Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 41

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 41

"Memang sudah sepantasnya begitu, Lo-Enghiong, tapi apakah janji itu?"

"Kami telah berjanji untuk mengangkat seorang Bengcu yang dapat melayani Ngo-heng-tin kami selama seratus jurus tanpa terkalahkan!" Han Liong terkejut mendengar ini. Ia pernah mendengar tentang kehebatan Ngo-heng-tin ini yang demikian kuat hingga berani menghadapi lawan sebanyak seratus orang, apalagi menghadapi dia yang hanya seorang diri! Biarpun ia tak merasa takut, ia dapat membayangkan bahwa jika tidak menggunakan tangan besi dan membuka jalan darah, agaknya sukar baginya untuk meraih kemenangan. Tiba-tiba terdengar Khouw Sin Ek tertawa.

"Hmm, Ngo-Lo-hiap agaknya belum percaya kepada sang Bengcu. Apakah aturan yang ditetapkan itu juga berlaku untuk semua orang? Karena tadi Lo-hiap memilih Saudara Souw Kwan Pek, tentu Saudara Souw sudah pernah pula diuji dalam Ngo-heng-tin kalian." Biarpun kurang senang mendengar kata-kata yang mengandung sindiran tepat ini, namun Lok Ho tak berani menyatakan kurang senangnya terhadap Sin-chiu Tai-hiap. Ia hanya menjura dan menjawab.

"Janji kami ini hanya berlaku untuk calon yang bukan berasal dari daerah kami dan yang belum kami ketahui benar ilmu kepandaiannya. Mohon Khouw Cianpwe jangan salah mengerti. Sesungguhnya syarat yang kami janjikan ini hanya untuk menjamin bahwa Bengcu yang hendak kita ikuti jejak dan petunjuknya benar-benar seorang yang patut sepenuhnya dipercaya, hingga setelah mengujinya, kami berlima orang tua dapat bertanggung jawab kepada semua kawan-kawan yang tidak ikut datang menyaksikan pemilihan ini. Kalau Souw Cianpwe, kami dari daerah Barat telah kenal semua dan tahu sampai di mana kemampuannya, apa perlu dicoba lagi?" Mendengar alasan-alasan yang kuat ini, Khouw Sin Ek terpaksa mengangguk-angguk membenarkan. Memang ia seorang yang jujur, maka ia menghargai sikap Ngo-Lo-hiap yang terus terang itu. Ia berpaling kepada Han Liong dan berkata,

"Agaknya kau terpaksa harus melayani lima orang tua gagah ini, sang Bengcu!" Han Liong buru-buru memberi hormat kepada Ngo-Lo-hiap.

"Siauwte yang muda dan bodoh ini mana berani berlaku kurang sopan dan mencoba-coba Ngo-heng-tin yang lihai! Harap Ngo-Lo-hiap jangan membuat siauwte menjadi bahan tertawaan, wahai para pendekar gagah sekalian." Mendengar kata-kata yang sangat merendah dan seakan-akan menunjukkan rasa jerih dan takut terhadap Ngo-heng-tin mereka yang terkenal itu, Lok Thian, kakek kedua, merasa bangga dan timbul juga rasa kasihan terhadap Han Liong yang dianggap pemuda cakap dan sopan. Maka ia segera berkata,

"Enghiong, mendengar bahwa kau adalah putra almarhum Lo-Enghiong saja, aku sudah merasa suka kepadamu. Tapi, karena kami tak dapat melanggar janji terhadap semua kawan, dan syarat ini hanya sebagai uji coba, maka kami persilakan kau memilih seorang kawan hingga kalian berdua boleh maju melayani Ngo-heng-tin kami secara main-main." Lok Ho mendengar kata-kata adiknya ini hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum, dan dalam hatinya berkata, "Apa bedanya satu atau dua orang?" Tapi, tiba-tiba ia teringat sesuatu, maka cepat ia berkata,

"Memang boleh mencari seorang kawan pembantu, tapi jangan Khouw Cianpwe!" Melihat kecerdikan dan kebulusan akalnya, Khouw Sin Ek tertawa terbahak-bahak sambil mengurut-urut misainya.

"Aku sudah tua, tidak seperti kalian anak-anak kecil, masih suka main-main. Ayo mulailah! Aku sudah sangat ingin menonton pertunjukan bagus ini!"

Han Liong yang masih dalam keadaan bingung memandang ke kanan dan ke kiri mencari kawan. Ia ingin memandang ke arah Hong Ing yang berdiri dengan kening berkerut seakan-akan sedang memikirkan sesuatu. Tadinya Han Liong hendak minta Ui Kiong untuk membantunya karena ia maklum akan kelihaian anak muda itu, tapi tiba-tiba Hong Ing meloncat ke atas panggung. Han Liong terkejut dan khawatir kalau-kalau Hong Ing menawarkan diri, karena hal itu malah akan memberatkannya saja, mengingat akan kepandaian gadis yang belum seberapa tinggi itu. Tapi Hong Ing tidak memedulikan sikap Han Liong, langsung ia pegang lengan Pauw Lian yang masih duduk di situ dan menariknya lalu berkata kepada Ngo-Lo-hiap,

"Teecu mengusulkan agar Pauw Lian Cici saja yang mendampingi Han-ko menghadapi Ngo-heng-tin. Karena, selain Pauw Lian Cici ilmu pedangnya lihai, juga demi menghormati Ngo-Lo Suhu. Kalau menyuruh sembarang orang saja memasuki barisan hebat itu, bukanlah berarti memandang rendah Ngo-heng-tin dan menghina Ngo-Lo Suhu?" Kembali terdengar Khouw Sin Ek tertawa gembira.

"Bagus, bagus! Pilihanmu tepat sekali, Nona. Kau memang cerdik. Nah, Pauw Lihiap harap jangan menolak." Terpaksa Han Liong menjura kepada Pauw Lian dan berkata dengan wajah merah,

"Pauw Sumoi, sudikah kau membantu aku?" Pauw Lian hanya tersenyum dan mengangguk. Kedua anak muda itu, yang perempuan berpakaian hitam dan yang laki-laki berpakaian putih, berdiri menghadapi Lok Ho berlima dengan tenang. Karena panggung itu cukup kuat dan lebar, semua orang yang tidak hendak memperlihatkan kepandaiannya lalu turun, yang tertinggal hanya Ngo-Lo-hiap dan kedua orang muda itu. Kelima Ngo-Lo-hiap dari Keng-ciu masing-masing mencabut sebilah pedang dan berdiri memasang kuda-kuda merupakan segi empat dan seorang berdiri di tengah-tengah. Empat orang menghadap ke empat penjuru dengan pedang melintang di dada.

Pedang masing-masing juga terukir dengan huruf-huruf yang menjadi lambang lima anasir, yakni Kim, Bok, Swie, Ho, dan Tho atau Logam, Kayu, Air, Api, dan Tanah. Pemegang pedang Kim-kiam adalah ahli silat yang menggunakan tenaga gwa kang atau tenaga keras yang mempunyai kekuatan luar biasa. Pemegang pedang Bok-kiam sebaliknya ahli tenaga lemas atau tenaga dalam yang tangguh. Pemegang pedang Swie-kiam mempunyai daya tahan atau daya bela yang kuat sekali, tetapi sewaktu-waktu dapat bersatu dengan pemegang pedang Ho-kiam dan merupakan penyerang-penyerang yang tangguh dan kuat. Pemegang pedang Tho-kiam melakukan penjagaan dan melindungi keempat kawannya. Demikianlah, kelima kakek gagah dari Keng-ciu itu mempunyai kepandaian-kepandaian khusus yang semuanya bertingkat tinggi dan yang telah menjalani latihan-latihan yang tekun dan teratur.

Maka tak heran bila Ngo-heng-tin mereka merupakan barisan yang amat tangguh dan berbahaya! Melihat kedudukan Ngo-Lo-hiap demikian kuatnya, Han Liong memberi tanda kepada Pauw Lian dan dengan gerakan indah keduanya mencabut pedang masing-masing. Tampak dua cahaya hitam dan putih bersinar menyilaukan mata ketika Ouw-Liong Pokiam dan Pek-Liong Pokiam bergerak dalam tangan sepasang teruna remaja itu! Bergetar juga hati kelima kakek gagah melihat pedang pusaka yang hebat itu. Khouw Sin Ek duduk mencari tempat yang enak dan ia siap menonton pertunjukan hebat itu. Sedangkan entah disengaja atau tidak, Hong Ing tampak berdiri dekat dengan Ui Kiong di belakang Khouw Sin Ek! Sementara itu, Pauw Kim Kong juga bersama semua kawannya melihat dengan gembira, walaupun dengan hati agak tegang.

"Sumoi, aku memainkan Im dan kau memainkan Yang." Han Liong berbisik kepada Pauw Lian yang mengangguk mengerti. Memang permainan kedua anak muda itu, baik Ouw-Liong Kiamsut maupun Pek-Liong Kiamsut, sebenarnya berdasarkan jalan Pat-kwa dan dapat bergerak ke delapan penjuru, dan gerakan-gerakan mereka berdasarkan dua sifat yakni Im dan Yang (positif dan negatif). Gerakan-gerakan Im lebih bersifat menyerang dan agresif sedangkan gerakan-gerakan Yang bersifat membela diri.

"Ngo-Lo Taihiap silakan bergerak lebih dulu," kata Han Liong mempersilakan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment