Chapter 43
"Apa? Apa cacatnya sampai kau merasa penasaran?" Suaranya mengandung keingintahuan yang sangat besar hingga diam-diam Hong Ing merasa geli. Baru dicela sedikit saja, Han Liong sudah bingung tidak keruan!
"Cacatnya ialah kesombongannya. Agaknya kecantikan dan kepandaian membuat ia sombong dan tidak tahu diri!"
"Hm, benarkah begitu?" Han Liong masih ragu akan kebenaran kata-kata adiknya ini.
"Ah, tentu kau tidak mau percaya, Koko, karena kau sudah menganggap dia seorang dewi yang tiada cacat!" selanya lagi.
"Eh, eh, jangan main-main, Adik Ing. Sebenarnya, mengapa kau katakan dia sombong dan tidak tahu diri?"
"Tidak, ah. Kau nanti marah." Han Liong semakin bernafsu dan ingin tahu.
"Aku berjanji tidak akan marah."
"Kau berjanji? Bagus kalau begitu. Nah, tahukah kau apa katanya padaku setelah kau menyerbu barisan Ngo-heng-tin? Ia bilang bahwa jika ia maju seorang diri menggunakan Ouw-liong Po-kiamnya, tentu dengan mudah ia dapat memukul pecah barisan itu. Tapi karena ada kau, maka ia menjadi canggung karena gerakannya kacau oleh permainanmu!" Han Liong tiba-tiba mengerutkan keningnya.
"Betul dia berkata begitu?" suaranya mengandung ketidakpercayaan.
"Kau tidak percaya, bukan? Biarlah, masa bodoh kau mau percaya atau tidak. Tapi tahukah kau apa jawabnya ketika kutanya apakah dia telah bertunangan? Ia jawab bahwa agaknya ia tidak akan kawin selama hidupnya karena ia telah bersumpah hanya mau kawin dengan seorang pemuda yang dapat mengalahkan ilmu pedangnya! Yang membuat hatiku lebih panas lagi ialah ketika kukatakan padanya bahwa ilmu pedangmu juga lihai dan tinggi, tapi ia menjawab dengan suara dingin bahwa biarpun Pek-liong Po-kiam juga sebuah pedang pusaka yang baik dan setara dengan pedangnya, namun ilmu pedangmu hanya indah dilihat saja, isinya kurang dan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Ouw-liong Kiam-sut!" Han Liong merasa mukanya panas dan kulit mukanya menjadi merah, tanda bahwa hatinya telah terbakar oleh kata-kata Hong Ing. Namun ia masih dapat menekan perasaan dan rasa penasarannya, lalu mencoba membantah keterangan adiknya.
"Benar-benarkah ia berkata begitu?" Hong Ing menghela napas panjang.
"Ah, sudahlah. Kau mana mau percaya! Rupanya kau telah jatuh hati betul padanya! Agaknya kau tidak akan percaya juga jika kukatakan bahwa Cici Pauw Lian telah mengundangmu untuk mengadu ilmu pedang di sini pada jam dua belas tengah malam nanti?" Han Liong melompat berdiri.
"Apa katamu?" Hong Ing juga melompat berdiri dan bertolak pinggang.
"Kataku, nanti jam dua belas tengah malam, Cici Pauw Lian akan datang ke sini untuk mencoba ilmu pedangmu, yakni kalau kau berani!"
"Kalau aku berani?" jawab Han Liong marah. "Mengapa aku tidak berani? Tapi, benar-benarkah demikian besar hasrat Pauw Sumoi itu?"
"Buktikan saja malam ini. Tapi jangan lupa, kau harus memakai kedok sapu tangan."
"Eh, ada apa lagi ini? Harus pakai kedok? Mengapa?"
"Begitulah kehendak Pauw Cici! Dia sendiri juga memakai kedok, agaknya ia malu bertemu muka denganmu tanpa penutup wajah!" Setelah berkata demikian, Hong Ing pergi tanpa memedulikan panggilan Han Liong yang masih hendak bertanya. Pemuda ini merasa heran sekali. Benar-benarkah semua keterangan Hong Ing tadi? Mustahil Pauw Lian demikian sombong! Tapi, meskipun demikian, Hong Ing tidak pernah berbohong sekalipun ia amat nakal. Ah, biarlah, ia akan menanti sampai tiba saatnya tengah malam!
Hong Ing langsung menuju ke kamar Pauw Lian yang memang menginap bersamanya. Pauw Lian sedang duduk seorang diri membereskan rambutnya yang hitam dan panjang. Hong Ing tidak berkata apa-apa, hanya dengan muka masam terus membanting diri ke atas pembaringan dan berbaring telentang.
"Eh, kau kenapa, Ing-moi? Kenapa mukamu merah padam seperti orang marah? Apakah kau ribut mulut dengan Tan Kongcu?" Hong Ing menggigit bibirnya karena baru saja datang sudah digoda oleh Pauw Lian. "Awas," pikirnya. "Awas pembalasanku!"
"Memang aku baru saja ribut mulut. Tapi bukan dengan pemuda marga Tan itu. Aku bertengkar karena membelamu, Cici. Sebaliknya yang dibela tidak mengerti, bahkan malah menggoda. Ah, memang dunia ini tidak adil!" Pauw Lian mendekati dan memegang lengannya.
"Kau membelaku sampai bertengkar dengan orang lain? Ah, maaf, adikku yang manis. Kenapa kau bertengkar dan dengan siapa?"
"Ah, aku tidak berani memberi tahu, takut kau akan menjadi marah." Tentu saja kata-kata ini membuat Pauw Lian makin ingin tahu dan ia mendesak.
"Aku tidak akan marah, Adik Ing, katakanlah."
"Aku bertengkar dengan Han-ko karena dia mencelamu!"
"Sie Suheng? Dia mencelaku? Biarlah, itu hal yang lumrah, mengapa kau harus membelaku?"
"Hm, rupa-rupanya ada apa-apa dalam dadamu, Cici, hingga kau menerima saja dicela dan dipandang ringan olehnya, sedangkan aku yang mendengarnya saja merasa panas hati."
"Tapi... benar-benarkah Sie Suheng mencela dan memandang ringan padaku? Agaknya... ah! Itu tidak mungkin. Tidak mungkin dia berwatak demikian."
"Nah, itulah kalau orang sudah tertawan! Kau baru saja bertemu dengannya, sedangkan aku sudah bertahun-tahun berkumpul dengannya, siapakah yang tidak tahu akan wataknya?"
"Ya sudahlah, kau yang benar. Tapi ia mencela dalam hal apa?"
"Ia mencela ilmu pedangmu! Ia katakan bahwa ilmu pedangmu masih mentah dan lemah, hanya di luarnya saja tampak bagus dipandang, tapi kalau dipakai bertempur tidak berarti banyak! Tentu saja hal ini kubantah karena aku tidak senang melihat kesombongannya. Tapi kalau kau tidak percaya dan masih penasaran, malam ini jam dua belas tengah malam nanti, ia menanti di kebun belakang untuk mencoba dan mengukur ilmu pedang Ouw-liong Kiam-sut!"
Siapa yang tidak akan merasa panas hati mendengar kata-kata provokatif yang keluar dari mulut mungil dengan wajah yang bersungguh-sungguh itu? Pauw Lian, biarpun orangnya jenaka dan cukup mendapat didikan ilmu batin dari gurunya, namun pada hakikatnya ia memang mudah marah seperti Hong Ing. Bagaimana ia dapat menahan hati? Warna merah mulai menjalar di kulit muka sampai ke telinganya. Kepalanya yang cantik bergerak-gerak hingga sepasang anting-anting di kedua telinganya berbunyi gemerencing.
Melihat sinar mata yang berapi-api itu, terkejutlah hati Hong Ing. Ia merasa telah membakar suasana terlampau panas. Segera ia berkata, "Tapi, Cici jangan marah kepada Han-ko. Sebenarnya dia bilang begitu karena sedang bertengkar denganku, hingga karena marah ia bicara demikian. Tentu saja dia tidak sengaja bermaksud memandang rendah padamu. Tapi aku ada jalan yang baik, Cici. Bagaimana kalau kau melayaninya dengan memakai kedok sapu tangan? Kau tidak usah banyak cakap, begitu datang berhadapan terus saja gunakan pedangmu agar dia bisa membuktikan sampai di mana kelihaianmu. Kita kaum wanita janganlah mudah dipandang ringan oleh pria, Cici! Tidak perlu kita kalah terhadap pria, biar pria itu setampan dan segagah Han-ko sekalipun!"
Karena kepandaian Hong Ing membujuk, maka tidak heran bila pada waktu Han Liong menunggu di kebun dengan hati penasaran, tiba-tiba tampak berkelebat bayangan hitam dan sinar hitam dari Ouw-liong Po-kiam menyambarnya diikuti bentakan, "Rasakan tajamnya Ouw-liong Po-kiam!"
Untungnya Han Liong sudah siap dan waspada, maka dengan cepat ia berkelit dan mencabut Pek-liong Po-kiam. Ia melihat bahwa penyerangnya adalah seorang gadis berkedok sapu tangan merah dan ia maklum siapa gadis ini. Sebaliknya, Pauw Lian melihat bahwa Han Liong juga memakai kedok sapu tangan kuning hingga ia kini percaya pada ucapan Hong Ing tadi.
"Sumoi, tahan! Kenapa kau begini keterlaluan?" Jika tadi hati Pauw Lian sudah terbakar, kini makin berkobar mendengar dirinya disebut keterlaluan!
"Kau yang sombong. Kau kira Pek-liong Po-kiam milikmu yang tertajam di dunia ini?" Kembali ia menyerang dengan hebat menggunakan gerakan Naga Hitam Sambar Air. Pedang hitamnya berkelebat laksana seekor naga hitam yang terjun mengerikan. Dalam keheranan dan penasarannya, Han Liong menangkis serangan itu dengan gerakan Naga Putih Perlihatkan Ekor. Demikianlah, sebentar saja mereka saling menyerang dengan hebat sehingga Hong Ing yang bersembunyi di balik pohon untuk mengintai, kini menonton dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Hebat sekali pertarungan itu, berupa dua sinar hitam dan putih yang saling membelit dengan gerakan cepat. Diam-diam Hong Ing merasa gemetar dan hatinya berdebar. Ia mengkhawatirkan keselamatan kedua orang itu, terutama keselamatan Han Liong. Walaupun ia tidak dapat mengikuti sepenuhnya gerakan kedua pedang naga itu, namun ia maklum bahwa pertempuran kali ini jauh lebih hebat daripada yang sudah-sudah!
Han Liong dan Pauw Lian diam-diam mengeluh. Memang kepandaian ilmu pedang mereka seimbang dan Ouw-liong Kiam-sut sama lihainya dengan Pek-liong Kiam-sut. Perbedaannya hanyalah Han Liong memiliki ilmu lweekang yang lebih tinggi sehingga tiap kali kedua pedang beradu, Ouw-liong Po-kiam milik Pauw Lian lebih banyak mengeluarkan bunga api dan lengannya tergetar. Namun, kekurangan ini ditutupi oleh kemenangan Pauw Lian dalam hal ilmu ginkang atau meringankan tubuh, sehingga ia dapat menghindarkan benturan senjata dengan kegesitannya.
Ratusan jurus terlewat sudah dan macam-macam tipu simpanan telah dikeluarkan, namun belum ada yang tampak terdesak. Hong Ing sudah merasa lemas. Sejam lebih kedua orang itu beradu pedang dan Hong Ing tidak berdaya apa-apa. Maksud hatinya hendak melerai, tapi ia tidak berani sembarangan maju. Ia mulai menyesali perbuatannya dan tanpa disengaja air mata mengalir membanjiri pipinya. Tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan yang kuat meraba lengannya dengan sentuhan halus dan terdengar suara berbisik.
"Cici Hong Ing, kenapa menangis? Mereka tidak bertempur sungguh-sungguh, jangan khawatir." Mendengar kata-kata ini, Hong Ing menjadi sangat girang hingga ia lupa untuk merasa heran atas kehadiran Un Kiong yang tiba-tiba. Ia memegang lengan pemuda itu dengan erat.
"Benar-benarkah mereka berkelahi tidak sungguh-sungguh?" Senyum manis terbayang di wajah Un Kiong yang tampan.
"Mereka hanya bermain-main!" Setelah hatinya tenang kembali, barulah Hong Ing sadar betapa mesranya ia memegang lengan Un Kiong. Cepat-cepat ia melepaskan tangannya dan mundur dua langkah dengan perasaan malu.
Memang Un Kiong berkata benar. Biarpun keduanya merasa penasaran dan ingin menang, namun mereka menjaga benar agar pedang mereka jangan sampai melukai lawan. Pernah ujung pedang Pek-liong Po-kiam menyambar leher Pauw Lian yang halus, tapi sebelum menyentuh kulit, pedang itu telah diubah gerakannya ke atas hingga hanya merobek kain pengikat rambut saja. Sedangkan ketika ujung Ouw-liong Po-kiam menyambar dan hampir menembus dada kiri Han Liong, pedang itu ditahan sedemikian rupa oleh Pauw Lian hingga hanya merobek baju di bagian bahu kiri saja.
Un Kiong yang sejak tadi diam-diam menonton pula, dapat melihat hal ini. Kemudian ia melihat Hong Ing tiba-tiba menangis. Biarpun tadinya ia merasa malu bertemu dengan gadis itu karena kata-kata gurunya, namun melihat gadis yang telah mencuri hatinya itu menangis, ia tidak dapat menahan diri untuk menghampiri dan menghiburnya.
Pada saat itu, tiba-tiba dari bawah Gunung Beng-san terdengar suara hiruk-pikuk derap kaki kuda dan teriakan banyak orang. Mendadak Un Kiong melihat gurunya, Khouw Sin Ek, melayang turun dari sebuah pohon dan berkata.