Halo!

Pedang Pusaka Naga Putih - Chapter 42

Memuat...
Pedang Pusaka Naga Putih

Chapter 42

"Tidak, Sicu. Kami merupakan barisan, kalianlah yang harus memulai. Kami akan mencoba menahan seranganmu dalam seratus jurus!" Kata-kata ini bermaksud mengalah dan merendah, tetapi mengandung tantangan dan diucapkan oleh Lok Ho dengan senyum seorang guru memandang muridnya.

"Kalau begitu, maaf siauwte mulai menyerang!" Han Liong menutup kata-katanya dengan serangan pedangnya ke arah Lok Thian yang menjaga di selatan dan memegang pedang Tho-kiam, karena Han Liong ingin tahu sampai di mana ketangguhan bagian penjaga barisan itu. Sekali gerak, serangannya ini telah ditangkis oleh Lok Ho dan Lok Thian, yakni pemegang Tho-kiam dan Swi-kiam, sedangkan pada saat itu juga tiga pedang yang lain meluncur ke tiga bagian tubuhnya! Namun, Pauw Lian tahu akan tugasnya sebagai pemain bagian pembela. Ouw-liong-kiam bergerak cepat dan dapat menangkis ketiga serangan itu. Han Liong yang percaya penuh akan ketangguhan penjagaan Pauw Lian, seakan-akan tidak peduli sama sekali akan serangan itu dan ia terus menggerakkan pedangnya menyerang Lok Ho dan Lok Thian.

Tiap gerakan pedang ia sertai dengan tenaga dalam yang hebat sekali sehingga kakek pertama dan kedua yang menahannya merasa betapa pedang pusaka mereka hampir terpental tiap kali beradu dengan Pek-liong Po-kiam! Maka mengertilah mereka bahwa anak muda ini benar-benar tidak boleh dianggap remeh. Sebaliknya, Lok Kim, Lok Eng, dan Lok Kiat yang bertugas menyerang, ternyata menghadapi Pauw Lian seakan-akan menghadapi dinding baja yang tidak mungkin ditembus! Melihat siasat Han Liong yang mempergunakan gerakan Im dan Yang hingga kedua anak muda itu terbagi dua bagian pula, yakni menyerang dan membela, Lok Ho maklum bahwa jika demikian terus, pihaknya akan merugi. Maka ia berseru keras, "Putar!"

Barisannya segera mengubah gerakan. Mereka lari berputar di sekeliling Han Liong dan Pauw Lian yang terkepung di tengah! Mereka bergerak bergantian; sekali tusuk terus lari, digantikan orang kedua yang menyerang atau menangkis. Dengan gerakan ini, kelima orang itu tidak mempunyai tugas tertentu; mereka merupakan lima buah kitiran yang bergerak bersamaan dan saling membantu. Tentu saja perubahan yang tiba-tiba ini membuat Han Liong dan Pauw Lian terpaksa ikut berputar di dalam kepungan itu! Dalam hal ini kedua teruna remaja itu rugi karena lapangan berputar mereka sangat sempit hingga kesempatan menyerang lebih kecil. Mereka berdua harus berlaku waspada karena serangan-serangan kelima pedang itu sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Semua serangan dilakukan oleh tangan seorang ahli pedang dan tidak satu pun yang tidak berbahaya. Bahkan lama-kelamaan kelima kakek gagah itu menggunakan tipu-tipu cabang Thai-san dan semua tusukan diarahkan kepada urat-urat kematian! Hal ini membuat Han Liong gemas sekali. Tadi ia berlaku segan dan kebanyakan hanya menangkis saja; kalaupun menyerang maka serangan itu ia jaga jangan sampai melukai seorang pun dari Ngo-lohiap itu. Demikian pula Pauw Lian yang mengerti keadaan dan maksud Han Liong. Sementara itu, selain Khouw Sin Ek, Tan Un Kiong, Lie Bun Tek, dan keempat guru Han Liong, semua orang yang menonton pertandingan itu merasa kepalanya pening dan matanya kabur. Begitu cepat gerakan kelima kakek itu hingga mereka seakan-akan bukan berlima, melainkan lebih dari sepuluh orang! Tiba-tiba terdengar Sinhwat Souw Kwan Pek memuji, "Bagus!"

Suaranya terdengar gembira karena ketika itu Han Liong dan Pauw Lian tampak terkurung dan terdesak. Kepungan Ngo-heng-tin makin menyempit dan serangan makin bertubi-tubi datangnya! Orang tua she Souw ini yang sudah kenal akan kelihaian Ngo-heng-tin maklum bahwa sebentar lagi kedua anak muda itu pasti dapat dikalahkan.

Sebaliknya Khouw Sin Ek mengerutkan keningnya, tetapi sebagai seorang dari golongan tua ia tidak mau ikut bicara atau memberi petunjuk. Para cianpwe lain yang berada di situ—ahli-ahli silat ternama tingkat atas seperti Lok Twie Hwesio dari Siauw-lim-pai, Pek Ciok Tojin dari Kun-lun-pai, Khu Bu Houw, dan yang lain-lain—merasa kagum dan diam-diam mereka mengeluh bahwa mereka telah terlalu tua dan telah ketinggalan oleh anak-anak muda. Dalam hal kepandaian ilmu pedang, diam-diam mereka akui bahwa Han Liong dan Pauw Lian berada di tingkat yang lebih tinggi dari mereka, bahkan permainan pedang seperti itu baru kali ini mereka lihat selama hidup! Tan Un Kiong yang dapat melihat pula betapa Han Liong berlaku segan, sedangkan kelima lawannya menggunakan seluruh kepandaiannya, juga merasa kurang senang. Maka tanpa terasa ia berseru keras, "Saudara Han Liong dan Pauw Lian Cici, buat apa berlaku segan-segan lagi? Sedangkan orang berlaku sungguh-sungguh, mengapa kalian masih main-main?"

Teriakan ini membakar semangat Pauw Lian yang wataknya tidak sesabar Han Liong, maka sambil berseru kepada Han Liong, "Balas!", ia memutar pedangnya dan memainkan jurus-jurus Ouw-liong-kiamsut yang hebat. Han Liong berkata keras, "Maaf, Ngo-lotaihiap!" dan pedangnya pun bergerak cepat sekali mengimbangi gerakan Pauw Lian. Ia memainkan tipu-tipu permainan Pek-liong-kiamsut yang luar biasa. Dengan adanya perubahan ini, tubuh Han Liong dan Pauw Lian lenyap dari pandangan mata karena cepatnya mereka bergerak dan karena hebatnya sinar pedang mereka. Yang tampak kini hanya dua sinar hitam dan putih berkelebat ke sana ke mari dan makin lama makin cepat hingga menyerupai cahaya memanjang seperti dua ekor naga sakti hitam dan putih bermain-main di antara gundukan awan putih, yakni cahaya pedang kelima kakek gagah itu! Tanpa terasa, dari mulut Un Kiong dan orang-orang lain yang tergolong kaum cianpwe keluar seruan kagum, "Bagus!" berkali-kali karena memang permainan itu indah ditonton.

Bahkan Khouw Sin Ek karena kagumnya sampai berdiri dari tempat duduknya tanpa terasa lagi. Sepasang matanya bersinar-sinar gembira, tangan kiri bertolak pinggang, tangan kanan tiada hentinya mengelus-elus jenggotnya yang putih dan panjang. Dua cahaya hitam dan putih itu makin besar dan makin panjang, sedangkan kelima kakek gagah itu makin lambat gerakan perputarannya. Akhirnya mereka tidak lari lagi, tetapi hanya berdiri dengan pedang di tangan dan hanya kuasa menjaga diri dari lembaran cahaya hitam dan putih itu! Ternyata setelah Han Liong dan Pauw Lian bermain sungguh-sungguh dan balas menyerang, dengan mudah saja mereka membuat Ngo-heng-tin yang terkenal kuat itu menjadi kocar-kacir! Kalau mereka mau, mudah saja mereka merobohkan lawan-lawan itu, tetapi keduanya cukup bijaksana dan tahu mana kawan mana lawan.

Dan dalam pertempuran inilah terasa oleh keduanya, baik Han Liong maupun Pauw Lian, bahwa kedua ilmu pedang mereka sesungguhnya merupakan ilmu pedang pasangan yang jika dimainkan bersama-sama dan saling membantu, merupakan ilmu pedang yang kuat dan cocok sekali. Mereka dapat saling membantu dengan demikian tepat hingga seakan-akan mereka hanya mempunyai satu pikiran dan satu perasaan! Diam-diam mereka merasa girang sekali. Sementara itu, jurus-jurus telah dilewati lebih dari seratus lima puluh jurus, sedangkan kelima kakek she Lok itu telah mandi keringat karena setiap serangan kedua anak muda itu disertai tenaga dalam yang hebat sehingga untuk menangkisnya mereka harus mengerahkan tenaga dalam yang membuat mereka lelah sekali. Tetapi untuk menghentikan kedua anak muda itu, mereka merasa malu.

"Sudah cukup seratus jurus!" tiba-tiba Khouw Sin Ek memperdengarkan suaranya yang nyaring. Han Liong dan Pauw Lian menahan gerakannya dan kedua bahaya itu pun lenyap. Mereka berdua berdiri saling pandang penuh arti, kemudian bersama-sama menjura di hadapan kelima Ngo-lohiap sambil berkata, "Terima kasih atas kemurahan dan petunjuk Ngo-lohiap." Lok Ho, kakek yang tertua, menggunakan lengan bajunya untuk menghapus peluh di dahinya. Ia tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala.

"Sungguh kami tidak tahu diri. Jangankan kalian berdua, seorang diri pun kami lima orang kakek loyo bukanlah tandinganmu. Selamat, Si Bengcu. Tidak hanya kami suka sekali mengaku kau sebagai Bengcu, bahkan aku sendiri mau mengaku bahwa untuk zaman ini, ilmu pedangmu boleh dikatakan yang paling tinggi tingkatnya. Sungguh arwah Si Lo-enghiong boleh merasa bangga karena beliau mempunyai seorang putra seperti kau!" Inilah pujian yang tinggi sekali hingga Khouw Sin Ek diam-diam merasa girang akan kejujuran Lok Ho.

Namun, Souw Kwan Pek si Toya Ular Dewa tetap merasa penasaran. Kalau diadakan perbandingan, ia mempunyai ilmu silat jauh lebih tinggi daripada para kakek she Lok itu, biarpun harus ia akui bahwa belum tentu ia sanggup memecahkan Ngo-heng-tin yang lihai. Selain ilmu toyanya yang sangat hebat, kakek ini mempunyai tenaga lweekang yang terlatih puluhan tahun lamanya hingga ia dapat menggunakan kepalan tangannya untuk memukul ke arah air dalam sumur dan membuat angin pukulannya itu menggerakkan air sampai melonjak ke atas. Maka kini melihat Han Liong yang masih begitu muda tetapi sudah begitu tinggi ilmu silatnya, ia merasa belum puas dan ingin mencobanya dengan tangan sendiri! Dengan cepat Souw Kwan Pek melompat ke atas panggung dan ia menjura kepada Pauw Lian sambil berkata, "Sungguh lihai ilmu pedangmu, Lihiap, aku yang tua merasa tunduk sekali!"

Berbarengan dengan ucapan ini, ia mengerahkan tenaga dalamnya dan secara tak kentara kedua tangannya terangkat, menyemburkan angin pukulan ke arah rambut kepala Pauw Lian yang terbungkus sutra hijau. Maksud Souw Kwan Pek hanya ingin membuat ikat rambut itu terpukul dan terlepas. Tetapi Pauw Lian telah waspada; tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat dan ia lenyap dari depan Souw Kwan Pek! Selagi kakek itu terkejut dan heran, terdengar suara halus Nona Pauw Lian di belakangnya, "Souw Lo-enghiong, aku yang muda tidak berani menerima penghormatan demikian besar." Souw Kwan Pek cepat memutar tubuhnya. Ia terheran-heran menyaksikan ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang demikian luar biasa. Ternyata gadis cerdik itu telah melawan kekuatan tenaga dalamnya dengan kecepatan gerakannya.

"Hah, maaf, maaf...!" katanya, dan ia merasa mukanya merah ketika terdengar suara Khouw Sin Ek tertawa bergumam. Karena masih penasaran juga, ia menghampiri Han Liong sambil berkata, "Si Bengcu, kau begini muda tetapi begini gagah, sungguh membuat aku orang tua iri sekali." Ia menggunakan tangan kirinya menekan pundak Han Liong dengan maksud menggunakan tenaganya untuk memaksa anak muda itu membungkuk sedikit. Tetapi Han Liong yang sudah tahu bahwa ia sedang "diukur", segera menggunakan kepandaian "sia-kut-hwat" yang ia dapat dari Pauw Kim Kong sekalian menggunakan tenaga dalamnya yang terlatih ketika ia berada di Kam-hong-san. Namun, ia diam-diam terkejut karena biarpun tenaga pertahanannya cukup kuat, masih saja ia merasa seakan-akan pundaknya tertekan oleh tenaga ribuan kati dan kulitnya terasa panas serta perih!

Sebenarnya, dalam hal tenaga dalam, Han Liong masih kalah setingkat oleh Souw Kwan Pek. Namun, tubuh Han Liong semenjak kecil telah dilatih hebat, lagi pula di dalam tubuhnya telah mengalir obat mukjizat yakni racun ular hitam dan putih, sehingga ia masih dapat menahannya; kulitnya tidak menderita luka dan tulangnya tidak menderita pukulan. Sebaliknya, Souw Kwan Pek merasa kagum ketika jari-jari tangannya menyentuh kulit yang licin bagaikan belut itu, tetapi keras melebihi baja, sedangkan di balik kulit pundak itu terasa lunak dan halus sehingga sebagian besar tenaga tekanannya punah! Biarpun kejadian ini hanya berjalan beberapa detik saja, buku-buku jarinya terdengar berkeretakan sehingga ia terkejut sekali dan buru-buru mengangkat tangannya lalu menjura. "Si Bengcu, kau biarpun muda tetapi patut menjadi pemimpin kami, aku yang tua takluk padamu."

Han Liong cepat membalas menjura dengan hormat sekali. Peristiwa mencoba ilmu Han Liong secara diam-diam ini tidak kentara oleh orang lain dan yang mengerti hanya mereka yang telah tinggi ilmu kepandaiannya seperti Un Kiong dan gurunya, para locianpwe yang mewakili masing-masing cabang persilatan, dan guru-guru Han Liong. Mereka diam-diam merasa kagum sekali akan kelihaian Pauw Lian dan Han Liong yang dapat menundukkan orang tua she Souw yang gagah perkasa itu. Setelah semua orang setuju akan pengangkatan Han Liong sebagai Bengcu, maka diadakanlah perjamuan yang penuh kegembiraan.

Kemudian para locianpwe mengadakan rapat untuk membicarakan soal surat penting yang dapat dirampas oleh Tan Un Kiong di istana putih itu. Setelah dirundingkan masak-masak, diambil keputusan untuk bersama-sama membasmi dulu kaki tangan Co Thaikam dan sedapat mungkin melenyapkan Thaikam jahat itu, barulah kemudian menghadap kaisar untuk menyadarkan beliau akan pengaruh-pengaruh jahat yang membuat pemerintahannya menindas rakyat jelata. Jika kaisar tidak menurut, barulah diusahakan penghancurannya! Un Kiong mendapat tugas untuk kembali ke kota raja dan berunding dengan ayahnya. Menurut paham Han Liong, sudah sepatutnya seorang gagah seperti ayah Un Kiong diberitahu sejelas-jelasnya tentang maksud dan usaha mereka.

Surat-surat rencana pemberontakan Co Thaikam juga diserahkan kepada Un Kiong untuk disimpan selanjutnya di tangan Tan Cianbu sebagai bukti yang nanti pada saatnya diperlihatkan kepada kaisar. Mereka mengatur rencana untuk menyerbu istana putih pada malam hari, dan tugas-tugas telah dibagi. Pada malam hari kedua, Un Kiong belum juga meninggalkan tempat itu. Ia agaknya tidak sampai hati untuk pergi dan tampak banyak mengobrol dengan Hong Ing. Kedua remaja ini tampak demikian rukun dan mesra sehingga diam-diam Khouw Sin Ek, Han Liong, dan Pauw Lian dapat menduga apa yang terkandung dalam hati Hong Ing dan Un Kiong. Ketika Khouw Sin Ek hendak meninggalkan Gunung Beng-san dan kembali ke tempatnya sendiri, ia memanggil muridnya itu dan dengan wajah berseri-seri ia berkata, "Un Kiong, agaknya sudah tiba masanya kau mengikat janji dengan seorang wanita untuk sehidup semati!"

"Eh, ah, apa maksud Suhu?" pemuda itu terbelalak heran.

"Kau selalu pandai bersandiwara, muridku. Kau kira aku yang sudah mengenalmu luar dalam ini tidak mengerti akan sikapmu terhadap Nona Hong Ing?" Disebutnya nama ini membuat wajah Un Kiong tiba-tiba menjadi merah dan ia terpaksa menundukkan mukanya karena rahasianya telah diterka oleh gurunya sendiri.

"Bagaimana kalau aku memberitahu ayahmu dan juga menanyakan pendapat Si Bengcu? Karena dialah yang berhak memutuskan nasib adiknya." Terpaksa Un Kiong hanya mengangguk perlahan, "Terserah kepada Suhu sajalah." Dan gurunya tertawa terbahak-bahak. Sementara itu, Hong Ing yang hendak membuktikan ancamannya untuk membalas godaan Han Liong ketika ia membela Un Kiong dulu, sedang menjalankan rencananya. Ia tampak bicara berdua dengan Han Liong di pekarangan belakang.

"Han-ko, aku kagum sekali melihat kepandaian Cici Pauw Lian. Kurasa mencari seorang gadis sepandai dia di dunia ini sukar didapat bandingnya," Hong Ing mulai dengan muslihatnya. Karena gadis itu bicara dengan suara sungguh-sungguh, Han Liong mengangguk membenarkan.

"Memang, kepandaian ilmu pedang Pauw Sumoi sudah mencapai tingkat tinggi. Terlebih lagi ginkangnya, ia sudah boleh dibilang mendekati kesempurnaan."

"Selain kepandaiannya yang sangat lihai, ia pun berbudi halus dan baik hati sekali."

"Hm, hal ini aku tidak tahu benar," jawab Han Liong sederhana, tetapi diam-diam hatinya mempertimbangkan ucapan Hong Ing ini.

"Ya, ia memang seorang gadis yang baik dan sukar dicari bandingnya. Pula, ia cantik jelita." Han Liong mengerling ke arah adiknya karena ia menangkap sesuatu yang tidak wajar dalam suara gadis itu. "Ke manakah tujuan Hong Ing dengan ucapannya itu?" pikirnya. Namun, ia tidak menjawab.

"Cici Pauw Lian cantik jelita, berhati baik, berkepandaian tinggi, benar-benar seorang siocia yang patut dikagumi, bukankah demikian, Koko?"

"Hm, barangkali... ya, mungkin benar kata-katamu itu. Ia patut dikagumi," jawabnya perlahan.

"Dan... dan pantas pula dicintai, bukan, Koko?" Tiba-tiba Han Liong menatap wajahnya. Ah, ke sanakah arah tujuannya?

"Adik Ing, apa hubungannya keadaan Pauw Sumoi dengan aku? Apa maksudmu menceritakan semua itu padaku? Ia boleh jadi cantik dan pandai, tetapi hal itu tidak ada sangkut pautnya denganku." Han Liong lalu memalingkan muka karena ia tidak mau menjadi korban godaan Hong Ing lebih lanjut. Hong Ing masih memuji-muji kecantikan Pauw Lian dan memancing agar Han Liong mau membuka "rahasia hatinya" supaya ia mendapat giliran untuk menggodanya, tetapi Han Liong yang sudah maklum akan maksud adiknya yang nakal ini pura-pura tidak mendengar dan bersikap dingin, seakan-akan ia betul-betul tidak memedulikan sedikit pun hal Pauw Lian yang dipuji-pujinya itu. Sikap ini membuat Hong Ing kewalahan dan ia mulai memutar otak mencari siasat baru.

"Tapi Han-ko," demikian gadis cerdik ini mengubah siasatnya, "ada satu hal pada diri Cici Pauw Lian yang membuat hatiku tidak puas, bahkan selalu terasa di hatiku. Dan hampir saja aku benci kalau mengenangkan hal ini." Hong Ing telah mengatur suaranya sedemikian rupa hingga mau tidak mau Han Liong merasa tertarik. Tak terasa lagi, pemuda ini cepat-cepat bertanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment