Chapter 45
Pada saat itu, musuh telah menyerbu naik dan pintu gerbang depan sudah dipenuhi oleh musuh yang berhadapan dengan pihak tuan rumah. Han Liong mengajak kawan-kawannya menyusul ke sana. Ketika melihat rombongan yang datang itu, Un Kiong merasa sangat terkejut karena rombongan tersebut dipimpin oleh orang-orang kepercayaan Co Thaikam dan para pahlawan kaisar, termasuk ayahnya sendiri! Hal yang membuatnya heran adalah kedua golongan ini sekarang dapat bekerja sama. Ini sungguh hebat dan berbahaya. Melihat Un Kiong berada di situ, untuk sesaat mata Tan Cianbu memandang penuh kekaguman dan rasa sayang, tetapi ia segera membuang muka dan tidak mau memandangnya. Namun, Kui Lan, murid Loh-san Sam-moli yang genit dan memang menaruh hati terhadap pemuda tolol itu, segera maju menghampiri dan berkata,
"Eh, Tan Siangkong, kau berada di sini? Apa kau diculik oleh gerombolan pengacau ini? Biarlah, nanti aku balaskan sakit hatimu. Mari, ikut dengan kami!" Berkata demikian, Kui Lan si muka hitam itu mengulurkan tangannya dengan lemah lembut untuk menarik tangan Un Kiong. Namun, ternyata ia merasakan tangan Un Kiong sangat keras dan tidak dapat disentakkan! Ia mengerahkan tenaga, namun tetap tidak dapat menarik pemuda itu. Sementara itu, dengan hati sebal, Un Kiong mengerahkan tenaganya dan berseru,
"Pergi kau!" Tangannya disentakkan dan Kui Lan terlempar ke atas setinggi satu tombak lebih. Jika saja Biauw Niang-niang tidak segera mengulurkan tangan untuk menangkapnya, tentu ia akan terbanting ke bawah. Semua orang yang mengenal Un Kiong, kecuali ayahnya sendiri yang kini sudah tahu rahasia anaknya, merasa sangat heran melihat ketangkasan dan kepandaian pemuda tolol itu. Pauw Kim Kong, sebagai tuan rumah, melangkah maju dan menjura kepada para pemimpin rombongan sambil berkata,
"Selamat datang, Cuwi Enghiong. Sungguh merupakan suatu kehormatan besar bahwa Cuwi sudi menginjak tempat tinggalku yang buruk dan kotor ini." Rombongan itu terdiri dari dua golongan. Golongan pertama terdiri dari tiga puluh lebih pahlawan kaisar yang dipimpin oleh Tan Cianbu serta empat orang kawannya, yakni pahlawan-pahlawan pilihan yang kepandaian silatnya setingkat dengan Tan Cianbu. Sedangkan tiga puluh orang kawan lainnya pun terdiri dari pahlawan-pahlawan jagoan dari istana kaisar!
Golongan kedua tidak kalah hebatnya, bahkan lebih lihai! Golongan ini terdiri dari orang-orang kepercayaan dan kaki tangan Co Thaikam, si pembesar kebiri yang jahat, yang sebagian besar terdiri dari penghuni Istana Putih. Golongan ini dipimpin oleh orang-orang yang begitu dilihat membuat Pauw Kim Kong dan orang-orang lain yang mengenalnya menjadi sangat terkejut. Selain Loh-san Sam-moli, si Tiga Iblis Wanita dari Loh-san, di situ ada pula Kek Kong Tojin si Toya Aneh Kepala Ular, saikong yang sakti itu! Namun, ini masih belum seberapa hebat karena dua orang tua yang kelihatan alim dan berdiri di dekat Kek Kong Tojin agaknya bukan orang lemah, dan Kek Kong Tojin sendiri tampak sangat hormat kepada mereka. Pihak tuan rumah merasa agak cemas ketika Khouw Sin Ek maju menjura kepada Kek Kong Tojin dan kedua orang tua itu sambil tertawa terbahak-bahak.
"Pantas bulan menjadi suram, rupanya kalian orang-orang tua yang sakti ikut datang menengok kami!" Kemudian Sin-chiu Tai-hiap Khouw Sin Ek berpaling kepada semua kawannya.
"Saudara-saudara, jangan berlaku kurang hormat kepada ketiga tamu agung ini. Ini adalah Ngo-lian-posat Ang Gwat Niang-niang, yang tengah ini tidak lain adalah Lo Thong Sianjin, sedangkan yang ketiga adalah Kek Kong Tojin! Mereka bertiga adalah tokoh-tokoh dan pendiri dari Ngo-lian-pai yang tersohor!"
"Ha, ha! Kiranya di sini ada Khouw Lojin! Pantas Gunung Beng-san menjadi semakin tinggi saja," Kek Kong Tojin balas mengejek. Sebenarnya, di antara semua orang yang berada di situ, baik dari pihak penyerang maupun pihak yang hendak diserang, hanya ketiga pendiri Ngo-lian-pai dan Khouw Sin Ek saja yang boleh dibilang setingkat dan menduduki tempat tertinggi. Maka kini, melihat ketiga orang tua itu datang semua, diam-diam Khouw Sin Ek merasa khawatir juga. Namun, ia seorang yang cerdik dan berpengalaman, sehingga kecemasannya tidak kentara. Lagi pula, dengan adanya Han Liong dan Pauw Lian di situ, ia mempunyai dua orang pembantu yang kiranya tidak akan mengecewakan.
"Khouw Toyu! Kalau telingaku yang tua tidak salah dengar, kau bukanlah termasuk golongan pengacau dan pemberontak, juga kau tidak pernah ikut campur urusan pemerintahan. Maka, kau bukanlah musuh kami. Karena itu, pandanglah mukaku dan tinggalkanlah gunung ini dengan damai," kata Lo Thong Sianjin.
"Ha, ha! Kau orang tua enak saja bicara. Memang aku biasanya tidak suka mencampuri segala macam urusan yang tidak penting. Namun, jika tidak salah, kalian orang-orang tua juga biasanya jarang turun gunung jika tidak ada hal yang sangat penting. Kini aku berada di sini sebagai tamu si Malaikat Rambut Putih, maka apa yang akan terjadi kepada tuan rumah sekalian akan terjadi padaku sendiri."
"Hm, bagus! Biarlah, ikut atau tidaknya Khouw Lo-Enghiong tidak menjadi soal," tiba-tiba Ang Gwat Niang-niang berkata dengan suaranya yang merdu dan nyaring.
"Pauw Kim Kong! Kau telah bersekongkol dengan pemberontak, mencuri surat-surat penting, dan bersiap hendak memberontak. Maka, untuk menebus dosamu itu, serahkan kepada kami beberapa orang pemberontak dengan damai."
"Hm, mudah sekali kau bicara. Siapa yang harus diserahkan?" tanya Pauw Kim Kong dengan suara mengejek. Ang Gwat Niang-niang memberi tanda kepada Biauw Niang-niang yang segera maju dan menunjuk dengan jarinya.
"Mereka ini!" Dan yang ditunjuknya adalah Han Liong, Hong Ing, Lie Bun Tek, Pauw Lian, Siok Houw Sianseng, dan keempat guru Han Liong!
"Eh, eh, kenapa tidak kau tunjuk semua saja termasuk aku juga?" terdengar Khouw Sin Ek mengejek.
"Itu lebih baik lagi, memang seharusnya semua karena tidak seorang pun di antara kalian yang bukan pemberontak!" Kek Kong Tojin berseru dan tiba-tiba berkata, "Ayo tangkap, serbu!" Ia mendahului dengan toyanya memukul kepala Khouw Sin Ek. Namun, Sin-chiu Tai-hiap tertawa keras.
"Lie Bun Tek Enghiong dan Un Kiong, kalian lawan yang ini!" Kedua orang itu segera maju dengan senjata masing-masing; Un Kiong dengan po-kiam-nya dan Lie Bun Tek dengan jwan-pian-nya. Kedua senjata segera bergerak melawan toya kepala ular yang lihai dari saikong itu. Ang Gwat Niang-niang mencabut pedang dan hudtim-nya.
"Khouw Lojin, Pin-ni terpaksa melanggar larangan membunuh!" Kedua senjatanya mengeluarkan angin dingin ketika menyambar ke arah Khouw Sin Ek, tetapi si Kepalan Dewa ini kembali berkelit dan melompat sambil berteriak, "Ouw-liong dan Pek-liong, kalian tidak lekas turun tangan mau tunggu apa lagi?" Mendengar perintah lucu ini, Han Liong dan Pauw Lian mencabut po-kiam mereka dan melompat ke depan menyambut serangan Ang Gwat Niang-niang yang gerakan-gerakannya luar biasa dan lihai sekali. Khouw Sin Ek segera melompat menghadapi Lo Thong Sianjin.
"Kau juga hendak turun tangan? Silakan, biar tua sama tua!" Lo Thong Sianjin yang sudah lama sekali tidak pernah berkelahi, kini melihat orang-orang bertempur segera timbul kegembiraannya. Lagi pula, ia memang sudah lama mendengar nama Sin-chiu Tai-hiap, maka ia yang berwatak tidak mau kalah itu ingin sekali mencoba kepandaian Khouw Sin Ek.
"Marilah Pinto melayanimu barang seratus jurus," katanya, dan mereka berdua lalu saling serang dengan hebat.
Sebenarnya, Lo Thong Sianjin biasa menggunakan senjata rantai, tetapi melihat Khouw Sin Ek hanya bertangan kosong, maka ia yang tidak mau kalah itu tidak sudi merendahkan diri melawannya dengan menggunakan senjata. Kedua jago tingkat atas yang tinggi ilmunya itu, dan yang pada zaman itu sudah termasuk tingkat tertinggi, berkelahi dengan luar biasa serunya sehingga debu dan pasir di dekat kaki mereka berhamburan mengepul ke atas! Memang Khouw Sin Ek sangat cerdik; ia tahu bahwa di antara ketiga tokoh Ngo-lian-pai itu, yang paling rendah kepandaiannya adalah Kek Kong Tojin, sedangkan yang terlihai ilmu pedangnya adalah Ang Gwat Niang-niang. Maka ia memerintahkan Lie Bun Tek dan muridnya, Un Kiong, untuk melayani Kek Kong Tojin, sedangkan untuk melayani ilmu pedang dan hudtim yang lihai dari Ang Gwat Niang-niang, ia tugaskan kepada Han Liong dan Pauw Lian!
Ia maklum pula betapa tinggi ilmu silat dan lweekang dari Lo Thong Sianjin, tokoh tertua dari Ngo-lian-pai itu, maka ia sendirilah yang melawannya! Sementara itu, semua pahlawan dan Loh-san Sam-moli serta kawan-kawannya telah bertempur melawan Pauw Kim Kong dan semua kawannya yang juga terdiri dari jagoan-jagoan lihai. Maka Sam-moli dan Tan Cianbu serta kawan-kawannya yang menjadi pemimpin rombongan dan berkepandaian tinggi segera berhadapan dengan Pauw Kim Kong, Liok-tee Sin-mo Hong Ing, Hee Ban Kiat, Bie Kong Hosiang, Ngo-Lohiap dari Kengciu, Souw Kwan Pek si Toya Ular Dewa, Lok Twie Hwesio wakil Siauw-lim, Pek Ciok Tojin ahli Kun-lun, Khu Bu Houw, Beng Hwa Suthai, Kok Tiang Lojin, dan lain-lain yang menjadi tamu di Beng-san. Maka ramailah pertempuran terjadi di puncak Gunung Beng-san.
Suara senjata beradu disertai bentakan marah dan teriakan kesakitan memenuhi udara. Kek Kong Tojin menggunakan tongkat kepala ularnya yang sakti untuk mengalahkan lawannya, tetapi Un Kiong dan Lie Bun Tek bukanlah lawan yang lemah. Ketangguhan kedua orang ini pernah diuji oleh Kek Kong Tojin di atas genteng Istana Putih. Kini, setelah mereka bertempur dengan menggunakan senjata, sekali lagi Kek Kong Tojin terpaksa harus mengakui kehebatan lawan yang masih muda ini. Dari gerakan-gerakannya, Kek Kong Tojin tahu bahwa si kedok hitam dahulu tidak lain adalah Un Kiong yang kini menggerakkan po-kiam-nya dengan begitu gesit dan berbahaya. Maka ia semakin marah dan memutar toyanya sehingga membentuk dinding baja yang sukar ditembus!
Namun, pedang Un Kiong bukanlah pedang biasa, begitu juga jwan-pian Lie Bun Tek adalah sebuah senjata pusaka yang kuat dan terbuat dari logam mujizat. Lagi pula, ilmu silat kedua orang ini memang sudah tinggi dan kini tergabung menjadi satu, sehingga mereka menjadi lawan yang sangat tangguh dan berat. Setelah lewat tiga ratus jurus, Kek Kong yang sudah tua dan terlalu banyak menghamburkan tenaga menuruti hawa nafsunya, mulai tampak lelah dan terdesak. Pertempuran yang paling indah dilihat adalah antara Ngo-lian Posat Ang Gwat Niang-niang melawan Han Liong dan Pauw Lian. Jika gerakan-gerakan pedang dan hudtim wanita tua itu bagaikan awan hitam yang bergulung-gulung naik turun menyelubungi kedua anak muda itu, maka Pek-liong Po-kiam dan Ouw-liong Po-kiam merupakan dua naga sakti hitam-putih yang terbang berkejar-kejaran di antara awan hitam itu.