Gadis yang tidak mau diam ini dengan cepat dan diam-diam telah membujuk semua wanita gagah yang berada di situ untuk memilih Pauw Lian.
Bahkan, Yo Leng In sendiri sampai terbujuk oleh Hong Ing yang secara berlebih-lebihan menceritakan kepandaian dan kebaikan Pauw Lian. Ketika Pauw Lian yang merasa heran disambut oleh tempik-sorak para hadirin yang gegap gempita, Hong Ing tersenyum puas. Pauw Lian agaknya tahu atau setidaknya dapat menduga siapakah yang menjadi biang keladi pencalonan atas namanya ini, karena terlihat betapa Pauw Lian memandang ke arah Hong Ing dengan mata melotot. Calon keempat adalah Han Liong sendiri yang dicalonkan oleh keempat gurunya dan orang-orang yang telah mengenal dan mengetahui akan sepak terjang dan kelihaiannya. Bahkan Khouw Sin Ek sendiri pun memilih dia sebagai calon utama! Siok Houw Sianseng berdiri dan dengan kedua tangannya memberi isyarat kepada semua orang supaya tenang.
"*Cuwi*, ternyata calon yang diajukan hanya empat orang. Maka sebelum dilakukan pemilihan di antara keempat calon ini, kami persilakan para calon naik ke panggung ini untuk memberi sambutan. Dipersilakan calon pertama!" Sin-coa-kun Souw Kwan Pek dengan kibasan lengan bajunya membuat tubuhnya melayang tiba di atas panggung hingga mendapat sambutan meriah dari mereka yang merasa kagum melihat gerakan indah ini. Si Toya Ular Dewa ini telah berusia enam puluh lebih, tetapi tubuhnya masih tampak kuat dan wajahnya membayangkan semangat yang besar. Dari kedua matanya bersinar cahaya kegembiraan, tanda ia berkeyakinan teguh dan berkemauan keras. Ia menjura dengan hormat sekali kepada Siok Houw Sianseng dan kepada para hadirin!
"*Cuwi* yang terhormat. Terus terang, memang saya selalu bersedia membantu perjuangan ini dan meruntuhkan kerajaan penjajah serta membangun lagi pemerintahan Han. Untuk perjuangan ini, jiwaku yang sudah terlalu lama tinggal di tubuh tua ini saya sediakan. Tetapi sesungguhnya, karena di sini terdapat beberapa orang calon, lebih-lebih ketika mendengar nama Sin-chiu *Tai-hiap*, maka saya harus menyatakan bahwa Khouw *Tai-hiap* memang pantas dan tepat sekali untuk menjadi Bengcu kita. Baik dipandang dari usia maupun dari pengalaman, jangan kata tentang kepandaiannya yang tiada bandingnya di masa ini, dan kepandaian saya belum seberapa jika dibandingkan dengan Khouw *Tai-hiap*.
"Saudara Souw terlalu segan!" katanya sambil tersenyum.
"Mungkin dalam hal usia dan pengalaman aku menang darimu. Tentang kepandaian, siapakah yang dapat dikatakan unggul dan siapa yang rendah? Masing-masing mempunyai keunggulan sendiri-sendiri dan masing-masing mempunyai kerendahan sendiri. Tetapi, andaikata kedua lenganku lebih keras, maka aku bukanlah calon Bengcu yang baik. Ketahuilah, Saudara sekalian, aku sebagai orang tua paling suka berterus terang. Di dalam hati, aku tidak merasa benci atau dendam kepada kaisar, biarpun aku benci sekali melihat perbuatan kaki tangannya. Kuanggap kaisar hanya seorang yang lemah dan terpengaruh oleh anasir-anasir jahat. Apakah kaisar yang berbuat jahat dan memeras rakyat? Belum tentu. Aku lebih percaya jika dianggap bahwa para pembesar lalailah yang memeras rakyat. Biarpun kaisar diganti seribu kali, namun bila semua pembesar tidak jujur, tetap saja rakyat akan tertindas! Maka, aku tidak tepat menjadi Bengcu. Aku sudah bosan berkelahi, sudah bosan dengan urusan dunia yang serbapenuh dosa ini. Aku ingin beristirahat, menanti hari saat terakhir hidupku dengan aman dan tenteram. Aku hanya bisa membantu bilamana perlu saja, tetapi untuk menjadi pemimpin, ini aku tidak sanggup. Tetapi, *cuwi* yang terhormat, ada seorang calon yang memang tepat sekali menjadi pemimpin para orang gagah. Tentang usia muda itu bukan menjadi soal, yang perlu adalah sepak terjangnya. Soal kepandaian, barangkali ia masih lebih tinggi dari aku sendiri atau dari calon-calon yang lain. Aku tetap usulkan calon keempat untuk menjadi Bengcu." Orang-orang tidak melihat betapa gadis jelita berpakaian hitam itu sampai ke atas panggung, karena tahu-tahu Pauw Lian telah berada di situ dan memberi hormat.
"Aku yang muda dan bodoh sebenarnya merasa malu sekali sampai dicalonkan. Mungkin *cuwi* bermain-main denganku, karena ibarat burung, sayapku belum lagi tumbuh. Maka, setelah mendengar saran-saran Khouw *lo-Enghiong* tadi, aku setuju untuk memilih calon keempat menjadi Bengcu!"
Sementara itu, Han Liong merasa serbasusah. Betapapun juga, ia masih merasa keberatan untuk menerima tugas yang bukan ringan itu. Namun di samping keraguannya, ada juga rasa pertanggungjawaban untuk melanjutkan cita-cita almarhum ayahnya. Maka setelah Pauw Lian selesai bicara, dengan tenang Han Liong melompat ke atas panggung. Semua orang yang belum mengenalnya merasa heran mengapa Khouw *Locianpwe* memilih calon yang masih sangat muda dan kelihatan lemah itu! Juga Souw Kwan Pek merasa tidak puas karena dengan memuji-muji anak muda ini berarti Khouw Sin Ek sangat merendahkan kalangan tua. Berapakah tingginya ilmu seorang pemuda seperti ini? Sementara itu, Han Liong memberi hormat kepada Khouw Sin Ek dan berkata,
"Khouw *Locianpwe* terlalu memuji aku yang muda dan bodoh ini. Sungguh, aku sangat malu menerimanya." Kemudian ia menghadapi semua tamu dan berkata dengan sungguh-sungguh,
"*Cuwi Enghiong*. Biarpun pemilihan Bengcu ini sangat perlu dan harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar jangan salah pilih, namun menurut pandanganku yang sempit, jika dipikir-pikir dengan masak, hasil atau tidaknya sebuah perjuangan bukanlah bergantung semata-mata kepada seorang pemimpin. Apakah artinya pemimpin pandai bila para anggotanya tidak berjuang dengan penuh semangat? Maka, menurut pendapatku, seorang pemimpin haruslah seorang yang disegani dan yang cukup pengalaman. Bagiku yang muda dan bodoh, dipilih atau tidak, tetap aku sediakan jiwa raga untuk mengabdi kepada rakyat." Ucapannya ini mendapat sambutan hangat. Siok Houw Sianseng berdiri dan berkata kepada orang banyak,
"Nah, kini keempat calon telah berdiri di sini dan telah pula memberikan sambutannya. Maka, kini terserah kepada *cuwi* untuk memilih seorang di antara mereka." Khouw Sin Ek berdiri dan suaranya tiba-tiba terdengar lantang dan nyaring hingga orang banyak terkejut.
"*Cuwi*, dengarlah. *Lohu* tidak mau ribut-ribut tentang pemilihan ini, tetapi hendaknya diketahui bahwa calon keempat tidak lain adalah putra tunggal dari almarhum Si *Enghiong*." Mendengar pengumuman ini, maka ramailah suara orang menyambut dengan tempik sorak. Di sana-sini terdengar,
"Pilih nomor empat!" Bahkan yang telah kenal dan tahu keadaan Han Liong berteriak,
"Pilih *Pek-liong-Pokiam* sebagai Bengcu!" Karena terkenalnya pedang dan *kiamsut* Han Liong, maka banyak orang memberinya gelar *Pek-liong-Pokiam*, si Pedang Pusaka Naga Putih! Tak lama kemudian, hampir semua tamu menyatakan setujunya memilih Han Liong sebagai Bengcu. Tetapi di antara mereka ada juga yang merasa kurang puas, di antaranya ialah Keng-cu Ngo-Lohiap dan Souw Kwan Pek. Mereka ini menganggap bahwa orang-orang telah berlaku ceroboh memilih seorang yang masih begitu muda untuk menjadi seorang Bengcu dan menjabat kedudukan demikian penting dan sukar. Siok Houw Sianseng berdiri dan memberi tanda lagi supaya orang menjadi tenang.
"*Cuwi*, setelah mendengar suara terbanyak, maka saya pada saat ini sebagai pemimpin pertemuan ini mengumumkan bahwa Bengcu kita yang terpilih ialah Si Han Liong *Taihiap*." Terdengar tempik sorak menggema, dan Siok Houw Sianseng menjura kepada Han Liong sambil berkata,
"Si Bengcu, terimalah ucapan selamat dan hormatku." Dengan gugup Han Liong membalas pemberian selamat itu. Tiba-tiba terasa angin bertiup ke arah panggung, dan kelima kakek gagah dari Keng-cu telah berdiri di atas panggung. Lok Ho yang tertua, dengan senyum di mulut, menjura kepada Han Liong sambil berkata, "Kami datang dari tempat jauh dan mewakili ribuan orang di kalangan *kang-ouw* untuk memilih seorang Bengcu. Kini Si *Enghiong* terpilih, maka sudah sepatutnya kami bergembira ria karenanya dan memberi selamat. Tetapi sebelum memberi selamat kepada *sicu*, terpaksa kami lebih dulu harus menyampaikan janji kami kepada kawan-kawan semua." Dari ucapan ini, Han Liong dapat menangkap maksudnya yang hendak mencari-cari perkara, maka dengan sabar sekali ia bertanya.